Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 26


__ADS_3

Malas-malasan Rangga mengekori langkah ketiga penculik dan pilot helikopter, dengan tangan yang masih terikat di belakang. Akses geraknya bertambah. Kakinya sudah tidak terikat. Selama mengekori langkah, terhitung sudah tiga kali dia menguap dengan lebarnya.


"Harusnya kalau menguap begini ditutupi pakek telapak tangan, biar setannya tidak masuk. Kalian sih nggak mau buka ikatan tangan juga meskipun aku sudah ngasih tau hadistnya. Jadi nggak bisa nutupi mulut kan. Duh, sudah berapa setan ini yang masuk!" gerutu Rangga sambil terus melangkah.


Ketiga penculik dan si pilot hanya diam. Mereka berempat sudah mulai bosan dengan ceramah Rangga, meskipun mereka tahu bahwa semua yang dikatakan Rangga adalah suatu pelajaran berharga.


"Kakimu sudah bebas tuh. Yakin nggak mau kabur?" celetuk si pilot helikopter.


"Ogah. Sama aja dengan bunuh diri. Mau kabur ke mana juga? Di sekitar pohon-pohon semua!" Rangga menyahuti sambil menahan untuk tidak menguap lagi.


Tak ada obrolan lagi setelahnya. Semua melangkah dalam keheningan malam. Suara jangkrik dan hewan liar bahkan dengan mudahnya tertangkap pendengaran.


Siapa yang punya rumah mewah di tempat seperti ini, ya? Kan jadi nggak punya tetangga. Ah, mendadak jadi ingat ibuk dan si kembar. Semoga mereka tidak panik berlebihan begitu tau aku diculik. Batin Rangga.


Kaki berpijak di area rumah. Sungguh megah dengan interior yang wah. Rangga mengedarkan pandang. Sempat pula membanding-bandingkannya dengan kemewahan rumah Alenna.


"Bos, kami tiba!" ujar si pilot.


Seorang lelaki yang dipanggil bos lantas menoleh. Senyumnya yang begitu ramah seketika disuguhkan untuk Rangga.


"Good Job. Ini bayaran untuk kalian. Stay ponsel jika sewaktu-waktu aku membutuhkan kalian!" perintahnya.


Ketiga penculik dan si pilot menunduk takzim. Keempatnya kompak keluar dari rumah untuk melanjutkan penjagaan sekitar. Wajah mereka cerah karena sudah menerima upah.


Rangga memperhatikan sosok lelaki yang dipanggil bos itu. Dari bagian kaki, terus sampai ke wajah tampannya. Sungguh tak pernah Rangga duga bahwa yang menculiknya adalah seorang yang masih muda.


"Mas Rangga, ya?" tanyanya.


Rangga mengangguk. "Anda siapa? Untuk apa Anda menculik saya? Dan, ini di mana?" Pertanyaan Rangga berentetan.


"Tepat sekali. Saya yang menculik Mas Rangga. Untuk alasannya, uhm ... sepertinya biar ayah saya saja yang menjelaskan. Em, maaf nih. Kalau ikatan tangannya saya buka, kira-kira Mas Rangga bakal nonjok saya nggak?" tanyanya.


Rangga menggeleng dengan sejujurnya. Sama sekali tidak ada niatan bagi Rangga untuk menonjok apa lagi sampai baku hantam dengan lelaki yang mengaku sebagai penculiknya.


Anggukan dari Rangga cukup dipercaya. Ikatan tangan pun segera dilepas. Begitu dilepas ....


Buk!


Rangga mengingkari janjinya. Tangan kanan mengepal, lantas mendarat di wajah bos penculik.


"Aw! Mas Rangga bohong nih! Katanya nggak bakal nonjok!" protes bos penculik yang masih belum diketahui namanya oleh Rangga.

__ADS_1


Rangga terkekeh pelan.


"Khilaf dikit. Itu untuk membayar kegelisahan istriku. Alenna pasti saat ini tidak bisa tidur. Huft!" Rangga menghela nafas dalam. Pikirannya tertuju pada Alenna.


Mendengar nama Alenna disebut, wajah bos penculik sedikit sendu. Alennalah yang menjadi dasar alasan penculikan Rangga.


"Tuan Rangga!"


Seru seseorang dari arah tangga. Rangga sangat familiar dengan suara itu. Benar saja, begitu menoleh didapatinya senyum teduh Paman Li.


"Paman Li? Loh, kok bisa? Apa Paman Li yang menculik?" Rangga terheran-heran kali ini.


Sebelum menjawab, Paman Li lebih dulu menunduk hormat, lantas memeluk Rangga selayaknya anak sendiri.


"Mohon maaf, Tuan Rangga. Mari kita semua berbincang di meja makan. Sudah ada teh dan makanan ringan untuk Tuan." Paman Li mempersilakan.


Rangga menurut. Langkah kakinya diarahkan menuju ruangan yang dimaksud Paman Li. Di paling belakang, bos penculik mengekor dengan langkah tegap penuh wibawa.


"Tuan Rangga. Perkenalkan, ini putra saya. Namanya Satria. Dia ini lebih muda dari Tuan. Jangan sungkan untuk memanggil namanya," pinta Paman Li.


"Ayaah! Nggak elegan banget sih ngenalinnya. Ah, image jatuh deh!" gerutu Satria.


Paman Li hanya tersenyum. Sedikit banyak dia mulai memahami karakter sang putra yang telah lama ditinggalkannya itu.


Kali ini Rangga menggeleng dengan sungguh-sungguh.


"Tapi ceritakan alasanmu menculikku. Eh bentar. Jadi ini yang nyulik Satria atau Paman Li?" tanya Rangga lagi.


Paman Li hendak menjawab, tapi lebih dulu dicegah Satria. Sang putralah yang akan menjelaskan.


Rentetan penjelasan dimulai. Satria mengaku bahwa dialah dalang penculikan Rangga. Semua berawal dari info mata-mata yang ditugaskan Paman Li untuk menjaga Alenna selama kepergiannya ke Surabaya. Kala itu Paman Li punya firasat bahwa Alenna hendak merencanakan sesuatu. Ternyata benar, Alenna diam-diam meninggalkan Jakarta bersama Ranti pergi ke Jember. Paman Li juga tahu kalau Alenna malah dijemput Mario dan Rangga di bandara, karena Paman Lilah yang memberitahukan info kepulangan Alenna pada Mario.


Dari mata-mata yang ditugaskan Paman Li itulah diketahui bahwa ada dua kelompok mata-mata lain yang rupanya juga mengintai gerak-gerik Alenna. Satu kelompok mata-mata diketahui suruhan Vero. Tapi aman, Vero hanya menugaskan untuk mengintai aktivitas Alenna. Namun, satu kelompok mata-mata lagi tidak terdeteksi.


Paman Li sempat bingung dengan info itu. Posisi Paman Li saat itu ada di Surabaya, dan kegelisahan itu diceritakan pada sang putra, Satria. Tanpa Paman Li duga, Satria justru tanpa persetujuannya langsung mengerahkan anak buahnya. Paman Li tentu saja kaget, karena ternyata selama setahun terakhir Satria pernah menjadi tangan kanan seorang mafia, meski pada akhirnya Satria memutuskan untuk keluar dari dunia kelam itu. Rupanya kesetiaan anak buahnya masih memihaknya. Bos Satria yang seorang mafia itu pun masih menjalin hubungan baik meski jalan mereka sudah berbeda.


Anak buah yang ditugasi Satria bergerak cepat mencari info. Rupanya target kelompok mata-mata yang satu lagi adalah Rangga. Nama Rangga sudah ditargetkan untuk diculik oleh kelompok tersebut karena sudah lancang menikahi Alenna.


"Loh kok aneh sih mereka? Menikahi Alenna kok dibilang lancang. Kita berdua kan sama-sama cinta," potong Rangga, menyela penjelasan Satria.


"Alenna itu putri seorang pebisnis sukses, Mas. Ya pantas kalau banyak yang menginginkan hatinya," sahut Satria.

__ADS_1


"Tapi kalau Alenna cintanya cuma sama aku gimana? Masa iya mereka masih nekat aja?" Rangga yang masih belum paham dengan dunia senggol-menyenggol pun terus bertanya.


"Yaaaa, sangat mungkin yang seperti itu terjadi!" sahut Satria sekenanya.


Satria mengambil cangkir teh, dan hendak meminum bagiannya. Begitu cangkir mendekati bibir Satria, Rangga lebih dulu mencegah.


"Baca bismillaah dulu!" nasihat Rangga tiba-tiba.


Satria menurut.


Sekarang aku tau kenapa Alenna memilih laki-laki ini. Mas Rangga sedikit polos dalam tutur kata, tapi pengetahuannya tentang agama lumayan juga. Ah, membuat aku iri saja. Alenna, hatimu sungguh tak bisa kujangkau lagi kalau saingannya model Mas Rangga. Apalagi kalian sudah sah. Pikir Satria.


"Intinya begini. Satria mendahului untuk menculik Tuan Rangga demi menggagalkan penculikan oleh kelompok lainnya. Mohon maaf juga adegannya dibuat semirip mungkin dengan aksi penculikan, agar kelompok yang menargetkan Tuan Rangga kebingungan," terang Paman Li.


"Aduh. Kalau begitu istriku juga dalam bahaya, dong!" Kali ini kekhawatiran jelas kentara di wajah Rangga.


"Tenang saja. Om John pasti sudah memperketat penjagaan. Apalagi, katanya istri Mas Mario juga sempat diculik juga sebelum ini," sahut Satria dengan entengnya.


"Benar sekali. Tuan Besar sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari Tuan Ranga sekaligus memperketat penjagaan. Tuan Mario juga lebih sigap menjaga Nona Anjani," jelas Paman Li.


"Maaf, Paman. Apa tidak sebaiknya Alenna diberi tahu saja bahwa aku bersama Paman Li?" Rangga tidak ingin Alenna terus khawatir.


"Mas Rangga tenang saja. Ayahku pasti akan memberi tahu Alenna. Tapi tidak secepat itu. Kita harus membuat kelompok yang mengincar Mas Rangga benar-benar mundur. Orang suruhanku sudah bergerak juga mencari tahu siapa bosnya. Yang terpenting sekarang Mas Rangga aman. Begitu juga Alenna dan keluarganya." Satria tampak sudah berpengalaman.


Pikiran Rangga mencerna semua penjelasan Satria. Perlahan Rangga memahami situasi. Satu anggukan menyusul kemudian.


"Sebaiknya Mas Rangga istirahat. Seharian besok akan kutemani di sini karena ayah akan kembali menjadi sekretaris Alenna seperti sebelumnya," ungkap Satria.


"Benar. Besar sekali kemungkinan bahwa Nona Alenna akan melabrak Tuan Vero dan melayangkan tuduhan padanya atas penculikan Tuan Rangga." Paman Li terkekeh membayangkan jika itu semua terjadi.


Rangga tersenyum. Paling tidak hatinya lega karena istrinya ada di sekitaran orang-orang baik yang peduli padanya.


"Aku percaya. Titip Alenna ya, Paman." Rangga tersenyum tulus yang seketika mendapat anggukan dari Paman Li.


"Enak aja titip-titip. Itungan belakang ntar, ya!" celetuk Satria yang langsung ditegur oleh Paman Li.


Rangga terkekeh pelan. Kenyamanan berada di antara Paman Li dan Satria mulai terasa. Penculikan yang dia alami ternyata adalah sebuah misi untuk menyelamatkan hidupnya. Syukur dalam dada Rangga pun membuncah.


Eh, tapi ... sampai kapan aku harus jauh-jauhan sama Alenna? Seminggu? Sebulan? Setahun? Adyaaah. Yen suwe-suwe aku yo ora kuat maneh. Trisno kanggo Alenna wis ngembang mekar-mekar ing ati iki. Mugo ndang ono solusi. Aamiin. Batin Rangga.


Bersambung ....

__ADS_1


Suka? LIKE-nya dong buat author. šŸ˜‰


__ADS_2