
Auto nyengir kuda, itulah yang dilakukan Rangga. Sambil terus memperhatikan raut wajah heran penjual nasi goreng, Rangga tertawa ringan demi menutupi kecanggungan. Rangga sadar betul bahwa pesanannya tidak wajar, meski yang nyeleneh hanyalah permintaan tentang karet gelang. Meski demikian, Rangga tetap menyampaikan pesanan sesuai dengan apa yang Alenna inginkan.
“Telur ceploknya mata sapi kan, Bang? Bukan mata buaya?” tanya si penjual nasi goreng, mengira Rangga tengah bercanda.
“Ya bukan, dong. Telur ceplok ya mata sapi, masa iya mata buaya. Masnya ini ada-ada saja.” Rangga terkekeh.
“Abang yang ada-ada saja. Masa bungkusannya dihias karet gelang pakek penataan ekecing. Lagian apaan tuh ekecing?” Si penjual nasi goreng terus bertanya.
“Ah, Masnya ini masa nggak tau ekecing? Ekecing itu menarik perhatian,” jelas Rangga.
Seketika Vero berdehem. Hanya sekali, tapi cukup membuat obrolan Rangga dan si penjual nasi goreng terhenti.
“Eye catching.” Vero menyebutnya dengan bahasa inggris yang tepat.
Si penjual nasi goreng seketika manggut-manggut mengerti. Ternyata yang dimaksud Rangga dengan ekecing adalah eye catching.
“Kalau eye catching saya tau artinya, Bang. Abang ganteng ini ada-ada saja pake nyebut ekecing segala. Eh, karet gelangnya cuma prank kan, Bang?” Si penjual nasi goreng masih menganggap Rangga bercanda.
“Siapa yang lagi nge-prank sih, Mas? Saya seriusan yang tadi. Masa wajah lugu kayak gini suka nge-prank sih.” Rangga sedikit tidak terima.
Melihat keseriusan di wajah Rangga, si penjual nasi goreng pun akhirnya percaya. Seketika si abang penjual nasi goreng garuk-garuk kepala.
“Jadi bukan prank, ya Bang?”
“Ya bukanlah. Tolong buatin sesuai yang saya sebutin tadi ya, Mas. Istri saya lagi ngidam, nih!”
“Oalah. Istrinya lagi ngidam ternyata. Untung cuma minta karet gelang di bungkusan nasi goreng. Coba kalau minta gerobak nasi goreng dikaret gelangin, pasti abang ini makin bingung.”
“Nona Alenna apa hanya minta itu saja, Tuan?” tanya Satria.
“Iya, cuma itu aja, kok. Makanya langsung aku beliin. Aku juga nggak tau sih istriku ini emang lagi ngidam atau lagi ngerjain aku.”
“Silakan dituruti saja, Tuan. Karet gelang mudah didapatkan,” saran Satria.
Vero hanya memperhatikan obrolan, sementara si penjual nasi goreng semakin menangkap keseriusan terhadap pesanan.
“Terus ini jadi apa nggak, Bang?”
“Ya jadi, dong. Tolong ya, Mas!”
“Maap-maap aja nih, Bang. Tapi di warung saya bungkusan nasi gorengnya nggak pakai karet gelang. Ini saya pake stapler.”
Kecewa Rangga mendengarnya.
“Tolong buatkan nasi goreng pesanannya saja. Karet gelangnya biar saya yang mengurusnya.” Satria mengajukan diri untuk membantu. Walau bagaimanapun Satria adalah sekretaris Alenna di kantor. Sudah terbiasa bagi Satria untuk membantu Alenna.
Si penjual nasi goreng sigap membuatkan pesanan. Begitu pula dengan pesanan Vero dan Satria sekalian.
“Terima kasih banyak ya, Sat. Kamu memang sekretaris yang bisa diandalkan,” puji Rangga.
__ADS_1
Satria hanya menunduk takzim seperti biasanya. Senyum di wajah tampannya juga merekah. Bagi Satria, permintaan Alenna begitu mudah untuk diwujudkan olehnya. Apalagi yang belum tersedia hanyalah karet gelang. Begitu mudah baginya untuk mendapatkan.
“Sat, kamu masih naksir Alenna, ya?” Vero berbisik begitu Satria hendak menuju mobil untuk membeli karet gelang di warung terdekat.
“Tuan Vero lupa ya kalau Nona Alenna sudah memiliki suami sebaik Tuan Rangga?”
“Tapi kan kamu mantan selingkuhannya, Sat.”
“Saya memang mantan, tapi saya tidak ingin mengulang kesalahan.” Satria menegaskan.
“Baguslah kalau begitu,” sahut Vero.
Satria bukannya mengakhiri pembicaraan, justru terpancing dengan kata-kata dan ekspresi Vero.
“Apa yang sedang Anda rencanakan pada Nona Alenna?” Satria menghilangkan sebutan Tuan karena menangkap gelagat mencurigakan.
“Tidak banyak rencana, kok. Hanya satu rencana saja,” ucap Vero dengan entengnya.
Semakin tertarik saja Satria dengan pengakuan Vero. Seketika Satria menajamkan intuisi dan fokus pada Vero.
“Jangan coba-coba untuk merebut cinta Nona Alenna dari Tuan Rangga.” Satria memberi ancaman.
“Siapa yang mau merebut sih. Santai aja lagi. Sudah sana berangkat cari karet gelang.”
Satria tak ingin berlama-lama meladeni Vero. Meski Vero telah menjalani bimbingan kebaikan bersama Barra, tapi Satria sangat yakin bahwa Vero tak segan memiliki rencana tak terduga. Detik itu juga Satria berniat mengawasi Vero demi kebaikan Alenna.
Aku tidak akan merebut cinta Alenna. Sebaliknya, aku akan menunggu Alenna jadi janda, baru kuajak nikah. Batin Vero.
“Alhamdulillaah, berkah ibu hamil ini. Matur nuwun, Mas. Saya doakan jualannya laris.”
“Tak doakan juga istrinya nggak ngidam macam-macam, Bang!” sahut si penjual nasi goreng.
Tepat di saat Rangga meng-aamiin-kan doa si abang, Satria datang sambil membawa karet gelang. Lekas diaplikasikan permintaan Alenna dalam dua bungkusan. Beres dengan itu, Rangga berterima kasih, lekas kembali ke apartemennya lagi.
"Kenapa senyum-senyum Tuan Vero?" Satria menghampiri Vero begitu Rangga pergi.
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantu memenuhi keinginan calon istri keduaku," ujar Vero.
Tatapan mata Satria seketika terarah pada Vero. Kilatan mata yang tajam menandakan adanya ketidakrelaan dalam ucapan.
"Anda dalam pengawasan saya, Tuan Arvero Dewanggi!"
"Terserah. Aku memang suka diawasi. Aku duluan, Satria. Jaga Alenna di kantornya untukku. Daa!" Vero pamit.
Kilat mata Satria masih menyiratkan rasa tidak suka. Satria sungguh akan mengawasi Vero agar tidak berani macam-macam pada Alenna.
***
Langkah Rangga begitu ringan menuju lift apartemen. Wajahnya tampak senang sambil menenteng bungkusan nasi goreng di tangan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Alenna Sayang. Nasi goreng ekecing datang." Rangga berseru.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Ayo-ayo kita makan."
Melihat wajah sang istri yang begitu riang, Rangga ikutan senang. Apalagi permintaan anehnya berhasil keturutan.
"Makasih, ya Mas. Tadi Mas Rangga nyebut nasi gorengnya apa?"
"Nasi goreng ekecing. Habisnya sih aku nggak bisa ngomong inggris," aku Rangga.
Alenna tersenyum ramah. Lekas digenggamnya tangan sang suami tercinta.
"Nggak masalah, Mas. Ayo kita makan. Mas Rangga makan pakai oseng, aku makan pakai nasi goreng."
"Loh, kukira nasi goreng yang satu lagi buat aku." Rangga garuk-garuk kepala.
"Yang ini tetep buat Mas Rangga, kok."
"Terus kapan makannya?"
"Tengah malam nanti. Pasti aku bangunin, kok. Aku pengen lihat Mas Rangga banyak makan nanti malam."
"Aduuuh! Kamu lagi ngerjain mas, ya?"
Alenna auto cemberut. Tangannya bersedekap, lantas menatap Rangga dengan lekat.
"Tega banget sih Mas Rangga ngomong gitu. Aku kan cuma pengen lihat Mas Rangga banyak makan biar nggak kurus kayak aku. Kalau Mas Rangga keberatan aku suruh makan malam-malam, yaudah!" Alenna membuang muka.
Rangga kelagapan. Bingung menghadapi sikap Alenna yang mendadak ngambekan. Sangat kekanakan memang, tapi Rangga jadi tak enak untuk mengabaikan.
"Iya, deh. Mas mau. Tapi nanti temenin mas makan, ya?"
"Paling cuma aku lihatin doang. Mas Rangga yang harus habiskan," pinta Alenna dengan senyum manisnya.
Tak ada pilihan lain lagi. Rangga memilih untuk menuruti.
"Cuci tangan dulu, Mas." Alenna mengingatkan.
Langkah Rangga membawanya menuju wastafel. Tetiba saja smartphone Rangga bergetar begitu langkah telah sampai di wastafel. Rangga memilih mengecek pengirim pesan lebih dulu sebelum mencuci tangan.
"Andin?"
Rupanya yang mengirim pesan adalah Andin.
Ada yang ingin kubicarakan dengan Mas Rangga. Besok pukul satu siang temui aku di cafe bintang kejora. Tolong, jangan beri tahu Mbak Alenna.
Deg-degan. Begitulah yang Rangga rasakan. Ada perasaan takut untuk mengiyakan, tapi Rangga begitu penasaran dengan apa yang akan dibicarakan. Dengan terlebih dulu menimbang, pada akhirnya Rangga membalas pesan Andin dengan kesanggupan untuk datang.
Bersambung ....
__ADS_1
Yang mau berkomentar, dipersilakan. Yang mau ngasih dukungan, juga dipersilakan. Luv u buat kalian reader kesayangan. 💙 Mampir juga yuk ke novel akak besan yang kece badai. Menanti Mentari karya Kak Cahyanti. Dukung kami, dong. Yang udah dukung kudoain rejekinya datang berbondong-bondong. LIKE-nya dong buat author. 😳
***