
Minggu pagi. Azan subuh belum berkumandang. Alenna sudah terbangun dengan mata panda tampak jelas melingkar. Semalam tidur Alenna sama sekali tidak nyenyak. Khawatir berlebihan membuatnya susah tidur.
Bebersih diri dan pakaian bersih. Semua sudah dilakukan. Alenna pun menunaikan ibadah subuh pagi itu. Cukup lama Alenna berzikir, sembari memohon ampunan atas segala khilaf. Di sela doanya, Alenna sempat menyebut nama Rangga, agar lelaki itu bisa ditakdirkan untuk berjodoh dengannya.
Seharian Alenna menghabiskan waktu di apartemennya. Dia tidak berminat untuk keluar. Alenna mengisi waktu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantornya. Dokumen penting dipelajari untuk kemudian ditandatangani. Sempat pula Alenna ber-VC ria dengan pengantin baru Mario-Anjani, Mommy Monika, dan John sang ayah.
"Sebenarnya aku punya nomor Mas Rangga, tapi .... Ah, tidak-tidak. Nanti Mario tahu dan malah sama sekali tidak memperbolehkan aku pulang. Huft."
Pada akhirnya, Alenna kembali larut dalam pekerjaan.
***
Hari-hari berlalu. Alenna semakin mengenal lingkungan Jakarta, lingkungan kantornya, juga karyawan-karyawan di sana. Alenna mulai terbiasa dengan rutinitas pekerjaannya. Banyak meeting, urusan relasi, juga tumpukan dokumen mengalihkan perhatiannya pada sosok Rangga. Selain itu, berhari-hari pula Alenna mengabaikan pesan singkat Juno yang tiap harinya tidak pernah absen mengiriminya pesan basa-basi.
Alenna justru saat ini lebih sering bertemu Barra. Tidak hanya di akhir pekan saja, tapi di hari-hari biasa juga. Alenna lebih mengenal sosok Barra, dan mulai tahu kalau Barra ternyata usianya lima tahun di atasnya. Seketika Alenna mengubah sapaan padanya menjadi Mas Barra.
"Mas Barra nanti malam aku kenalkan pada teman baruku, ya. Namanya Ranti. Aku juga punya kabar baik buat Mas Barra," kata Alenna via telepon. "Ketemu di cafe tempat kerja Mas Barra saja," imbuh Alenna.
Pukul setengah delapan malam, Alenna menjemput Ranti. Ranti adalah karyawan perusahaannya, dan ada di bagian divisi sumber daya manusia. Ranti terbiasa menyeleksi karyawan-karyawan yang melamar di perusahaannya. Hal yang membuat Alenna cepat akrab karena Ranti seumuran dengannya.
"Alenna, ponsel lu getar tuh." Ranti terbiasa dengan sapaan lu gue, dan dia tidak berhijab.
"Biarin. Cuma pesan basa-basi," kata Alenna sambil fokus mengemudi.
"Kayaknya tuh orang sering banget kirimin lu pesan, deh. Siapa namanya? Juno?" tanya Ranti.
"Iyap," jawab Alenna singkat.
"Em, kalau lu nggak mau sama Juno, mending buat gue aja. Kenalin gue, dong. Udah jomblo menahun, nih!" keluh Ranti.
"Eit, kalau udah kenal mau ngapain?" Alenna kepo.
"Mau gue ajak pacaranlah." Ranti blak-blalan.
Alenna sama sekali tidak bercerita pada Ranti bahwa Juno adalah mantan pacarnya.
"Ranti, kan udah pernah aku bilang. Nggak ada yang namanya pacaran sebelum halal. Mending langsung nikah. Kayak temanku tuh, Meli sama Mas Azka. Baper abis deh kalau kamu tahu kisah cinta mereka. Satu lagi nih, kamu beneran nggak mau berpenampilan sepertiku?" tanya Alenna sambil memainkan alisnya.
"Heeem. Mulai deh ceramahnya. Pokoknya doain gue biar cepet dapat hidayah kayak lu," kata Ranti.
"Aamiin," sahut Alenna.
__ADS_1
Ranti selalu memuji penampilan dan kebaikan Alenna. Dalam hati kecilnya, Ranti sangat ingin berpenampilan seperti Alenna, tapi masih saja ada gengsi di hatinya.
"Sudah sampai. Ingat, tanyai Mas Barra layaknya wawancara kerja. Jika menurutmu dia kompeten, secepatnya masukkan dia agar bisa bergabung di divisi yang kamu rekomendasikan. Silakan, Nona Ranti!" Alenna mempersilakan Ranti.
Barra sudah menunggu. Setelah berkenalan sebentar dengan Ranti dan basa-basi sedikit, Barra lekas diberondong tanya layaknya wawancara kerja. Awalnya Barra sedikit bingung karena Alenna tidak menyampaikan apa-apa. Namun, jawaban yang disampaikan Barra rupanya membuat Ranti puas. Dia bahkan sudah memutuskan.
"Mas Barra rupanya pernah kuliah di jurusan ekonomi tapi tidak lanjut," ulang Ranti sambil mengangguk-angguk.
Barra yang masih belum tahu apa-apa pun hanya bisa mengusap tengkuknya. Namun, Barra merasakan sebuah firasat baik akan segera datang menghampirinya.
"Mas Barra pasti bingung ya ini ada apa?" Alenna tersenyum menebak pikiran Barra.
"Hehe, iya." Barra cengar-cengir.
"Gimana, Ran?" Alenna memberi kode agar Ranti menyampaikan hasilnya.
"Oke. Begini Mas Barra. Gue, em, maksud saya, Mas Barra punya kompetensi menarik. Apakah Mas Barra bersedia bekerja di perusahaan kami?" Ranti tersenyum ramah.
Barra seketika mengucap hamdalah dengan kerasnya. Dia terkejut sekaligus senang dengan kabar yang baru saja diterimanya.
"Bismillaah. Saya sangat mau." Barra bersedia. "Em, tapi peraturan di cafe ini kalau mau mengajukan resign harus satu bulan sebelumnya," imbuh Barra.
Ranti menyuruh Barra untuk mulai masuk kerja lusa. Sehingga ada satu hari untuk mempersiapkan segala halnya. Ranti dan Alenna pamit. Ranti lebih dulu menuju mobil, meninggalkan Alenna yang masih mengobrol dengan Barra.
"Alenna, aku sungguh berterima kasih. Em, terimalah uang ini untuk mencicil hutangku." Barra menyerahkan amplop berisi uang pesangonnya.
Tangan Alenna lembut mendorong amplop yang disodorkan Barra. Alenna tersenyum lantas menggelengkan kepala.
"Gunakan buat beli kemeja, celana, sepatu, dan perlengkapan lain untuk kerja. Sisanya bisa Mas Barra kirimkan untuk orangtua Mas Barra di desa," tutur lembut Alenna.
Deg!
Satu waru merah jambu bersinar di hati Barra. Mendadak saja jantung Barra berdebar. Senyum dan tatapan Alenna malam itu dirasakannya sungguh berbeda. Sosok Alenna telah mencuri kepingan hatinya. Malam itu, Barra menyadari bahwa dirinya jatuh cinta pada Alenna.
"Aku pamit pulang dulu, Mas. Assalamu'laikum," pamit Alenna, lalu melangkah pergi
"Wa'laikumsalam," lirih Barra sambil memegangi dada kirinya.
Barra memandangi mobil yang membawa Alenna dan Ranti mulai menjauh. Namun, jantungnya masih saja berdebar merdu.
"Alenna, izinkan aku mencintamu," lirih Barra.
__ADS_1
***
Di dalam mobil, Alenna tak henti-hentinya tersenyum. Hal itu cukup menarik perhatian Ranti untuk bertanya.
"Lu naksir Mas Barra, ya Len?" tanya Ranti.
"Eit. Ya nggaklah. Cuma teman," terang Alenna.
"Btw, Mas Barra oke juga loh. Tuh body oke punya. Yakin lu nggak naksir?" tanya Ranti.
"Yakin, nggak kok. Lagipula aku punya Mas Rangga di Jember sana," aku Alenna.
"Uwu, makin kepo aja nih gue. Seperti apa sih sosok yang udah bikin seorang Alenna jatuh cinta?" Ranti memasang pendengarannya dengan betul.
"Em. Mas Rangga itu rajin ke masjid. Suka ngaji. Rajin bantu ibunya kerja. Mandiri. Gagah." Alenna tidak meneruskan. Dia senyum-senyum teringat Rangga.
"Oh. Pantesan pesan dari Juno lu abaikan. Ternyata di hati lu sudah ada Mas Rangga. Fix nih, ya. Lu harus kenalin gue sama Juno. Siapa tahu dia jodoh gue," desak Ranti.
Alenna tersenyum jahil ke arah Ranti.
"Tapi Juno sukanya sama cewek berhijab lho," bidik Alenna.
"Ah, berarti gue harus mulai membiasakan diri nih. Berbenah demi jodoh!" desis Ranti.
"Sst. Perbaiki niatmu. Masa iya berubah hanya demi cinta?" celetuk Alenna.
"Iya-iya, bawel! Eh, tapi gue seriusan nih. Kenalin gue sama Juno, ya. Gue pasti dukung lu sama Mas Rangga pujaan hati lu itu." Ranti memohon.
Alenna menghela nafas dalam. Dia tidak habis pikir dengan Ranti.
"Oke. Ikut aja kalau aku pulang kampung. Ntar aku kenalin," janji Alenna.
"Iyees!" seru Ranti girang.
Rangga, Juno, Barra, dalam perjalanan malam itu bergantian menjadi topik pembicaraan Ranti dan Alenna. Tanpa mereka sadari sebuah mobil sedari tadi membuntuti mereka. Bahkan, pria di dalam mobil itu sudah memperhatikan gerak-gerik Alenna sejak di cafe. Pria itu adalah pria yang pernah ditolak Alenna atas ajakan kencan yang dimintanya. Pria itu adalah pria yang dipergoki Alenna saat sedang bermain cinta dengan seorang berlipstik merah menyala. Pria itu adalah Vero. Arvero Dewanggi.
"Persiapkan dirimu, Alenna." Vero tersenyum penuh arti sambil menatap intens mobil yang melaju tepat di depannya itu.
Bersambung ....
Apa rencana Vero? Apa Vero hendak bermain-main dengan Alenna? Nantikan lanjutan ceritanya. Terima kasih sudah mampir dan membaca. Like. Komentari. See You. š
__ADS_1