Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 37


__ADS_3

Tiga minggu telah berlalu. Kehidupan pun menyuguhkan rutinitas baru. Alenna-Rangga telah melangsungkan pernikahan sah secara hukum negara. Acara digelar tak begitu megah. Yang diundang tak banyak juga. Alasan keamanan menjadi dasar kesederhanaan. Meski demikian, semua tidak mengurangi kesakralan dan makna dari sebuah pernikahan.


Sahabat Alenna, Ranti, juga telah melangsungkan pernikahan sah secara agama dan hukum negara dengan Juno. Acara berlangsung tepat sehari setelah tasyakuran pernikahan Alenna-Rangga terlaksana. Hingga saat ini, tak ada lagi yang mengetahui kekhilafan Ranti dan Juno hingga akhirnya keduanya mengambil jalan untuk menikah.


Alenna telah bekerja di cabang induk perusahaan. Sementara Rangga, bersama keempat anak buahnya telah menjalankan bisnis ruko dengan sepatu sebagai produk utama.


Takdir serupa mengiringi langkah Juno-Ranti untuk terus berdekatan dengan Alenna-Rangga. Alenna menarik Ranti dari induk perusahaan. Kini Ranti bekerja di kantor yang sama atas permintaan Alenna. Sedangkan Juno, sungguh suatu kebetulan yang tak disangka. Haris, ayah Juno, rupanya membelikan ruko yang menjual perlengkapan hidroponik dan bercocok tanam persis di sebelah ruko milik Rangga. Bedanya, Juno juga mengelola mini cafe di sebelah ruko hidroponiknya. Jadilah, persahabatan Rangga-Juno, Alenna-Ranti terus terjalin hingga saat ini.


"Mas Rangga, Assalamu'alaikum." Alenna memanggil-manggil Rangga.


"Wa'alaikumsalam, Bos Cantik. Bos Rangga lagi di lantai dua," ungkap si bertato yang tengah melayani pembeli sepatu.


Alenna mengangguk. Segera diayunkan kaki menuju lantai dua ruko. Rupanya Rangga tengah bersantai sambil mengoleskan minyak kayu putih ke lehernya.


"Mas Rangga, kenapa?" Alenna mendadak khawatir dan langsung mengecek kondisi tubuh Rangga.


"Nggak panas. Nggak kembung juga perutnya. Eh, tapi ini bekas bentol-bentol, ya? Mas Rangga habis mainan apa ini?" selidik Alenna.


"Tenang dulu, dong. Mas lagi gatel-gatel ini. Tadi habis ngerawat tanaman di depan ruko itu. Nggak taunya ada ulat. Iiih-iiih. Geli!" Rangga bergidik begitu teringat.


Tawa ringan langsung diserangkan. Menjadi istri Rangga telah membuatnya banyak tahu tentang pribadinya. Di balik tubuh gagah dan paras yang lumayan memesona, ada saja kekurangan yang dimilikinya. Rangga takut ketinggian, suka mabuk kendaraan, dan saat melihat ulat bulu seketika geli berlebihan. Namun, jika menyangkut urusan ibadah, tak lagi diragukan niatan Rangga.


"Teruus! Ketawain aja terus suamimu ini!" protes Rangga dengan nada canda.


"Maaf-maaf. Makan siang yuk, Mas. Di cafenya Juno. Ini leher bekas bentol-bentolnya ditutupin pakai syal aja!" saran Alenna.


"Ayo! Jam makan siangmu terbatas. Sebaiknya kita segera berangkat!" ajak Rangga.


"Eh, tapi kalau misal Mas Rangga pengen lebih lama makan siangnya, aku bisa agak telat kok balik ke kantornya," sahut Alenna.


"Istriku yang cantik, seorang pimpinan itu harus memberi contoh yang baik untuk anak buahnya. Kedisiplinan terutama. Mengerti?" nasihat Rangga dengan ramah.


"Siap, Mas Pacar!" Alenna berlagak seorang prajurit.


"Kok Mas Pacar? Aku kan suamimu?"


"Statusnya Mas Rangga dobel-dobel. Suamiku iya. Pacarku iya. Gebetanku iya. Selingkuhanku iya!" Saat bicara dengan Rangga, tutur kata Alenna memang kadang tak terkendali. Pada yang lainnya juga, sih.


"Jangan singgung-singgung selingkuhan, dong. Mas jadi ingat Satria, nih!" celetuk Rangga. Sengaja ingin memastikan reaksi Alenna.


"Aku udah bukan Alenna yang dulu, Mas. Selama ini Mas Rangga sudah menjadi imam yang baik. Sering ngasih nasihat juga."


"Satu yang kamu belum bisa ubah," teliti Rangga.


Alenna tampak berpikir. Mengingat-ingat kekurangan dirinya yang lain.


"Apa itu?" tanya Alenna begitu tak lagi punya opsi yang diduga.


"Tutur kata dan sikapmu masih suka terburu-buru. Grusa-grusu. Diperbaiki lagi ya perlahan. Mas juga masih belajar, kok. Dengan begitu, pasti kamu akan lebih baik lagi dalam memimpin perusahaan." Rangga tersenyum membesarkan hati Alenna.

__ADS_1


Rasa syukur dalam diri Alenna semakin membuncah. Semakin hari Alenna merasa beruntung telah menjadi istri Rangga. Selain sabar dan pengertian, Rangga menjelma menjadi sosok dewasa, mengayomi Alenna yang terkadang kekanakan. Kecuali, saat Rangga tak bisa mengatasi beberapa hal seperti ... ketinggian.


***


Alenna-Rangga makan siang di cafe milik Juno. Baru masuk ke cafe, mereka sudah disambut Ranti yang memang rutin ada di situ saat istirahat makan siang.


"Len, sini duduk. Udah disiapin menu ayam geprek sama suami gue!" Ranti memamerkan tiga piring nasi ayam geprek di salah satu meja.


"Loh? Sejak kapan cafe Juno jualan ayam geprek juga?" Alenna terheran.


"Kalau aku malah penasaran dengan Juno yang mendadak pinter bikin masakan," sahut Rangga.


"Suami gue ajaib! Multi talend. Bakat tersembunyinya langsung keluar begitu jadi istrinya Ranti." Terlihat kebanggaan pada diri Ranti.


Tak lama kemudian, Juno keluar dari dapur. Juno berbicara sebentar dengan karyawannya, lantas bergabung dengan Alenna, Ranti, dan Rangga.


"Waduh, Mas Rangga nikmat banget tuh makannya!" celetuk Juno.


Rangga hanya menanggapi dengan acungan jempolnya. Lidah Rangga benar-benar merasakan kelezatan masakan Juno.


"Jun, nambah menu aja di cafe. Sekalian di daftarin di aplikasi. Dijamin laris," ide Alenna dengan antusias.


Juno menanggapi ide Alenna dengan antusias yang sama. Sejujurnya, meski telah menikah dengan Ranti, Juno masih memandang Alenna sebagai mantan terindah. Tak jarang pula Ranti memergoki Juno melihat Alenna dengan tatapan tak biasa. Namun, Ranti hanya bisa menegur kecil, sembari berdoa agar segala rasa di masa lalu bisa lekas terganti dengan rasa yang baru.


"Beb, siapa tuh!" kode Ranti begitu ada seorang wanita yang masuk cafe sambil celingukan seperti sedang mencari sesuatu.


Rangga langsung berhenti mengunyah. Tidak langsung melihat ke arah pintu masuk, justru melirik Alenna di sebelahnya. Tampak mata Alenna juga berhenti mengunyah, melihat sekilas ke arah Andin, kemudian mengubah pandangan ke arah Rangga.


"Ada cewek cantik nyariin tuh, Mas!" ujar Alenna.


"Cantikan kamu. Mas temui dulu, ya."


Begitu mendapat anggukan dari Alenna, Rangga menemui Andin.


Andin, seorang single parent. Belum genap setahun ditinggal mati sang suami. Andin adalah reseller produk sepatu yang dijual di ruko Rangga. Baru bergabung tiga hari lalu. Butuh bimbingan lebih dari Rangga, Andin pun dua hari ini sering menjumpainya di cafe Juno.


"Andin cantik juga, ya. Kalau pakai hijab pasti tambah cantik," celetuk Ranti sambil menyuap ayam gepreknya.


Seketika Alenna melirik dan memberi tatapan tajam atas pujian Ranti pada Andin. Ranti hanya bisa berkedip cepat tanda tak mengerti.


"Beb, Alenna kenapa sih?" bisik Ranti pada Juno.


"Pasti cemburu tuh! Model-model kamu kalau cemburu liat aku deket-deket Alenna. Mendadak jadi galak!" sahut Juno, juga dengan berbisik.


Sepotong ayam berbalut sambal langsung mendarat di mulut Juno.


"Jadi aku galak?" Ranti memajukan bibirnya.


"Aduh! Mulai deh sensinya," gumam Juno sambil garuk-garuk kepala.

__ADS_1


Cetak!


Juno-Ranti kompak menoleh. Tampaklah Alenna yang sedang menusuk-nusuk ayam gepreknya menggunakan garpu. Sementara tatapan matanya tersorot ke tempat duduk Rangga dan Andin yang tengah tertawa bersama.


"Bahas apa sampai ketawa gitu, sih!" gerutu Alenna.


Ayam geprek yang dipotong-potong tak kunjung dilahap. Terus dipotong-potong dan tetap meninggalkan bunyi 'cetak-cetak'.


"Uuuuuh. Itu kenapa terlalu dekat! Aaaaa, i-ituu ... senggolan tangan!" Mimik wajah Alenna tak dapat diartikan.


"Woi, Len! Sadar-sadar. Nggak sengaja yang barusan," ujar Ranti menenangkan.


Cetak!


Kembali garpu ditusukkan asal ke piring ayam geprek. Tatapan Alenna tertuju ke arah Ranti sekilas, lantas kembali memperhatikan Rangga dan Andin.


"Aw, atut!" lirih Ranti.


"Ssut. Biarin dulu. Mas Rangga orangnya nggak mudah tergoda, kok!" kode Juno membisiki istrinya.


Jam istirahat makan siang tersisa sepuluh menit lagi. Alenna dan Ranti sudah selesai menyantap ayam gepreknya hingga tak tersisa. Juno sebagai tuan rumah di cafenya, sigap membereskan meja. Tentunya dibantu pula oleh Ranti.


Rangga kembali. Cukup lama juga dia berbincang dengan Andin. Saat duduk di tempatnya lagi, Rangga merasakan aura sang istri tak seperti tadi.


"Mas, aku balik kantor dulu." Nada Alenna sedikit ketus.


Rangga menatap heran sang istri. Sikap Alenna dirasakannya berubah.


"Salim," pinta Alenna sambil menjulurkan tangannya.


Kebiasaan Alenna, mencium punggung tangan suami jika akan pergi. Dalam keadaan sikap seperti itu pun Alenna tetap mempertahankan kebiasaannya.


"Senyum dong," pinta Rangga sambil mengusap-usap gemas kepala Alenna.


"Nggak mau! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Alenna lekas beranjak dan keluar dari cafe. Ranti tergopoh-gopoh karena merasa akan ditinggal Alenna ke kantor duluan.


"Istrimu cemburu sama Andin, Mas." Juno memberi tahu.


Rangga tersenyum, lantas beristighfar.


"Syukurlah dia cemburu. Itu artinya Alenna benar-benar mencintaiku." Batin Rangga. "Tapi ... sampai kapan cemburunya? Adyah! Mugo ora suwe!"


Bersambung ....


Merapat juga ke novel Menanti Mentari, yuk. Kak Cahyanti lagi nyiapin pesta seru ini buat Meli sama Azka. Author mau mampir juga nih ke Jogja šŸ˜‹ Ada yang mau ikut? 😁

__ADS_1


__ADS_2