Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 59


__ADS_3

..."Pantaskah aku disebut baik, sementara pada kesalahan orang lain begitu mudah aku menghardik"...


...-Ikatan Cinta Alenna-...


Malam tiba dengan berjuta pesonanya. Langit bersih dengan taburan gemintang di sana-sini. Juga, bulan sabit bercahaya, yang hadirnya lebih memesonakan langit cerah. Dari semua keindahan di langit sana, nyatanya tidak ada yang mampu menyunggingkan senyum Alenna.


"Sudah pukul sepuluh malam. Tapi ... rasanya seperti ada yang kurang," gumam Alenna.


Bola mata Alenna masih memandang jauh ke arah kerlip-kerlip bintang. Berdiri mematung di balkon apartemen, Alenna terdiam sembari melambungkan angan ke masa silam.


"Saat kecil, aku berandai-andai bisa sukses menjadi wanita karir. Kini mimpi itu sudah terukir. Tapi ... kenapa rasa bahagia itu saat ini tidak bisa mengalir?"


Alenna tersenyum kecut kala teringat ingatan masa lalunya yang semrawut. Dahulu kala saat masih tinggal di Jerman, Alenna adalah sosok yang kurang mengenal adab, sering bertingkah sembarangan, bahkan pada harta terkadang menyombongkan. Sampai pada akhirnya Alenna tinggal di Indonesia, bersama sang ayah dan kakak tirinya, Mario. Tentu, Alenna tidak serta merta diterima kehadirannya oleh Mario, karena Alenna adalah putri dari sosok wanita selingkuhan ayah Mario.


Sempat kembali tinggal di Jerman, Alenna balik lagi ke Indonesia demi berdamai dengan keadaan. Sang ayahlah yang meminta, dan kala itu Mario mulai belajar menerima kehadirannya. Bersama teman-teman dan kakak yang mulai menampilkan kepedulian, Alenna banyak mengalami perubahan, sampai berhijab seperti sekarang.


"Aku percaya karma itu ada. Tapi aku tidak menganggap perselingkuhan yang pernah kulakukan adalah sebuah sikap yang diturunkan dari ayah. Semua itu murni kekhilafanku bersama Satria. Sedangkan Mas Rangga memang salah. Sudah tau dulu aku memaafkannya, kali ini justru kembali coba-coba. Sama wanita yang sama pula. Ih."


Di akhir kalimat, Alenna tertawa ringan. Alenna menertawakan dirinya. Miris hati Alenna kala meratapi kisah hidupnya.


"Terdengar egois sekali. Aku tidak ingin disalahkan, tapi justru menyalahkan kekhilafan orang. Pantaskah aku disebut baik, sementara pada kesalahan orang lain begitu mudah aku menghardik."


Satu tarikan nafas dilakukan. Kedua mata Alenna terpejam, lantas berdiam membiarkan wajah bulenya diterpa angin malam.


"Dingin. Bisa masuk angin nih lama-lama di sini." Alenna terus berujar sendiri.


"Masuk angin?" Alenna sendu. Mendadak teringat sesuatu.


"Aku lupa masukin jaket dan selimut ke dalam kopernya .... Mas .... Rang-gaaa. Huhuhuhu."


Air mata Alenna mengalir deras seketika. Benar-benar tak ada aba-aba. Begitu teringat Rangga, seketika bulir berharga itu tumpah membasahi pipinya.


"Kenapa aku masih peduli saja sama kamu sih, Mas? Padahal hatiku terluka gara-gara lihat kamu sama Andin. Huhuhuhuuu. Astaghfirullaah, kenapa begitu sakit, Ya Allah? Hati hamba sakit sekali," lirih Alenna berkata, apalagi di bagian akhir kalimatnya.


Drrt Drrt


Smartphone di saku outer Alenna bergetar. Diintipnya siapa yang membuat panggilan suara kepadanya. Mulanya Alenna mengira itu adalah Satria yang akan kembali menasihatinya. Nyatanya, yang menelepon adalah Rangga. Cepat-cepat Alenna mengusap air matanya. Bukannya menerima panggilan, yang Alenna lakukan justru ngomel-ngomel sendirian.


"Ngapain sih Mas Rangga nelpon segala? Pasti nggak kuat kan nahan rindu kelamaan. Rasain. Ini balasan karena kamu berani selingkuh sama Andin!" Alenna menunjuk-nunjuk smartphone-nya dengan kesal.


Klik!


Alenna me-reject panggilan. Tak lama kemudian, panggilan yang sama berulang. Pilihan yang sama pun dilakukan. Alenna kembali me-reject panggilan. Hingga panggilan Rangga mencapai sepuluh kali, Alenna berhenti me-reject karena semakin kesal. Diangkatnya panggilan Rangga, tapi kata-kata yang disampaikan sama saja dengan perlakuan sebelumnya.


"Aku matikan. Huh!"


Panggilan berakhir usai Alenna memencet ikon akhiri panggilan. Langkah Alenna selanjutnya diayunkan menuju kamar, meletakkan smartphone-nya di atas nakas, lantas memilih untuk merebahkan badan.


"Mood-ku benar-benar kacau! Ini semua gara-gara Mas Rangga!"


Emosi Alenna naik turun. Sekali waktu hatinya begitu perih sampai menangis berlebih. Tetiba juga kesal sendiri sampai memaki-maki.


Drrt drrt


Kembali terdengar getar smartphone. Kali ini bukan panggilan telepon, tapi pesan masuk.


"Uuuh. Kenapa nggak nyerah aja sih dia!"


Alenna memiringkan badan, kemudian matanya terpejam. Yang Alenna pilih adalah mengabaikan pesan. Namun, hingga setengah jam berlalu, kantuk itu tak kunjung menyerang.


"Tuh kan. Pesan yang masuk jadi mengganggu pikiran!" protes Alenna.


Sambil malas-malasan, Alenna turun dari ranjang. Sungguh, smartphone di atas nakas begitu menarik perhatian. Padahal, Alenna sudah mencoba untuk mengabaikan. Beberapa menit mondar mandir di kamar, pada akhirnya Alenna memilih untuk membaca pesan.


Nasi goreng bungkus karet gelang ekecing kuletakkan di depan pintu.


Alenna meletakkan smartphone-nya lagi usai membaca pesan dari Rangga. Sama sekali tidak ada niatan untuk mengambil nasi goreng di depan pintu sana.


"Main sogok pakai nasi goreng rupanya."


Kembali berbaring, Alenna tidur dengan posisi miring. Namun, pikiran Alenna masih terusik hingga kantuk pun tak kunjung hadir.


"Oke. Nasi gorengnya kuambil hanya karena aku takut mubadzir."

__ADS_1


Pintu dibuka perlahan. Alenna khawatir Rangga akan mengejutkan dan berbuat macam-macam. Merasa aman, Alenna melebarkan pintu dan keluar. Benar, di sana sudah ada bungkusan nasi goreng yang bersebelahan dengan paper bag berukuran besar. Alenna membawa semuanya masuk ke dalam.


"Sweater?"


Isi paper bag adalah sweater. Ada pesan dari Rangga di dalamnya.


Tetaplah hangat. Termasuk hatimu, juga rumah tangga kita.


"Huh. Nggak sadar apa? Yang membuat semua jadi dingin kan Mas Rangga!"


Sweater diletakkan asal. Alenna membuka bungkusan nasi goreng, lalu melahapnya tanpa pikir panjang.


Aneh. Air mata Alenna mengalir seiring bertambahnya suapan nasi goreng. Semakin banyak suapan, semakin deras air mata yang berlinang.


"Huhuhuu. Nggak ada yang nyuapin aku," keluh Alenna di sela isak tangisnya.


Benar-benar perasaan yang berubah-ubah. Hati Alenna kembali pedih karena teringat kenangan manis bersama Rangga. Memang, biasanya Alenna akan manja dan meminta Rangga untuk menyuapinya.


"Pasti kamu sama Andin juga pernah suap-suapan kan, Mas. Pedas! Hatiku pedas lihat kalian. Sekarang rasakan, Mas. Gimana rasanya kuacuhkan?!"


Air mata terus mengalir, membuat nasi goreng menjadi terasa asin.


"Nasi goreng ekecing. Norak!" Alenna menyeka air mata. "Tapi kenapa aku bisa jatuh cinta sama Mas Rangga? Huaaaa!"


Tangis Alenna menjadi. Hingga nasi goreng habis pun, sesekali air mata itu masih membasahi pipi. Hati Alenna terus meratap, sampai pada akhirnya Alenna terlelap.


***


Langkah Alenna dicegah Satria di depan kantornya.


"Ada apa, Sat?" Nada suara Alenna terdengar tidak bertenaga.


"Kenapa masuk kerja, Nona?"


"Aku kan direkturnya," jawab Alenna singkat. "Tolong siapkan laporan dari divisi periklanan. Ada kerja sama baru yang akan menguntungkan dari pihak luar.


Mendengar Alenna membahas bisnis dengan benar, Satria pun membiarkan. Apalagi posisi Satria hanyalah bawahan.


Satria tidak langsung mengiyakan. Lebih dulu semua dokumen diperiksa ulang. Jarang-jarang Satria bersikap demikian.


"Maaf, Nona. Bisa berdiri sebentar?" Satria sopan meminta.


"Baiklah."


Satria mengambil tas yang biasa dipakai Alenna ke kantor. Beberapa barang Alenna juga dimasukkan ke dalam tas, termasuk smartphone Alenna yang tergeletak di meja.


"Loh-loh, Sat. Kamu ngapain?"


"Barang-barang nona sudah saya rapikan. Sekarang, silakan nona pulang."


"Apa-apaan sih kamu? Aku direkturnya, lho!"


"Sementara ini tugas nona saya ambil alih, hingga pikiran nona kembali jernih. Sebentar, saya telponkan Ranti untuk menemani nona seharian."


Tangan Alenna mencegah Satria untuk menghubungi Ranti.


"Aku nggak mau pulang!"


"Maaf. Nona Alenna sungguh harus pulang. Coba nona lihat ini!"


Satria menunjukkan dokumen-dokumen yang sudah terbubuh tanda tangan. Alangkah terkejutnya Alenna melihat tanda tangan yang tertera di setiap dokumennya. Bukan tanda tangan Alenna yang ditorehkan, melainkan tanda tangan Rangga.


"Kok bisa sih?" Alenna terkejut bukan main.


"Bisa saja karena pikiran dan hati nona tertuju pada Tuan Rangga, meski raga nona ada di sini untuk bekerja. Tunggu sebentar, saya telponkan Ranti untuk menemani nona pulang."


"Tidak mau, Sat. Aku tidak mau pulang!"


"Baiklah. Nona Alenna tidak akan pulang, tapi jalan-jalan."


"Hah?"


Satria tetap menghubungi Ranti. Omelan dan protesan Alenna benar-benar diabaikan Satria kali ini.

__ADS_1


"Ranti, tolong temani Nona Alenna jalan-jalan. Ada sopir yang menemani kalian. Pekerjaanmu untuk sementara akan digantikan sampai Nona Alenna berhasil menjernihkan pikiran."


"Siap aja, deh. Ayo berangkat, Len!" Ranti menarik tangan Alenna.


"Nggak mau!" Alenna menolak pergi.


"Len, ikut aku atau kutelpon Mas Rangga buat nemuin kamu sekarang juga?" ancam Ranti.


"Oke-oke. Ayo pergi!"


Satria tersenyum melihatnya. Meski Satria akan segera menikah dengan Mily, Satria tetap peduli pada kebahagiaan Alenna.


Semalam, Satria banyak berbincang dengan Rangga hingga tengah malam. Satria percaya bahwa yang kemarin dilihatnya adalah suatu kesalahpahaman. Untuk itu, Satria akan membantu Alenna dan Rangga kembali dalam ikatan. Namun, untuk sementara ini Satria membiarkan Alenna untuk bersikap lebih tenang.


***


Di depan kantor, Alenna dan Ranti sudah bersiap memasuki mobil. Namun, langkah keduanya terhenti karena hadirnya seorang wanita yang tidak dikehendaki.


"Mbak Alenna, maafkan saya, Mbak. Mas Rangga tidak bersalah." Andin datang sambil menggendong Baby Ali.


Alenna hanya meliriknya sekilas, lantas bergegas.


"Ayo, Ran!" Alenna memberi kode pada Ranti untuk naik mobil.


"Tunggu, Mbak!" Andin menahan tangan Alenna, tapi ditepis seketika.


"Pergi kamu!" usir Alenna.


"Len, tenang!" Ranti khawatir, karena tidak pernah melihat mimik wajah Alenna seemosi itu.


Alenna membuang pandang, kemudian mengambil nafas dalam.


"Mau apa?" Alenna ketus bertanya pada Andin.


"Mas Rangga tidak bersalah, Mbak."


"Terserah kalian. Aku sudah tidak percaya. Ini bukan yang pertama kalinya aku melihat kalian berdua. Udah puas kan lihat aku terluka?" Alenna emosi.


"Mbak Alenna salah paham. Mas Rangga setia pada Mbak Alenna." Andin tetap menjelaskan.


Tatapan mata Alenna tajam.


"Untuk apa kamu repot-repot menjelaskan, hm?"


"Kasihan Mas Rangga, Mbak. Semalam Mas Rangga ...."


"Semalam Mas Rangga apa? Kenapa kamu bisa tau kondisi Mas Rangga semalam, ha? Jangan-jangan kalian memang ketemuan lagi! Sudah cukup. Ranti, ayo kita pergi!"


Alenna kepalang emosi. Ranti yang tidak ingin melihat situasi mengeruh pun memilih untuk menurut dan pergi. Sementara Andin, hanya berdiri mematung karena tidak menyangka Alenna akan seemosi tadi.


"Sebenarnya semalam Mas Rangga mengusirku dari ruko karena khawatir Mbak Alenna semakin salah paham. Aku tidak tega melihat raut wajah Mas Rangga yang kesepian. Itulah yang mau aku sampaikan, Mbak. Huft, sepertinya langkahku salah. Percuma saja aku menjelaskan. Mbak Alenna tidak akan mendengarkan."


Andin menyerah. Dirinya telah menutuskan untuk tidak kembali mencoba menjelaskan pada Alenna. Sikap acuhlah yang akan dipilihnya.


Langkah Andin baru lima langkah menjauh dari kantor Alenna. Tetiba saja ada suara yang memanggil namanya. Andin menoleh seketika.


"Kamu kan?" Andin masih mengingat betul.


"Saya Satria. Sekretaris Nona Alenna. Bisakah nona ikut saya?" Satria meminta dengan sopan.


"Kemana?"


"Bertemu Tuan Rangga."


Andin mematung. Setelah semalam diusir Rangga, rasanya enggan untuk kembali menampakkan wajahnya. Apakah Andin akan bersedia ikut dengan Satria?


Bersambung ....


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca kisah bar-bar Alenna-Rangga. Merapat juga yuk ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami šŸ’™


Yang Kepo sama kisah Mario-Anjani, kakaknya Alenna, segera meluncur ke novel author yang judulnya Takdirku Bersamamu. Sudah ada 20 episode di sana. 😊


***

__ADS_1


__ADS_2