
Langit cerah sungguh kontras dengan suasan hati Alenna. Bersama Rangga, Alenna baru saja pulang dari periksa kandungan. Agenda rutin yang selalu saja menggembirakan, karena Rangga semakin lama semakin menunjukkan perhatian.
"Mas, jangan kabar-kabar dulu, ya. Biar jadi kabar bahagia buat semua saat anak kita lahir ke dunia."
"Siap aja, deh. Adik kembarku pasti senang punya ponakan kembar. Ihihi." Ranggalah yang tampak paling bahagia.
Alenna dapat merasakan kebahagiaan Rangga. Dalam hati pun sebenarnya Alenna berbahagia. Ingin sekali memberi tahu dunia bahwa ada janin kembar dalam kandungannya. Namun, Alenna telah berniat untuk tidak terlalu mengumbar kebahagiaannya.
"Em, Sayang. Langsung ke kantor atau mau pulang dulu?" Rangga bertanya sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Langsung ke kantor aja, Mas. Lagipula ayah sudah berbincang banyak dengan Satria."
“Sudah yakin betul dengan keputusanmu?”
“Insya Allah yakin, Mas.”
"Oke. Akan kutemani sampai selesai."
Melajulah mobil yang dikemudikan Rangga menuju kantor Alenna. Sepanjang perjalanan, obrolan-obrolan yang tercipta tak jauh-jauh dari calon buah hati kembar. Hingga lima belas menit berlalu, Alenna-Rangga telah sampai di tempat yang dituju.
Karyawan-karyawan yang berpapasan langkah dengan Alenna-Rangga menunduk seraya memberi salam. Dengan penuh kerendahan hati, Alenna menanggapi dengan senyum mengembang.
“Nona Alenna, Tuan Rangga. Silakan ke arah sini.” Satria menyambut, lantas mengarahkan menuju ruang pertemuan.
“Sat, berhenti sebentar.” Alenna memerintahkan.
“Ada yang bisa saya bantu untuk nona?”
Alenna tersenyum ramah, tapi sorot matanya tidak menunjukkan sikap canda. Tersirat keseriusan di sana.
“Sat, selama ini kamu sudah banyak membantuku dan perusahaan. Aku bertanya sekali lagi padamu. Apakah kamu keberatan dengan keputusan yang telah ditetapkan?”
“Sama sekali tidak keberatan, Nona. Justru, saya berterima kasih pada Nona Alenna yang telah begitu baik pada saya. Jangan pernah sungkan meminta bantuan apa pun pada saya.” Satria menunduk takzim untuk kesekian kalinya.
Hati Alenna lega, sekaligus mantap untuk melanjutkan langkahnya. Dengan tetap ditemani Rangga, Alenna diarahkan Satria menuju ruang pertemuan. Di sana sudah ada tangan kanan ayah Alenna, kepala divisi-divisi, juga pengacara. Kehadiran Alenna-Rangga disambut dengan hormat oleh semua.
Dengan disaksikan oleh orang-orang yang hadir di ruang pertemuan, jabatan direktur resmi berpindah kepada Satria. Lebih dari itu, Alenna memberikan 50% saham perusahaannya untuk Satria. Usai hitam di atas putih itu terbubuh tanda tangan, langkah baru pun resmi ditapakkan.
Alenna melepas jabatannya hanya demi bisa maksimal menjalankan peran sebagai istri Rangga. Alenna memutuskan untuk membantu Rangga menjalankan bisnis ruko dan jamunya. Dengan begitu, Alenna juga punya banyak waktu untuk calon buah hati kembar yang akan segera lahir ke dunia.
“Nona Alenna, sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan apa pun pada saya. Semoga rumah tangga nona dan tuan senantiasa diselimuti kebahagiaan.” Lagi-lagi Satria menunduk takzim.
“Aamiin.” Alenna-Rangga kompak meng-aamiin-i.
“Sat, ajak Mily untuk menetap di kota ini. Tidak baik terus LDR-an. Apalagi kalian baru saja menikah.”
“Baik, Nona. Sudah dalam perencanaan untuk pindah ke apartemen yang nona hadiahkan pada kami.”
“Eh, Sat. Kalau aku butuh model iklan jamu lagi, kamu sama istrimu siap, ya?” Kali ini Rangga yang meminta.
“Dengan senang hati saya dan istri akan membantu Tuan Rangga.” Satria bersedia, karena tak lagi takut tampil di depan kamera.
__ADS_1
“Mas Rangga semangatnya sudah berkobar, nih!” Alenna memuji.
“Iya, dong. Kan ada istri yang bakal nemenin aku. Nggak kuatir masuk angin lagi, deh.”
Rangga tidak sungkan menggenggam tangan Alenna di depan Satria. Perlakuan Rangga yang demikian membuat Alenna senyum-senyum sendirian.
“Ehem.” Satria berdehem sebentar. “Maaf, Nona Alenna, Tuan Rangga. Ada salam dari Tuan Vero dan Nona Andin. Mereka sungguh tidak apa-apa meski Nona Alenna dan Tuan Rangga tidak hadir di resepsi pernikahan mereka waktu itu. Pesan mereka, jangan pernah sungkan untuk menyapa bila bertemu.”
Alenna-Rangga saling toleh. Tetap ada rasa tidak enak hati meski sudah dimaklumi.
"Apa Vero jadi mengajak Andin tinggal di luar negeri?" Alenna ingin tahu kebenarannya.
"Benar. Bahkan Tuan Vero dan Nona Andin sudah meninggalkan kota ini sejak dua hari lalu," terang Satria dengan apa adanya.
Rangga menggenggam tangan Alenna erat.
"Doakan saja mereka bahagia, maka doa yang sama akan kembali pada kita." Rangga memberi nasihat.
Anggukan kecil tercipta. Alenna sudah menyingkirkan kebencian yang pernah meraja. Kesalahan di masa lalu telah terbungkus kata maaf dan telah diambil hikmahnya.
***
Beberapa bulan telah berlalu. Wartawan berlarian memenuhi bagian depan ruko sepatu. Yang mereka cari adalah owner jamu. Begitu ketemu, Rangga pun lekas diburu.
"Harap tertib!" seru si bekas sayatan. Sementara tiga anak buah Rangga yang lain berjaga di sekitar.
"Pak Rangga, dari mana ide bisnis jamu ini muncul?"
"Nemu di resepsi pernikahan sahabat istri saya di Jogja sana." Rangga berterus terang bahwa ide jamunya muncul saat menghadiri resepsi pernikahan Meli dan Azka di Jogja.
"Kalau itu jangan ditanya. Pasti senanglah."
Rangga terus diburu pertanyaan oleh wartawan. Memang, bisnis jamu Rangga telah naik daun dan banyak dikenal orang. Desain, kualitas, dan ide promosi produk yang pas mendukung tenarnya bisnis jamu Rangga.
"Pak Rangga, kalau boleh kami tahu, apa rahasia sukses bisnis jamu Anda?" Salah satu wartawan yang baru datang ikut bertanya.
"Salah satu rahasianya adalah ...." Rangga menggantung kalimatnya. Sejenak, Rangga teringat ketulusan hati Alenna dalam melepas jabatannya demi selalu bisa menemaninya. "Bisnis jamu saya bisa sesukses ini karena doa dan dukungan istri saya," ungkap Rangga.
"Apa itu istri Pak Rangga?" Wartawan yang membawa alat perekam menunjuk Alenna.
"Ah, benar. Istri saya sedang hamil besar."
"Mas Ranggaaa!"
Alenna menjerit memanggil nama Rangga. Tak lagi memedulikan pertanyaan wartawan, Rangga tergopoh menghampiri Alenna yang tampak kesakitan.
"Sayang, kamu kenapa?" Rangga panik.
"Sakiiiit. Antar aku ke rumah sakit, Mas!"
"Sudah waktunya, ya? Oke-oke. Tahan dulu, ya Sayang."
__ADS_1
Si mantan sopir sigap menyiapkan mobil. Tiga anak buah Rangga yang lainnya sigap mengamankan jalan guna menghindari kerumunan wartawan. Rangga juga berperan, sigap membantu Alenna berjalan. Dan ... melajulah mobil yang dikemudikan menuju tempat persalinan.
"Oeeeek-oeeeek!"
"Alhamdulillaah. Sekarang, aku seorang ayah," ucap syukur Rangga.
Bayi kembar Alenna-Rangga telah lahir ke dunia. Berjenis kelamin laki-laki, dengan hidung mancung dan wajah kebulean seperti Alenna.
"Mas Rangga yang kasih nama, ya."
Rangga menggenggam erat tangan Alenna. Sorot mata Rangga dipenuhi rasa syukur dan cinta kasih untuk sang istri.
"Rafa Ahmad Prayoga dan Rafi Ahmad Prayogi. Kamu suka nama itu?" Rangga mengusap kepala Alenna dengan lembut.
"Suka, Mas. Semoga anak-anak kita tumbuh jadi anak solih, berbakti pada orangtua, dan ...."
"Selalu bisa menyenangkan hati bundanya." Rangga menimpali.
"Aamiin. Hati ayahnya juga," imbuh Alenna.
Kebahagiaan tengah menyelimuti Alenna-Rangga atas kehadiran buah hati kembar mereka. Kesalahan masa lalu benar-benar telah menjadi pelajaran berharga bagi Alenna-Rangga. Keduanya sama-sama menjelma lebih dewasa. Hingga kini, saling jujur menjadi pegangan bagi mereka dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Yang terpenting dari itu semua, ikatan cinta Alenna-Rangga berhasil mengerat, terus menguat.
Sungguh tidak ada insan yang sempurna. Salah, khilaf, dan sikap tak sepatutnya terkadang menjerat langkah. Kala masalah mendera, salah satu jalan penyelesaian harus dipilih seketika. Bukan menghindari apalagi meratapi berlebih. Tidak akan merugi saat langkah yang dipilih adalah memaafkan lantas berbenah diri.
END
Bonus dikit deh! 💙👇
Rangga berlarian masuk rumah, kemudian naik ke atas sofa. Alenna yang melihat tingkah kekanakan Rangga pun hanya bisa menampilkan mimik wajah gemas.
"Ada apa, Mas?"
"I-itu, Rafa-Rafi. Iiih. Geli!"
"Aaaaaa. Ayah, bunda!"
Rafi ikutan berlarian masuk rumah, kemudian naik ke atas sofa menyusul Rangga.
"Ayah, Rafi geli!"
"Kita sama. Ayo tos dulu!" Rangga mengajak tos si Rafi.
"Ada apa sih ini?" Alenna masih tak paham situasi.
Dari arah pintu, Rafa berjalan santai sambil memegang ranting pohon. Karena itulah Rangga dan Rafi berlarian masuk rumah. Bukan karena rantingnya, tapi karena ulat yang ada di sana.
"Bunda, ayah sama Rafi takut lihat ulat." Rafa tersenyum jahil sambil memperlihatkan ulatnya pada Alenna.
Alenna geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan anak-anaknya.
"Mas Ranggaaaaa!"
__ADS_1
***
END 💙💙💙💙💙 END