
Pagi hari yang tidak begitu cerah. Tidak biasa-biasanya mendung menggantung di langit sana. Bisa saja hujan turun tanpa aba-aba dan sewaktu-waktu juga. Tidak ada yang bisa memprediksinya. Sebagai istri yang perhatian, Alenna menyiapkan baju tebal untuk Rangga gunakan.
“Pakai ini saja, Mas. Aku khawatir Mas Rangga masuk angin.”
“Insya Allah sudah lebih sehat karena rajin minum jamu buatanku.” Rangga cengengesan sambil menunjuk beberapa botol jamu yang akan dibawa atas pesanan Juno dan Ranti.
“Iya-iya. Percaya deh yang owner jamu. Hehe. Aku bangga sama Mas Rangga karena udah punya bisnis baru,” puji Alenna.
“Ini juga karena dukungan dan bantuanmu, Sayang. Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku.”
“Tidak-tidak. Harusnya aku yang bilang terima kasih sama Mas Rangga. Terima kasih, ya Mas. Mas Rangga sudah bersedia mempertahankan ikatan cinta kita. I love you, Mas.” Alenna auto memeluk Rangga.
"Lophe yu tu," sahut Rangga dengan aksen jawanya.
Romantisme pagi yang indah. Alenna dan Rangga saling mengungkap syukur atas takdir mereka.
“Jangan lupa hari ini ada pembangunan outlet jamu di depan ruko, ya Mas. Oya, karyawan baru yang jaga outlet jangan lupa. Kalau bisa kurang dari satu minggu sudah ada. Kalau memang belum nemu juga, minta tolong anak buahnya Mas Rangga saja begitu waktu launching tiba. Oke, Mas?“
“Oke tok wes pokoke. Siap laksanakan. Oya, Sayang. Siang ini aku ada perlu sama teman, jadi kamu makan siang sama Ranti aja di kantor, ya?” Rangga teringat janjinya dengan Andin.
“Asyiik. Akhirnya Mas Rangga sudah nemu teman juga selain Juno. Oke-oke. Makan siangku biar di kantor saja sama Ranti. Lagipula, sepertinya akan turun hujan juga hari ini."
Ada rasa tidak enak hati. Rangga tak bisa berterus terang jika akan bertemu Andin siang nanti. Namun, alasan akan bertemu seorang teman bukanlah kebohongan, karena Rangga memang mulai menganggap Andin sebagai seorang teman. Alhasil, rasa tidak enak hati pada diri Rangga sedikit terobati.
***
Menjelang waktu pertemuan, mendung pekat semakin menandakan bahwa hujan akan turun dengan lebat. Rangga menyiapkan payung di dalam mobilnya. Bukan hanya satu, tapi dua.
"Mas Rangga mau kemana?" Juno menghampiri Rangga yang tengah bersiap di lantai dua ruko.
"Mau keluar. Tadi udah siap di mobil, eh HP ketinggalan. Bentar-bentar. Nah, ini dia."
Rangga mengecek pesan masuk, lantas membalasnya. Dari pesan yang baru saja dibacanya Rangga tahu bahwa Andin sedang dalam perjalanan menuju tempat pertemuan mereka, yakni cafe bintang kejora.
"Mau ketemu siapa, Mas? Kelihatan seneng banget sepertinya," selidik Juno.
"Ketemu teman. Kamu ke sini mau ambil jamu, kan? Bilang aja sama anak-anak di bawah. Aku pergi dulu, ya."
Rangga pamit, menepuk bahu Juno lantas menuruni anak tangga.
"Keburu-buru banget, sih. Padahal aku ke sini mau curhat. Dahlah, balik dulu aja."
Juno memilih turun mengambil pesanan jamunya, lantas kembali menuju cafenya. Sementara Rangga, dia telah melajukan mobilnya menuju tempat pertemuannya dengan Andin.
Ketika sudah separuh jalan, hujan turun dengan lebatnya. Rangga seketika memelankan laju mobilnya. Dia tak ingin terlalu ngebut saat akses pandang tak begitu terang karena lebatnya hujan.
Tidak disengaja, Rangga menangkap sosok Andin sedang berteduh di teras toko yang sedang tutup. Baby Ali terlihat berada dalam gendongan Andin sambil menangis.
"Andin?"
Rangga langsung menepikan mobilnya. Dua payung di kursi belakang diraih, untuk kemudian salah satunya digunakan untuk menghampiri Andin dan Baby Ali.
"Mas Rangga?"
"Kenapa kamu di sini, Ndin? Kukira sudah sampai di cafe. Vero mana?" tanya Rangga.
"Anu, Mas. Vero nggak tau kalau aku mau ketemu Mas Rangga. Ntar yang ada Vero cemburu kalau aku bilang mau nemui Mas Rangga, sama kayak Mbak Alenna. Jadi tadi aku naik ojek sama Baby Ali. Sampai sini mogok, eh hujan juga. Yaudah deh neduh di sini." Andin menjelaskan.
"Terus abang ojeknya sekarang mana?" Rangga tengok kanan kiri.
"Di seberang sana, Mas. Lagi benerin motornya. Udah kubayar juga kok ongkosnya."
Oeeek!
Baby Ali menangis lagi, membuat Rangga memperhatikan lebih jeli. Rupanya pakaian Baby Ali basah, begitu pula dengan pakaian ibunya.
"Kita ke rumahmu saja ayo, Ndin. Kasihan Baby Ali."
Fokus Rangga tertuju pada Baby Ali. Rasa tidak nyaman karena baju basah pastilah menjadi penyebab tangisnya yang pecah.
__ADS_1
"Anu, Mas. Tidak apa-apakah kalau kita ngobrolnya di rumahku?" tanya Andin ragu-ragu.
"Udah nggak apa-apa. Kasihan Baby Ali, tuh. Ayo buruan masuk mobil!" desak Rangga.
"Yaudah deh, Mas. Ayo!"
"Sini kupayungin." Rangga sigap.
Begitu Andin dan Baby Ali masuk mobil, Rangga lekas menuju ke balik kemudi. Tak sampai lima belas menit, sampailah mereka di rumah Andin. Lagi-lagi Rangga mendahului langkah, kemudian memayungi Andin hingga di teras rumah.
"Mobilnya dimasukkan saja, Mas. Aku ke dalam dulu sekalian ganti baju. Mas Rangga silakan tunggu di ruang tamu."
"Oke."
Usai memarkir mobil, Rangga menuju ruang tamu rumah Andin. Dari dalam ruang tamu, Rangga bisa mendengar guyuran air hujan yang masih turun dengan deras.
"Untung Alenna nyuruh aku pakek baju tebal." Rangga bersyukur tidak begitu kedinginan.
Sekitar sepuluh menit Rangga menunggu, terdengar bunyi ponsel Andin di atas meja ruang tamu. Andin tadi meletakkan tas dan ponselnya di atas meja, dan terlupa membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Ndin, ada Vero telpon nih!" seru Rangga.
"Biarin aja, Mas. Paling cuma tanya udah makan siang apa belum."
"Andin gimana, sih. Calon suami telepon malah suruh biarin," lirih Rangga.
Panggilan suara itu pun berakhir tanpa ada jawaban. Rangga memilih acuh saja daripada harus mencari masalah.
"Baby Ali sudah tidur, Mas. Maaf lama." Andin duduk di sofa.
"Iya nggak apa-apa. Bales dulu sana pesannya Vero."
Rangga tidak ingin Andin mengabaikan calon suaminya. Walau bagaimana pun Rangga peduli pada Baby Ali, dan berharap Vero akan menjadi ayah yang baik untuknya.
"Mau ngobrolin apa, Ndin?" Rangga langsung pada topik utama.
"Anu, Mas. Sebenarnya ...."
Giliran ponsel Rangga yang bergetar menampilkan panggilan suara.
"Istriku telepon. Aku angkat dulu, ya?" izin Rangga.
"Silakan, Mas."
Andin langsung memposisikan diri dalam mode diam, tak bersuara. Dibiarkannya Rangga menerima telepon dari Alenna.
"Lemburnya sampai jam berapa? Kamu jangan terlalu capek, ya. Ingat makan," pesan Rangga via telepon.
Dari ucapan Rangga, Andin langsung tahu bahwa Alenna malam ini akan lembur di kantornya.
"Iya, ini lagi di rumah temanku. Lagi hujan juga di sini. Deres banget hujannya. Eh, Satria ada di sana kan? Suruh Satria buatin teh hangat, ya. Kamu jangan sampai kedinginan."
Ada perasaan iri di hati Andin. Perhatian Rangga pada Alenna terdengar nyata mengusik hatinya.
"Iya, siap. Nanti aku belikan nasi goreng lagi meski malam-malam. Kalau perlu aku nyetok karet gelang warna-warni sekalian."
Muka Andin semakin masam, kala teringat ada penyatu ikatan Rangga dan Alenna yang semakin erat, yakni calon buah hati yang tengah dikandung Alenna saat ini.
"Jaga diri baik-baik, ya. Wa'alaikumsalam."
Panggilan dari Alenna berakhir. Cepat-cepat Andin memperbaiki mimik wajahnya.
"Kukira Mas Rangga trauma datang ke rumahku," ujar Andin tiba-tiba.
"Trauma sih enggak, cuma agak sedikit ingat. Tapi kan itu sudah berlalu. Bentar lagi kamu juga akan menikah sama Vero." Begitu santai Rangga menjelaskan.
"Begitu, ya Mas?"
"Ya emang gitu kan? Eh, apa yang mau kamu obrolin?" Rangga kembali bertanya ke topik utama.
__ADS_1
Andin tak langsung menjawab. Lebih dulu Andin memantapkan hati sambil memperbaiki posisi duduknya
"Anu, Mas. Sebenarnya .... em, sebenarnya aku mau jujur sama Mas Rangga. Sebenarnya aku masih menyukai Mas Rangga," ungkap Andin.
"Lah? Kok bisa? Terus Vero itu siapa, Ndin?"
"Vero memang menyukaiku, tapi aku tidak pernah memiliki perasaan itu, Mas. Aku bersedia menikah dengan Vero demi Baby Ali. Mas Rangga tau sendiri kan Baby Ali butuh sosok ayah?"
Rangga tertegun mendengarnya. Langsung bungkam karena bingung harus menanggapinya bagaimana.
"Sebelum aku benar-benar menikah dengan Vero dua minggu lagi, aku ingin sebuah kejujuran. Mas Rangga apakah memiliki perasaan yang sama terhadapku?"
Rangga semakin bingung mencari jawaban. Sejujurnya Rangga pernah tergoda dengan pesona Andin, hingga ada setitik benih cinta bernamakan Andin dalam hatinya. Sampai saat ini pun masih ada perasaan yang sama. Namun, Rangga sadar diri dengan posisinya. Rangga tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Apalagi Alenna tengah mengandung anaknya.
"Maaf, Ndin. Aku nggak punya rasa yang sama." Terpaksa Rangga berbohong, demi kebaikan semua.
Andin mendengarnya dengan jelas. Ditatapnya lekat bola mata Rangga dengan niatan mencari kejujuran lewat tatapan matanya.
"Mas Rangga bohong! Aku tahu Mas Rangga berbohong. Jujur saja, Mas!" desak Andin.
"Aduh, gimana ya, Ndin. Kamu tau kan aku sudah ada Alenna. Lagi hamil juga dia. Masa iya aku tega selingkuh lagi sama kamu. Takut dosa aku, Ndin."
"Kalau gitu halalin aku biar nggak dosa lagi, Mas. Aku rela jadi istri kedua Mas Rangga."
Andin tak peduli lagi dengan penolakan Rangga. Kali ini, mumpung ada kesempatan, Andin menggencarkan niat untuk bisa mendapatkan balasan cinta dari Rangga.
"Tapi istriku nggak akan mau dimadu, Ndin. Kamu tau sendiri kan gimana cara Alenna dan Satria memergoki kelakuan kita malam itu?"
Andin tersenyum masam kala mengingat perselingkuhannya dengan Rangga yang gagal. Momen itu tidak akan pernah dilupakan.
"Sekarang aku tanya lagi, andai Mbak Alenna mengizinkan Mas Rangga beristri lebih dari satu, apakah Mas Rangga bersedia menikahiku?"
Jedaaar!
Terdengar guntur menggelegar usai Andin mengajukan pertanyaan. Gegara kaget, Andin sampai berdiri, kemudian refleks mengambil posisi duduk di sofa yang sama dengan Rangga. Saat itulah Rangga kembali merasakan debar terlarang, seperti saat dulu melakukan kekhilafan. Debar itu muncul akibat terlalu berdekatan jarak dengan Andin. Dan rupanya, ekspresi Rangga tertangkap juga oleh Andin.
"Tidak perlu dijelaskan lagi, Mas. Aku tau Mas Rangga juga menyimpan rasa untukku."
"Ta-tapi, Ndin. Alenna ...."
Jedaaar!
Gelegar guntur kembali terdengar. Kali ini refleks Andin adalah memeluk Rangga karena sangking kagetnya.
Debaran jantung Rangga semakin cepat saja. Sampai-sampai Andin dapat merasakannya. Di kala Rangga mematung, Andin mengangkat wajahnya perlahan. Dalam tatap mata yang penuh jerat setan, Andin dan Rangga tak berkedip dalam beberapa detik lamanya. Setelahnya, senyum Andin merekah. Semakin lama semakin terlihat indah di mata Rangga.
"Aku yakin sekali kamu juga menyukaimu, Mas."
"Tapi Alenna ...."
Jedaaaar!
Kembali guntur menggelegar dan mengagetkan. Yang dilakukan Andin justru semakin mengeratkan pelukan sembari mengambil kesempatan.
"Aku menyukaimu, Mas. Kumohon, jangan berbohong lagi padaku," ucap Andin dengan desah nafas yang memburu.
"Tapi ...."
Jedaaaar!
Tepat di gelegar guntur yang keempat, Andin tak lagi dikagetkan. Bukan gerakan refleks lagi yang dilakukan, melainkan Andin tak menyia-nyiakan kesempatan.
Jedaaar!
Bersambung ....
Akankah Rangga kembali tergoda pesona Andin? Dipersilakan yang mau main tebak-tebakan hayoo 😁 Jangan lupa klik suka dan kasih jempolnya, ya. Eit, mampir juga yuk ke Jogja. Di sana ada inspirasi jamunya Rangga. Segera merapat ke novel MENANTI MENTARI karya Kak Cahyanti. Dukung kami. Kasih hadiah juga ya. Hehe.
Terima kasih juga buat reader setia yang mampir dan membaca kisah Mario-Anjani di novel TAKDIRKU BERSAMAMU. Salam luv-luv dariku.
__ADS_1
💙💛
***