
Benak Alenna bertanya-tanya perihal keberadaan Ranti dan Juno di rumahnya. Sebelum ini bahkan tidak ada yang mengabari Alenna tentang mereka berdua. Khususnya Ranti, sahabat Alenna yang biasa berbagi cerita itu tumben-tumbennya tidak memberi kabar apa pun.
"Ran, kok kamu bisa ada di sini, sih?" Alenna langsung menyerbu tanya di hadapan semua.
"Em, itu sebenarnya ...." Ranti tampak bingung.
"Uweeeek!" Rangga muntah lagi.
Semua mata kini tertuju pada Rangga yang terlihat pucat wajahnya. Mario sigap mendekati dan memegangi agar tidak jatuh.
"Alenna, ada apa dengan suamimu?" tanya Mario.
"Mabuk darat. Duh, Mas Rangga pasti masuk angin juga ini." Alenna tampak khawatir.
"Aku buatkan teh hangat dulu buat Mas Rangga." Anjani sudah bersiap menuju dapur tapi dicegah Alenna.
"Biar aku saja. Aku istrinya!" Sebenarnya Alenna kepikiran, Rangga akan balas dendam dan selingkuh darinya. Alenna antisipasi, jadi tidak mengizinkan siapa pun memberi perhatian pada suaminya.
Anjani terdiam, tak melanjutkan langkahnya. Mario yang paham situasi pun hanya memberi kode mata pada Anjani agar kembali duduk saja.
"Ranti, kamu ikut aku! Mario, kamu di sini saja jaga Anjani. Biar nggak digodain Juno, apalagi Vero!" Alenna menatap tajam ke arah Juno dan Vero bergantian.
Vero santai saja menyikapi Alenna. Sementara Juno, langsung melongo karena namanya dibawa-bawa.
"Kok aku kena juga sih?" Juno bingung.
Paman Li tanpa dikomando sudah tahu tugasnya. Dia membantu memegangi lengan Rangga.
"Aku rebahan di sini saja," pinta Rangga sambil menunjuk sofa di depan TV.
"Yaudah, deh. Tunggu bentar, ya Mas. Biar Paman Li yang menemani sebentar di sini. Aku buatin teh dulu," tutur lembut Alenna. "Ran, ikut aku!" Nada Alenna berubah tegas saat berbicara pada Ranti.
Sesampainya di dapur, tawaran bibi juru masak ditolak. Alenna bersikeras ingin membuatkan teh sendiri untuk Rangga. Sembari membuat teh, Alenna meminta Ranti untuk sedikit bercerita.
Dimulailah cerita Ranti. Sebenarnya Ranti sampai di Jember karena diajak Vero. Perjalanan bisnis yang dimaksud Vero di anak perusahaan rupanya hanya basa-basi. Vero memang berniat mengunjungi rumah Alenna. Ranti mau saja ikut karena berpikir sekalian bisa ketemu calon suaminya, Juno.
"Kapan kalian berangkatnya? Kok bisa pagi-pagi sudah sampai rumahku?" selidik Alenna.
"Kemarin malam. Gue sama Vero nginep di hotel." Ada jeda. Ranti seolah bisa membaca apa yang dipikirkan Alenna. "Len, kamar gue sama Vero kepisah kok. Hapus pikiran lu yang macem-macem itu!" imbuh Ranti.
Alenna mengangguk. Dituangnya air panas ke dalam cangkir lantas mengambil sendok untuk mengaduk.
"Trus kok bisa Vero punya fotonya ayah yang lagi selingkuh?" Alenna terus menyelidik.
"Foto selingkuh? Eh, kalau itu gue nggak tau apa-apa, Len. Gue aja baru tiba sama Juno lima menit sebelum lu dateng. Dari tadi pagi gue di rumah Juno sama bokapnya. Kalau Vero, nggak tau tuh anak datang ke sini sejak kapan. Lu tanya aja sendiri bentar lagi."
Alenna menghela nafas dalam. Memang ada jeda sekitar dua setengah jam sejak Paman Li mendapat telepon dari Mario. Itu artinya Vero sudah sangat lama berada di rumahnya.
"Oke deh. Ayo ke sana! Aku kasihkan ini ke Mas Rangga dulu, ya." Alenna lebih kalem pada Ranti kali ini.
Ranti menyaksikan betapa perhatiannya Alenna pada Rangga. Rasanya Ranti tidak sabar untuk membina rumah tangga bersama Juno di Jakarta.
"Badan Mas Rangga yang kekar ini bobrok deh. Pasti Mas Rangga kecapekan. Istirahat dulu, ya Mas. Aku tinggal membereskan yang di depan dulu," pamit Alenna setelah memastikan Rangga meminum tehnya.
Tangan Alenna lekas diraih sebelum beranjak pergi. Rangga berterima kasih dan kembali menasihati.
"Sayang, jangan galak-galak sama mereka, ya. Pikir dulu dengan kepala dingin," nasihat Rangga.
"Iya, Mas." Alenna meyakinkan Rangga bahwa semua akan baik-baik saja.
Alenna dan Ranti kembali ke ruang tamu setelah menitipkan Rangga bersama Paman Li. Tak disangka, di ruang tamu hanya Vero yang bicara basa-basi. Sementara Mario-Anjani dan Juno hanya menjadi pendengar pasif. Bahkan mulai jenuh mendengar ocehan Vero yang kemana-mana.
"Langsung saja. Ada perlu apa Tuan Arvero Dewanggi sampai repot-repot datang kemari, menggoda istri kakakku, dan membuat ancaman dengan foto itu?" Alenna to the point. Tak lagi basa-basi.
"Eit, kamu lagi PMS ya? Kok jadi galak sih?" Vero asal tebak.
"Jawab saja, Tuan Vero!" desak Alenna.
"Iya-iya. Aku nggak sengaja kok godain Anjani. Habisnya, cantik sih!" celetuk Vero sambil melayangkan pandang ke arah Anjani, tapi langsung dibalas dengan tatapan dingin oleh Mario.
"Mario, Anjani. Tuan Vero ini memang buaya. Jangan kaget, ya!" celetuk Alenna.
"Buaya? Aku sudah tobat Alenna. Buktinya aku sudah rajin solat sekarang!" Vero membantah.
"Terus ngapain godain Anjani? Mau pakai alasan khilaf, ha?" cibir Alenna.
"Udah-udah. Kok jadi bahas Anjani, sih? Aku tadi sudah minta maaf sama Mario, kok. Beneran aku nggak tau kalau Anjani sudah nikah!"
__ADS_1
Vero kembali membela diri. Dia memang lupa kalau Anjani adalah istri Mario. Karena terpesona pada Anjani, Vero pun sempat menggodanya.
"Oke. Terus foto ini. Dari mana kamu dapat foto ini?" Alenna menunjukkan foto mesra sang ayah yang tadi pagi didapat dari Paman Li. "Apa kamu berniat memaksaku menikah denganmu dengan ancaman penyebarluasan foto ini?" tuduh Alenna.
Vero terkejut mendengar tuduhan Alenna. Dia mengedarkan pandang bergantian ke arah Mario-Anjani lalu Juno-Ranti. Namun, tatapan mata pasangan-pasangan itu justru tampak menunggu penjelasan Vero.
"Aaaah. Kenapa malah aku yang dapat tuduhan seperti ini sih!" Vero mengusap pelan wajahnya. "Alenna, aku sudah menyerah untuk menikahimu. Aku tau kau itu cinta mati sama Rangga. Ya, kecuali kamu mau selingkuh denganku," celetuk Vero dengan santainya.
"What?" Alenna memelototi Vero.
"Kenapa terkejut seperti itu? Bukannya kamu juga selingkuh dengan Satria? Kenapa selingkuh denganku tidak mau?" Vero malah mengumbar aib Alenna di depan Mario-Anjani dan Juno-Ranti.
Alenna kelagapan membalasnya. Dia melirik sang kakak di sebelahnya. Dan ... benar saja. Mario pun terpancing untuk bertanya.
"Alenna, apa benar kamu selingkuh dari Rangga?" tanya Mario.
Alenna masih kebingungan. Sorot matanya langsung tertuju pada Anjani agar membantunya mengatasi Mario.
"Sudah-sudah. Sayang, dengarkan dulu penjelasan Alenna." Anjani menenangkan Mario.
Tatapan Alenna kini terlihat meyakinkan sang kakak.
"Please, jangan telan bulat-bulat kata-kata Vero, ya. A-aku .... Aku sama Satria sudah nggak ada apa-apa, kok. Percayalah padaku. Aku mencintai Mas Rangga."
Mario yang jeli dengan penjelasan Alenna pun dapat dengan mudah mengartikan. Mario langsung yakin bahwa Alenna memang benar-benar selingkuh dari Rangga.
"Setelah ini kau jelaskan. Selesaikan dulu urusanmu dengan Vero!" tegas Mario.
Alenna menghela nafas dalam. Dia tak bisa membantah kalau sang kakak sudah berkata demikian. Tak disangka kasus perselingkuhannya dengan Satria malah terumbar ke mana-mana.
Nasib, deh. Aku kualat karena main serong dari Mas Rangga. Batin Alenna.
"Vero, jelaskan saja foto itu!" desak Alenna, meluruskan topik.
Vero paham situasi. Dia tahu bahwa Alenna enggan membahas kasus perselingkuhannya dengan Satria. Vero sendiri tahu bahwa Alenna dan Satria selingkuh baru sekitar satu minggu lalu. Tak sengaja saat itu Vero memergoki Satria dan Alenna saling berpegangan tangan mesra usai pertemuan dengan client. Akan tetapi, Vero belum tahu perkembangan info dari hubungan Satria dan Alenna. Vero tidak tahu kalau Alenna dan Satria sudah menyadari kesalahan mereka.
"Baiklah. Aku dapat ini dari ...." Vero mengambil jeda. Dia tampak berpikir sebelum menjelaskan lebih lanjut.
Bagaimana ini, ya? Aku disuruh menyebarluaskan foto ini oleh ayahku. Tapi aku tidak tega pada Alenna. Meski dia sudah berulang kali menolakku, tapi dia sudah berjasa mengubahku hingga tidak lagi bermain dengan si lipstik merah. Ah, niat ke sini mau main doang ke rumah Alenna, malah harus bawa-bawa berita perselingkuhan juga. Ayah sih ngirim foto ini pagi-pagi. Eh, tunggu. Bukankah ayah dan Om John sahabat baik? Kenapa ayah menyuruhku menyebarluaskan foto perselingkuhan om John? Apa ini ada hubungannya dengan Satria yang sering mematai-matai kantor ayahku empat hari ini? Pikiran Vero berkelana.
"Tuh kan diam! Pasti mau cari alasan kan!" Kembali Alenna menuduh Vero. Alenna benar-benar tak mengindahkan nasihat Rangga sebelum ini.
Semua yang ada di ruangan itu percaya dengan ucapan Vero.
"Kalau begitu segera hapus fotonya. Foto yang dimiliki ayahmu juga. Lagipula, bukti foto tidak akan terlalu akurat. Apalagi foto ini terkesan diambil dalam waktu yang tepat saja. Mudah sekali untuk dibantah!" tegas Mario.
Saat tadi pagi Vero memperlihatkan foto itu untuk pertama kali, Mario sudah berpikiran demikian. Tapi Vero memaksa untuk bertemu Alenna lebih dulu. Alhasil, Mario pun menuruti saja permintaan Vero.
"Yaudah. Beres deh kalau begitu. Foto itu tidak akan jadi masalah besar. Nah, sekarang ... Tuan Vero silakan kembali ke Jakarta," ujar Alenna.
"Kok aku diusir, sih. Padahal aku ke sini mau silaturahmi," dalih Vero.
"Jangan bawa silaturahmi kalau tadi kamu sempat godain Anjani. Udah sana balik ke Jakarta!" Alenna sedikit tegas kali ini.
Tak ingin berdebat lagi, Vero pun memilih pergi. Lagipula dirinya berniat menemui sang ayah. Meminta penjelasan tentang foto yang dikirimkan, juga mencari kebenaran tentang Satria.
"Oke aku pulang. Oya, terkait investasi di anak perusahaan, aku senang karena teratasi dengan benar. Tidak pernah rugi perusahaan kami bekerjasama dengan perusahaan om John. Sampai ketemu lagi di Jakarta kalian semua. Dan ... Ranti, kamu pulang sendiri. Aku ada urusan!" Vero melangkah keluar tanpa salam. Meninggalkan Jember, dan langsung menuju Jakarta.
"Huh! Katanya sudah tobat. Salam aja nggak sempat!" gerutu Alenna.
"Ssut. Alenna. Berprasangka baik saja. Mungkin hijrahnya masih proses menuju terbiasa." Anjani mengingatkan.
"Iya kakak iparku yang cantik. Lain kali suruh Mario ajak kamu ya kalau beli bubur. Biar kamu nggak digodain orang lagi kayak tadi pagi!" Alenna menyindir Mario.
Mario hanya tertawa ringan dan langsung menunjukkan kemesraannya bersama Anjani.
"Ish, kalian ini. Mesra-mesra terus. Nggak malu apa sama aku? Ada Ranti sama Juno juga tuh!" Alenna menunjuk Ranti dan Juno yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
"Juno sama Ranti kan pasangan. Dua minggu lagi juga nikah. Kalau kamu pengen mesra-mesraan juga, sana minta dimanja sama Mas Ranggamu!" suruh Mario.
Alenna hanya membuang muka mendengar itu.
"Len, gue balik aja deh kalau gitu. Ntar siang gue balik ke Jakarta. Sekarang mau ke tempat kerja calon ayah mertua buat pamit dulu. Ayo, Jun!" Ranti centil langsung menggandeng lengan Juno.
"Heeeehehe. Lepas-lepas! Belum sah!" seru Alenna.
Ranti langsung melepaskan lengan Juno sambil cemberut.
__ADS_1
"Anjani, aku pamit pulang dulu, ya?" Juno pamit.
Ranti langsung menatap Juno dengan tajam. Hanya Anjani yang dipamiti. Maklum, Anjani adalah cinta pertama Juno. Sedangkan Alenna adalah mantan terindahnya.
"Kok pamitnya sama Anjani aja, sih?" protes Ranti.
"Iya-iya. Ini juga mau pamit lagi. Tadi belum selesai. Mas Mario, Alenna, pamit dulu ya. Salam buat Mas Rangga. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Usai Juno dan Ranti pamit, Mario sudah menunggu penjelasan Alenna.
"Duduk sini dulu, Alenna!" perintah Mario.
"Tapi aku mau ke Mas Rangga. Mau kerokan, biar masuk anginnya ilang."
Sebenarnya Alenna ingin cepat-cepat kabur dari sang kakak. Alenna sudah punya firasat bahwa Mario akan memberondongnya dengan tanya.
"Duduk dulu saja, ya!" Anjani mengajak Alenna duduk di sebelahnya.
Tak ada pilihan lagi. Alenna terpaksa menuruti.
"Pasti mau tanya tentang Satria ya?" tanya Alenna takut-takut.
Jika berhadapan dengan Mario, Alenna memang tak bisa banyak berkutik. Terakhir kali Alenna membuat kesalahan, Mario langsung mengirimnya ke Jakarta hingga berjauhan dari Rangga.
"Alenna, jujur saja. Benar kamu selingkuh dengan Satria?" Mario langsung ke topik.
"I-iya. Tapi Mas Rangga udah tau ini kok. Terus sekarang aku sama Satria udah nggak ada apa-apa. Selingkuhnya cuma sebentar doang," aku Alenna.
"Astaghfirullah."
Mario-Anjani kompak beristighfar. Sementara Alenna hanya bisa tertunduk meratapi kesalahan.
"Mas Rangga tau ini? Terus dia marah besar?" tanya Anjani.
"Nggak kok. Mas Rangga santai-santai saja tau aku selingkuh. Cemburu sih iya, tapi kalau marah nggak tuh." Alenna menerangkan fakta tentang sikap Rangga.
"Jangan-jangan Rangga udah nggak cinta lagi. Makanya nggak marah. Atau mungkin .... Rangga sudah memiliki incaran hatinya sendiri. Aw!"
Kata-kata Mario tidak berlanjut karena dicubit Anjani. Gemas sekali Anjani dengan suaminya itu. Masa iya malah menakut-nakuti Alenna.
Tanpa diduga, ucapan Mario malah dianggap serius oleh Alenna.
"Aduh. Kalau Mas Rangga balas dendam, terus selingkuh dariku gimana, ya?" Pikiran Alenna terpancing untuk khawatir.
"Alenna. Percayalah pada ikatan cinta kalian. Omongan kakakmu ini jangan dianggap serius," nasihat Anjani.
Mario menahan tawanya.
"Begini saja. Kemarin aku berbincang dengan ayah. Bisa jadi ini alternatif terbaik agar kamu tidak terlalu berjauhan jarak dengan ruko Rangga di Jakarta," ujar Mario yang mengurungkan niatnya untuk kembali menjahili Alenna.
Alenna antusias mendengar penjelasan Mario. Rupanya Alenna dipindahtugaskan di cabang induk perusahaan. Masih sama-sama di Jakarta, hanya saja kantor Alenna yang baru jaraknya lebih dekat ke ruko Rangga. Alenna juga diberitahu Mario, bahwa sang ayah dan Mommy Monika akan tinggal di Jerman mengurusi kepemilikan saham mobil yang baru didapatkan di sana.
"Kamu setuju?" tanya Mario.
"Setuju sekali. Dengan begitu, waktu istirahat makan siang aku bisa dengan mudah nengokin Mas Rangga di rukonya. Aku nggak mau kalau Mas Rangga mengendorkan ikatan cintaku. Cukup aku deh yang khilaf!" sahut Alenna.
"Huus! Jangan diulang lagi! Tidak ada yang namanya selingkuh itu indah!" nasihat Mario.
Alenna mantap mengangguk.
"Insya Allah. Eh, berarti Anjani pindah kuliah di Jakarta dong?" tanya Alenna.
"Sudah diurus semua. Aku akan pindah semester ini. Sudah diterima juga di kampus yang baru," terang Anjani.
Alenna merangkul Anjani. Ikut senang dengan semua kemudahan yang mengiringi.
"Anjani, kamu akan berperan ganda jadi istri sekaligus mahasiswi di Jakarta. Baik-baik ya calon keponakan." Alenna mengusap pelan perut Anjani yang masih datar.
"Iya tante Alenna," sahut Anjani dengan nada ala anak kecil.
"Alenna, cepat temui Rangga. Nanti sore saja kalian berkunjung ke rumah baru ibu mertuamu. Si kembar Ardi-Ardan nanyain kamu terus." Mario mengingatkan.
Alenna mengangguk. Sudah begitu rindu Alenna dengan Bu Anis dan si kembar adiknya Rangga.
Kehidupan baru akan segera dimulai. Alenna-Rangga akan memulai kehidupan baru mereka di Jakarta. Begitu pula dengan Mario-Anjani yang akan menorehkan kisah baru di sana. Tapi sebelum itu, bagaimana dengan Vero yang meminta penjelasan terhadap foto perselingkuhan ayah Alenna? Benarkah itu semua ada hubungannya dengan Satria? Kepoin lanjutannya, ya. Next episode Babang Satria muncul.
__ADS_1
Bersambung ....
Yang sudah rindu sama Mario-Anjani, langsung ke season 2 Cinta Strata 1, ya. Aku buatin di judul baru, TAKDIRKU BERSAMAMU. Kisah sahabat baiknya Anjani juga masih lanjut lho. Meli-Azka siap bikin baper di novel MENANTI MENTARI karya kak Cahyanti. Dukung kami, ya š