
Jakarta, Kantor ayah Vero
Pukul setengah dua siang, Satria melangkah santai seorang diri hingga sampai di depan ruangan tempat ayah Vero bekerja, Johan Renaldi. Sekretaris Johan tidak berani melarang Satria masuk ke dalam ruangan bosnya karena masih teringat kejadian memalukan pagi tadi.
Flash back [ON]
Terbang menggunakan helikopter seorang diri, Satria berangkat usai subuh dari tempat persembunyian Rangga menuju Jakarta. Sesampainya di Jakarta, Satria sudah disambut anak buahnya, lengkap dengan mobil yang digunakan untuk mengantarnya menuju tempat ayah Vero bekerja.
"Maaf, Tuan. Sudah membuat janji dengan Bos Besar?" tanya sekretaris Johan ketika Satria sampai di lantai teratas.
"Kukira tidak perlu janji dulu. Aku mau menemuinya sekarang juga," jawab Satria dengan santainya.
"Maaf. Tuan tidak bisa masuk ke dalam. Bos Besar baru saja tiba dan akan bersiap mengunjungi pertemuan penting dengan relasi luar negeri," jelasnya lagi.
"Sepertinya harus dibatalkan karena kedatanganku ke sini tak kalah pentingnya." Lagi-lagi Satria santai menjawabnya.
Satria melanjutkan langkah, tapi lekas dihadang oleh sekretaris Johan. Tak ingin menggunakan kekerasan, Satria memilih menggunakan pesonanya. Ditatapnya sekretaris yang menghadang langkahnya itu sambil mengumbar senyum manisnya. Langkah Satria perlahan maju, yang otomatis membuat sekretaris terpojok mundur. Satria bisa menangkap bahwa sekretaris itu terpesona dengannya.
"Apa cantik di depanku ini ingin menjadi kekasihku? Mari kita berkencan malam ini." Ucapan dan tatapan Satria penuh pikat.
Jujur saja, sekretaris di depan Satria langsung salah tingkah. Apalagi Satria memberikan kedipan mata. Jantung si sekretaris lompat-lompat penuh irama cinta.
"Te-tentu saja aku mau," jawab si sekretaris setelah berhasil mengendalikan debaran jantungnya.
Satria tersenyum hingga memamerkan deretan gigi putihnya. Detik berikutnya, tatapan matanya berubah.
"Sayangnya ... aku yang tidak mau!" tegas Satria dengan nada lembut nan menusuk. "Pakaianmu terlalu terbuka, Nona. Kau sekretaris atau pekerja lainnya, hm? Ganti dengan yang lebih sopan. Sekalian tutupi juga bagian tangan, kaki, dan rambut itu!" imbuhnya.
Malu betul rasanya. Si sekretaris telah dibuat malu oleh Satria. Dalam hati, Satria membandingkan penampilan si sekretaris dengan penampilan Alenna.
"Sekarang menyingkirlah! Bosmu di dalam sana telah terlibat tindak kriminal. Jangan sampai kau ikut terseret juga dan masuk penjara."
"Pen-ja-ra?"
Si sekretaris tampak ketakutan dan seketika itu juga menyingkir dari hadapan Satria. Si sekretaris kembali ke tempat duduknya tanpa berani mengganggu Satria lagi.
Pintu ruangan dibuka tanpa salam. Satria masuk dengan elegan. Sementara Johan langsung terkaget begitu melihat Satria datang.
"Siapa kau, ha? Kenapa kau bisa masuk ke ruanganku dengan mudah? Mana anak buahku yang berjaga?" Johan langsung memberondong tanya.
"Tenang saja, Tuan. Anak buah tuan katanya sudah bosan. Mereka sekarang sukarela menjadi anak buah saya," terang Satria sembari duduk santai di sofa.
"Apa? Mana mungkin bisa?"
Johan masih bertanya-tanya, tapi Satria tidak mengindahkannya. Satria justru melangkah menuju meja kerja Johan, lantas mengambil alih cangkir kopi di atas sana.
"Masih belum diminum, kan? Buat saya saja, ya?"
Satria langsung menyeruput tanpa menunggu si empunya mempersilakan. Rupanya Johan semakin geram saja melihat Satria yang tanpa ba-bi-bu dan kejelasan langsung merusak agenda paginya.
"Vanilla latte. Lumayan," ucap Satria.
"Apa maumu, ha? Mau merampokku?" Johan memburu tanya.
"Buat apa aku susah-susah merampokmu? Harta tahtaku di mana-mana. Horang kaya. Hanya kekasih yang aku tidak punya," terang Satria yang malah membuat Johan makin geram karena tak kunjung mendapat kejelasan.
"Kau ini siapa sih? Jangan berbelit-belit lagi!" seru Johan, menampakkan wajah garang.
Satria tak gentar. Johan yang meminta, maka akan Satria beri penjelasan.
"Perkenalkan, namaku Satria. Tuan Johan yang terhormat, empat puluh hari lalu, kau kirim mata-mata, menyusun rencana penculikan terhadap Tuan Rangga, dan berniat menikahkan paksa putramu dengan Nona Alenna. Urusan bisnis dan cinta itu berbeda, Tuan. Maka dari itu, mulai sekarang jangan pernah ganggu kehidupan mereka!" tegas Satria.
Tawa Johan pecah. Tak ada sorot mata malu ataupun menyesal karena kedoknya sudah terbongkar oleh Satria.
"Rupanya kau kaki tangan Alenna, ya. Apa kabar calon menantuku itu?" Johan malah bertanya kabar Alenna.
"Nona Alenna sudah menjalin ikatan cinta dengan Tuan Rangga. Berhentilah mencampuri urusan hati putra Anda!" tegas Satria.
Johan teramat sebal dengan mimik santai Satria. Belum pernah ditemuinya seorang seperti dia.
"Kalau aku menolak, kau mau apa ha?"
__ADS_1
"Mudah saja, Tuan. Coba lihat ini! Saya harap Tuan tidak jantungan melihatnya."
Satria melangkah menuju layar komputer di meja kerja Johan. Benda pipih kecil diberikan akses hingga terhubung menampilkan file-file ancaman. Sekali klik, rekaman video permainan Johan dengan si lipstik merah menyala pun ditampilkan.
"A-apa?! Bagaimana kau bisa? Haaa! Hapus itu sekarang juga!"
Amarah Johan meledak. Direbutnya akses komputer, lantas semua file turut dihapus dalam hitungan detik saja.
"Beres," ucap Johan.
Satria membiarkan Johan tertawa menang. Menit berikutnya, tawa Johan harus terbungkam.
"Masih ada di sini juga," ungkap Satria sambil menunjukkan flashdisk yang lainnya.
"Haaaaa! Musnahkan video itu!"
Johan merebut flashdisk dari tangan Satria, merusaknya, lantas membuangnya ke tong sampah.
"Beres!" seru Johan sambil mengibaskan tangan.
"Tapi ... Ada lagi di sini!" Satria menunjukkan flashdisk lainnya dengan senyum santainya.
Mimik wajah Johan tak lagi dapat diartikan. Malu bercampur geram. Langsung saja dilayangkan tinju Johan ke arah Satria. Akan tetapi, Satria yang sudah terlatih dapat menghindar dengan mudahnya.
"Kau membuat aku muak. Dibayar berapa kau! Jadilah kaki tanganku. Akan kubayar kau sepuluh kali lipat!" tawar Johan.
Satria tertawa ringan sambil geleng-geleng kepala. Langkahnya diayunkan mengambil alih tempat duduk Johan. Flashdisk kembali ditancapkan, memutar lagi salah satu video tak patut milik Johan.
"Aku jadi penasaran seperti apa rasanya. Dalam video itu Anda terlihat sangat menikmati permainan, Tuan. Dan ... di dalam sini masih ada empat file lainnya. Mari kita tonton bersama," ucap Satria dengan santainya. Sengaja memancing Johan agar semakin tersudut dan malu dibuatnya.
"Mau berapa miliyar kau? Akan kuberikan sekarang juga!" seru Johan yang hampir putus asa karena tak lagi punya cara.
"Aku tidak mau uangmu. Yang kumau, kau jauhi kehidupan Nona Alenna dan Tuan Rangga. Jangan ganggu ikatan cinta mereka!" Mimik wajah Satria serius kali ini. Terselip penekanan di setiap katanya.
Bungkam. Johan Renaldi bungkam. Anak buahnya berpindah tuan. Barang bukti memalukan dapat sewaktu-waktu menyebar. Sementara Satria tidak bisa dikondisikan sesuai keinginan.
"OKE! Kau minta aku menjauhi Alenna dan Rangga, aku turuti. Biar saja putraku itu usaha sendiri untuk memikat hati Alenna. Sekarang, hapus file video itu!" John sepakat.
"Deal!" Satria sepakat. "File ini kuhapus. Sementara file copyan lainnya masih dalam koleksiku. Aku pegang janjimu, Tuan. Da-da!"
Satria melangkah keluar dengan santainya. Meninggalkan Johan dalam posisi ternganga.
"Dasar! Baru kali ini aku dipermalukan! Oke. Kesepakatannya aku hanya harus menjauhi Alenna dan Rangga. Aku sebar saja foto John yang ini. Maaf sobat, nasib kita harus sama-sama terpojokkan. Karena ulah kaki tangan putrimu, pagi ini aku sungguh dibuat malu!" Johan geram.
Tombol send ditekan. Foto perselingkuhan John dikirimkan pada sang putra, Vero. Johan menyuruh Vero untuk menyebarluaskan foto tidak pantas itu ke relasi yang juga mengenal ayah Alenna.
Flash Back [OFF]
Satria mengulang kunjungannya ke kantor Johan di hari yang sama. Tak dipedulikan tatapan ketakutan sekretaris Johan yang tadi pagi juga dipermalukan oleh Satria. Namun, Satria sedikit berbangga karena penampilan si sekretaris Johan lebih tertutup dibanding tadi pagi saat Satria mempermalukannya.
Tok-tok-tok!
Kali ini Satria lebih sopan. Mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan Johan. Akan tetapi, itu hanya formalitas. Begitu dipersilakan masuk, Satria mengulang lagi aksinya.
"Kau lagi? Aaaah! Mau apa lagi sih? Aku sudah tidak ikut campur masalah hati putraku dan Alenna!" tegas Johan.
Satria tersenyum santai. Dia terus melangkah mendekati Johan. Sedikit ketakutan, Johan memilih waspada dengan menyiapkan kepalan tangan di depan dada.
"Bandel!" ledek Satria, persis seperti mengatai anak kecil.
"Ba-bandel?" Johan terbata. Aura Satria saat itu benar-benar melemahkan aura kepemimpinannya.
Satria terkekeh. Niat betul dia mengerjai orang tua. Ayah Vero sampai dibuatnya terbata seperti itu.
"Mau mengumpat berlebihan, aku takut dikira lancang sama orang yang lebih tua. Tapi jika tabiatnya seperti Anda, ya apa mau dikata."
Satria berjalan menjauhi Johan. Sofa menjadi tempat duduk pilihan. Seolah sudah bisa menebak siapa yang akan datang, Satria menyuruh Johan untuk menunggu seseorang yang akan segera tiba itu.
"Ayaaaah!" seru Vero sambil membuka kasar pintu ruangan sang ayah. "Loh, Satria? Kenapa kau ada di sini?" Vero bertanya-tanya.
Satria tidak memberi jawaban. Dia hanya memberi kode mata agar Vero lekas menyapa ayahnya.
__ADS_1
"Ayah! Ada apa ini? Kenapa Satria di sini?" tanya Vero tak sabaran.
Johan terlihat sedang mencari-cari alasan. Satria menangkap gelagat itu. Pada akhirnya Satria memutuskan untuk memberi tahu Vero lebih dulu.
"Mohon maaf Tuan Vero. Ayah Anda tercinta inilah dalang penculikan Rangga, meski pada akhirnya gagal menculiknya. Ayah Anda berniat menikahkan Anda dengan Nona Alenna secara paksa, tapi sepertinya gagal juga. Terakhir, ayah Anda berniat membuat malu Tuan Besar John, ayah Alenna, dengan foto tak pantasnya. Tapi ... sepertinya telah gagal juga. Benar begitu Tuan Vero?" ungkap Satria dengan santai.
Fix, setiap pimpinan yang melihat cara kerja dan tutur kata Satria, pastilah mereka akan berebut mempekerjakannya meski dengan gaji mahal sekalipun. Paket lengkap sebagai seorang sekretaris dan kaki tangan melekat pada diri Satria. Apalagi paras Satria begitu memesona.
"Urusan foto itu sudah beres. Memang sudah dibersihkan, kecuali yang di HP ayahku. Sini HP ayah!" pinta Vero.
"Buat apa? Ayah di sini berniat membantumu, Vero!" aku Johan.
"Membantu apanya? Ayah justru membuatku malu!"
Vero tak lagi basa-basi. HP sang ayah diambil alih. Foto tidak pantas itu pun segera dimusnahkan.
"Aku menghargai niat ayah, tapi lupakan saja. Lebih baik ayah tobat. Jika aku ingin mendapatkan Alenna, akan kulakukan dengan caraku sendiri!" tegas Vero.
Satria sempat melirik tajam ke arah Vero karena ucapan itu. Sedikit tidak terima jika Vero berniat mendapatkan hati Alenna yang jelas-jelas sudah bersuamikan Rangga.
"Kamu plin-plan. Dulu merengek minta bantuan ayah. Sekarang malah begini. Menyusahkan saja kau! Terserah kau saja! Ayah sudah cukup dibuat malu oleh Satria!" Johan berkacak pinggang. "Dan kau Satria, sebutkan saja berapa nominalnya agar kau bersedia menjadi kaki tanganku!" imbuh Johan.
"Ti-dak A-kan Per-nah Ter-jadi. Tuan jangan berharap lebih!" Satria menunduk takzim, menolak tawaran itu.
Johan tampak kecewa dengan penolakan Satria. Sementara Satria, jelas sudah, dialah yang memenangkan semua. Tawaran atas dirinya cukup membuktikan semua.
"Sat, bicara sebentar, yuk! Biarkan ayahku di sini. Penolakanmu barusan pastilah akan berpengaruh besar padanya!"
Vero mengajak Satria keluar ruangan. Satria mengekor di belakang dengan langkah elegan.
"Ada apa, Bro?" tanya Satria begitu mereka keluar ruangan.
Vero terheran dengan sapaan gonta-ganti buatan Satria. Sekali waktu Satria begitu hormat dengan sapaan Tuan, kini justru menggunakan sapaan Bro yang jelas dengan tujuan mengakrabkan.
"Sat, ini soal Alenna."
"Tidak perlu berterima kasih atas kebaikan Nona Alenna sehingga membuatmu hijrah dan meninggalkan kebiasaan burukmu di masa lalu. Nona Alenna memang teramat baik hatinya," terang Satria.
"Bukan itu yang mau kubahas," sangkal Vero.
Satria menajamkan perhatian karena salah mengambil dugaan.
"Lalu?"
"Aku mau tanya tips agar bisa menjadi selingkuhan Alenna sepertimu. Masa iya tadi pagi Alenna kuajak selingkuh malah nggak mau," ungkap Vero.
Satria tepuk jidat, geleng-geleng kepala, tertawa ringan, pokoknya lengkap sudah ledekannya pada Vero. Ekspresi Satria memang tak terduga, dan penuh kejutan. Pembawaannya yang demikian itulah yang membuat Satria disukai lawan.
"Mohon maaf, Bro. Sepertinya pesonamu tak sebanding denganku. Makanya Nona Alenna menolakmu mentah-mentah," ujar Satria dengan pedenya.
"Ah, dasar kau ini!" Vero berani memukul lengan Satria ala canda para lelaki.
"Tapi kami sudah sama-sama sadar sekarang. Kami salah. Nona Alenna kembali mengeratkan ikatan cintanya dengan Tuan Rangga, dan ... tidak ada yang boleh mengganggu mereka." Satria menekan kalimatnya yang terakhir.
"Iya-iya. Bawel kau! Terus kau berniat pergi dari kehidupan Alenna? Bekerjasamalah dengan perusahaanku. Aku butuh orang cerdas dan terlatih sepertimu." Giliran Vero yang memberi tawaran.
"Ah, susahnya jadi Satria. Dimana-mana diperebutkan, tapi kenapa tidak ada yang memperebutkan hatiku, ya?" Satria geleng-geleng kepala.
Kali ini Vero menjitak kepala Satria. Vero dan Satria rupanya mulai bisa dikatakan akrab.
"Aku pergi dulu, Bro. Tidak akan kukatakan padamu kemana aku akan pergi. Bisa-bisa kau menyusulku lagi. Da-da!"
Satria melangkah pergi. Bagi Vero, sosok Satria masih penuh dengan misteri.
Di depan gedung, Satria segera memakai kacamata hitamnya. Sopir dan anak buah sudah siap membukakan pintu mobil untuknya.
"Kota Solo hingga dua minggu ke depan. Selanjutnya, tinggal memilih, mengambil tawaran Tuan Mario, atau justru aku akan kembali bekerja di tempat Alenna," gumam Satria sendirian.
Bersambung ....
Em ... pesona Babang Satria masih oke kan? Nantikan kejutan lainnya, ya. š
__ADS_1
Berkunjung juga ke novel baru author 'TAKDIRKU BERSAMAMU', khusus mengisahkan Mario-Anjani. Kalau ngomongin Anjani, pastilah ingat dengan sahabat baiknya, Meli. Pesona Meli-Azka masih terus bikin baper pembaca di novel 'MENANTI MENTARI' karya Kak Cahyanti. Dukung kami, ya š