
"A-apa aku tidak salah dengar?" Rangga sampai terbata usai Andin bilang suka padanya.
"Mas Rangga tidak salah dengar. Aku menyukaimu, Mas." Andin mengulang pengakuannya.
Senyum Andin terpancar indah. Disuguhkan hanya untuk Rangga. Sorot bola mata indahnya pun tak luput memenjarakan tatapan Rangga.
Mendadak degup jantung Rangga tak terkontrol lajunya. Salah tingkah pun tak luput ditampilkan olehnya. Tangan kanan yang mengusap-usap tengkuk hingga kehilangan kata menjadi salah satu bukti bahwa Rangga tengah gerogi.
"Piye iki?" lirih Rangga, bingung sendiri jadinya.
"Aku beneran menyukai Mas Rangga. Apa Mas Rangga tidak memiliki rasa yang sama?" Pertanyaan Andin benar-benar memancing.
Seorang lelaki pastilah akan bahagia mendengar kata-kata cinta dari seorang wanita. Namun, lain lagi ceritanya dengan seorang lelaki yang telah beristri. Kebimbangan hati jelas tak bisa dihindari. Meski sempat terpana dengan ungkapan cinta Andin, Rangga lekas bisa menguasai hatinya begitu teringat Alenna.
"Aku sudah punya Alenna, Ndin. Kurasa jika perasaanmu dilanjut pasti akan melukai hatinya. Aku tidak mau jadi suami durhaka karena membiarkan istriku merana hatinya." Rangga menjelaskan tanpa berani melihat Andin.
Bukan Andin namanya jika mudah menyerah begitu saja. Senyum di wajah ayunya terus disuguhkan meski Rangga tak mau memandang.
"Lalu, kenapa memangnya kalau Mas Rangga sudah punya Mbak Alenna? Bukankah aku bisa menjadi istri kedua tercinta?"
"Waduh! Istriku mana mau dimadu, Ndin. Alenna sangat mencintaiku. Begitu pula dengan aku yang juga sangat mencintai istriku itu," aku Rangga.
Andin tak gentar. Terus maju memberi pikatan.
"Aku tahu. Pastilah aku terlalu buruk rupa sehingga tidak layak jadi kandidat istri Mas Rangga yang kedua," ujar Andin.
"Bu-bukan gitu, Ndin. Kamu cantik, kok!" sahut Rangga.
"Kalau aku cantik, kok dari tadi Mas Rangga nunduk terus sih?" protes Andin.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin menunduk saja," ungkap Rangga yang kini justru menggunakan telapak tangan kanan untuk menghalau pandangannya dari sosok Andin.
Bagi Andin, sikap Rangga sungguh menggemaskan. Lucu dan jauh berbeda dibanding lelaki kebanyakan.
Langkah Andin diayun mendekati Rangga perlahan. Rangga yang melihat itu agak panik dan langsung mencegah Andin agar langkahnya tidak dilanjutkan.
"Jangan mendekat, Ndin. Aduh, aku takut, Ndin!"
"Takut? Memang wajahku menyeramkan kayak setan? Mas Rangga lucu ih. Emang apa yang Mas Rangga takutkan?" Andin menghentikan langkah persis satu meter di depan Rangga.
"Takut khilaf aku, Ndin!" Rangga berkata sejujurnya.
"Khilaf? Memangnya Mas Rangga pernah khilaf sebelum ini? Khilaf sama siapa, Mas?" Andin, masih dengan senyuman di wajah justru bertanya.
"Pe-pernah sekali. Khilaf sama Alenna." Rangga justru berterus terang.
"Oh. Jadi begitu. Mas Rangga dan Mbak Alenna khilaf-khilafan, makanya berujung ke pernikahan."
"Bukan begitu, Ndin. Kita nikah karena emang saling cinta. Bukan karena khilafnya. Eh, kenapa aku malah curhat sih ini!" Rangga tersadar juga.
Tawa Andin pecah. Rangga dengan sikap konyolnya semakin terlihat menggemaskan di matanya.
"Itu artinya Mas Rangga terbuka untuk cerita sama aku, Mas. Mas Rangga pasti nyaman temenan sama aku," tebak Andin.
"Nah-nah. Itu aja, Ndin. Temenan. Kita temenan aja. Jangan cinta-cintaan. Nanti istriku cemburu kalau kita begitu, Ndin."
Andin paham situasi. Jika dirinya memaksa terus melanjutkan langkah, maka dengan mudah Rangga tidak akan mau bertemu dengannya.
"Baiklah kalau memang itu mau Mas Rangga. Aku tidak memaksa. Jangan gerogi lagi dong, Mas. Sudah, biasa aja!"
"Si-siapa yang gerogi. Enggaak!" sangkal Rangga.
"Ih, gemes deh. Apa namanya kalau nggak gerogi kalau gemeteran gitu?"
"Bukan gemeteran ini. Cuma jantungku aja yang derug-dug-dug nggak bisa terkendali. Huft." Rangga menghela nafas dalam.
Fix nih. Andai Alenna tahu, pasti Rangga langsung dijewer seketika itu. Bisa-bisanya Rangga terus bersikap polos dengan berterus terang seperti itu.
"Iya-iya deh. Udah ya, Mas. Lupain yang tadi. Oya, Mbak Alenna jangan dikasih tau loh," pinta Andin.
"Ya nggak mungkin aku ngasih tau Alenna, Ndin. Bisa-bisa perang bar-bar terjadi lagi. Sudah, aku mau pulang saja!" Rangga pamit.
Begitu Rangga mengambil kunci mobil di meja, terdengar Baby Ali menangis. Tangisnya begitu keras kali ini.
"Loh-loh, Ndin. Baby Ali nangis, Ndin!"
"Mungkin karena Mas Rangga mau pulang ini. Baby Ali jadi sedih." Mimik wajah sedih diperlihatkan Andin.
__ADS_1
"Lah? Kok gitu sih? Mungkin haus ini, Ndin!" tebak Rangga.
Usai berkata haus, tetiba saja Rangga teringat kejadian di rukonya. Kala itu Andin langsung berniat menyusui Baby Ali di hadapannya.
"Eh-eh. Kalau mau kasih minum Baby Ali, biar aku pergi." Rangga panik sendiri.
"Gini-gini. Mas Rangga coba gendong Baby Ali dulu. Aku yakin sekali Baby Ali menangis karena dengar Mas Rangga mau pulang."
Rasa-rasanya Rangga enggan melakukan. Namun, Baby Ali yang terus menangis membuat Rangga jadi tak tega untuk segera pulang. Emang dasar Rangga berjiwa tak tegaan. Lekas dihampirinya Baby Ali, kemudian ditimang-timang.
Ajaib. Baby Ali langsung tenang. Timangan Rangga ampuh membuat Baby Ali terdiam.
Andin menghampiri, meski tak bisa terlalu dekat-dekat karena pakaiannya yang masih kotor dan basah karena kopi. Kini, posisi Andin, Rangga, dan Baby Ali sudah tampak seperti sebuah keluarga yang begitu bahagia dengan kehadiran seorang baby.
"Mas Rangga sudah pantas menjadi seorang ayah," ujar Andin.
"Wah, jadi nggak sabar juga punya baby sendiri. Kamu hebat, Ndin. Bisa mengurus Baby Ali sendiri tanpa kehadiran seorang ayah," celetuk Rangga
"Sebenarnya, kadang aku merasa kesepian, Mas. Ada kekhawatiran juga dengan masa depan Baby Ali. Aku ingin Baby Ali bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Semoga setelah ini ada yang memperistri aku, Mas."
"Aamiin. Kamu cantik. Pasti banyak yang melirikmu, Ndin. Tenang saja. Doakan ibu kamu, ya Sayang. Ibu kamu kesepian, tuh!" Rangga mengajak Baby Ali berbicara.
Rangga tampak bahagia memperhatikan wajah Baby Ali. Di sela kebahagiaan yang tengah dirasakan Rangga, tanpa sengaja bola matanya beradu dengan Andin yang kebetulan mengarahkan pandang juga ke arahnya. Dalam jeratan tatapan mata, ada desir tak biasa yang dirasakan Rangga. Satu detik, dua detik, dan ... ternyata cukup lama juga tatapan mereka.
"Em, maaf!" gumam Rangga yang langsung menundukkan pandangannya.
"Sudah tidur lagi, Mas." Andin mengalihkan perhatian karena jantungnya juga sempat merasakan debaran.
"Aku letakkan dulu."
Baby Ali diletakkan lagi. Baru saja lengan Rangga berpindah, Baby Ali justru menangis lagi.
"Waduh. Susah betul nidurin baby. Kuacungin jempol deh buat mak-mak hebat yang sabar mengurus baby-nya." Rangga hampir putus asa.
"Em, sepertinya Mas Rangga betul. Baby Ali haus ini. Aku beri minum dulu, Mas."
"Eh-eh! Biar aku pergi dulu, baru kamu kasih minum." Rangga sigap mengantisipasi.
"Tapi aku ganti baju dulu ya, Mas. Ini bajuku masih kotor."
"Oh iya. Yaudah, kamu ganti buruan. Baby Ali kugendong dulu. Cup-cup, Nak. Diam ya, Sayang. Nanti Om Rangga kasih sepatu baru. Tapi kamu harus diam dulu. Nang-ning ning-nang-ning-nung." Rangga melucu demi Baby Ali.
"Hiyaaaaa! Mas Rangga! Tolong, Mas!" seru Andin dengan kerasnya.
Teriakan itu didengar Rangga. Diletakkannya Baby Ali yang sudah tenang kambali. Langkah Rangga sigap menyusuri rumah Andin demi melihat apa yang terjadi.
"Mas Rangga! Tolong!"
"Ndin, ada apa ini. Kamu di dalam sana? Aku dobrak pintunya, ya?" Rangga panik. Khawatir terjadi sesuatu di dalam sana.
Rangga sigap mengayunkan tubuhnya ke arah pintu.
Brak!
Byur!
Tepat di saat pintu terbuka, Andin mengguyur. Basahlah pakaian Rangga.
"Ups. Itu tadi ... kecoak!" lirih Andin.
Rangga terpejam karena wajahnya terkena guyuran. Begitu mata terbuka, Rangga langsung beristighfar dengan kerasnya.
"Astaghfirullah. Pakai bajumu, Ndin!" Rangga auto balik badan.
"Maaf, Mas. Kecoaknya nakal!"
Rangga masih mengatur nafasnya. Kejadian selama mengantar Andin pulang sungguh di luar dugaan.
"Aku pulang aja, Ndin!" Rangga pamit dengan langkah tergopoh.
"Loh, Mas! Kok pulang?"
"Aku takut! Di sini banyak godaan setan!" seru Rangga yang sudah meraih kunci mobilnya.
Nafas lega seketika dirasa begitu mobil Rangga melaju di jalanan kota. Sembari terus beristighfar, Rangga meyakinkan diri apa yang tadi dilihatnya pada diri Andin adalah kejadian yang tak disengaja.
"Astaghfirullah. Banyak dosa ini mata. Aduh. Kok ya pas aku tadi lihat. Masa iya aku ikutan nyalahin kecoaknya. Sejak kapan juga kecoak diusir pakai guyuran air? Andin ada-ada saja."
__ADS_1
Rangga mengusap pelan bagian wajah yang masih terasa basah. Hawa dingin juga teramat nyata lantaran baju Rangga yang juga basah.
"Alenna nggak boleh tau kejadin barusan. Cemburunya bisa kelewatan ntar. Untung juga tadi Andin nggak maksa buat aku nerima cintanya. Eh tapi, kenapa tadi jantungku sempat berdebar merdu saat Andin menatapku, ya? Ini pasti ulah setan yang membisiki kupingku. Terus Rangga. Terus aja salahin setannya. Ah, kau ini." Rangga jadi bingung sendiri dengan dirinya.
Rangga memilih pulang ke apartemennya. Merebahkan diri usai mengganti baju basah tadi sungguh nyaman terasa. Tak lama setelah itu, satu panggilan suara terdengar. Alennalah yang menelepon Rangga.
"Untung bukan Andin yang nelpon," ujarnya.
Rangga menerima panggilan Alenna dengan ucap salam dilanjut dengan tanya kabar.
"Alhamdulillaah. Kerjasama dengan mall baru di Surabaya lanjar jaya, Mas. Terima kasih buat doanya, ya. Mas Rangga bener-bener bawa hoki," celetuk Alenna via teleponnya.
"Astaghfirullah. Emang kamu kira suamimu ini barang pembawa keberuntungan, ha? Ayo diubah keyakinannya. Itu sudah jadi rejekimu, Sayang. Sudah diatur sama Sang Maha Pemberi Rizki. Jangan lupa bersyukur dan lebih banyak sedekah, ya!" nasihat Rangga.
"Iya, Mas. Besok ganti ngurus bisnis yang di Jogja. Yang di sana tiga hari. Mas Rangga mau dibawain oleh-oleh apa, nih?"
"Oleh-oleh kesetiaan dan cinta kasihmu saja. Bawa pulang hanya untukku. Eh, jangan lama-lama kalau ngelirik Satria loh ya. Aku cemburu nanti, lho."
"Alhamdulillah. Akhirnya Mas Rangga bisa cemburu juga. Hatiku insya Allah akan terjaga untuk Mas Rangga. Eh, oleh-olehnya jadi apa? Aku serius nawarin loh ini, Mas."
Rangga tampak berpikir sejenak. Tetiba saja Rangga ingin mencicipi salah satu kudapan khas yang biasa diburu para pengunjung kota Jogja. Bakpia Kukus Tugu Jogja.
"Aku mau bakpia kukus tugu Jogja 10 box. Nanti sekalian kita bagi ke karyawan ruko, Juno, Ranti, sama An ... Eh, maksudku sama aku juga. Hehe. Tolong belikan ya!" Hampir saja Rangga menyebut nama Andin.
"Sat, bakpia kukus tugu Jogja 10 box buat oleh-oleh Mas Rangga. Tolong catat, ya!"
"Tuan Rangga membuat pilihan yang bagus, Nona. Dengan senang hati Satria akan membantu membelikannya. Apalagi, kota Jogja menyimpan banyak kenangan untuk saya," ujar Satria.
Rangga bisa mendengar Alenna mengobrol sebentar dengan Satria.
"Ada lagi, Mas?" tanya Alenna.
"Haaaakjim!" Rangga bersin.
"Loh-loh! Mas Rangga lagi masuk anginkah?" Suara Alenna terdengar khawatir.
"Cuma bersin kok, Sayang. Mas istirahat dulu, ya. Kamu jangan sampai telat makan. Kerja keras oke sih, tapi jangan sampai mengabaikan kesehatan diri. Makan yang banyak. Nggak usah diet-dietan!"
"Iya, Mas. Peluk cium dari jauh untukmu. Assalamu'alaikum suamiku."
"Wa'alaikumsalam, istriku."
Panggilan berakhir. Sisa malam digunakan untuk mengistirahatkan badan. Tak lupa ibadah malam yang dirutiniskan tetap dijalankan. Apalagi Rangga merasa dosanya bertambah sejak mengantar Andin pulang ke rumahnya.
***
Pagi menjelang. Rangga tekena flu ringan dan agak demam. Diyakini bahwa semua terjadi lantaran semalam pulang dengan pakaian basah karena guyuran. Meski demikian, Rangga tetap datang ke ruko. Namun, keempat anak buah Rangga yang peka menyuruh Rangga untuk berisirahat saja di lantai dua.
"Ini jamunya, Bos. Semoga lekas sembuh, biar Bos Cantik nggak kepikiran kalau tau!" doa si mantan sopir mobil penculikan.
"Aamiin. Terima kasih."
"Bos. Bu Andin nelpon ke telepon ruko, Bos." Si bekas sayatan memberi tahu.
Rangga paham itu. Tak lagi diragu bahwa telepon ruko akan diburu. Rangga memang tidak mengangkat telepon Andin via teleponnya, karena masih merasa tidak enak setelah kejadian semalam di rumahnya.
"Bilang aku sedang sibuk, ya!" pinta Rangga dengan nada bicara yang dibuat berbisik.
"Siap! Maaf, Bu Andin. Bos Rangga sedang sibuk!" ujar si bekas sayatan via telepon.
"Sibuk? Sibuk apa kalau boleh tahu?" tanya Andin di seberang.
"Bos Rangga sibuk istirahat, Bu. Katanya semalam habis main basah-basahan. Makanya sekarang kena flu ringan dan demam."
"Adyaaah! Arek iki rek!" gumam Rangga, seketika menepuk jidatnya.
Rangga pasrah jadinya. Tak mampu lagi menutup-nutupi keadaannya. Sementara itu, panggilan telepon dari Andin berakhir usai berkata akan menengok kondisi Rangga di rukonya.
Bersambung ....
Banyak orang Jogja ya di sini? Salam santun dari author Ikatan Cinta Alenna. š Selamat membaca dan semoga terhibur dengan jalan cerita kisah asmara Alenna-Rangga yang agak konyol tapi penuh cinta. Ihihihi.
Suka? LIKE-nya dong buat author.
Tengokin novel author yang satunya, yuk. Kisah Mario-Anjani dan buah hati ada di novel TAKDIRKU BERSAMAMU. Eit, ngomongin soal Anjani, intipin juga kisah sahabat baiknya di Jogja, Meli-Azka. Merapat yuk ke novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Dukung kami. Beri like dan tinggalkan jejak komentar kalian untuk kami.
See u in the next episode. š
__ADS_1
***