
Rangga mengejar Ranti sambil menggendong Baby Ali. Tampak pula Andin mengekor di belakang Rangga. Sementara Ranti, meski sudah dipanggil-panggil Rangga berulang kali, tetap saja langkahnya dilanjutkan untuk menemui Alenna.
"Ranti! Berhenti dulu, Ran! Kamu salah paham!" seru Rangga.
"Memangnya salah paham apa sih, Mas?" Andin di belakang Rangga menyempatkan diri untuk bertanya.
"Ya salah paham karena lihat kita lah. Kamu sih tadi posisi tangannya begitu," protes Rangga.
"Tadi kan aku refleks nutupin dada, Mas. Lagian Mas Rangga juga nggak sengaja, kan?" sahut Andin.
"Masa iya aku sengaja, Ndin. Aku punya istri. Bisa minta ke istriku sendiri kalau mau. Duh! Bisa-bisa Alenna ngamuk ini kalau salah paham juga." Rangga mendadak khawatir dengan sikap yang akan ditunjukkan sang istri.
Langkah Ranti persis di depan cafe sang suami. Terlihat Alenna keluar dari pintu sambil menenteng bungkusan berisi es jeruk dalam wadah plastik.
"Ada apa ini kok main kejar-kejaran?" Alenna bertanya-tanya.
Tatapan Alenna tertuju pada Rangga yang masih menggendong Baby Ali. Merasa diperhatikan sang istri, Rangga sedikit panik dan bergegas mengembalikan Baby Ali pada gendongan Andin.
"Ran, ada apa ini?" Alenna memfokuskan tanya pada Ranti.
"Ada cewek kegatelan. Tuh si Andin," lapor Ranti.
"Apa kau bilang? Aku kegatelan?" Andin tidak terima.
"Apa namanya kalau nggak kegatelan? Beraninya deketin suami orang. Bibit pelakor nih!" cibir Ranti.
"Mulut dijaga dong!" Andin tak terima.
"Situ yang harusnya jaga diri. Jangan jual murah sama lelaki yang udah punya bini!" Ranti menjadi.
Tak terdengar kalimat balasan dari Andin. Sambil menggendong Baby Ali, Andin maju hendak membuat perhitungan pada Ranti. Berpikiran sama, Ranti tak takut sama sekali dan justru ikut-ikutan menunjukkan perlawanannya. Namun, sebelum semua makin runyam, penengah pun datang. Alenna mencegah perkelahian.
"Len, gue ada di pihak lu. Biarin aja gue jambak-jambak tuh rambut pelakor!" Justru Ranti yang semakin emosi.
"Ranti, tenang dulu ah!" pinta Alenna.
Meski enggan, pada akhirnya Ranti memilih diam. Akan tetapi, tatapan tajam pada Andin tetap dilayangkan.
"Mas Rangga, sebenarnya ada apa ini?" Alenna bertanya pada sang suami.
"Sayang, sepertinya Ranti telah salah paham. Andin datang ke ruko mau retur model sepatu yang bagiannya minus. Sungguh, aku sama Andin nggak aneh-anehan tadi!" Rangga memasang mimik wajah serius.
Alenna mencerna semua kalimat Rangga. Perlahan dirinya mulai paham situasi. Meski belum jelas terarti, tapi Alenna memilih untuk tidak memperkeruh kondisi.
"Aku mengerti. Andin, maafkan Ranti, ya." Alenna tersenyum ramah.
"Loh, Len. Kok jadi lu yang minta maaf, sih! Aroma pelakor tercium jelas loh! Lu nggak takut Mas Rangga hatinya diperdaya?" protes Ranti.
"Heh! Sembarangan tuh mulut kalau ngomong. Ngatain cewek baik-baik kayak aku ini pelakor! Ke sini kau!" Andin emosi lagi.
Tanpa izin, Andin memberikan Baby Ali pada Rangga. Meski tak siap, Rangga pun menggendong Baby Ali karena khawatir tak sengaja tersakiti.
Andin dan Ranti saling beradu emosi. Kedua tangan sama-sama digunakan sebagai senjata andalan. Andin mengacak kasar kerudung Ranti, sementara Ranti menjambak-jambak kesal rambut Andin.
Alenna tidak tinggal diam. Sebisa mungkin dirinya melerai Andin dan Ranti. Ditariknya lengan Ranti lebih dulu agar menjauh.
"Ranti udah ah! Tenang dulu!" seru Alenna.
"Len, lu jangan lembek dong! Di hadapan lu ada pelakor!" Ranti masih tidak terima.
"Sudah, Ran! Cukup!" tegas Alenna.
Ranti cemberut, tapi akhirnya diam juga.
"Andin, sebaiknya kamu pulang sekarang. Retur model sepatunya biar diantar anak buahku ke tokomu nanti," jelas Rangga.
__ADS_1
Dalam hati, Andin masih ingin meladeni Ranti. Namun, Andin paham kondisi. Dirinya pun memilih undur diri meski sebenarnya enggan untuk pergi.
Alenna menyerahkan es jeruk yang baru dibelinya pada Rangga. Meminta tolong padanya untuk segera membagikan kepada keempat anak buah di ruko sepatunya.
"Aku pesan yang lain dulu, Mas. Bentar lagi aku nyusul ke ruko."
"Baiklah. Aku kembali dulu," sahut Rangga.
Usai memastikan Rangga pergi, kembali Ranti melontarkan argumen dan protesnya pada Alenna.
"Lu kenapa, sih? Biasanya paling khawatir kalau Mas Rangga deket sama cewek lain."
"Mas Rangga udah sering nasihatin aku biar nggak mudah suudzon sama orang. Sepertinya sekarang nasihatnya mempan. Aku percaya pada Mas Rangga. Suamiku itu pasti tidak akan mudah mendua."
"Tapi ini Andin, Len. Janda mama muda yang pesonanya tampak nyata. Kinclong. Body-nya juga bahenol. Lu wajib curiga!" suruh Ranti.
"Bukan curiga, tapi percaya!" tegas Alenna.
Ranti menghela nafas dalam. Hampir menyerah karena tidak bisa meyakinkan Alenna.
"Menurut gue, nih. Sebaiknya lu harus segera mengandung anaknya Mas Rangga. Dengan begitu ikatan cintamu sama Mas Ranggamu itu semakin kuat. Lu liat kan tadi Mas Rangga nyaman banget gendong baby-nya Andin."
Kalimat Ranti cukup mengusik hati. Alenna tampak sedang memikirkan kata-kata Ranti.
"Ngomong-ngomong soal anak, sampai sekarang kok aku belum hamil ya, Ran?" Alenna mulai kepikiran.
"Ya wajar. Lu sama Mas Rangga kan sempet kepisah empat puluh hari."
"Terus, kamu sendiri yang lebih duluan sama Juno gimana? Kok belum hamil juga?" Alenna tetiba ingat.
"Nggak tau. Belum waktunya kali. Juno juga nggak pernah tanya tentang ini. Ya gue santuy."
Hati yang semula tak apa-apa, tetiba saja gelisah. Kini Alenna memikirkan ikatan cintanya dengan Rangga yang belum ada buah hati di antara mereka.
Ranti ada benarnya. Ikatan cintaku sama Mas Rangga pasti akan lebih menguat jika ada buah hati di antara kita. Pikir Alenna.
"Ranti, udah ah!" Alenna mulai gemas pada Ranti yang tak sudah-sudah.
"Oke-oke!" Ranti akhirnya memilih berhenti juga.
Mimik wajah Alenna dan Ranti sama-sama mulai tenang kali ini.
"Eh, Ran. Tiba-tiba aja aku pengen cepet hamil. Ada tips nggak?" tanya Alenna tiba-tiba.
"Gampang itu. Lu pengen cepet hamil, ya lu bikin aja tiap hari sama Mas Rangga!" ide Ranti.
"Bikin? Bikin apa ini maksudnya?" Alenna tak paham juga.
"Bikin jamu! Ah, Alenna. Gue gemes sama lu. Udah, sekarang sini. Lu mau pesan apa lagi? Bentar lagi udah harus balik kantor nih!" Ranti mengingatkan.
Jam yang melingkar di tangan jadi perhatian. Benar, jam istirahat makan siang hampir berakhir kurang lebih dalam lima belas menitan.
"Vanilla latte 1, ya. Buat Satria," pesan Alenna.
"Buat Satria? Gue pikir buat Mas Rangga." Ranti salah duga.
"Udah jangan mikir macem-macem, Ran. Buatin buruan!"
Ranti melenggang santai menemui karyawan cafenya. Dengan segera Vanilla latte pesanan Alenna pun selesai.
***
Di kantor. Alenna tak bisa fokus sepenuhnya. Berulang kali Satria menegur Alenna.
"Jika dirasa Nona Alenna perlu istirahat, cek dokumen dari masing-masing divisi biar saya ambil alih. Saya perhatikan Nona Alenna tidak fokus dari tadi," ujar Satria.
__ADS_1
Alenna mengangguk. Hanya anggukan tanpa kesadaran. Pikirannya masih melayang-layang. Tangan Alenna tetiba saja meraih gelas berisi Vanilla Latte milik Satria. Lekas diminumnya pula tanpa minta izin pada si empunya.
"Oups. Rasa-rasanya angan untuk menikmati rasa vanilla latte telah melayang. Itu ... bukankah sudah nona berikan untuk saya?" Satria menunjuk gelas Vanilla Latte di genggaman tangan Alenna.
"Astaghfirullaah. Maaf, Sat." Alenna tersadar.
Gelengan kepala tak lagi bisa dihindarkan. Satria tersenyum manis dengan pesona wajah tampan.
"Sebagai mantan partner selingkuhan, saya hafal betul. Jika sudah seperti ini, pasti ada sesuatu yang mengusik hati dan pikiran Nona Alenna. Sesuatu yang sangat penting, genting, dan ... pastilah menyangkut Tuan Rangga." Tutur lembut Satria. Menebak dengan santainya.
Alenna terkagum-kagum dengan tebakan Satria.
"Kok tau, sih?"
"Ehem!" Satria hanya berdehem bangga.
"Sat, mungkin nggak sih kalau Mas Rangga akan memilih jalan selingkuh?" Alenna meminta pendapat Satria.
"Saya akan jawab dengan jujur. Kalau Nona Alenna, sangat mungkin untuk selingkuh. Kalau Tuan Rangga, rasa-rasanya tidak akan. Meski yang namanya mustahil itu dapat dibantahkan."
Alenna sempat menampilkan mimik cemberut kala Satria menyebut dirinya akan sangat mungkin untuk menduakan cinta.
"Saran saya, Nona Alenna harus sering-sering menyiapkan waktu berdua saja dengan Tuan Rangga. Tapi tolong, jangan lakukan di depan saya seperti kemarin lusa. Saya sungguh ingin tetap bernafas lega, Nona."
Alenna terkekeh begitu mengingat adegan dalam mobil sepulang dari Jogja. Sungguh Alenna saat itu terlupa dengan keberadaan Satria yang tengah mengemudikan mobilnya.
"Terima kasih sarannya, Sat. Kalau tips agar cepat hamil kamu tahu nggak?" Dasar Alenna, malah tanya pada Satria.
Ditanyai seperti itu, membuat mata Satria seketika terpejam. Pikiran Satria berputar demi menemukan sebuah jawaban. Namun, gagal.
"Mohon maaf, Nona. Saya belum berpengalaman memiliki istri. Jadi, jawaban atas pertanyaan Nona Alenna tak bisa saya jawab kali ini."
"Iya sudah, tidak apa-apa. Oya, untuk iklan jamunya Mas Rangga, aku ingin konsep yang berbeda. Dengan model yang berbeda pula. Aku ingin kamu mengundang salah satu teman wanitamu yang di Solo itu untuk datang. Katamu tadi pagi, temanmu itu seorang model kan?" Alenna memastikan.
"Nona yakin mau meminta kenalan saya ini sebagai model iklannya?"
"Yakin sekali. Segera atur pertemuanku dengannya, ya." Alenna bersungguh-sungguh.
Satria menunduk takzim lantas menyanggupi.
Sebenarnya akulah yang tidak yakin jika dia modelnya. Semoga kekhawatiranku tidak jadi nyata. Batin Satria.
***
Mendekati pukul setengah lima sore, Alenna dan Rangga sudah sampai di apartemen mereka. Seperti biasa, Rangga langsung bebersih diri. Sementara Alenna menyiapkan pakaian ganti. Mendadak saja Alenna kepikiran ide dari Ranti.
"Sayang, kok bengong?" Rangga sudah selesai bebersih diri.
"Eh sudah selesai ternyata." Alenna mendekat. Bermanja-manja di lengan Rangga.
"Mau dibikinin sesuatu?" tanya Rangga, menawari.
Alenna mengangguk.
"Mau. Ayo, Mas. Bikin anak," ujar Alenna.
"Eh?"
Bersambung ....
Tarik nafas, hembuskan!
Ehehee. LIKE dan VOTE buat author dong š
Yang mau cobain jamu beras kencur kesukaan Alenna, lekas merapat ke novel Menanti Mentari karya Kak Cahyanti. Dukung kami, ya. See u in the next episode.
__ADS_1
***
ā¤