
Alenna terduduk di depan gerbang rumah. Menatap pilu mobil berplat nopol Jakarta yang membawa Rangga. Sayang sekali, Alenna tak mampu menghafal nomor platnya, hanya kode daerah saja.
Mendengar teriakan Alenna, Mario-Anjani berlarian keluar rumah. Dua security lainnya menyusul, lantas membantu teman security lainnya yang tengah mengaduh, memegangi perut dan dada.
"Alenna." Anjani memegangi lengan adik iparnya, lantas membantunya berdiri.
Seketika Alenna menangis sambil memeluk erat tubuh Anjani. Sumpah serapah untuk si penculik Rangga meluncur deras tanpa kendali. Alenna marah, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Alhasil hanya tangislah yang saat ini terus diluncurkan aksinya.
"Istighfar. Istighfar, Alenna. Tenangkan dirimu dulu." Anjani mengusap punggung Alenna sambil memberi nasihat padanya.
"Mas Rangga diculik. Bagaimana kalau diapa-apain sama penculiknya?" Alenna berpikiran yang tidak-tidak. Dirinya begitu khawatir pada Rangga.
"Hei, tidak percayakah kamu dengan penjagaan Allah? Yakinlah, Mas Rangga selalu dalam lindungan-Nya. Istighfar dulu. Kita berdoa sambil tetap usaha menyelamatkannya," nasihat Anjani.
Sesenggukan tak lagi terdengar. Alenna mulai tenang. Dilepasnya pelukan itu, lantas mencubit pipi Anjani.
"Heeeem. Ini kenapa malah nyubit pipiku?" Anjani mengaduh diiringi tawa ringan.
"Gemes! Untung Mario nikahnya sama kamu. Udah cantik, baik, pinter nasihatin aku." Alenna berganti mencubit hidung Anjani.
Tidak masalah sama sekali bagi Anjani. Dirinya merelakan pipi dan hidungnya untuk dicubit Alenna. Anjani memahami perasaan Alenna saat ini. Alenna pastilah sedang berusaha mengusir prasangka buruknya, sembari dalam hati mendoakan keselamatan Rangga.
Sementara itu, Mario terlihat serius berbicara pada dua security yang masih kesakitan memegangi perut dan dada mereka. Dua security lain membantu mengobati luka lebam teman mereka.
"Maafkan kami, Tuan Muda. Kami gagal menjaga keamanan rumah ini," ungkap salah satu security.
"Jangan dipikir berlebihan. Ini di luar kendali. Tolong ceritakan bagaimana tadi bisa terjadi. Apa beberapa hari ini ada yang terlihat mencurigakan?" tanya Mario.
"Tadi siang sempat ada, Tuan. Begitu kami coba bertanya, mengakunya sebagai sales parabola. Maaf, Tuan Muda. Kami tidak menelusuri lebih. Kami lalai," aku security lainnya.
Mario tidak menyalahkan mereka. Dirinya juga lalai dalam hal ini. Sejak kasus penculikan Anjani oleh Daniel, harusnya Mario mengantisipasi dengan mengetatkan penjagaan seluruh anggota keluarga. Namun, tanpa diprediksi penculikan justru kembali terjadi. Kali ini Ranggalah yang menjadi sasarannya.
Mungkinkah dalangnya sama seperti kasus penculikan Anjani? Atau justru ada dalang lainnya? Pikir Mario.
"Selanjutnya, tingkatkan keamanan di bagian gerbang depan. Besok bagilah tugas. Ada yang bergabung dengan security kompleks. Jika ada yang mencurigakan, segera bisa diambil tindakan. Tiga bodyguard tambahan juga akan membantu. Untuk ayah, biar aku yang memberi tahu." Mario mencoba bijak.
Mario menghampiri sang istri dan adiknya. Menyuruh mereka menuju dalam rumah. Anjani sigap mengambil minum untuk Alenna, sementara Mario sibuk menelepon ke sana kemari.
"Minum dulu. Kalau mau nyubit pipi sama hidungku dipersilakan," ujar Anjani sambil mengusap bahu Alenna.
"Thanks, Anjani."
Dalam diam sambil meneguk minuman, Alenna mencoba mengingat, menerka, siapa dalang di balik ini semua.
"Nopol Jakarta. Apakah mungkin Vero terlibat dalam hal ini?" Pikir Alenna.
Tak lama kemudian, John dan Mommy Monika datang. Mereka tergopoh-gopoh. Mario lekas menyambut dan menceritakan secara singkat.
Mommy Monika lekas menghampiri Alenna. Puas memeluk Alenna, Mommy Monika berganti memeluk Anjani.
"Anjani, kamu jangan kapok menjadi bagian keluarga ini ya, Sayang. Insya Allah kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Kamu bahkan belum sembuh betul dari trauma penculikan Daniel waktu itu. Sekarang malah harus melihat penculikan Rangga. Tega bener yang berbuat ini. Mana putriku ini belum sempat malam pertama sama Rangga. Iya kan, Sayang?" Mommy Monika berganti lagi, kembali memperhatikan Alenna.
__ADS_1
"Mommy kok jadi bahas malam pertama, sih? Keselamatan Mas Rangga sekarang yang utama. Alenna nggak mau balik ke Jakarta sebelum Mas Rangga ditemukan!" seru Alenna dengan nada rengekan.
Mimik wajah Alenna seketika berubah begitu menyebut kata Jakarta. Dia langsung bangkit dari duduknya, lantas menuju John, sang ayah.
"Ayah, Alenna yakin sekali ini semua ada hubungannya dengan Vero. Pasti Vero dalang di balik ini semua!" tegas Alenna.
"Sebentar. Kamu tidak boleh gegabah langsung menuduh Vero," nasihat John.
"Mobil yang menculik Mas Rangga berplat nopol Jakarta, ayah. Siapa lagi kalau bukan Vero. Selama ini hanya dia yang bersikeras ingin menikahi Alenna!" Kembali Alenna melayangkan tuduhannya.
John tampak berpikir. Mulai terpengaruh tuduhan yang dibuat Alenna.
"Kalaupun benar Vero terlibat. Pastilah dia akan mampu menutupi ini semua. Kita fokus dulu saja dengan pencarian Rangga. Ayah akan suruh mata-mata, bodyguard dan anak buah ayah lainnya untuk mencari Rangga. Di kota ini ataupun di Jakarta."
Beralih, John kini melihat Mario.
"Mario, fokus saja dengan tugas akhirmu. Jaga istrimu juga. Doakan saja Rangga segera ditemukan," titah John.
"Baik, Ayah." Mario menurut.
Alenna masih tidak puas dengan jawaban ayahnya. Rasa-rasanya Alenna ingin segera bertemu dan melabrak Vero. Namun, lagi-lagi John memintanya untuk tenang.
"Lebih baik kamu temui temanmu. Ranti. Besok pagi kalian tetap harus kembali ke Jakarta. Tentunya dengan pengawalan anak buah ayah," tegas John.
Bola mata Alenna membulat. Seharian ini dia benar-benar lupa dengan keberadaan Ranti karena terlalu bahagia dengan Rangga.
"Terserah ayah saja. Aku ke kamar Ranti dulu! Mario-Anjani, Mommy. Aku tinggal dulu!" Alenna berlarian menuju kamar Ranti.
"Ranti. Sorry banget!" Itulah kata pembuka yang Alenna pilih begitu pintu kamar Ranti dibuka.
"Masuk, Len. Duh, gue nggak berani keluar kamar begitu yang lain heboh di depan gerbang tadi. Sabar ya, Len. Mas Rangga orang baik, pasti selamat!" Ranti memeluk Alenna.
Alenna mengangguk. Dirinya sudah tidak seheboh tadi.
"Sorry. Seharian ini aku malah lupa kalau kamu di sini," aku Alenna sejujurnya.
Ranti menjetikkan jemarinya.
"Itu artinya lu bahagia karena udah sah dengan Mas Rangga. Gue sih nggak apa-apa. Untung aja bibi juru masak rumah lu ngajakin gue main masak-masakin. Jadinya gue nggak boring. Terus ...." Ranti mengambil jeda.
"Terus apa, Ran?"
"Tadi Juno telepon gue. Beneran kan, Juno nggak dateng tadi pagi karena takut baper lihat lu sama Mas Rangga. Eh, tapi lu dapat ucapan selamat dari Juno, lho." Ranti terlihat bahagia.
Mendadak mimik wajah Alenna berubah.
"Ran, kamu nggak cemburu kan? Masa laluku dengan Juno ...."
Ranti membekap mulut Alenna agar tidak melanjutkan kata-katanya.
"Masa lalu jangan dibahas. Juno udah jadi milik gue, meski kita berdua baru akan menikah. Sedangkan lu udah sah jadi istrinya Mas Rangga. Jadi buat apa gue cemburu-cemburuan?" Ranti melepas tangannya.
__ADS_1
"Btw, lu kepikiran nggak siapa yang nyulik Mas Rangga?" Ranti kembali membahas Rangga.
"Aku yakin sekali Vero di balik semua ini. Kasus ini jelas berbeda dengan kasus penculikan Anjani sebelum ini. Ya, aku yakin sekali. Vero." Mimik wajah Alenna serius.
"Fix. Gue juga kepikiran Vero dalangnya. Dan gue juga tahu pasti, lu nggak akan tinggal diam di sini, Len." Ranti sudah hafal tabiat Alenna.
Alenna tersenyum, lantas mengangguk membenarkan. Alenna memang tidak akan tinggal diam meski sudah diperintahkan sang ayah untuk sabar menunggu hasil pencarian Rangga. Alenna sudah berencana melabrak Vero begitu sampai di Jakarta besok.
***
"Eehm ... Eem!" Rangga meronta.
"Buka aja penutup mulutnya!" perintah seorang berbadan kekar dengan tato di lengan kanan.
Satu anggukan didapatkan. Lekas dibukanya penutup mulut Rangga. Begitu dibuka, Rangga memanfaatkannya untuk bernafas sedalam-dalamnya.
"Aduuuh. Mas-mas penculik ini kok tega sih nyulik saya!" keluh Rangga. Tangannya diikat di belakang. Demikian pula dengan kakinya.
"Ya kalau nggak tega, kau nggak bakal ada di sini!" sahut si berbadan kekar dengan bekas luka sayatan di tangan kiri.
Rangga beristighfar. Mendadak dia sedikit heboh karena mobil yang dikendarai sudah keluar dari kotanya.
"Loh-loh-loh! Ini saya mau dibawa kemana?" seru Rangga.
"Sudah nurut aja! Kau cuma diculik, kok!" sahut si sopir.
"Gimana sih? Diculik kok cuma! Aneh!" protes Rangga.
"Justru yang aneh itu kau. Biasanya orang diculik itu panik. Teriak minta tolong. Lah ini malah santai!" si bertato geleng-geleng kepala.
Ya, raut wajah Rangga memang terlihat santai. Hanya saat mulutnya dibekap kain tadi dirinya meronta. Itu pun karena kesulitan bernafas.
"Ya habis mau gimana? Teriak minta tolong, tapi siapa yang bakal dengar. Orang di sekitar sepi gini. Yaudah, mending aku diam aja! Lagipula, ada Allah Yang Maha Melindungi. Hati-hati loh perbuatan kalian ini diawasi. Nggak takut nanti masuk neraka, ha?" Dengan entengnya Rangga menjawab.
Si bertato dan Si bekas sayatan kompak tepuk jidat. Baru kali ini mendapat target yang santuynya kebangetan.
"Mas-mas penculik. Saya mau dibawa kemana ini? Jangan jauh-jauh. Istri saya nanti nyariin," protes Rangga lagi.
"Eh mending kau diam aja, deh. Nanti juga tahu. Tor, kasih dia makan sesuai pesan, bos. Nanti kalau kurusan, kita nggak jadi dibayar lagi!" perintah si sopir pada si bertato.
"Ayo. Aku suapin. Aaa ...." Si bertato memulai adegan suap menyuap.
Rangga menggeleng dengan tegas.
"Nggak mau! Istri saya aja belum pernah nyuapin. Kalau nggak diculik kalian, pasti sekarang saya sama istri sudah malam pertama di kamar!" protes Rangga yang justru mendapat tawa dari ketiga penculik.
"Kasian. Pengantin baru rupanya! Nanti kalau ketemu sama bos minta izin aja biar dikasih kesempatan ehem-ehem dulu sebelum dieksekusi. Mumpung bos lagi labil. Aku juga heran, sejak kapan bos jadi agak baik seperti ini." Si sopir malah curhat.
Rangga tidak menjawab lagi, karena si bertato menerima telepon. Satu instruksi didapatkan. Rangga akan dibawa menggunakan helikopter menuju tempat penyekapan. Sementara dua dari tiga penculik melanjutkan misinya.
Bersambung ....
__ADS_1
Kok sepertinya penculik dan bosnya sama-sama agak baik. Agak loh, ya. Apa karena Rangga terbilang polos di mata mereka? Atau justru ada sesuatu? Nantikan lanjutan ceritanya. LIKE-nya dong buat author.