
Cetak! Cetak! Cetak!
Suara pisau dapur yang bergemelatuk terdengar nyaring di dapur apartemen. Alenna yang melakukan. Sejak lima belas menit lalu Alenna sibuk membuatkan sarapan untuk Rangga. Awalnya Alenna hendak dibantu Rangga, tapi lekas dicegah. Alenna menyuruh Rangga untuk tetap bersimpuh di atas sajadah, memohon ampunan usai ibadah duha dilakukan.
"Terong bakar sudah ready. Tinggal sambal kacang. Yaps. Tambahkan ini, itu, dan ... secangkir cinta dariku. Heem. Habis makan ini pasti Mas Rangga nggak bakal berani selingkuh lagi." Alenna bergumam sendirian sambil mengulek sambal kacang.
Lima belas menit kemudian, menu sarapan sudah terhidang. Alenna menatanya di meja makan. Nasi putih hangat, sepiring ikan pindang goreng tepung, terong bakar penyet sambal kacang, dan dua gelas teh hangat.
Langkah Alenna diayun menuju kamar. Alenna melihat sang suami masih berdzikir. Semakin dekat langkah kaki Alenna, semakin terdengar jelas istighfar yang dibaca Rangga.
Semoga setelah ini kamu tidak khilaf-khilaf lagi, Mas. Doa yang sama untukku juga. Aamiin. Batin Alenna.
"Mas Rangga," panggil Alenna.
"Iya, Sayang. Sebentar, aku lipat dulu sajadahnya. Ganti baju bentar juga ya," izin Rangga.
"Aku ambilkan baju gantinya dulu, Mas."
Alenna sigap menyiapkan kaos warna hijau toska, senada dengan daster yang pagi itu dipakainya. Usai Rangga ganti baju, Alenna dengan penuh cinta mengambilkan nasi dan lauk pauk, lantas menemani Rangga sarapan.
"Sambel teronge mantep pol. Uenak tenan!" puji Rangga.
"Alhamdulillaah kalau Mas Rangga suka. Aku bakal sering-sering masakin yang kayak gini asalkan Mas Rangga nggak berubah jadi buaya cinta," sindir Alenna.
Rangga auto tersedak karena julukan buaya yang disematkan. Pedasnya sambal terong makin memperkeruh rasa tak nyaman di tenggorokan. Uhuk-uhuk!
Alenna sigap menyodorkan segelas air putih dan mengusap-usap punggung Rangga.
"Minum dulu, Mas. Pelan-pelan, ya. Em, sini sebentar. Aku lap dulu, itu yang belepotan di mulut. Permisi ya, Mas." Alenna penuh perhatian.
Hati Rangga tersentuh. Rangga terdiam dan membiarkan Alenna mengelap mulutnya yang belepotan karena ulah sambal.
"Sayang, sekali lagi maafkan aku ya. Aku sungguh menyesal telah berani menduakan cintamu," ucap tulus Rangga.
"Insya Allah aku sudah memaafkanmu, Mas. Jaga hati lagi, ya. Biar ikatan cinta kita juga tetap terjaga."
Tatapan mata Alenna yang tulus membuat Rangga semakin merasa bersalah. Ditatapnya wajah ayu kebulean Alenna dengan mesra, hingga membuatnya sedikit salah tingkah.
"Mas Rangga tumben-tumbennya ngelihatin aku kayak gitu, sih. Cantikku memudar ya, Mas?"
"Nggak tuh. Makin cantik, hatimu juga cantik. Sini duduk deketan sama Mas!"
Rangga menggeser kursinya. Alenna dengan senang hati menuruti permintaan Rangga.
"Buka mulutmu. Mas suapi. Aaaa ...."
Pagi itu Alenna tak mampu berkata-kata. Hatinya dipenuhi rasa syukur karena bisa kembali berdekatan hati dengan suami tercinta. Suapan demi suapan Alenna terima. Bertambah pula rasa cintanya pada sosok Rangga.
"Atututuu, istriku kenapa menangis? Cup-cup, Sayang. Maafkan suamimu yang banyak kekhilafannya ini, ya."
Rangga meletakkan piringnya, lantas merangkul Alenna.
"Mas Rangga jangan selingkuh-selingkuh lagi, ya. Aku sungguh mencintai Mas Rangga. Berharap juga bisa menua bersama," tutur lembut Alenna di sela isak tangisnya.
Isak tangis Alenna menohok hati Rangga. Lebih tersadar bahwa tidak sepatutnya perselingkuhan dibalas dengan perselingkuhan pula. Hadirnya Andin dalam kehidupannya adalah sebuah ujian. Meski Rangga sempat tergoda, bukan berarti ujian telah gagal sepenuhnya. Ujian yang sesungguhnya adalah ikatan cintanya dengan Alenna. Sebuah ikatan cinta halal yang harus dipertahankan.
"Insya Allah, Mas akan lebih mawas diri. Tidak tergoda-goda lagi. Saling percaya lagi, ya Sayang."
"Insya Allah, Mas. I love you."
"Sayang, aku ora iso ngomong Inggris. Lope yu pokoke wes. Aku trisno awakmu!" Rangga ngomong Jawa.
Mendengar itu Alenna langsung terpingkal. Tiap kali Alenna mengucapkan kata berbahasa Inggris, selalu saja Rangga membalasnya dengan obrolan Bahasa Jawa.
__ADS_1
"Iyo wes iyow wes. Ayo makan lagi, Mas. Gantian aku yang nyuapin ya. Buka mulutnya lebar-lebar. Helikopter mau datang. Aaaaa ...."
Keromantisan Alenna-Rangga terus berlanjut hingga menjelang siang. Alenna sengaja tidak ke kantor demi bisa menghabiskan waktu seharian bersama Rangga. Urusan kantor tentunya telah dipercayakan sepenuhnya pada Satria.
"Sayang, ke ruko, yuk!" ajak Rangga usai dhuhur berjamaah.
"Nggak mau ah. Pengennya kan ngabisin waktu seharian bareng Mas Rangga."
"Yaudah. Kita bikin jamu bareng. Jadi launching minggu depan kan jamunya?" Rangga antusias kala membahas bisnis jamunya.
"InsyaAllah jadi. Tapi model iklannya baru aku ajak janjian lusa. Aku yakin bisa selesai kok, Mas." Alenna membesarkan hati Rangga.
"Perempuan atau laki-laki modelnya?" tanya Rangga.
"Perempuan. Temannya Satria dari Solo."
"Itu saja? Nggak ada model tambahannya?" Ada sesuatu yang hendak Rangga kejar.
Alenna menangkap gelagat sang suami. Lekas disunggingkan senyum untuk Rangga, kemudian mencubit gemas perutnya.
"Bilang aja kalau Mas Rangga pengen jadi model iklannya. Iya kan? Hayo-hayo ngaku!"
"Pengennya sih gitu. Tapi mana mungkin kamu ngizinin aku. Apalagi lawan mainnya perempuan. Temennya Satria lagi. Pasti cantik. Kalau aku tergoda lagi gimana? Terus selingkuh lagi gimana? Terus kamu datang lagi bawa pisau sama sapu, no .... Hm."
Alenna membekap mulut Rangga. Gemas sekali Alenna mendengar rentetan kalimat panjang yang justru mengingatkan pada kesalahan yang baru saja termaafkan.
"Sudah ya, Mas. Terus sekarang maunya Mas Rangga gimana?" Alenna bertanya dengan nada halus nan menenangkan.
"Maunya sih model iklannya nggak cuma perempuan, karena jamu ini juga bisa dikonsumsi laki-laki. Gimana kalau model tambahannya Satria saja? Biar nggak lama-lama nyarinya." Ide Rangga.
Pikiran Alenna melambung. Mengingat wajah teman Satria yang akan jadi model iklan jamu. Lekas dicocok-cocokkan dengan perawakan Satria.
"Kukiran Satria cocok juga sama si model wanitanya. Oke deh. Aku setuju. Bantuin bilang ke Satria ya, Mas."
"Yaudah deh. Besok aku yang bilang. Sekarang, Mas Rangga tolong jabat tanganku!" perintah Alenna.
Meski tak paham, Rangga menuruti kemauan Alenna. Tangan kanan Rangga mantap menjabat tangan Alenna.
"Mulai sekarang kita bermitra. Perusahaanku dan bisnis jamunya Mas Rangga mulai detik ini terikat kerjasama. Label dan kemasan serta biaya produksi akan ditanggung perusahaan. Sistim bagi hasil diberlakukan. Tenang saja, dalam hal ini Mas Rangga tetap owner-nya. Bagaimana? Mas Rangga bersedia?"
Pikiran Rangga cerah. Rangga mulai mengerti jalan pikiran Alenna.
"Begini ini enaknya punya istri jago berbisnis. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Sepakat!"
Raut wajah Alenna yang semula menunjukkan wibawa seorang pimpinan, seketika berubah manja. Alenna memeluk Rangga dengan eratnya.
"Aku tetap merasa beruntung menjadi istrimu, Mas."
"Terima kasih, Sayang. Maafkan aku yang kemarin, ya?"
"Udah ah, Mas. Jangan dibahas lagi. Ayo kita bikin jamu. Aku bersedia icip-icip sampai bergelas-gelas."
"Mana ada icip bergelas-gelas. Itu namanya doyan!"
Jadilah, hingga menjelang pukul dua siang Alenna dan Rangga membuat jamu sambil bercanda dan bermesraan di dapur apartemen mereka. Alenna benar-benar memenuhi ucapannya. Icip-icip jamu buatan Rangga hingga bergelas-gelas jumlahnya.
"Habis minum jamu, kok mendadak aku jadi pusing ya, Mas?"
"Lah? Kok bisa?"
"He'em. Aku beneran pusing, Mas. Soalnya Mas Rangga bikin jamunya dengan penuh cinta. Bikin cenut-cenut di kepala. Sepertinya aku overdosis cintanya Mas Rangga." Alenna terpingkal.
"Kamu itu, ya. Kirain pusing beneran."
__ADS_1
Canda tawa masih terus mewarna. Hingga kemudian Rangga meminta Alenna duduk di sofa, sementara dirinya mengambil sesuatu di kamar.
"Mas Rangga mau ngasih kejutan apa buatku, sih?" tanya Alenna sekembalinya Rangga.
Rangga dengan senyum pamungkasnya lekas duduk bersebelahan dengan Alenna. Di tangan Rangga sudah ada kresek hitam berukuran sedang berisi sesuatu yang masih dirahasiakan.
"Ini untukmu. Terimalah," tutur lembut Rangga.
Alenna menerima bungkusan kresek hitam yang diberikan Rangga. Dibukanya perlahan, lantas mengintip isi di dalam. Merah, biru, dan semua dalam tumpukan lembaran.
"I-ini untukku?" tanya Alenna seolah tak percaya dengan apa yang diterimanya.
"Iya, Sayang. Jumlahnya mungkin tidak seberapa dibanding harta tahta seorang Alenna. Tapi kamu tetaplah istriku, dan kewajibanku adalah menafkahimu."
Bungkusan kresek hitam itu berisi lembaran uang dalam jumlah jutaan. Rangga mengumpulkan uang itu dari hasil mengelola ruko sepatu. Rangga tahu betul bahwa Alenna kaya raya, tapi Rangga tak akan pernah lupa dengan kewajibannya. Meski tak seberapa jumlahnya, Rangga tetap akan menafkahi Alenna dari hasil kerja halalnya.
"Mas Rangga so sweet. Tapi ... kenapa nggak dibuat ATM saja, Mas?"
"Hehehe. Mas kan pengennya yang beda. Biar lebih berkesan." Rangga sedikit berdalih. Sebenarnya Rangga baru akan diajari cara membuat ATM di bank minggu depan oleh anak buahnya. Hoho. "Nafkah yang bulan depan bentuknya kartu ATM, deh!" imbuh Rangga.
"Nggak-nggak. Kayak gini aja juga nggak apa-apa, kok. Aku terima, ya Mas. Em, boleh dibelikan lipstik warna merah menyala?"
"Boleh, tapi pakainya saat di depanku saja. Jangan coba-coba pakai di depan umum apalagi di depan Satria!"
"Siap, Mas Rangga Sayang!"
Dan ... sekali lagi ikatan cinta semakin mengerat jadinya. Cinta kasih Alenna-Rangga tercurah dalam bentuk yang tak pernah terduga. Alenna yang sempat selingkuh dengan Satria, dan Rangga yang pernah mengikuti jejak selingkuh mereka. Kekhilafan yang telah berujung dengan kata maaf telah menjadi suatu pelajaran. Bukan untuk dilupakan, tapi digunakan sebagai cambuk pengingat agar kesalahan tak lagi terulang.
***
Tok-tok-tok! Rangga mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang, tumben pintu kamar mandinya dikunci? Kamu lagi ngapain?" tanya Rangga.
"Sebentar, Mas."
Rangga sabar menunggu sambil sesekali menguap. Diliriknya jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
Ceklek!
Suara pintu terbuka membuat Rangga memutar badannya. Dilihatnya Alenna keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berseri-seri. Di luar kebiasaan, Alenna justru menghambur memeluk Rangga erat. Puas memeluk, Alenna lekas menunjukkan benda kecil di tangannya.
"Dua garis merah," ucap Alenna sambil menunjukkan test pack.
Raut wajah Rangga seketika cerah. Sama cerahnya seperti ekspresi yang ditunjukkan Alenna.
"Alhamdulillaah. Terima kasih, Ya Allah. Hamba benar-benar merasa menjadi seorang lelaki kali ini," ucap syukur Rangga lantas menghujani Alenna dengan kecupan bertubi.
"Mas Rangga bahagia?"
"Tentu saja bahagia. Sempatkan waktu di sela jam kerjamu, ya. Aku temani ke dokter kandungan."
"Iya, Mas."
Kehamilan Alenna menjadi berita baik pagi itu. Rangga yang selama ini memang mengharapkan kehadiran buah hati pun sungguh bersuka hati. Alenna terus dihadiahi pelukan dan kecupan bertubi. Membuat Alenna semakin bersyukur atas kehadiran calon buah hati.
Alhamdulillaah aku hamil. Dengan begini, Mas Rangga tidak akan mungkin lagi berpaling. Semoga ikatan cintaku tak lagi merenggang karena rasa terlarang. Aamiin. Batin Alenna, berdoa.
Bersambung ....
Hello semua? Adakah yang rindu? Semoga episode kali ini menghibur. Terima kasih yang sudah setia menunggu lanjutan Ikatan Cinta Alenna. Dalang ide jamu Rangga apa kabar nih? Tengokin yuk Azka-Meli di novel Menanti Mentari karya Kak Cahyanti. Dukung kami. š
***
__ADS_1