
Si Kembar Ardi-Ardan sudah bersiap dengan kemeja batik mereka. Sungguh lucu dan menggemaskan. Sementara Bu Anis, beliau tampak rapi dengan kebaya batik yang warnanya hampir senada dengan putra kembarnya. Rangga tentunya berbeda. Setelan jas membuat aura tampannya memancar. Sudah mirip CEO dengan aset wajah memesona mereka.
"Kalau kamu nganter ibuk ke pasar pakai model begini, dijamin banyak yang naksir kamu, Le!" celetuk Bu Anis.
"Ibuk bisa aja. Rangga udah mau jadi suami Alenna, nih. Jadi ibuk nggak perlu jodoh-jodohin Rangga lagi, ya." Rangga senyum-senyum sambil membantu Ardi-Ardan menyisir rambut mereka.
"Iyo. Tenang wae!" sahut Bu Anis.
Pagi itu Bu Anis juga meminta dua tetangga terdekat yang terkenal jago ngegosip, Bu Sri dan Bu Ning, juga Pak RT dan Pak Lurah untuk ikut ke acara Rangga-Alenna. Meski digelar sederhana, Bu Anis ingin momen sah sang putra disaksikan orang di daerahnya. Sehingga jika sewaktu-waktu Alenna ke rumah, tidak jadi bahan gosip tetangga. Sembari menunggu Pak RT dan Pak Lurah datang, Rangga menuju kamar untuk menghafal nama Alenna dan John.
"Alenna Gilly Melicent binti John Sena Putra." Berulang kali Rangga menghafal nama itu.
Dari arah pintu kamar terdengar suara tawa tertahan. Rupanya Bu Anis dan dua putra kembarnya yang mengintip ke dalam kamar Rangga.
"Ibuk sama kembar ngapain sih?" Rangga terusik dengan tawa ibu dan adik kembarnya.
"Ora opo-opo, Le. Jenenge Alenna uwapik tenan. Lah jenengmu mung Raden Mas Rangga," ujar Bu Anis sambil menepuk pelan bahu sang putra.
"Ya biarin, Bu. Nama itu memang doa, tapi yang lebih penting lagi tabiat si empunya nama. Ardi-Ardan, betul apa tidak?" Rangga meminta dukungan adik kembarnya.
"Betul-betul-betul!" sahut si kembar ala upin-ipin.
Seketika Bu Anis manggut-manggut melihat kekompakan putra-putranya.
"Yowes. Ayo berangkat. Pak RT, Pak Lurah, Bu Sri, Bu Ning, sudah di depan. Mereka yang bawakan seserahannya," terang Bu Anis lagi.
"Jadi naik mobilnya Pak RT?" tanya Rangga.
"Ya iya dong. Kamu sih ditawarin naik mobilnya Alenna nggak mau. Ya terpaksa kita pinjem mobilnya Pak RT. Bentar-bentar. Bajumu ini harus disemprot minyak wangi. Jangan-jangan, nanti bau rujak sama pecel dagangannya ibuk," celetuk Bu Anis sembari menyemprotkan minyak wangi.
"Ya nggak papa bau pecel, buk. Bau perjuangan hidup!" timpal Rangga yang begitu bangga apa pun pekerjaan ibunya.
Berangkatlah Rangga, Bu Anis, si kembar, dan rombongan menuju rumah Alenna tepat pukul tujuh pagi. Tak ada angin tak ada hujan, tetiba saja mobil yang mereka tumpangi mogok di tengah jalan.
"Waduh, mogok!"
Pak Lurah dan Pak RT lekas mengecek. Sementara si ibu-ibu memulai aksi keluh kesah mereka sambil kipas-kipas, panas.
"Ayo doroooong!" Semua bersiap pada posisi, hendak mendorong mobil.
"Loh, manten mana manten?" celetuk Pak RT yang berada di balik kemudi.
Bu Anis celingak-celinguk mencari Rangga. Rupanya, Rangga asik duduk di bawah pohon sambil kipas-kipas.
"Le, piye toh? Yang lain dorong mobil kamu malah santai di sini. Mau nikah enggak?" Bu Anis ngomel.
"Nikahnya ya mau, Buk. Rangga di sini lagi berdoa, biar mobilnya nggak mogok lagi," celetuk Rangga yang sebenarnya hanya mencari-cari alasan demi menutupi rasa gugupnya.
Kuping Rangga menjadi sasaran. Jeweran ala Bu Anis pun dilayangkan. Membuat Rangga hanya mengaduh lantas berdiri dan sigap mematuhi arahan.
"Biar ibuk saja yang berdoa. Kamu yang usaha, sana!" perintah Bu Anis.
"Iya-iya, buk!"
Bu Anis tersenyum dalam hati. Dia sebenarnya tahu bahwa sang putra tengah dilanda kegugupan. Tak lupa pula Bu Anis mendoakan, agar saat ijab qobul nanti semoga semua dilancarkan.
Mobil kembali melaju menuju rumah Alenna. Alhamdulillaah, tak ada lagi kendala hingga sampai di
sana.
***
"Alenna, Babang Rangga sudah datang, tuh!" Berlian, sahabat Alenna memberi tahu.
"Duh, aku kok gugup gini, ya?" Alenna memegangi tangan Berlian.
"Sst. Insya Allah semua dimudahkan. Aku kasih tau Anjani sama mommy dulu biar nemenin kamu." Berlian bersiap beranjak.
"Oya, Berlian. Temenin Ranti, ya. Biar ada teman ngobrol. Ranti jangan boleh deket-deket Juno. Dan kamu, awas ya! Jangan deket-deket Kak Ken. Belum sah!" Alenna mengingatkan sembari bercanda. Lumayan juga untuk mengurangi kegugupannya.
"Tunggu sampai aku sama Kak Ken nyusul kamu, ya." Berlian menjulurkan lidahnya lantas berlarian kecil meninggalkan Alenna.
Sepeninggal Berlian, Mommy Monika dan Anjani menemui Alenna.
"Adik ipar sudah siap?" tanya Anjani sambil membenahi pernak-pernik baju yang dipakai Alenna.
"Insya Allah sudah sangat siap!"
"Duh, anak mommy seneng banget ini, ya. Ayo ke ruang tamu dulu. Nak Rangga mau menyampaikan lamarannya."
Alenna mengangguk. Dimantapkan hatinya untuk bertemu Rangga. Begitu sampai di ruang tamu, dua pasang bola mata yang tengah jatuh cinta itu pun beradu senyum, lantas menundukkan kepala.
__ADS_1
"Rangga. Calon istrimu cantik betul. Bakal patah hati semua gadis-gadis yang mengincar hatimu!" celetuk Bu Sri, yang langsung ditanggapi anggukan semangat oleh Bu Ning.
"Kita mulai saja lamarannya sekarang, ya. Kami sudah siap menyaksikan kalian sah secara agama," ujar Pak Lurah.
"Setuju. Sebentar lagi penghulunya juga datang. Ayo semua, silakan duduk. Kita mengakrabkan diri sejenak!" John tak kalah antusias.
Prosesi lamaran dimulai. Pihak Rangga diwakili Pak Lurah, sementara pihak Alenna tentu saja John yang menjadi juru bicara. Alenna dan Rangga sama-sama menyimak dalam diam. Sesekali curi-curi pandang dilakukan. Saat dua bola mata indah beradu, pandangan pun tertunduk sembari tersenyum malu.
Penghulu datang saat prosesi lamaran terselesaikan. Semua berpindah menuju meja akad yang sudah disiapkan. Saat inilah yang membuat debar jantung Rangga terus berpacu.
"Mau minum dulu biar lebih rileks?" Mario menawarkan.
"Terima kasih, Bos. Bismillaah." Doa Rangga terucap dengan lantangnya. Membuat penghulu, para saksi, dan kedua keluarga tertawa dengan tanpa sungkannya.
Penghulu, wali nikah, mempelai, beserta para saksi sudah siap di posisi.
"Bismillaah," ucap Rangga, disusul menjabat tangan ayah Alenna.
John, ayah Alenna itu dapat merasakan tangan Rangga yang gemetaran. Khawatir proses ijab qobul membutuhkan beberapa kali ulangan, dengan sigap John menyuruh Mario untuk memberi penguatan. Mario sudah berpengalaman melakukan akad saat menikahi Anjani. Tentu saja John percaya bahwa Mario bisa menenangkannya. John pun melepaskan tangan Rangga.
"Loh, Pak. Kok tangan saya dilepas?" Rangga terheran.
Bu Anis mengambil langkah maju, lantas menepuk sedikit keras bahu Rangga.
"Tanganmu itu loh, Le. Gemeteran! Nak Mario, tolong nasihati Rangga, ya?" pinta Bu Anis.
Mario tersenyum. Dia memberi isyarat pada Rangga untuk berdiri, lalu mengikuti langkahnya. Rangga melirik Alenna sekilas, tampak sekali Alenna begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Kamu gugup?" tanya Mario begitu posisi mereka menjauh dari meja akad.
"Huft. Gugup sekali, Bos. Pengalaman pertama ini!" sahut Rangga sejujurnya.
"Ya jelas pengalaman pertama. Atau kamu berniat menduakan adikku?" Mario malah menyodorkan pertanyaan yang membuat Rangga semakin loncat-loncat saja jantungnya.
"Ya nggaklah, Bos. Sama sekali nggak punya niatan seperti itu. Insya Allah. Alenna ini jodoh dunia ahirat yang disiapkah oleh Allah." Mantap sekali Rangga berkata demikian.
Mario tersenyum. Semakin percaya Mario pada Rangga. Sosok Rangga diyakini oleh Mario akan mampu menjadi imam yang baik untuk Alenna, tentu saja di luar kekhilafan yang pernah mereka lakukan bersama.
"Coba lihat wajah adikku!" pinta Mario.
Rangga menurut. Ditangkapnya wajah Alenna yang begitu cemas sembari didampingi oleh Anjani. Rangga tak tega melihatnya.
"Apa kamu ingin membuat Alenna bahagia?" tanya Mario serius.
"Bagus. Langkah awal untuk membuat Alenna bahagia adalah perubahan status kalian. Seruan kata sah dari para saksi nikah pasti akan membuat Alenna bahagia. Sekarang tarik nafas dalam, lalu hembuskan!" perintah Mario.
Rangga mengikuti instruksi Mario. Tarik nafas, lantas menghembuskannya.
"Bismillaah!" Kali ini Rangga mantap. Tangannya tidak lagi gemetar.
Sekembalinya Rangga dan Mario membuat Alenna begitu lega. Tanpa sadar senyum berhias begitu saja. Senyum penyemangat bagi Rangga.
"Nak Rangga, mau lanjut atau dibatalkan?" goda John.
"Lanjut, ayah!" Alennalah yang berseru menyahuti godaan John pada calon suaminya. Ya, terlihat sekali di sini siapa sebenarnya yang sudah tidak sabar untuk segera sah.
Bukan hanya John yang terkekeh. Semua yang ada di ruangan itu tak lagi bisa menahan tawanya. Begitu sadar, Alenna hanya bisa tertunduk sambil senyum-senyum tidak jelas.
Rangga menjabat tangan John. Hatinya begitu mantap kali ini. Begitu ijab dilafalkan John, lekaslah Rangga menyambungnya dengan qobul dalam satu tarikan nafas tanpa kesalahan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alenna Gilly Melicent binti John Sena Putra dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas satu gram dibayar tunai."
"Saaaaah!" Alennalah yang menyeru, bersamaan dengan para saksi lainnya.
Mario-Anjani kompak tepuk jidat melihat kelakuan Alenna. Namun, lekas digantikan oleh rasa syukur yang mendalam. Mommy Monika bahkan langsung memeluk erat sang putri tercinta. John? Ah, ayah Alenna itu rupanya punya hobi baru, menggoda mantunya.
"Setelah ini, nggak ada lagi khilaf-khilafan. Mau melakukan sekarang atau nanti malam?" bisik John di telinga Rangga.
"Aduh, Pak. Saya bingung ini harus menjawab apa?" Rangga garuk-garuk kepala. Mengira pertanyaan John bukanlah canda.
"Jangan dijawab, adik ipar. Ayahku sedang menggodamu. Selamat. Akhirnya kalian sah secara agama." Mario memberi pelukan.
"Terima kasih, Bos!"
"Sampai kapan kau mau memanggilku, Bos?" tanya Mario.
"Em, maaf kakak ipar. Kak Mario. Mas Mario. Ah, itu deh. Hehe."
Alhamdulillaah, Rangga-Alenna sudah sah. Tak dosa lagi kala Alenna menyalami tangan Rangga, lantas menciumnya sebagai tanda bakti. Tak ada lagi julukan khilaf kala Alenna terus menempeli lengan Rangga sangking bahagianya.
"Len, selamat, ya!" Ranti memberi ucapan selamat untuk Alenna.
__ADS_1
"Makasih, Ran. Sst, Juno mana?" bisik Alenna.
"Nggak datang. Takut baper mungkin. Lu kan mantannya," celetuk Ranti.
"Ish. Jangan dibahas lagi masa lalu. Dua minggu lagi, kita nantikan jawaban Juno," bisik Alenna lagi.
"Siap. Gue percaya Juno nggak akan bisa lari dari gue," sahut Ranti.
Obrolan Alenna Ranti berakhir. Alenna-Rangga mendapat ucapan selamat dari beberapa orang terdekat yang sengaja dihadirkan untuk menyaksikan momen sah mereka.
***
Hingga siang hari, Alenna dan Rangga menemani dua keluarga yang tengah asik mengakrabkan diri. Pukul sebelas, Bu Anis dan rombongan pamit pulang, meninggalkan Rangga bersama Alenna di rumah itu. Bu Anis sangat paham perasaan sang putra yang pastilah ingin bersama sang istri sebelum besok Alenna terbang ke Jakarta.
Mario-Anjani, Mommy Monika dan John lekas membantu merapikan rumah. Sementara Alenna dan Rangga diminta ganti baju untuk bersiap fardu dhuhur.
"Uhhhm. Mas Rangga!" Alenna memeluk erat tubuh Rangga begitu mereka sampai di kamar Alenna.
Awalnya Rangga kaget dengan pelukan itu. Takut khilaf lagi. Begitu ingat bahwa mereka berdua sudah sah, barulah Rangga membalas pelukan Alenna.
"Sayang, ganti baju dulu, ya. Sebentar lagi dhuhur," nasihat Rangga sembari menengok jam dinding.
"Eem, cium dulu!" Alenna manja.
Mendadak saja Rangga kikuk. Malu-malu hendak memulai. Bingung juga harus bagaimana memulainya, karena selama ini Alennalah yang memulai.
Tak kunjung mendapat respon dari Rangga, dengan keberanian penuh Alenna memulainya. Ya, lagi-lagi seperti itu. Namun, Alenna sama sekali tidak masalah. Toh, pada akhirnya Rangga menikmatinya juga.
Rangga mendorong pelan bahu Alenna.
"Kenapa, Mas? Kita kan udah sah," protes Alenna.
"Sayangku yang sabar dulu, ya. Alhamdulillaah kita berdua sudah sah. Tapi, jangan sampai kita lalai menjalankan perintah hanya karena terlalu bahagia. Ayo, ganti baju, lalu bersiap fardu dhuhur," tutur lembut Rangga sambil mengusap pelan pipi Alenna.
Ada desiran sejuk menyelimuti hati Alenna. Anggukan pelan lantas diberikan. Tanpa kembali menuruti nafsu, Alenna pun berganti baju.
Banyak waktu di hari itu digunakan untuk mengakrabkan diri dengan keluarga. Alenna menemani Rangga berbincang banyak hal tentang rencana tinggal di Jakarta. Hingga sore hari menjelang, mereka kembali disibukkan dengan acara syukuran pernikahan mereka. Begitu sederhana. Hanya membagikan berkatan nasi dan kue ke tetangga kompleks. Alenna dan Rangga sendiri yang berkeliling mengantarkan. Hohoo.
"Tiba-tiba sudah mau maghrib aja. Kapan kita bisa ada waktu berdua, Mas?" Alenna mencebikkan bibir.
"Sabar. Menikah itu bukan hanya tentang kita berdua, tapi juga tentang menerima keluarga. Hari ini aku begitu bersyukur bisa mengenal keluargamu lebih dekat." Tutur kata Rangga terdengar bijak.
Lagi-lagi Alenna merasa malu pada dirinya. Bertambahlah rasa syukurnya karena bisa memiliki suami seperti Rangga.
"Kamu ngambek, ya? Kalau ngambek makin cantik, lho!" goda Rangga.
"Iih, apaan sih Mas Rangga. Yaudah, aku nggak ngambek! Eh, berarti cantiknya berkurang kalau nggak ngambek?"
"Haduuh! Istriku ini mikirnya kemana, sih? Sini aku cubit dulu hidungmu. Aku sentil juga keningmu biar lurus lagi pikiranmu," canda Rangga.
"Hehe. Ayo siap-siap, Mas!"
"Bagus. Sambil menunggu isya', mas pengen dengar hafalan juz 30-mu. Okey?"
"Insya Allah, masih ingat, Mas!"
Alenna Rangga memulai ikatan cinta mereka dengan hal-hal baik. Selepas jamaah maghrib, mereka berdua tetap di mushola sesuai kesepakatan sebelumnya. Alenna dan Rangga sampai tidak tahu kedatangan Meli, sahabat baik Anjani yang baru datang dari Jogja. Membawakan kado untuk pernikahan mereka.
Usai fardu isya', Alenna dan Rangga hendak menuju kamar. Namun, niat mereka diurungkan karena sebuah pesan yang Rangga dapatkan.
"Sayang, ada temanku yang mau ngucapin selamat. Katanya sih sudah di dekat rumah ini. Aku disuruh nunggu di depan rumah. Takut nyasar mungkin, ya!" terang Rangga.
"Aku temani, Mas. Ayo!"
"Eh, tapi sejak kapan nomor ponselnya ganti, ya?" Rangga mencoba mengingat.
"Mungkin nomor yang satunya kehabisan data dan pulsa, Mas." Alenna santai memberi tanggapan.
Rangga mengangguk. Sama sekali dia tidak merasa curiga. Begitu pula dengan Alenna.
Sesampainya Rangga dan Alenna di dekat gerbang, satu mobil melintas dan berhenti tepat di depan mereka. Dua orang bertubuh kekar langsung menyeret Rangga masuk ke dalam mobil. Alenna panik melihatnya.
"Toloooong! Penculik!" seru Alenna.
Dua security yang baru saja menyapa Alenna dan Rangga sigap menoyor salah satu dari mereka, tapi gagal. Dua security berhasil dikalahkan oleh seorang dari penculik. Rangga sudah masuk di dalam, dan mobil melaju kencang.
"Mas Ranggaaaa!" teriak Alenna.
Bersambung ....
Suka? LIKE aja!
__ADS_1
Nggak suka? Yaudah, abaikan aja!