
Panggilan suara dari Mario berakhir dengan anggukan penuh makna dari Paman Li. Orang-orang di ruang makan sedari Paman Li menelepon hanya bisa menyaksikan perubahan mimik wajah, tatapan mata sesaat yang tertuju pada Alenna, juga banyak anggukan dan kata iya.
"Paman Li, ada yang gawatkah?" Alenna tak bisa membendung rasa penasarannya.
"Ada sesuatu. Akan saya jelaskan begitu kita semua selesai makan. Mari Nona, Tuan, silakan menikmati santap paginya." Paman Li mempersilakan. Wajahnya dibuat tenang demi membuat kenyamanan di meja makan.
Rangga yang pertama kali merespon. Diperintahkannya keempat anak buahnya untuk segera makan. Begitu pula dengan sang istri. Dengan sabar Rangga merangkul pundak Alenna, membimbing menuju kursinya, lantas memberi usapan kecil di kepala sebelum Rangga menuju tempat duduknya.
"Mas Rangga, harusnya kan aku yang ngambilin minum buat mas. Kok kebalik, sih?" Alenna tak enak hati.
"Kalau begitu tuangkan segelas air minum buat mas, ya." Rangga meminta dengan tutur lembutnya.
Wajah Alenna kembali cerah. Dengan sigap Alenna mengambilkan segelas air minum untuk Rangga.
Jiwa single keempat anak buah Rangga meraung melihat romantisme Alenna-Rangga di meja makan. Meski hanya saling berbalas mengambilkan minum, tapi cukup mampu membuat keempat anak buah Rangga juga ingin segera menemukan tambatan hati masing-masing.
***
Sarapan, beres sudah. Keempat anak buah Rangga berbagi tugas. Ada yang membersihkan piring gelas. Ada yang langsung mengecek kesiapan helikopter dan kendaraan lainnya. Ada pula yang membantu Rangga menyiapkan barang bawaan. Rumah mewah di tempat terpencil itu akan kembali ditinggalkan dalam keadaan kosong.
"Sayang, biar aku yang mengecek barang bawaan. Kamu temui Paman Li. Sepertinya ada yang genting. Apa pun itu, sikapi dengan tenang ya?" nasihat Rangga.
Alenna mengangguk. Senyum mengembang. Semakin bersyukur Alenna bisa menjadi istri Rangga. Bersama Rangga hari-harinya dipenuhi petuah.
Tahu situasi, Paman Li pun segera menyampaikan kabar yang tadi diterima.
"Maaf, Nona. Saya harus menyampaikan ini. Tuan Vero saat ini ada di Jember," ungkap Paman Li.
"What? Ngapain sih Vero di sana? Terus, kakakku tadi bilang apa lagi? Cuma bilang Vero sekarang ada di rumah Jember?" tanya Alenna beruntun.
"Tuan Mario ... Em, saya jadi bingung ini. Mulai dari mana ya ceritanya." Paman Li tampak berpikir.
Dimulailah sedikit cerita dari Paman Li sesuai apa yang tadi didengar via telepon. Sebenarnya Vero ada perjalanan bisnis. Mengingat masih terikat kerjasama dengan anak perusahaan, Vero pun mampir ke rumah John. Kebetulan hanya ada Anjani di rumah itu, dan Vero malah menggodanya.
"Niat betul si Vero cari gara-gara. Bukannya dia udah tobat? Huuuh!" Alenna gemas.
"Sepertinya Tuan Vero lupa atau mungkin tidak tau jika Nona Anjani sudah menikah. Tanpa sengaja Tuan Mario yang baru tiba dari membeli bubur pun melihatnya. Nona Alenna bisa membayangkan sendiri apa yang terjadi selanjutnya. Tuan Mario sangat mencintai Nona Anjani. Tentu saja reaksinya berlebih," ungkap Paman Li.
Tetiba saja Alenna teringat kejadian saat Mario terlibat adu jotos dengan Rangga di masa lalu. Saat itu, juga karena Anjani. Mario salah paham sekaligus dibutakan api cemburu kala itu.
"Sampai tonjok-tonjokan?" tanya Alenna hati-hati.
"Tidak sampai seperti itu, Nona. Hanya saja Tuan Mario kurang suka dengan sikap Tuan Vero yang kurang sopan." Paman Li menyampaikan dengan sejujurnya.
"Kan kakakku tinggal usir Vero saja. Tumben banget sih Mario sampai repot-repot telepon Paman Li." Alenna tidak habis pikir.
Paman Li lekas meluruskan. Rupanya masih ada yang belum disampaikan.
"Mohon maaf lagi, Nona. Masalahnya Tuan Vero datang sambil membawa foto bukti perselingkuhan Tuan Besar," ungkap Paman Li.
"What!!!"
Tak lagi mampu menguasai mimik wajahnya, Alenna tampak terkejut luar biasa. Sungguh tak mengira dirinya akan mendengar kasus seperti itu lagi.
"Ma-maksud Paman Li, ayahku selingkuh lagi? Mom-mommy diselingkuhi?" Kata-kata Alenna sedikit terbata.
"Mohon untuk menyikapi info ini dengan bijak, Nona. Kita di sini masih belum mengetahui fakta yang sebenarnya." Paman Li segera meluruskan sebelum Alenna berpikiran yang tidak-tidak.
"Astaghfirullaah," lirih Alenna.
Beberapa kali masih terdengar ucapan istighfar dari mulut Alenna.
Masa iya sih keluargaku ditakdirkan jadi keluarga tukang selingkuh? Aku ini adalah anak yang terlahir dari hasil perselingkuhan ayah dan mommy. Kemarin lusa pun aku juga selingkuh dengan Satria. Sekarang, ada kabar ayah selingkuh lagi? Kalau begitu apa ada kemungkinan Mario akan menyelingkuhi Anjani? Pikiran Alenna kemana-mana.
Di saat pikiran Alenna kemana-mana, Rangga datang mendekat. Paman Li mempersilakan Rangga.
__ADS_1
"Sayang." Rangga menepuk pelan pundak Alenna.
"Mas Rangga." Tetiba saja Alenna menghambur ke pelukan Rangga.
"Maaf, Nona, Tuan. Keempat anak buah Tuan Rangga akan saya perintahkan untuk mengurus persiapan pembukaan ruko baru. Saya sendiri yang akan menemani perjalanan Nona dan Tuan menuju Jember. Saya permisi dulu," pamit Paman Li.
"Terima kasih, Paman." Ranggalah yang menanggapi Paman Li sambil tetap membalas pelukan sang istri.
Diusapnya pelan punggung Alenna sambil membiarkannya tetap menenggelamkan wajah bule itu di dadanya. Dengan sabar Rangga menunggu Alenna menyampaikan segala hal yang dirasa. Namun, belum lama menunggu Rangga sudah merasakan kaos yang dipakainya basah karena air mata Alenna.
"Rasanya ingin kuganti air matamu itu dengan air mataku, Sayang. Air matamu terlalu berharga untuk jatuh. Ada apa? Ceritalah pada suamimu ini," pinta Rangga dengan tutur lembutnya.
"Maaf, Mas. Aku banyak salahnya sama Mas Rangga," ucap Alenna.
"Oya? Kalau begitu kamu harus dihukum!" sahut Rangga.
Alenna melepas pelukannya. Sedikit terkejut dengan jawaban Rangga. Biasanya sang suami hanya akan memberi jawaban memaklumi. Eh, sekarang malah mau memberi hukuman.
"Kok dihukum, sih?" protes Alenna sambil mengusap air matanya. Hilang sudah suasana melow-melowannya.
"Kamu kan salah, ya harus dihukum dong. Kamu lihat orang-orang yang ada di sel penjara sana? Mereka semua salah, dan dihukum di sana," terang Rangga.
"Maksudnya Mas Rangga mau ngasih aku hukuman penjara? Tegaaaa!" seru Alenna. "Aku memang salah karena sudah selingkuh dengan Satria, tapi ya masa Mas Rangga mau jeblosin aku ke penjara sebagai hukumannya sih?"
Nah loh? Alenna malah mengakui aibnya di depan sang suami. Rangga sempat terkejut mendengar pengakuan itu.
"Akhirnya kamu mengaku juga kalau selingkuh dengan Satria," ucap Rangga dengan santuynya.
Aduh. Keceplosan deh. Gimana ini? Alenna panik.
"Aaaaaa! Mas, maaf!" Alenna menangkup pipi Rangga, menatap bola matanya lekat, lantas terus meyakinkan bahwa dirinya telah tobat.
"Gimana, ya? Enaknya dimaafin atau dihukum, nih?" Rangga menggoda.
"Mas, aku sama Satria sudah memutuskan untuk mengakhiri cinta terlarang itu kok. Aku sama Satria sekarang sudah nggak ada apa-apa lagi," ungkap Alenna.
"Dulu ...." Ada jeda karena Alenna tersudut. "Dulu aku selingkuh dengan Satria. Maaf," ujar Alenna dengan mimik wajah menyesal.
"Bolehkah aku tau apa saja yang sudah kamu lakukan bersama Satria selama selingkuh di belakangku?" Aji mumpung kata Rangga. Sekalian saja tanya semua.
Bola mata Alenna berputar. Ada perasaan takut jika harus terang-terangan.
"Pegangan tangan pernah?" tanya Rangga.
Anggukan kecil takut-takut pun meluncur.
Rangga masih santuy. Dilontarkan lagi pertanyaan selanjutnya.
"Peluk-pelukan pernah juga?"
Kali ini Alenna langsung mengangguk.
"Ciuman?" Mimik wajah Rangga serius.
Tak disangka Alenna mengangguk juga.
"Di pipi atau di sini?" Rangga menunjuk bibir Alenna.
"Dua-duanya," jawab Alenna.
"Astaghfirullah!" seru Rangga.
Alenna gerak cepat langsung mengikis jaraknya dengan Rangga. Alenna sungguh menyesal sempat mengendorkam ikatan cintanya.
"Maaf, tapi tidak ada hal lain yang lebih jauh dari itu, kok. Aku hanya pernah melakukannya bersama Mas Rangga saja kalau yang itu. Belum pernah bersama Satria," ungkap Alenna.
__ADS_1
"Belum pernah? Melakukan apa ini maksudnya?" Rangga polos, tak mengerti, tapi sebenarnya sudah mengalami.
"Itu tuh. Melakukan itu, Mas? Yang deket-deketan." Alenna menambah ketidakmengertian otak Rangga dalam mengartikan.
"Apa'an sih?" tanya Rangga.
Alenna menghela nafas dalam.
"Itu loh, Mas. Yang kita lakukan kemarin di kamar. Yang Mas Rangga sampai nambah dua kali," jelas Alenna pada akhirnya.
"Oouuuh. Itu toh maksudmu. Ya jangan sampai kamu melakukannya sama Satria!" Rangga menyentil kening Alenna.
Alenna mengangguk, lantas menunduk karena menyesal.
"Apa Satria akan kembali?" tanya Rangga.
"Iya. Dia akan kembali."
"Terus kalau Satria kembali, kamu apa mau lanjut selingkuh lagi?"
"Iya!" sahut Alenna. "Iya enggaklah, Mas. Mas Rangga percaya dong sama aku." Alenna memohon.
Kali ini Rangga tersenyum. Tak tega lama-lama terus memberondong Alenna dengan tanya seputar Satria. Rangga percaya Alenna.
"Lalu, apakah ini yang kamu bahas dengan Paman Li tadi?"
Tetiba saja Alenna teringat dengan keberadaan Vero di rumahnya.
"Bukan itu yang kubahas dengan Paman Li. Pokoknya kita harus segera pulang, Mas. Vero. Ada Vero di rumah. Aku mau ngusir dia!" tegas Alenna.
"Waduoooh. Istriku bisa galak juga ternyata. Kalau main usir-usiran, biar Mas Ranggamu ini yang ambil tindakan." Rangga memamerkan tubuh kekarnya.
"Ish. Nggak-nggak. Aku tau Mas Rangga itu gimana. Ujung-ujungnya ntar yang keluar ceramah agama."
Rangga cekikikan mendengarnya. Memang itulah yang akan dia lakukan nantinya.
"Mas nurut aja, deh. Ayo berangkat. Biar kamu juga bisa cepet move on dari Satria."
Alenna cemberut, tapi tak berani membantah kata-kata Rangga. Dalam hal ini Alennalah yang salah. Akan tetapi, Alenna sudah cukup bersyukur dihadiahi Rangga yang menjadi suaminya. Rangga teramat pengertian.
***
Alenna, Rangga, Paman Li dan beberapa bodyguard sudah sampai di Jember. Mobil sudah memasuki area kompleks perumahan.
"Ini akhir pekan, pantas saja jika Anjani sendirian di rumah. Ayah sama mommy masih di kota sebelah habis menghadiri pesta pernikahan anak teman dekat ayah. Mario sih pergi beli bubur nggak ngajak Anjani. Jadi digodain Vero, kan!" gerutu Alenna.
"Ssut. Tenang, Sayang. Hemat energimu. Nanti saja protesnya, ya." Rangga yang sempat mabuk perjalanan pun tak bisa memberi nasihat yang lebih baik.
"Mas Rangga masih mual? Mau aku pijitin lagi? Ini kantong muntahnya masih ada kok, Mas." Alenna begitu perhatian. Menerima apa pun kondisi Rangga.
"Mas agak malu, nih!" aku Rangga.
"Cuma mabuk kendaraan kenapa harus malu, sih. Kalau selingkuh kayak aku, baru malu. Kan bikin dosa," jelas Alenna yang mengungkit soal perselingkuhannya.
"Udah ah, jangan bahas selingkuh-selingkuh lagi. Kalau tiba-tiba aku yang pengen selingkuh gimana?" goda Rangga.
"Maassss!" seru Alenna sambil cemberut.
Paman Li hanya tersenyum ringan mendengar perdebatan Alenna dan Rangga.
"Nona, Tuan, silakan. Sudah sampai," kode Paman Li.
Alenna mendampingi Rangga turun dari mobil. Keduanya diantar Paman Li langsung masuk ke dalam rumah. Terlihatlah di ruang tamu ada Mario yang duduk bersebelahan dengan Anjani. Ada pula Vero yang sedari awal menjadi topik. Namun, Alenna sedikit terkejut melihat dua orang lainnya.
"Loh, Ranti sama Juno kok ada di sini?"
__ADS_1
Bersambung ....
Maaf agak slow update, karena beberapa kesibukan di dunia nyata. Selalu nantikan update Ikatan Cinta Alenna. Merapat juga ke novel Menanti Mentari, karya Kak Cahyanti. Terima kasih atas dukungannya šā¤