
Siang menjelang. Waktunya istirahat makan. Ruko sepatu Rangga masih saja ramai kedatangan pelanggan. Keempat anak buah Rangga yang giat pun sepakat makan secara bergantian. Makan pun mereka lakukan di bagian packing orderan. Tidak di lantai dua seperti biasanya.
"Bos Juno, baru pulang dari kampus?" Si bertato di balik meja kasir menyapa.
"Iya, nih. Mampir ke sini bentar sekalian mau antar ayam geprek sama es teh pesanan. Belum telat buat makan siang, kan?"
"Tepat waktu kok, Bos!" sahut si bertato segera disusul kembali melayani pembeli. "Bos Rangga sama Bu Andin di atas, Bos!" imbuhnya.
"Oke. Bagian kalian kuletakkan di sini. Buat Mas Rangga kuantar sendiri."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Juno pun naik ke lantai dua. Kala langkah kakinya sampai di ujung tangga teratas, pemandangan tak terduga seketika membelalakkan mata.
Di atas sofa sana, tengah berbaring Rangga dengan Andin yang duduk di sampingnya, sambil menggenggam erat tangan Rangga yang tengah terlelap dalam tidurnya.
"Uwwo! Benarkah yang kulihat ini?" Refleks saja Juno berkata demikian.
Seketika Andin menoleh. Sama sekali Andin tak tergopoh meski kedapatan tengah menggenggam tangan Rangga dengan mesra.
"Ssut. Pelankan suaramu, Jun. Mas Rangga lagi tidur nih!" desis Andin.
"Lah itu tanganmu ngapain, Ndin?" tegur Rangga.
"Lagi megangin Mas Rangga. Biar nggak jatuh di alam mimpinya. Kamu mau? Sana, cari saja tangan istrimu yang waktu itu jambakin rambutku! Huh!" Andin tampak kesal. Perlahan dilepasnya genggaman pada tangan Rangga.
"Kayaknya istriku bakalan jambakin rambutmu lagi kalau tau sikapmu seperti ini, Ndin!" sahut Juno.
Obrolan Juno dan Andin membangunkan Rangga. Perlahan kedua matanya terbuka. Rangga cukup sadar melihat Juno berdiri tak jauh dari sofa.
"Juno?" lirih Rangga.
"Hai, Mas. Aku bawain pesanan ayam gepreknya. Eh, Mas. Kayaknya Andin habis ngerjain Mas Rangga, deh. Curi kesempatan pegang-pegang tangan," lapor Juno.
"Sembarangan kalau ngomong. Nih kubuktiin kalau aku nggak curi kesempatan sama Mas Rangga!"
Andin gesit memeluk tubuh Rangga. Begitu lama, dan Rangga justru membalas pelukannya. Sontak saja Juno melongo. Tak kuasa menahan rasa kagetnya.
"Gila! Mas Rangga milih ngeduain Alenna, nih? Wah, parah! Kecentilan kau, Ndin! Niat bener kau rusak rumah tangga orang!" Juno tak terima.
"Hei, Juno. Kok situ yang marah-marah sih! Mas Rangga loh biasa aja. Enak bener ngatain cewek baik-baik kayak aku kecentilan. Kualat kau ntar! Bisa aja istrimu yang justru centil di belakangmu!"
"Mulutmu ganas juga ternyata! Pantes aja Mas Rangga kejebak begitu mudah!" Juno geregetan.
"Iri bilang aja, Jun! Aslinya kamu juga mau kan sama aku."
"Nggak sudi! Bener kata Ranti. Kau emang pelakor nggak tau diri!"
"Berani kau ya ngatain aku pelakor! Tau apa kau soal pelakor ha?"
"Perebut laki orang!" sahut Juno dengan nada kesal.
"Sebutan yang cocok buat istrimu tuh. Aku mana pernah ngerebut laki orang. Mas Rangga sendiri yang mau sama aku," jawab Andin dengan santainya.
"Bener-bener kebangetan kau, Ndin!" Juno makin geregetan dengan sikap Andin.
"Mau ngelawan aku? Sini maju!" tantang Andin.
"Siapa takut. Maju kau! Kujambak pula tuh mulut!" Juno tak gentar.
Jarak Andin dan Juno hanya terpaut satu meter. Keduanya saling melayangkan tatapan tajam. Juno geram, sedangkan Andin tak tinggal diam.
"Sudah cukup kalian semua!" seru Rangga.
"Oeeek ....!" Baby Ali menangis.
Seruan Rangga, juga perdebatan Andin dan Juno rupanya mengusik tidur lelap Baby Ali. Mendengar tangisan itu, justru Ranggalah yang paling panik. Tampak nyata bahwa Rangga memang mengharapkan seorang bayi yang bisa digendongnya.
"Cup-cup, Sayang. Tidur lagi, ya!" Rangga telaten menimang Baby Ali.
Juno dan Andin hanya diam. Mereka berdua sama-sama memperhatikan Baby Ali yang langsung tenang. Ajaib memang. Rangga benar-benar cekatan.
"Ndin, bawa Baby Ali pulang!" perintah Rangga.
"Baik, Mas!"
Andin menurut begitu mudahnya. Digendongnya Baby Ali kemudian pamit pulang pada Rangga ala-ala istri yang pamit dengan mencium punggung tangan suami.
"Idih! Ngarep bener si Andin nih!" celetuk Juno.
"Awas kau!" ancam Andin, lantas melangkah pulang.
Kepulangan Andin menyisakan kecanggungan di antara Juno dan Rangga. Sekian detik lamanya mereka berdua hanya mematung dan larut dalam pikirannya.
"Aaah, Mas Rangga!"
Juno memilih mencairkan situasi. Menghampiri Rangga, kemudian menyuruhnya duduk lagi di sofa bersamanya.
"Kok bisa sih, Mas? Kalau Alenna tahu, bisa sakit hati loh dia. Mas Rangga tega lihat Alenna nangis, ha?" Juno memulai introgasinya pada Rangga.
Rangga mengusap wajahnya dengan kasar. Sedikit bingung juga dengan keadaan. Tak tau lagi ke depan apa yang harus dilakukan.
"Mana tega aku liat Alenna nangis, Jun. Dia istri bar-barku yang paling kucintai."
"Lah terus ngapain Mas Rangga berani nyerong dari Alenna?"
"Pesona Andin bikin gemeteran, Jun. Nggak sanggup nolak rasanya," aku Rangga.
"Modusnya Mas Rangga aja, nih. Bilang aja Mas Rangga mau balas dendam karena Alenna pernah main serong juga dengan Satria," sindir Juno.
__ADS_1
Rangga menatap Juno tak suka. Prasangka balas dendam yang dituduhkan padanya itu semua tak benar. Rangga hanya tak mampu menguasai diri saat berduaan saja dengan Andin. Ya, itulah yang sebenarnya dirasakan Rangga.
"Kok kamu marah-marah sih, Jun?"
"Ya jelas aku marahlah, Mas. Aku kenal Alenna, dan nggak mau dia terluka!" tegas Juno.
"Oh iya. Kamu kan mantan pacarnya Alenna. Pantes aja kamu nggak terima. Jangan-jangan benar, kamu masih menyimpan perasaan pada istriku!"
"Bodo amat deh! Geregetan aku sama Mas Rangga!"
Juno memilih pergi.
"Jun, mau kemana kamu? Rahasiakan ini dari siapa pun!" seru Rangga.
Langkah Juno seketika berhenti. Ditolehnya Rangga, lalu dilontarkan penegasan padanya.
"Ogah! Aku mau cari dukungan! Ngumpulin masa buat nyadarin Mas Rangga. Da!" Juno pergi.
Rangga meninju angin dengan asal. Kondisi tubuh yang terkena flu, tak lagi dirasakan seketika itu. Pikiran Rangga kacau karena sulutan api yang dibuatnya sendiri.
"Baru aja nyoba selingkuh sehari, udah langsung dipergoki! Apes!" desis Rangga.
***
Alenna semakin tak tenang hatinya. Tinggal dua lagi perpanjangan kerjasama, tapi Alenna sungguh tak dapat fokus karenanya.
"Sat, reschedule jadwal pertemuan di minggu depan. Kita pulang. Yang terpenting dua kerjasama baru sudah dalam genggaman," perintah Alenna.
"Apakah Nona Alenna kepikiran Tuan Rangga?"
"Iya. Rasa-rasanya ini bukan perasaan rindu. Aku ingin segera ketemu Mas Ranggaku," aku Alenna.
"Mohon maaf, Nona. Satu pertemuan masih bisa dijadwalkan ulang. Tapi yang satu lagi tidak bisa. Malam ini pertemuannya. Akan sangat tidak pantas jika pihak kita mendadak membatalkan begitu saja. Pastilah mereka sudah menyiapkan jamuan untuk Nona. Tolong dipertimbangkan ulang!" saran Satria.
Alenna menghela nafas dalam. Di saat seperti ini Alenna tahu bahwa dia harus mengedepankan sikap profesional.
"Baiklah. Reschedule 1 agenda saja. Kita pulang besok pagi ke Jakarta!" perintah Alenna.
"Siap laksanakan, Nona!"
Alenna masih saja gelisah. Rasa-rasa dirinya sungguh tak sabar ingin pulang ke Jakarta.
Semoga kamu dalam keadaan baik di sana, Mas. Batin Alenna, mendoakan suaminya.
***
Malam hari pun tiba. Pukul delapan malam, Rangga ditelepon Andin agar segera menuju rumahnya. Andin menggunakan Baby Ali sebagai alasannya. Baby Ali yang rewel. Baby Ali yang tak mau diam meski Andin sudah menimangnya.
Rangga yang memang sudah peduli dan sayang pada Baby Ali pun lekas pergi tanpa berpikiran macam-macam lagi. Rangga datang sambil membawa martabak manis kesukaan Andin.
"Ayo masuk dulu, Mas. Baby Ali baru aja bisa tidur," ungkap Andin.
Wajah Rangga mulai terlihat tenang begitu tahu Baby Ali sudah tenang. Dilangkahkan kaki Rangga ke tempat Baby Ali tidur, lantas mengecup pipinya. Tampak mata Rangga begitu menyayangi Baby Ali.
"Kita makan ini dulu, Ndin. Di ruang tamu aja," ajak Rangga.
"Ayo, Mas. Kuambilkan piring dan sendok dulu." Andin gesit menuju dapur.
Sekembalinya dari dapur, Andin langsung mengambil posisi duduk persis di samping Rangga. Tanpa sungkan, Andin menyuapi Rangga dengan mesranya. Rangga pun tampak menikmati perhatian Andin padanya.
"Aku senang Mas Rangga membalas perasaanku," ungkap Andin. "Oya, apa Mas Rangga mau menceraikan Mbak Alenna?" tanya Andin tiba-tiba.
"Ya nggak mungkin aku menceraikan Alenna, Ndin. Aku mencintainya, dan nggak akan bisa jauh-jauh darinya."
Andin cemberut.
"Iya deh. Aku nggak masalah kok cuma dijadiin selingkuhan aja sama Mas Rangga." Andin mengalah pada akhirnya.
Andin meletakkan sendok, lalu memeluk tubuh kekar Rangga.
"Mas, malam ini nginep sini aja, ya. Mbak Alenna kan masih di luar kota," pinta Andin.
"Aku tidak mau mengganggu istirahat Baby Ali. Aku pulang saja, ya. Baby Ali juga sudah tampak tenang itu."
Andin mencoba tenang. Dia tidak ingin terlalu memaksa.
"Mas Rangga," panggil Andin.
"Apa?"
Rangga menoleh, tapi langsung diberikan perlakuan mesra oleh Andin. Rangga tidak menolak, justru membalas dengan sama mesranya.
Andin terus beraksi dalam kikisan jarak bibir mereka. Rangga pun tampak mengimbanginya. Begitu lama mereka melakukannya, hingga kemudian Andin pun yakin bahwa Rangga tak akan lagi menolak keinginannya.
"Nginep sini aja, ya Mas."
"Iya, aku akan menginap."
Akhirnya, yes. Aku ingin memiliki ikatan cinta denganmu, Mas. Semoga setelah malam ini aku bisa mengandung anakmu. Batin Andin.
Andin dan Rangga seolah sama-sama telah hilang akal. Andin terobsesi untuk memiliki Rangga seutuhnya, sedangkan Rangga tak bisa menguasai dirinya saat berduaan saja dengan Andin. Bolehlah mereka menyebut-nyebut setan sebagai dalang bisikan. Akan tetapi, apa yang telah mereka lakukan, tak lama lagi pasti akan mendapat balasan.
***
Pukul 00.01, Juno memilih untuk bercerita pada Ranti.
"Kenapa baru bilang sekarang, sih? Aaah!" Ranti panik.
__ADS_1
"Aku tadi mau cerita, tapi kamu sibuk sama kerjaan kantormu. Ya udah aku tunda," sahut Juno dengan sebenarnya.
Ranti tampak mondar-mandir di dalam kamarnya. Rasa geregetan tampak nyata. Ingin sekali Ranti menjambak-jambak rambut Andin seperti waktu itu.
"Alenna harus tau ini." Ranti tak ingin berlama-lama.
"Sayang, kamu mau ngasih tau Alenna sekarang?" Juno mendekati Ranti.
"Lebih cepat lebih baik," ucap Ranti mantap."
"Deritamu ini, Mas. Istrimu pasti makin bar-bar!" celetuk Juno.
"Huus! Awas kalau kamu ikutan coba-coba juga!" Ranti mengancam Juno.
"Iya-iya!"
Ranti abai dengan waktu yang sudah menunjukkan tengah malam. Baginya, segera mengabari Alenna adalah yang utama.
***
Mas Rangga selingkuh sama Andin. Juno saksinya.
Sebuah pesan yang benar-benar langsung ke topik utama. Pesan kejutan yang membuat Alenna mematung dengan seketika.
"Mas Rangga membalasku?" desis Alenna.
Geram. Geregetan. Hati Alenna sakit begitu dalam. Rasa menyakitkan itu disalurkan dalam satu gerakan tangan yang menyentakkan. Smartphone Alenna jadi pelampiasan.
Cetak! Bunyi Smartphone menghantam tembok.
"Dasar Mas Rangga!" desis Alenna.
Alenna tak mau berlama-lama. Rencana kepulangan yang seharusnya besok pagi, segera diubah. Alenna memutuskan untuk pulang saat itu juga.
"Aku di depan pintu kamarmu. Keluarlah, Sat!" Telepon Alenna.
Satria bergegas membuka pintu kamar hotelnya. Begitu dibuka, tampaklah penampilan Alenna yang sudah rapi dengan koper di sebelahnya.
"Kita ceck out dan balik ke Jakarta sekarang juga!" tegas Alenna.
"Apakah terjadi sesuatu? Itu kenapa layar ponsel nona retak?" Satria terheran.
"Retakannya sama sekali tak sebanding dengan retakan yang di sini!" Alenna menunjuk bagian dada sebagai isyarat sakit hati.
"Apakah nona ...."
"Waktumu tak lebih dari sepuluh menit untuk bersiap. Kutunggu di lobby."
Alenna balik badan dengan mimik wajah penuh keseriusan.
"Hubungi anak buahmu sekarang. Sewa pesawat, helikopter, atau apapun yang bisa membuat kita sampai di Jakarta dalam waktu cepat!" perintah Alenna begitu sudah keluar hotel.
Untung anak buah Satria di mana-mana. Dengan cepat Satria bisa menjadwalkan penerbangan helikopter untuk mereka.
Helikopter yang dijanjikan Satria benar adanya. Alenna dan Satria memasuki kawasan Jakarta sekitar pukul dua dini hari. Kendaraan helikopter kini telah berganti mobil.
"Sat, bantu aku melacak posisi nomor handphone Mas Rangga!" perintah Alenna.
"Siap laksanakan, Nona."
Satria terus menuruti apa yang Alenna perintahkan. Sejak ceck out hotel hingga sekarang, Satria terus memperhatikan mimik wajah Alenna yang menahan rasa kesal. Sedari tadi pun Satria juga terus mengurungkan diri untuk bertanya.
"Tuan Rangga ada di kawasan menara air biru langit blok ax," jelas Satria.
Kretek! Kali ini suara botol air mineral diremat. "Itu daerah rumah Andin," desis Alenna.
"Mohon maaf, Nona. Bolehkah saya tahu apa yang sedang terjadi?" tanya Satria pada akhirnya.
"Mas Rangga membalasku, Sat. Mas Rangga selingkuh sama Andin. Awas saja! Mereka belum tahu siapa Alenna!"
"Saya mengerti. Mohon tenangkan diri Nona Alenna. Mobil akan segera saya lajukan dengan cepat ke sana!" Satria sigap.
"Menepi dulu di pasar depan!" perintah Alenna.
"Apa yang bisa saya bantu belikan untuk nona?"
"Belikan aku sapu!"
"Ada lagi nona?"
"Tambah satu set pisau dapur!"
"Baik. Ada lagi?"
"Carikan pisau yang berukuran besar dan ... TAJAM!"
Deg!
Satria mendadak khawatir dengan apa yang akan dilakukan Alenna pada Rangga dan Andin. Namun, Satria tetap membelikan apa yang diperintahkan Alenna. Kini, sapu dan pisau sudah didapatkan. Mobil pun kembali melaju ke tempat tujuan.
Bersambung ....
Apa nih yang ada di pikiran pembaca saat ini? See u in the next episode š LIKE and VOTE!
Novel Takdirku Bersamamu karya indri dan Menanti Mentari karya Kak Cahyanti kepoin juga, dong! Dukung kami, ya. š
***
__ADS_1