Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 50


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Rangga baru saja bertolak dari kantor Alenna. Rangga menjemput Alenna tepat waktu. Bahkan Rangga telah sampai di kantor Alenna lima belas menit sebelum jam pulang kantor tiba.


"Langsung pulang atau mau mampir-mampir dulu, Mas?"


"Kita pesan makanan di tempat Juno dulu aja, ya!" ajak Rangga.


"Nggak mau ah. Aku kan pengen masakin Mas Rangga. Bahan-bahan di kulkas udah ready lho, Mas."


"Kalau gitu kita pesan cemilan aja. Bentar aja. Aku pengen ngabarin mereka kalau kamu hamil." Rangga jujur pada akhirnya.


Berkedip cepat, Alenna sedikit tak percaya dengan perubahan sikap Rangga. Rasa-rasanya suami tercintanya itu ingin mengabarkan pada seisi dunia bahwa wanitanya tengah hamil.


"Mas, mending nggak usah deh. Besok-besok aja kalau pas lagi santai aku kabarin Juno sama Ranti. Nggak enak hati sama Ranti juga," ungkap Alenna.


Rangga memikirkan ulang rencananya. Jika dipikir-pikir lagi, Alenna ada benarnya. Sampai saat ini Ranti belum hamil juga. Berita kehamilan Alenna tidak tahu akan membuat Ranti iri atau justru sebaliknya.


"Oke deh. Kita pulang ke apartemen saja kalau begitu. Aku bantu kamu masak, ya Sayang." Rangga penuh perhatian.


"Setuju. Lets go!"


Alenna-Rangga langsung main masak-masakan begitu sampai di apartemen. Alenna masak terong balado kesukaan Rangga. Ikan pindang dan tahu goreng menjadi lauk pilihan. Usai masak-masakan, Alenna-Rangga pun saling suap-suapan.


"Berasa pengantin baru aja, Mas."


"Ini tidak ada apa-apanya dibanding kamu yang telah lapang memberiku maaf waktu itu, Sayang. Makan yang banyak, ya. Biar kamu dan kandunganmu sehat. Aku suapi lagi. Aaaa ...."


Meleleh hati Alenna mendengarnya. Tak pernah terbayangkan perhatian Rangga padanya akan berlipat ganda setelah sempat selingkuh darinya.


"Sepertinya aku semakin jatuh cinta padamu, Mas." Alenna tulus mengungkap.


"Jangan jatuh, ah!"


"Ya nggak papa jatuh. Kan ada Mas Rangga yang menangkapku."


"Aseeeek!"


Begitulah cara Alenna-Rangga saling mencurah rasa. Tak dapat dipungkiri ikatan cinta mereka menguat dengan indahnya.


"Oya, Mas. Sore ini model iklan jamunya sudah tiba di Jakarta. Satria pasti sedang mengantarnya ke hotel. Besok Mas Rangga mau lihat proses suting iklannya?" Alenna menawari.


"Kupercayakan padamu saja. Biar aku menyiapkan produksi jamunya. Kutunggu ceritamu bagaimana akting Satria saat di depan kamera," pinta Rangga.

__ADS_1


"Beres, Mas."


Sementara Alenna-Rangga romantis berdua dengan makanan mereka, Satria di depan hotel kebingungan mencari kunci mobilnya.


"Benarkah aku seceroboh ini?" gumam Satria sambil merogoh sakunya.


Dua kali merogoh saku celana, lalu beralih ke bagian saku jas yang dipakainya. Tak ada. Kunci mobil tak juga ditemukan olehnya.


"Apa aku terlalu nervous mau tampil di depan kamera? Sampai-sampai kecerobohan yang tak biasa terjadi juga." Satria mengusap pelan wajahnya.


Kaki diayunkan menyusuri bagian hotel yang tadi dilewatinya. Di lobby, di dalam lift, dan sampailah Satria di lantai tempat Mily menginap. Sepanjang penyusuran, tak ada tanda-tanda kunci mobil ditemukan.


"Dengan berat hati aku harus bertanya pada Mily." Satria menarik nafas dalam, lantas menelepon Mily.


Ceklek!


Sambungan telepon tidak diterima, Mily justru keluar dari kamarnya.


"Aku tahu kamu mencari kunci mobilmu. Akan kuberikan, tapi silakan masuk dulu!" Mily berujar tanpa basa-basi.


"Apa maumu?" tanya Satria dengan wajah datarnya.


"Apa mauku? Bukankah kamu yang mau kunci mobilmu?" Mily membalik pertanyaan Satria.


Mily senyum-senyum tak jelas. Dipersilakan Satria masuk ke dalam kamar hotel tempatnya menginap.


"Aku sudah masuk, sekarang mana kunci mobilku!" Satria to the point.


"Kenapa harus terburu-buru, sih. Kamu tidak mau tau kenapa kunci mobil ini bisa sampai di tanganku?"


"Aku cerohoh. Hanya itu. Sekarang kembalikan!"


Mily menahan diri. Langkahnya dibuat mendekat ke arah Satria.


"Sat, ingatkah kamu masa dua tahun lalu? Ketika kamu menyatakan cinta padaku? Lewat surat ini?" Mily memamerkan surat cinta yang di masa lalu digunakan Satria untuk menyatakan perasaannya.


Ekspresi Satria tampak terkejut. Tak menyangka Mily masih menyimpan surat cinta darinya.


"Kemarikan surat itu!" Satria hendak merebut, tapi Mily gesit menghindar.


"Oups. Surat ini barang berharga milikku. Ini adalah bukti bahwa dua tahun lalu seorang Satria telah menyatakan cinta pada tuan putri yang dikaguminya." Mily mengibas rambut panjangnya demi menunjukkan pesonanya.

__ADS_1


"Lupakan saja. Dua tahun lalu aku hanya iseng!"


"Mustahil. Iseng kok sampa dua kali."


"Dan dua kali pula kau melakukan penolakan seketika. Jadi, anggap itu sebagai permainan surat cinta. Perasaanku saat itu tak lebih dari sebatas pelarian semata," ungkap Satria.


Mily terkejut dengan kata pelarian yang diungkapkan Satria. Namun, Mily tak lagi peduli pernyataan itu benar atau sekedar dalih belaka.


"Apa bosmu yang sekarang adalah alasan dibalik kata pelarian yang kau berikan?" Mily menebak.


"Bukan urusanmu. Kita bertemu kali ini karena urusan pekerjaan. Tidak lebih," tegas Satria.


"Tapi sekarang aku maunya lebih. Surat cinta darimu yang saat ini kupegang menjadi dasar." Mily terus berusaha.


Tak ada jawaban dari Satria. Hati dan pikirannya mencoba untuk tetap berada dalam koridor logika. Memang, dua tahun lalu Satria mengirimkan surat cinta pada Mily. Kala itu sebenarnya hati Satria masih menyimpan lekat nama Alenna. Menyadari Satria tak akan mungkin bisa menggapai apalagi bertemu Alenna, Satria memutuskan untuk melupakan Alenna dengan jalan mencari pelarian cinta. Harusnya begitu mudah bagi Satria untuk mendapatkan kekasih. Apalagi pesona wajah tampan Satria tak bisa didustai. Akan tetapi, sekali Satria mengirimkan surat cinta pada Mily, seketika itu penolakan didapatkannya.


Tak percaya bahwa dirinya ditolak, Satria mengambil jeda satu bulan dan kembali mengirimkan surat cinta. Namun, lagi-lagi Mily menolaknya. Nah, sejak saat itu Satria tak mau lagi coba-coba. Akhirnya, nama Alenna tetap bertahta di hatinya.


"Satria, maafkan aku telah menolakmu dua tahun lalu. Sekarang, tidakkah kamu ingin mengambil kesempatan itu?"


Mily kembali menunjukkan pesonanya. Sebagai seorang model, tubuh ideal dan penampilan menawan telah melekat pada dirinya. Tak ditunjukkan pun pesonanya sudah memancar kemana-mana.


"Satria, katakan sesuatu. Sekali kamu menyatakan cinta lagi, dengan senang hati aku akan menerimamu." Mily bertutur lembut sekali.


Satria masih terdiam. Belum memberikan tanggapan.


Sebenarnya tak ada alasan bagiku untuk terus mengharapkan cinta Nona Alenna. Ikatan cinta Nona Alenna dan Tuan Rangga tak mungkin kurenggangkan ulang. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku juga. Lalu, haruskah kulabuhkan hatiku untuk Mily? Batin Satria.


Mily kembali memajukan langkah. Tak sungkan berdiri tepat di hadapan Satria. Jarak mereka pun hanya satu langkah.


"Sat, katakanlah sesuatu!" Nada bicara Mily penuh harap.


Satria tengah memantapkan hatinya. Keputusan yang akan diambilnya bukanlah hal mudah. Satu menit berlalu, akhirnya Satria pun sampai pada titik temu.


"Mily, izinkan aku untuk mengenalmu lebih."


Senyum merekah. Bukan senyuman Mily semata. Satria pun juga menunjukkan senyum yang sama.


"Dengan senang hati kuizinkan," jawab Mily kemudian.


Bersambung ....

__ADS_1


TAKDIRKU BERSAMAMU dan MENANTI MENTARI kunjungi juga, yaa. Dukung novel karyaku dan novel karya Kak Cahyanti, sahabat online-ku dari Jogja. Hehe. Luv u pembacaku šŸ’™


__ADS_2