
Cantik, anggun, dan penuh pesona. Mampu menjerat siapa pun yang menatapnya. Begitulah definisi Mily di mata karyawan-karyawati di kantor Alenna. Mily berjalan begitu tenang, mengekor di belakang Satria. Sepanjang jalan yang dilaluinya, banyak pasang mata yang memuji dan terpesona dengan sosoknya.
"Sayang, bisakah kamu imbangi langkahku?" tanya Mily.
"Jaga sikapmu, Mily. Jangan gunakan panggilan itu di sini." Satria menekan tombol lift.
"Itu artinya kamu tidak keberatan jika aku memanggilmu Sayang saat di luaran?" Mily menyimpulkan sendiri.
"Sampai saat ini belum ada komitmen yang kita buat. Aku baru meminta izin untuk mengenalmu lebih dekat."
"Bagiku sama saja seperti kamu meminta izin untuk masuk dalam kehidupanku, Sat. Aku izinkan. Bahkan izin yang kuberikan lebih dari sekedar yang kamu pikirkan. Mulai saat ini, kita berdua adalah sepasang kekasih." Mily memberi penegasan.
"Kamu sungguh sangat ingin kita berdua menjalin hubungan sejauh itu?"
"Tentu saja. Apa artinya kamu meminta izin, jika pada akhirnya yang kamu tahu hanya namaku dan hal-hal yang menjadi kesukaanku. Buang-buang waktu!" Mily berargumen.
Satria tak langsung menjawab. Dalam sikap yang terjaga wibawanya, Satria melayangkan lirikan ke arah Mily di sebelahnya. Jujur saja, sebenarnya masih tak ada benih cinta di hatinya. Yang Satria lakukan saat ini masih berdasar sikap coba-coba. Demi pudarnya rasa, hingga memperkuat move on dari bos cantiknya, Alenna.
"Aku tahu, Sat. Kata pelarian yang kamu sempat sebutkan, pastilah benar. Aku tegaskan sekali lagi. Aku sungguh tidak masalah dengan itu. Yang namanya benih cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Asal kamu mau, aku bisa mewujudkan itu di hatimu. Bagimana? Kamu bersedia?" Mily tak sungkan-sungkan lagi.
"Apa kamu benar-benar akan tahan menghadapi sikapku yang demikian?" Satria menanggapinya dengan tanya.
"Mana kutahu kalau belum mencoba." Ringan saja Mily menjawabnya.
"Jadi kamu mau coba-coba?"
"Iya. Kenapa? Bukankah kamu juga melandaskannya pada niatan coba-coba juga? Itu artinya kita berada di landasan yang sama," sahut Mily sesuai fakta.
Sudut bibir Satria tertatik indah. Membentuk senyuman yang membuat Mily ikut terbawa suasana.
"Mily, kamu sungguh pandai mengimbangi setiap kalimatku," puji Satria.
"Jangan memujiku. Aku begini karenamu." Mily tersenyum semakin lebar. "Jadi, apa keputusanmu?" tanya Mily, tak sabar lagi.
"Kita bahas ini usai menyelesaikan proyek iklan dari Nona Alenna. Siapa tahu tiga hari ke depan benih cinta akan tumbuh di antara kita," ujar Satria.
Kembali Mily tersenyum. Kalimat Satria barusan menyiratkan kesempatan yang benar-benar disempatkan untuk menjalin hubungan di antara mereka.
"Aku akan bersabar menantinya. Tak akan aku sia-siakan juga kesempatan yang ada. Satria, bersiaplah menerima panah asmara dari seorang Emily Calandra," gumam Mily yang disambut senyum manis seorang Satria.
Lift terbuka. Satria dan Mily bersiap menemui Alenna.
***
"Tambahkan figuran di belakang, ya. Terus baju yang dipakai si model jangan terlalu terbuka. Yang ini ganti saja." Alenna mengecek persiapan syuting iklan produk jamu Rangga.
"Baik, Bu. Akan segera kami siapkan. Untuk model, apa sudah siap?" tanya kepala divisi periklanan.
"Seharusnya sudah datang. Aku kembali ke ruangan dulu. Pastikan semua beres sebelum pukul sembilan. Begitu oke, model iklan langsung kubawa menemui kalian."
"Siap, laksanakan, Bu!"
Iklan jamu ini sungguh berbeda. Biasanya Alenna tidak langsung turun tangan memantau segala persiapan apalagi sampai mengawal proses syuting iklan. Ini semua karena iklan yang akan dibuat demi kelancaran pendukung produksi jamu milik Rangga. Alenna rela memadatkan jadwal kerja demi hasil terbaik untuk sang suami tercinta.
Melihat jarum jam yang melingkar di tangan, besar dugaan Satria dan Mily telah sampai sesuai jadwal. Pesan singkat dari Satria semakin memperjelas semua. Satria dan Mily memang telah menunggunya. Alenna pun mengayunkan langkah menuju ruang kerjanya seketika itu juga.
Tak disangka-sangka, begitu Alenna mambuka pintu ruang kerjanya, pemandangan tak terduga langsung membulatkan mata. Alenna melihat Satria dan Mily tengah berpelukan mesra. Melihat kedua tangan yang saling melingkar, dapat dengan jelas diartikan bahwa pelukan yang dilakukan bukan hanya niatan dari salah satu orang.
"Satria!" seru Alenna.
Satria terkejut mendengar seruan Alenna. Mily yang menampilkan sikap berbeda, hanya santai saja menyikapinya.
__ADS_1
"Nona Alenna," ucap Satria seraya menunduk takzim padanya.
"Ngapain kamu peluk-pelukan di ruanganku?" Pertanyaan Alenna langsung menyerbu.
"Maafkan saya, Nona. Saya terbawa suasana," aku Satria.
Langkah Mily terarah maju. Senyum ditampilkan, salam sapa pun diucapkan.
"Apakah kamu yang bernama Emily Calandra?" Alenna memastikan.
"Benar sekali. Panggil saja saya Mily. Mari kita mulai perbincangan terkait iklannya. Tapi sebelum itu, perkenalkan juga, saya adalah kekasih Satria."
Sedikit terkejut Alenna mendengarnya. Seketika bola mata pun diarahkan pada Satria. Awalnya Alenna ingin mempertahankan rasa tidak percaya. Akan tetapi, Satria seolah menerima pengakuan status yang diperkenalkan oleh Mily. Terbukti dengan tidak adanya penyangkalan yang terjadi.
"Oh." Itulah kata pertama yang Alenna luncurkan demi meredam keterkejutan.
"Rupanya Mily ini kekasihmu, Sat. Baguslah. Kalian bisa lebih menghayati iklan jamunya Mas Rangga." Alenna menampilkan senyumnya. "Silakan duduk, Nona Mily. Sat, tolong ambilkan desain iklan beserta skripnya!" perintah Alenna.
Satria melaksanakan tugasnya. Lekas mengambil apa yang diminta Alenna. Saat Satria memberikan lembaran yang Alenna minta, bos cantiknya itu membisikkan sesuatu padanya.
"Jika benar Mily kekasihmu, segera halalkan. Jangan main peluk-pelukan doang," sindir Alenna.
Satria tersenyum mendengarnya. Demi sikap profesionalnya, Satria pun mengingatkan Alenna untuk segera memulai perbincangan seputar syuting iklan.
"Jadi bagaimana, Nona Mily?" tanya Alenna usai penjelasan panjang lebarnya.
"Sejauh ini saya setuju. Apalagi Satria menjadi lawan main saya. Rasa-rasanya sulit dipercaya, tapi saya suka. Dan lagi, maaf Nona Alenna, nominal yang ditulis apa tidak keliru?" Mily bertanya soal honor yang ditawarkan.
"Apakah segitu kurang?" Alenna khawatir membuat kesalahan.
"Tidak sama sekali. Justru ini terlampau besar. Tiga kali lipat dari yang biasa saya dapatkan." Mily jujur di awal, khawatir ada sebuah kesalahan dalam penulisan nominal.
"Segitulah yang kami tawarkan. Semoga Nona Mily berkenan," ungkap Alenna dengan senyum cemerlang. Bagi Alenna nominal yang tertera tidak ada apa-apanya dibanding kesuksesan bisnis sang suami tercinta.
"Baiklah. Saya terima kerjasama ini. Jadi, kapan bisa dimulai syuting iklannya?" tanya Mily.
"Masih ada sekitar setengah jam lagi. Sat, tolong antar ke tempat syuting iklan. Sekalian kamu juga bersiap. Aku akan menengok prosesnya setelah pertemuan dengan beberapa kepala divisi," terang Alenna.
"Baik Nona. Berkas pertemuannya sudah saya siapkan di meja pertemuan."
"Terima kasih. Aku tinggal pergi dulu." Langkah Alenna terarah mendekat ke Satria. Dibisikkan kalimat yang membuat Satria tak bisa berkutik lagi terhadapnya.
"Akan kukompori Paman Li agar lekas menikahkanmu dengan Mily. Ingat, jangan berbuat macam-macam sebelum halal. Daa." Alenna melangkah riang setelahnya.
Mily rupanya mendengar bisikan Alenna. Senyum mengembang seketika.
"Aku setuju dengan ide bos cantikmu. Dengan senang hati aku akan berkata 'yes, i do'." Mily berucap sesungguhnya.
Untuk kali pertama, Satria menjadi salah tingkah. Mily yang melihat itu menjadi lebih percaya diri terhadap hubungan yang akan terjalin ke depannya.
Tak kusangka, niatan coba-coba justru mendatangkan dukungan yang tak terduga. Debar jantungku kenapa pula jadi begini? Benarkah aku mulai terbawa permainan cinta? Atau di hatiku mulai tumbuh benih cinta untuk wanita yang dulu hanya kubuat sebagai pelarian dari Alenna? Oh cinta. Otakku yang terbiasa berperang ini bahkan tak mampu mendefinisikan dengan benar. Cinta memang tak bisa terukur dalam pendefinisian. Batin Satria.
***
Syuting iklan jamu dimulai. Semua wajah di lokasi syuting tampak cerah. Bukan karena bahagia, tapi karena tengah menahan tawa. Hanya sang sutradara yang terlihat frustasi karena ulah Satria.
"Cut!" Sutradara berulang kali menyela, karena akting Satria.
"Aduh, Pak Satria. Coba lebih rileks lagi. Anggap saja tidak ada kamera yang merekam!" Sutradara tetap berkata ramah, meski hatinya dongkol luar biasa. Wajar, karena Satria adalah tangan kanan Alenna, bos mereka.
Satria nyengir kuda. Peluh bercucuran karena tak tahan dengan proses syuting iklan yang lama. Dalam hati berkecamuk rasa antara takut mengecewakan Alenna dan rasa jenuh hingga ingin segera mengakhiri proses syuting iklannya. Inilah satu-satunya kelemahan Satria. Begitu kaku di depan kamera.
__ADS_1
Di waktu yang sama, Alenna muncul dan lekas dilapori oleh sang sutradara. Meski demikian, Alenna tetap bertahan pada keputusan. Satria tetap menjadi model iklan.
"Nona Mily apa punya trik khusus yang bisa membuat Satria lebih rileks saat tampil di depan kamera?" tanya Alenna.
"Em, tolong beri waktu untuk Satria berlatih sebentar dengan saya. Satu jam. Bolehkah?" pinta Mily.
Alenna mengangguk dan meminta pengertian sang sutradara. Diberi perintah oleh atasan secara langsung tentu saja mempermudah segalanya. Proses syuting iklan ditunda hingga satu jam kemudian.
"Sat. Apa yang membuatmu begitu gugup di depan kamera?" tanya Mily.
"Entahlah. Apa pun, asal aku tidak melihat kamera, maka aku bisa natural menghadapi semua."
"Coba kita latihan. Di ruangan itu saja," pinta Mily menunjuk salah satu ruangan tertutup.
"Berdua saja?" tanya Satria.
"Tentu saja. Tenang, aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku bisa menahan diri untuk tidak menerkammu sampai kita berdua sah dalam ikatan pernikahan." Meli terkekeh kemudian.
Senyum Satria mengembang. Sedikit bingung dengan gejolak yang mendadak dirasakan. Satria justru merasa senang dengan apa yang Mily ucapkan.
"Ehem. Ayo kita coba!" ajak Satria.
So natural. Satria bisa berakting dengan benar. Mily sampai melonjak kegirangan sampai hampir saja memeluk Satria.
"Aku paham sekarang. Fokusmu terpecah hanya karena melihat keberadaan kamera. Oh baby, beraktinglah seperti ini di depan sutradara. Aku punya ide agar kamu bisa tampil penuh pesona tanpa harus mendengar cut dari sutradara." Mily percaya diri.
"Lakukan saja sesukamu. Aku ingin segera menyelesaikan tugas ini."
"Eit, tapi .... Hadiah apa yang aku terima darimu jika aku berhasil dengan ideku?" Mily memancing.
Satria tampak berpikir. Tak lama kemudian, meluncurlah sebuah tawaran yang membuat Mily melonjak senang.
"Aku akan melamarmu," ucap Satria.
"Sungguh?"
"Aku tidak main-main dengan kata-kataku. Mily, mari kita menikah setelah launching jamunya Tuan Rangga!" ajak Satria pada akhirnya.
Tak lagi dapat diungkapkan betapa senang hati Mily usai mendengar kata pernikahan. Terkesan cepat, tapi Mily memang penuh harap.
***
"Alhamdulillaah. Akhirnya kelar juga!" ucap syukur Alenna begitu proses syuting iklan selesai.
Alenna lekas memberi selamat pada Mily, dan Satria khususnya.
"Siapa dari kalian yang memiliki ide untuk memodif bentuk kamera? Itu bagus sekali," puji Alenna.
"Calon istri saya yang punya ide," jawab Satria.
Mily sampai menutupi mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut mendengar pengakuan status dirinya dan Satria. Sementara Alenna, dia malah semakin menggoda.
"Ciee .... Yang sudah siap menikah. Ehem. Aku ucapkan selamat untuk kalian. Mas Rangga pasti juga akan senang mendengar ini. Aku ucapkan selamat sekali lagi."
Tak ada beban di hati Alenna kala mengucap selamat untuk Mily dan Satria. Masa lalunya dengan Satria telah dibiarkan menjadi sebuah pelajaran berharga. Selingkuh itu salah. Benarnya adalah bertahan dengan ikatan cinta.
..."Selingkuh itu salah. Benarnya adalah bertahan dengan ikatan cinta." (Indri Hapsari)...
Bersambung ....
Hai, apa kabar sahabat pembacaku? Terima kasih sudah mampir dan membaca novel receh ini. Salam santun dariku. Hayuk, merapat juga ke novel Menanti Mentari karya sahabat keceku, Kak Cahyanti. Dukung kami, ya š
__ADS_1
***