Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 58


__ADS_3

Getir hati Rangga kala meninggalkan apartemen. Langkahnya terayun berat, dengan koper yang digenggam begitu erat. Ditengoknya sekali lagi pintu apartemennya, tapi tak ada tanda-tanda Alenna akan membuka pintunya lagi untuknya.


Terusir seperti ini membuat Rangga muram hati. Ingin kembali, tapi khawatir membuat Alenna semakin benci. Jadilah, dengan berat hati Rangga pun bersedia pergi.


"Coba dari awal aku jujur saja pada Alenna kalau akan menemui Andin. Pasti beda lagi jalan ceritanya," sesal Rangga.


Fokus Rangga benar-benar pecah. Sungguh tidak dapat berpikir jernih dengan logika. Kini yang bertahta di hatinya adalah sesal yang meraja. Merutuki diri, menjadi jalan satu-satunya saat ini lantaran tak tahu lagi harus bagaimana.


Langkah Rangga kini menuju ruko. Tinggal di lantai dua ruko bersama keempat anak buahnya menjadi pilihan terbaik untuk sementara. Ya, Rangga meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah sementara. Harapannya, di depan akan membentang pelangi indah untuk rumah tangganya.


"Bos habis berantem sama bos cantik, ya?" tanya si mantan pilot.


"Bos cantik lagi salah paham. Aku tinggal di sini dulu sama kalian, ya?" izin Rangga.


"Silakan saja, Bos. Maaf nih, Bos. Apa ini gara-gara Mbak Andin?" tebak si mantan sopir.


"Ya ... begitulah. Selama ini Alenna hanya cemburu pada Andin."


Wajah Rangga terlihat masam, membuat keempat anak buahnya jadi kasihan.


"Jangan menyerah, ya Bos." Si bertato menyemangati.


"Insya Allah. Kalau lihat Andin ke sini, jangan izinkan masuk, ya. Aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi."


"Serahkan itu pada saya, Bos. Mbak Andin agak takut kalau lihat wajah saya," ungkap si bekas sayatan.


Senyum simpul tersuguh. Namun, tidak ada kelegaan hati atas itu. Rangga pun memilih beristirahat, dengan harapan penatnya akan minggat.


***


Klotak!


Penggerus sambal di dapur tidak sengaja jatuh tersenggol lengan Alenna. Lekas diambilnya, tapi tak kunjung diletakkan lagi di tempatnya. Mata Alenna justru berkaca-kaca melihat penggerus di genggaman tangannya. Ingatan tentang Rangga yang penyuka sambal, lekas menyeruak dalam ingatannya.


"Kamu itu sambel, Mas. Pedes!" desis Alenna sembari berurai air mata.


Sesak di hati Alenna semakin menggila kala teringat Rangga-Andin berduaan saja. Air mata yang mengalir pun semakin terurai membasahi pipinya.


"Apa sih kurangnya aku? Apa aku kurang perhatian sama kamu, Mas? Aku bahkan bersedia meninggalkan jabatanku dan hidup sederhana bersamamu. Tapi kamu justru .... Huhuhu!"


Tangis Alenna semakin menjadi. Hatinya begitu perih.

__ADS_1


"Aku memang pernah khilaf, tapi telah berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Tapi apa balasanmu, Mas?" Alenna terus bergumam sendirian, menumpahkan kepedihan.


"Tegaaaaa!" jerit Alenna. "Huhuuuhuhuhu," tangisnya menjadi.


Alenna melanjutkan tangisnya hingga tak ada lagi air mata yang mampu mengalir di pipinya. Emosi Alenna tersalur dalam derai air mata. Meski ada keluarga yang bisa dihubunginya, meski ada sahabat yang bisa menjadi pendengar curahan hatinya, tapi yang Alenna pilih justru menyimpannya sendiri. Alenna masih sadar akan posisinya sebagai seorang istri yang tidak akan mengumbar aib suami, meski kini hatinya terlukai.


"Rasa cemburuku justru melukaiku. Payah!"


Alenna tengah menertawakan dirinya. Kisah cintanya yang semrawut membuat jalan cerita menjadi kecut. Ada rasa takut terhadap ikatan cintanya yang terancam tidak berlanjut.


Drrt drrt


Getar smartphone mengusik hati Alenna. Dilihatnya sekilas nama yang tertera, lantas mengabaikannya. Tak lama kemudian, smartphone kembali bergetar. Lagi-lagi menampilkan nama yang sama di layar. Tetap saja, Alenna memilih untuk mengabaikan. Alenna membaringkan badan, lantas terlelap kemudian.


Sekian jam berlalu, Alenna terbangun dengan mata sembab. Hati yang semula nyaman usai istirahat, mendadak sesak karena kembali teringat. Hawa panas di mata kembali terasa. Lekas bersambut dengan linangan air mata. Namun, tidak lama. Alenna tersadar waktu ashar telah dimulai beberapa menit lalu. Langkah Alenna jadi tergopoh-gopoh untuk mengambil wudhu.


"Ya Allah, pantaskah jika hamba mendoakan yang jelek untuk Mas Rangga? Bukankah tidak pantas seorang istri mendoakan kejelekan untuk suaminya? Hati hamba perih, Ya Allah." Alenna kembali menangis. Kali ini dia memilih untuk mengadu. Mengadu pada Sang Pemilik Kalbu.


Cukup lama Alenna menengadahkan tangan seraya mengadu atas keadaan. Segala hal yang dirasa sesak pun akhirnya tercurah pada-Nya.


"Adakah yang bisa hamba lakukan selain bersabar, Ya Allah?"


Tak disadari. Ada sosok lain yang tengah menghampiri. Alenna begitu larut dalam doa dan keluh kesahnya, hingga kehadirannya tak disadari.


"Pertahankan saja, Nona!"


Alenna terkesiap, lantas memutar badan. Suara yang begitu dikenal terlihat sedang berdiri memperhatikan. Alenna lekas berdiri, kemudian menghampiri.


"Kenapa kamu bisa masuk ke sini, Sat?" Alenna ingat betul telah mengganti password apartemennya.


"Bukan Satria namanya kalau hal seperti itu tidak bisa dipecahkan. Maafkan saya, Nona. Saya lancang membobol password karena khawatir dengan keadaan Nona." Satria menunduk takzim karena telah lancang masuk tanpa izin.


Satu tarikan nafas dalam ditampilkan. Alenna lekas sadar, untuk orang selevel Satria, password pintu bukanlah masalah besar.


"Maaf, kuabaikan teleponmu, Sat."


Alenna melangkah melewati Satria begitu saja. Yang dituju adalah kulkas. Beberapa teguk minuman dingin terasa menyegarkan, meski belum mampu meredam rasa tidak nyaman.


"Duduklah, Sat. Ada perlu apa kemari? Apakah ada hal genting?"


"Benar sekali, Nona. Ada yang genting, yaitu keadaan Nona dan Tuan Rangga."

__ADS_1


Begitu nama Rangga disebut, Alenna seketika menundukkan kepala. Getir di hatinya kembali. Terasa sesak, sampai-sampai memicu air mata untuk datang kembali.


Satria menangkap kegundahan hati Alenna. Bisa ditebak dengan mudah bahwa Alenna tidak sepenuhnya marah. Kecewa iya, tapi Satria tahu bahwa bos cantinya itu begitu mencintai Rangga.


"Tidakkah Nona ingin memberi kesempatan pada Tuan Rangga untuk ngobrol berdua?"


"Tidak!"


"Hm. Bisakah Nona menurunkan ego, dan melihat Tuan Rangga dari sisi lainnya?"


"Ti-dak!"


"Atau begini, saya bawakan Nona Andin untuk menjelaskan yang sebenarnya."


Seketika Alenna menatap tajam ke arah Satria.


"Kamu peka nggak sih, Sat? Sama Mas Rangga aja aku masih emosi, apalagi sama Andin!


"Baiklah. Kalau begitu akan saya tunggu sampai emosi Nona mereda. Dan ... satu lagi, Nona. Menurut saya, Tuan Rangga tidak bersalah. Saya permisi." Satria pamit.


Nafas Alenna tak beraturan. Dirinya tengah berupaya meredam emosi yang baru saja keluar. Punggung Satria diperhatikan, hingga menghilang usai pintu apartemen ditutup ulang.


"Baru kali ini kamu bertentangan denganku, Sat. Aku marah pada Mas Rangga, tapi kamu justru membelanya." Alenna kecewa.


Tak ada lagi Satria ataupun getar smartphone yang yang mengganggu Alenna. Sunyi, sepi, tak ada suara lagi selain deru nafas Alenna yang tak terkendali karena emosi.


Usai beberapa menit terlewat, Alenna mulai bisa mengendalikan diri. Mulai mengerti langkah apa yang lebih dulu harus dijajaki. Alenna memilih banyak beristighfar sambil meredam panasnya hati. Akan tetapi, kekecewaannya pada Rangga masih saja belum terobati.


"Aku pesan makanan saja. Kalau masak sendiri, pasti ingat Mas Rangga. Oke. Aku DO."


Pesan memesan santap malam, telah beres dilakukan. Setelahnya, Alenna hendak menuju kamar. Lagi-lagi urung karena takut teringat Rangga.


"Aku tidur di sofa saja ntar malam. Kalau di kamar, pasti ingat Mas Rangga."


Pilihan sudah ditetapkan. Alenna kini menuju depan televisi. Begitu dinyalakan, acara yang tayang justru menampilkan bintang iklan yang rupanya begitu mirip dengan Ranggaa.


"Matikan!" Alenna berseru sendirian sambil meng-klik remote TV sampai mati.


"Tunggu-tunggu. Kenapa aku jadi heboh sendiri, sih? Aaaa! Mas Rangga. Menyebalkan sekali!"


Bersambung ....

__ADS_1


Sampai di sini dulu kakak-kakak sahabat online. Sampai jumpa di episode berikutnya. Terima kasih yang sudah berkenan membaca meski geregetan sama jalan ceritanya. LIKE dan dukungannya buat author, ya. Ke sahabat baiknya author juga yuk di Jogja. Ada novel Menanti Mentari karya Kak Cahyanti. Dukung kami, yuk šŸ’™


***


__ADS_2