Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 52


__ADS_3

Rangga tengah asik bertelepon ria dengan sang ibu tercinta dan adik kembarnya. Obrolan yang dibuat tak jauh-jauh dari kehamilan Alenna. Sempat pula Rangga meminta restu sang ibu agar launching produksi jamunya berkah dan laku. Eit, tentu saja Rangga tidak cerita pada sang ibu kalau dirinya pernah selingkuh.


"Le, yen bojomu ngidam ndang dituruti. Ojo engko-engko (Kalau istrimu ngidam cepat turuti. Jangan nanti-nanti)," nasihat Bu Anis, ibu Rangga.


"Enggeh, Buk (iya, Bu)." Rangga mendengarkan nasihat ibunya.


"Mas, mbak cantik mau kasih dedek bayi lucu, ya?" tanya Ardi dengan polosnya.


"Yang comel ya, Mas?" Ardan ikut menyahuti.


"Iya. Kalau sudah lahir bisa main sama kalian. Tapi jangan dicubitin loh, ya!" ancam Rangga.


Di seberang terdengar nasihat sang ibu untuk adik kembarnya. Rangga menunggu sampai sang ibu selesai, baru kembali bersuara.


"Ibuk sama si kembar baik-baik di sana, ya. Insya Allah lebaran ini Rangga pulang."


"Pulang sendiri apa sama istrimu?" tanya Bu Anis.


"Ya sama istrikulah, Buk. Masa iya Alenna aku tinggal di Jakarta. Kalau lagi-lagi sel- ..." Rangga menjeda, langsung tersadar dengan kalimatnya. "Rangga tutup dulu teleponnya ya, Bu. Assalamu'alaikum."


"Yowes, le. Wa'alaikumsalam."


Telepon berakhir. Rangga mengelus dada karena hampir saja keceplosan mengatakan aib di masa lalu Alenna dan dirinya.


Jeda beberapa menit, smartphone Rangga kembali menampilkan panggilan suara. Melihat dari jam digital yang tampil di layar, ini memang sudah jam pulang.


"Assalamu'alaikum, Sayang. Suami siaga, siap menjemput istri kesayangan."


"Wa'alaikumsalam, Mas Rangga. Siap. Aku tunggu di kantor, ya. Oya, sekalian antar Ranti dulu ntar lagi, ya Mas?"


"Siap laksanakan!"


Rangga senyum-senyum usai mengakhiri panggilan. Suasana hatinya benar-benar riang.


Bersiap menjemput, Rangga berpamitan lebih dulu kepada keempat anak buahnya di ruko.


"Bos, barusan ada telepon dari Bu Andin. Mau ke sini bentar lagi katanya, Bos!" Si bertato memberi tahu.


"Waduh. Mau ngapain lagi nih si Andin." Rangga mulai khawatir. "Kalau ke sini bilang aja aku nggak ada, ya. Mau jemput bos cantik, nih!" imbuh Rangga.


"Baiklah, Bos."


Rangga mencoba tidak peduli. Langkahnya terus terayun hingga sampai di belakang kemudi. Mobil yang dikemudikan Rangga pun menyusuri jalanan kota, hingga sampai di kantor Alenna.


Begitu sampai, Rangga melihat Alenna dan Ranti. Ada yang aneh. Ranti memegangi lengan Alenna dan berkata agar hati-hati.


"Ran, istriku kenapa?" tanya Rangga tanpa basa-basi.


"Aku nggak apa-apa, Mas. Ranti aja yang lebay. Begitu kukasih tau aku hamil, langsung super perhatian gini." Alennalah yang menyahuti.


"Yaelah, Len. Ini namanya kepedulian seorang sahabat. Siapa tahu kehamilan lu nular sama gue. Biar Juno makin sayang juga kalau gue hamil."


"Aamiin. Pasti bentar lagi juga hamil. Kan kalian sering main," celetuk Rangga.


"Kok Mas Rangga bisa tahu?" Ranti kepo.


"Ya taulah. Orang Juno sering cerita. Aw!"


Rangga mendapat cubitan dari Alenna.


"Kayak gitu kok diomongin. Ayo pulang!" desis Alenna.

__ADS_1


"Hehe. Ya maaf, Sayang. Juno duluan tuh yang cerita-cerita." Rangga membela diri.


"Udah, Mas. Ayo pulang!"


Alenna menggandeng lengan Rangga menuju mobilnya. Sementara Ranti mengekor di belakang sambil geleng-geleng kepala.


Topik seputar Satria dan Mily menjadi pembahasan seru selama perjalanan pulang. Kejadian selama proses syuting iklan pun diceritakan. Sampai pada kabar Satria yang akan menikahi Mily, Rangga dan Ranti kompak bertanya lebih.


"Seriusan, Len?"


"Ngapain juga aku bohong, Ran."


"Mantan partner selingkuhanmu itu mau nikah beneran?" Kali ini Rangga yang bertanya.


"Mas Rangga jangan mulai deh. Ntar kuungkit juga mantan partner selingkuhannya Mas Rangga," protes Alenna.


Deg!


Seketika Rangga teringat Andin. Sebelum berangkat tadi anak buah Rangga memberi kabar bahwa Andin akan datang. Fokus Rangga sontak beralih.


"Sayang, habis nganter Ranti, kita langsung ke apartemen kan?"


"Mampir ke ruko bentar, Mas."


Niat Rangga mau menghindari ruko. Nyatanya Alenna justru meminta mampir dulu ke ruko. Apa mau dikata, Rangga pun menurut saja. Sembari berdoa agar tidak bertemu Andin di sana.


Doa tak terkabul. Rangga menangkap sosok Andin berdiri di dekat ruko. Untungnya Alenna dan Ranti tidak melihat Andin di sana, karena Andin langsung masuk lagi ke ruko.


"Em, Sayang. Kita mampir dulu yuk ke cafenya Juno. Lama juga nggak ngerasain ayam gepreknya." Rangga mencari alasan agar Alenna tidak terburu ke ruko.


"Maunya sih ntar di apartemen aku masakin Mas Rangga. Tapi kalau Mas Rangga udah laper duluan sih, ya ayo deh nggak apa-apa. Aku temenin makan sekalian." Alenna setuju.


"Buat bumil dan suaminya hari ini gue kasih gratisan. Itung-itung selametan biar gue ketularan," doa Ranti.


Rencana Rangga mulus. Kini dirinya bersama sang istri tercinta berada di cafe milik Juno. Rangga sempat mengirim pesan pada anak buahnya untuk memberi kabar jika Andin sudah pulang dari ruko.


"Alenna, selamat, ya! Sebagai mantan pacar, aku ikut senang!" ujar Juno tanpa sungkan.


"Ungkit terus!" sindir Ranti.


"Jun, jangan cari perkara. Tuh lihat, ada Mas Rangga. Sekarang Mas Rangga cemburuan loh orangnya."


Alenna menggeser tempat duduk persis di sebelah Rangga.


"Oya? Mas Rangga bisa cemburu juga rupanya." Juno menepuk-nepuk bahu Rangga.


Rangga geleng-geleng kepala dengan obrolan di meja. Sedikit kurang fokus juga karena pikirannya terpecah. Sesekali Rangga juga mengecek smartphone. Berharap ada kabar dari anak buahnya.


"Mas Mario sama Anjani sudah tau belum kalau kamu hamil?" Tetiba saja Juno teringat.


"Sudah, dong. Aku langsung sharing sama Anjani. Kakak iparku itu ternyata ngidamnya aneh-aneh." Alenna tertawa ringan begitu mengingatnya.


"Ngidam apa emangnya, Len?" Ranti pun ingin tahu.


"Pengen ngelus kepala botak suaminya. Jadi, kepala Mario dibuat botak demi menuruti keinginan Anjani."


Alenna masih saja tertawa ringan. Sempat membayangkan pula jika hal serupa terjadi pada dirinya dan Rangga. Akan jadi seperti apa jika kepala Rangga dibuat botak juga?


"Untung Mas Mario cinta banget sama Anjani." Juno menimpali sesuai fakta yang dia ketahui.


"Semoga aja ujian cinta Mario-Anjani nggak berat-berat kayak kalian berdua ya. Moga nggak ada pelakor di antara mereka. Biar rumah tangganya adem kayak gue sama Juno." Lagi-lagi Ranti berdoa.

__ADS_1


"Aamiin."


Makan ayam geprek sembari basa-basi di satu meja membuat suasana berbeda. Keakraban Alenna, Rangga, Juno dan Ranti semakin bertambah. Alenna, Juno, dan Ranti tampak begitu menikmati suasana, tapi tidak demikian dengan Rangga. Pikiran Rangga sempat terpecah karena Andin ada di rukonya.


Bu Andin sudah pulang, Bos.


Pesan singkat yang ditunggu pun akhirnya tiba. Rangga mengucap hamdalah seketika. Tidak terang-terangan, melainkan hanya di batin saja. Buru-buru Rangga menghapus pesan itu, lantas mengajak Alenna pulang bersamanya.


"Jun, terima kasih buat traktirannya. Kudoain kalian makin bahagia rumah tangganya," doa Alenna.


"Aamiin. Terima kasih. Kalau lagi ngidam ayam geprek langsung bilang aja, ya. Kukasih gratis buat bumil," janji Juno.


"Sip deh!".


Ruko menjadi tujuan selanjutnya. Alenna dan Rangga memarkir mobilnya, lantas menuju rak pajang yang memang menjadi tujuan Alenna.


"Besok ada relokasi yang bagian ini. Rak pajang akan digeser sedikit ke sana. Sementara di halaman ruko akan dibangun outlet jamu. Penataan yang baru akan lebih mendukung baik ruko sepatu ataupun outlet jamu," jelas Alenna.


"Aku sampai lupa hari. Hehe. Berarti besok tim yang mengurusi outlet datang ke sini?" tanya Rangga.


"Benar, Mas. Makanya aku mau memberi tahu anak buah Mas Rangga dulu. Biar besok tidak kaget. Penjaga outletnya Mas Rangga sendiri yang menentukan, ya." Alenna ikut saja masalah karyawan.


"Insya Allah untuk itu sudah diatur. Berarti iklan jamunya sudah jadi?" Rangga langsung teringat.


Alenna mengangguk. Tak sabar rasanya menunjukkan rekaman akting Satria dan Mily sebagai model iklan jamunya Rangga.


"Masih proses editing. Akan tampil di layar televisi dalam tiga hari ke depan," terang Alenna.


"Nggak sabar nonton, nih!" Rangga jadi heboh sendiri.


Di tengah pembahasan iklan, yang sedari tadi dihindari pun datang. Andin melangkah masuk dengan lebih dulu mengucap salam. Baby Ali juga dibawa dalam gendongan.


"Assalamu'alaikum, Mas Rangga, Mbak Alenna." Andin menyapa.


Alenna menoleh seketika. Sedikit terkejut karena tak menyangka Andin berani menampakkan batang hidungnya.


"Wa'alaikumsalam. Ada perlu apa, Ndin?"


"Aku ke sini mau ...." Kata-kata Andin terjeda Rangga.


"Istriku lagi hamil, lho." Rangga menimpali.


Andin tersenyum. Lekas mengucap selamat untuk Alenna.


"Saya ke sini mau minta maaf, pada Mas Rangga, dan Mbak Alenna khususnya. Maafkan atas kebodohan saya sebelum ini. Saya ke sini juga mau memperkenalkan calon ayah untuk Baby Ali. Tak disangka, ternyata dia mengenal Mbak Alenna. Jadi, saya mampir ke sini bersama dia." Andin menjelaskan dengan tenang dan ramah.


Alenna mengerutkan dahinya.


"Insya Allah aku sudah memaafkan. Semoga tidak ada lagi kasus-kasus perselingkuhan. Tapi, siapa yang kamu maksud dengan calon ayah Baby Ali yang mengenalku?" tanya Alenna.


"Em ... itu dia, Mbak!" Andin menunjuk seorang lekaki tampan yang baru saja turun dari mobil mewahnya.


"Hai Alenna. Lama kita tidak berjumpa," sapa lelaki itu dengan senyum manisnya.


Alenna kembali menampilkan mimik keterkejutan. Tak disangka-sangka lelaki yang akan menjadi calon ayah Baby Ali ternyata ....


Bersambung ....


LIKE-nya dong buat author. 😳


Mau tahu cerita kepala Mario yang botak gegara Anjani, tengok novel TAKDIRKU BERSAMAMU. Eit, meluncur juga kepoin novel kece berjudul MENANTI MENTARI karya Kak Cahyanti. Dukung kami, ya šŸ’™

__ADS_1


***


__ADS_2