Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 57


__ADS_3

Tubuh Rangga terasa menghangat karena didekap. Debaran jantung Rangga pun semakin cepat. Dalam hati Rangga ada kemelut rasa yang carut marut. Antara terbawa suasana hingga perasaan takut.


Jedaaar!


Gelegar guntur yang ke sekian akhirnya membuat Rangga tersadar. Dekapan pada tubuhnya langsung dilepaskan dengan kasar. Masih gagal menguasai perasaan, Rangga pun membuang pandang ke luar.


"Kenapa dilepas, Mas?"


"Ini salah, Ndin!"


"Biar tidak jadi sebuah kesalahan, ikat aku dalam cinta halal, Mas. Nikahi aku!"


"Kurasa tidak bisa, Ndin. Alenna pasti akan sangat marah padaku. Aku tidak mau membuat Alenna kecewa setelah kami berdua menguatkan kembali rasa saling percaya."


Andin mendengus kesal. Sempat membuang muka juga karena merasa usahanya hampir gagal.


"Maafkan aku, Ndin. Menikahlah dengan Vero. Dia pasti akan menjadi ayah yang baik untuk Baby Ali."


"Tapi aku sama sekali tidak cinta, Mas."


"Mana yang lebih kamu butuhkan? Ayah untuk anakmu atau justru perasaan cinta?"


"Aku butuh keduanya, Mas. Dan aku melihat itu semua ada pada diri Mas Rangga," ungkap Andin tanpa merasa bersalah.


Mata Rangga terpejam. Hatinya beristighfar. Kali ini Rangga benar-benar tidak ingin masuk dalam jebakan.


"Jangan egois, Ndin. Pahami posisiku sebagai seorang lelaki yang telah beristri."


"Gitu ya? Lalu kenapa dulu Mas Rangga mau selingkuh denganku?"


"Aku khilaf, Ndin. Kamu sih mepet aku melulu!"


"Oh, jadi Mas Rangga menyalahkanku? Nggak ingat kalau dulu Mas Rangga juga menikmati perselingkuhan itu?"


"Cuma sehari doang waktu itu, Ndin. Langsung kepergok Alenna juga."


"Aku mengerti. Jadi Mas Rangga maunya lebih dari sehari?"


"Aaaa. Sudah-sudah. Malah merembet kemana-mana ini obrolannya. Kumohon mengerti posisiku, Ndin. Aku tidak mau Alenna membenciku"


Andin merasa tidak memiliki daya untuk kembali meyakinkan Rangga. Jelas-jelas perasaannya telah ditolak Rangga mentah-mentah. Padahal Andin sudah bersedia jika akan dijadikan istri kedua. Nyatanya, Rangga memilih untuk mempertahankan ikatan cintanya dengan Alenna.


"Mas Rangga sungguh ingin melihatku menikah dengan Vero?"


"Sepertinya itu yang terbaik untukmu dan untukku, daripada kita selingkuh."


Jedaaar!


Guntur semakin menggelegar. Tak lagi mengagetkan, karena gejolak hati mereka lebih dominan. Rangga yang tengah membentengi hatinya, dan Andin yang tengah mengatasi rasa kecewa.


"Pasti ini karena Mbak Alenna sedang mengandung, ya Mas?"


"Bukan karena itu, Ndin. Memang tidak sepatutnya kita selingkuh. Cukup di masa lalu dan aku tidak ingin mengulang kesalahan itu."


"Yakin Mas Rangga tidak mau berpikir ulang?"


"Aduuuuh. Kok kamu nggak ngerti-ngerti juga, sih. Aku nggak mau!" tegas Rangga.


"Yakin tetap nggak mau meskipun Mbak Alenna nantinya juga akan menyandang istri kedua setelahku?"


Deg!


Rangga tersentak dengan pernyataan itu. Sempat bertanya ulang, tapi pernyataan yang sama justru kembali ditegaskan.


"Apa maksudmu, Ndin?"


"Vero pernah minta izin untuk memiliki istri lebih dari satu. Ya aku mengizinkan saja jika itu keinginan Vero. Tapi, firasatku kuat mengarah ke Mbak Alenna. Dialah yang akan dijadikan istri kedua."


"Tidak mungkin itu Alenna."


"Ya mungkin saja, Mas. Vero punya masa lalu dengan Mbak Alenna. Aku pun sempat melihat foto Mbak Alenna di HP Vero."


Rangga menajamkan pandang. Ada rasa cemburu yang tengah bersarang. Rangga tidak terima jika benar Vero telah merencanakan yang demikian.


"Tidak akan kubiarkan Vero merebut cinta Alenna dariku!" tegas Rangga.


"Vero tidak akan melakukan itu, Mas. Vero tau kalau Mbak Alenna cinta banget sama Mas Rangga. Paling-paling Vero nungguin Mbak Alenna jadi janda."


"Apaa?!"


Kesal juga Rangga mendengarnya. Baru kali ini rasa cemburu itu mengobrak-abrik hatinya. Padahal yang didengar baru sebuah kemungkinan, belum tentu benar sesuai kenyataan.


"Kenapa diam, Mas?"


"Kamu nikah saja sama Vero. Terus jaga dia baik-baik agar tidak mendekati Alenna. Aku tidak akan membiarkan Alenna jadi istri kedua!" tegas Rangga.


Rangga serius dengan ucapannya. Andin yang menangkap itu sampai tidak bisa menanggapinya.


"Em ... aku buatin minum dulu buat Mas Rangga ya?"


"Tidak perlu repot-repot, Ndin. Aku mau pulang. Dari awal ini sudah tidak benar. Lama-lama di sini bisa-bisa termakan rayuan setan."


Lagi-lagi setan sebagai pihak ketiga disalahkan. Derita dua insan yang hanya berduaan ya memang demikian. Kalau tidak terhasut ya menang dari hasutan.


"Hujannya masih deras, Mas."


"Hanya hujan. Tidak akan melelehkan."

__ADS_1


Andin tak punya banyak pilihan. Apalagi nada bicara Rangga semakin tegas dan tidak terbantahkan.


"Maafkan aku, ya Mas."


"Aku juga minta maaf. Kuharap setelah ini kita tidak usah bertemu lagi. Aku pulang." Rangga balik kanan.


"HP-nya, Mas!"


Andin hendak menahan langkah Rangga. Baru tersentuh ujung jari, Andin sudah terpeleset saja. Gegara lantai ruang tamu yang licin terkena bekas telapak kaki yang basah.


"Aaaaa!"


"Duh!"


Rangga jatuh tengkurap dengan Andin di atasnya.


"Cepet berdiri, Ndin. Kamu berat!"


"Aduh, sakit!"


Perlahan Andin berdiri. Rangga yang merasa punya celah untuk berdiri pun lekas membalik badan jadi telentang. Tak terduga, Andin kembali jatuh menimpa tubuhnya.


"Maaf, Mas. Lantainya licin betul. Bekas air hujan yang tadi ini."


"Cepetan bangun, Ndin. Kamu berat, nih!"


"Mas Ranggaaa!"


Jedaaaar!


Seruan Alenna terdengar lantang. Beriringan dengan guntur yang menggelegar.


"A-Alenna!"


Rangga panik. Siapa pun yang melihat posisinya dan Andin pasti salah paham. Apalagi Alenna baru datang.


"Cepetan bangun, Ndin!"


"Iya sebentar, Mas."


Alenna tidak datang sendirian. Menyusul di belakangnya ada Juno dan Satria.


"Mas Rangga keterlaluan!" seru Alenna.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa jelaskan!"


"Cukup, Mas. Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi. Mas Rangga mau selingkuh lagi sama Andin? Si-la-kan! Tapi, jangan berani temui aku lagi!"


Alenna balik badan hendak masuk lagi ke dalam mobil, tapi Rangga gesit mencegah dengan memegangi pergelangan tangan Alenna.


"Lepasin!"


"Iya, Mbak. Beri kesempatan Mas Rangga untuk menjelaskan." Andin ikut bersuara.


"Diam kau, pelakor nekat. Ambil Mas Rangga. Aku tidak butuh lelaki pembuat luka!"


Rangga tertampar dengan predikat yang disematkan Alenna. Predikat lelaki pembuat luka telah menohok hati Rangga.


"Juno, terima kasih sudah membawaku ke sini. Sat, tolong urus pekerjaan hari ini. Aku mau pulang untuk menenangkan diri." Alenna melanjutkan langkahnya.


"Alenna, kumohon sabar dulu. Dengarkan penjelasanku." Genggaman tangan Rangga semakin dieratkan, khawatir Alenna semakin jauh dari jangkauan.


"Aw. Kamu tidak hanya melukai hatiku, Mas. Tanganku pun kamu sakiti dengan genggaman tanganmu yang tidak berhati nurani. Lepas!"


Sekali hentakkan. Genggaman tangan pun terlepas. Rangga berniat mengejar, tapi Satria tak mengizinkan. Satria tidak ingin melihat Rangga menyakiti Alenna.


"Sat, bantuin aku, dong!"


"Mohon maaf, Tuan. Nona Alenna sedang tidak ingin diganggu Tuan Rangga. Permisi." Satria mengekori Alenna.


"Juno. Bantu aku dong, Jun. Alenna salah paham ini." Rangga meminta bantuan Juno.


"Maaf-maaf aja, Mas. Tapi kelakuan Mas Rangga sama Andin memang di luar batas. Aku pun tidak terima Mas Rangga menduakan cinta Alenna untuk kedua kalinya."


Rangga mengusap wajahnya. Hampir putus asa karena Juno dan Satria menolak membantunya.


"Apa kamu yang membawa Alenna kemari, Jun?"


"Benar. Aku yang membawa Alenna kemari setelah sempat mencurigai gelagat Mas Rangga yang tidak biasa."


"Waduuuh! Kamu ini teman apa bukan sih Jun!"


"Kita masih berteman kok, Mas. Tapi yang namanya perselingkuhan itu tidak sepatutnya dibiarkan."


"Tapi aku tidak selingkuh, Jun."


"Ya mana kutahu, Mas. Di ruangan ini hanya ada kalian berdua. Apalagi posisi kalian berdua tadi ...."


"Sudah-sudah. Jangan dilanjutkan!"


Ekspresi Rangga tak dapat diartikan. Kekhawatiran terbesarnya membayang. Rangga khawatir Alenna akan meminta pisah darinya.


"Mas, aku bantu memberi penjelasan pada Mbak Alenna, ya?" Andin menawarkan diri.


"Tidak perlu. Dan ... Mulai sekarang jangan pernah lagi menemuiku. Permisi."


"Tunggu, Mas. Aku sungguh minta maaf!" seru Andin.

__ADS_1


Rangga tidak menanggapi. Langkahnya terus terarah menuju mobilnya.


"Kamu minta maaf buat apa, Ndin?" Juno belum beranjak.


"Ya .... Minta maaf karena udah bikin Mbak Alenna salah pahamlah."


"Salah paham yang menguntungkanmu, ya?" sindir Juno.


Andin melirik sinis. Kentara sekali kalau tidak suka dengan ucapan Juno.


"Sana pulang!" Andin mengusir dengan nada yang tidak menyenangkan.


"Iya nih pulang. Ingat tuh pesan Mas Rangga tadi. Jangan pernah menemuinya lagi!" tegas Juno, lalu melangkah pergi.


Kaki Andin berderap. Kesal sendiri melihat ekspresi wajah Juno yang tidak sedap.


***


Rangga memencet-mencet tombol lift dengan tidak sabaran. Begitu lift terbuka, bergegaslah Rangga menuju lantai atas. Sayangnya, Rangga kehilangan akses untuk masuk. Password telah diganti.


"Aduh. Alenna pasti marah besar ini." Rangga semakin panik saja.


Smartphone diambil, lantas membuat panggilan suara yang ditujukan pada Alenna. Panggilan pertama, langsung ditolak. Coba lagi, tapi ditolak lagi.


Dok-dok-dok!


"Alenna. Tolong buka pintunya. Akan kujelaskan kalau tadi yang kamu lihat tidak benar."


Tidak ada sahutan. Hati Rangga semakin gusar dengan kemungkinan-kemungkinan di depan.


Dok-dok-dok!


"Alenna. Kumohon buka pintunya!"


Ceklek! Pintu terbuka.


"Aku tidak selingkuh. Demi Allah dan ikatan cinta kita. Aku berani bersumpah."


Rangga buru-buru menjelaskannya. Namun, tindakan Alenna di luar dugaannya.


"Ini barang-barang, Mas Rangga." Alenna menyeret koper besar.


"Kamu mengusirku?" Sesak hati Rangga saat bertanya.


"Semoga Mas Rangga bahagia sama Andin."


"Tunggu!" Rangga menahan pintu yang hendak ditutup lagi oleh Alenna.


"Terima kasih sudah melukaiku. Sekarang, pergi!" usir Alenna.


"Andin terpeleset, dan jatuh menimpaku. Aku sudah menyuruhnya berdiri, hingga kemudian ada kamu." Rangga kembali menjelaskan.


"Tangkapan mataku lebih dari sekedar melihat Andin yang jatuh menimpamu. Jangan dijelaskan lagi. Itu hanya akan membuatku semakin perih."


Alenna kembali berusaha menutup pintu, tapi lengan kekar Rangga menahan dengan tenaga penuh.


"Jangan usir aku. Aku ingin berada di sampingmu."


"Jika seperti itu harusnya Mas Rangga bisa menahan diri untuk tidak bertemu dan berduaan saja dengan Andin."


"Aku memang salah. Maafkan aku, ya."


"Kumaafkan, tapi aku tidak bisa bertahan."


Pernyataan Alenna terdengar seperti sambaran petir di telinga Rangga. Sungguh, Rangga sama sekali tidak mengharapkan itu.


"Tidak boleh. Pikirkan kandunganmu, Sayang. Aku akan membahagiakanmu."


Disinggung kandungan, Alenna sedikit gentar. Pertahanannya goyang. Hingga kemudian, Alenna kembali menyuruh Rangga meninggalkannya sendirian.


"Aku ingin sendiri," ujar Alenna.


"Akan kutemani."


"Pergi!" Nada Alenna begitu tegas kali ini.


Rangga melihat keseriusan dan amarah yang ditunjukkan. Rangga tersadar, Alenna butuh waktu untuk sendirian.


"Baiklah, tapi hanya untuk sementara sampai kamu tenang. Jaga dirimu. Makanlah tepat waktu. Minumlah susu yang aku belikan untuk kandunganmu."


"Pergi!"


Kalimat Rangga sempat terpotong, tapi dilanjutkan lagi.


"Aku akan berjuang agar ikatan cinta kita tak lagi renggang. Setiap hari aku akan menemuimu di sini."


"Pergilah, atau Mas Rangga akan semakin melukaiku sekaligus kandunganku!"


Rangga mengalah. Tak ingin melihat Alenna semakin marah. Perlahan, lengan kekar yang menahan pintu dilepaskan. Dalam sekali ayunan, Rangga melihat pintu tertutup dan menghilangkan akses pandang ke dalam.


Terasa sesak hati Rangga. Merasa bahwa permasalahan rumah tangganya benar-benar menguji kesabaran. Ujian itu pasti datang. Namun, Rangga tidak menyangka bahwa ujiannya berupa kesalahpahaman yang berujung pada renggangnya rasa kepercayaan. Ikatan cintanya dengan Alenna pun terancam.


Bersambung ....


Adakah yang kasian sama Rangga? Apakah ikatan cinta Alenna akan bertahan, atau justru akan bubar?


Maafin author yang udah bikin pembaca geregetan ya. šŸ˜… Memang beginilah jalan ceritanya. Terima kasih bagi yang tidak lupa klik tombol suka meski geregetan baca kisah Rangga. Izinkan author melanjutkan ceritanya, ya. Semoga terhibur, dan selalu dapat dipetik hikmah di balik kisah Ikatan Cinta Alenna. Salam luv-luv buat semua šŸ’™šŸ’™šŸ’™

__ADS_1


Eit, kalau mau novel yang manis-manis, baca kisah kakaknya Alenna saja. Mario-Anjani, di novel TAKDIRKU BERSAMAMU. Merapat juga ke novel my best partner from Jogja, ada novel MENANTI MENTARI karya Kak Cahyanti. Dukung kami, ya 😳


***


__ADS_2