Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 54


__ADS_3

Senyuman Vero menyiratkan makna. Fokus diberikan untuk Alenna. Pesan tersirat yang baru saja diucap, sukses membuat jantung Alenna loncat-loncat. Bukan karena berdebar, melainkan karena geregetan.


Bisa-bisanya kamu nungguin aku jadi janda. Sama aja kamu ngedoain Mas Rangga yang enggak-enggak. Dasar Vero! Batin Alenna berseru.


Alenna tak mampu membalas apalagi menyahuti dengan tegas. Sungguh Alenna tidak ingin memancing perang kata di ruko Rangga. Alhasil, Alenna hanya mampu memendam rasa kesalnya sembari melihat Vero dan Andin bersisian langkah menuju mobil yang dikendarai mereka. Akan tetapi, Rangga yang sudah mulai peka dengan gelagat dan suasana hati sang istri pun lekas bertanya.


“Terjadi sesuatu?” tanya Rangga begitu mobil Vero melaju.


“Nggak ada kok, Mas.”


“Jangan berbohong padaku, Sayang.”


Alenna menoleh lantas menggenggam tangan Rangga.


“Lebih baik kita pulang sekarang, ya. Aku pengen masakin sesuatu buat Mas Rangga.”


“Baiklah, ayo!”


Rangga mengalah. Tak ingin memaksa Alenna untuk bercerita. Bukan berarti Rangga telah menyerah. Hanya saja Rangga mencari waktu yang tepat agar Alenna lebih terbuka padanya.


***


Alenna baru bisa memasak untuk Rangga pukul tujuh lewat sepuluh malam. Sebabnya sederhana, Rangga meminta Alenna untuk setoran hafalan surat yang telah begitu lama diabaikan lantaran melemahnya iman dan kekhilafan. Sebagai istri yang telah kembali berkomitmen untuk setia dan taat pada suami, Alenna pun menuruti. Apalagi yang diperintahkan padanya adalah sebuah kebaikan yang pastinya baik untuk diri.


“Haaakjim!” Rangga bersin.


“Maaf, Mas. Hanya sebentar,” seru Alenna dari arah dapur.


“Masak apa sih, Sayang?”


“Yang pedes-pedes, Mas.”


“Kamu lagi ngidam, ya? Jangan banyak-banyak cabenya. Ntar sakit perut, lho.” Rangga menghampiri Alenna sambil mengintip apa yang sedang dimasak olehnya.


Alenna tak menyahuti, justru senyum-senyum sendiri. Terus dilanjutkan gerakan lincahnya mengaduk-aduk campuran wortel, sawi, sosis, dan irisan cabe merah


“Mas Rangga tolong bawain nasi sama piringnya, ya. Aku mau nata ini dulu di meja.”


“Mas bantu buatin kamu teh hangat dulu, ya.”


“Iya aku lupa, Mas. Gulanya sedikit aja. Oh iya, kerupuknya.”


Alenna hampir saja lupa dengan kerupuk kesukaan Rangga. Setiap kali makan bersama dengan masakan buatan Alenna, Rangga tak pernah melupakan kerupuk sebagai pendamping makanannya.


“Aku ambilin buat kamu, ya Sayang.”


Rangga sudah bersiap mengambil centong nasi, tapi Alenna lebih dulu mengambil alih.


“Kok jadi Mas Rangga sih yang ngambilin. Harusnya aku, Mas. Biar pahalaku makin berlimpah karena melayani Mas Rangga.”

__ADS_1


“Baiklah. Tolong ambilkan nasi dan lauk secukupnya ya.” Rangga tersenyum ramah, membiarkan Alenna melayaninya.


Wajah cantik Alenna semakin cantik saja karena ketulusan hati melayani suaminya. Begitulah yang kini dirasakan Rangga. Cinta di hatinya semakin mengembang. Ujian kesetiaan yang sempat merenggangkan ikatan cintanya, rupanya tak menyurutkan niatan Rangga untuk lebih setia pada Alenna.


Rangga sudah bersiap menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke mulutnya. Namun, urung karena melihat Alenna hanya mengambil nasi saja.


“Kok nggak ambil oseng sama lauknya?” tanya Rangga.


“Tiba-tiba aja aku nggak suka yang pedas-pedas, Mas.”


“Lah terus ngapain tadi masak oseng pedas?”


“Aku pengen lihat Mas Rangga makan yang pedas-pedas sampai keringetan.”


“Waduh! Terus kamu makan pakai apa, Sayang? Masa iya makan pakai nasi doang.”


Alenna berpikir ulang. Yang Rangga katakan benar. Tidak mungkin Alenna hanya makan nasi saja. Apalagi saat ini di rahimnya ada calon buah hati mereka. Alenna pasti sangat membutuhkan nutrisi lebih demi kebaikannya.


“Sama lauk ceplok telur aja deh, Mas.”


“Baiklah. Aku yang buatin ceplok telurnya. Kamu duduk manis di sini saja,” perintah Rangga.


Alenna hendak mencegah, tapi Rangga kembali memanjakannya. Menyuruhnya untuk duduk manis saja sambil menikmati teh hangatnya.


Saat menunggu Rangga membuatkan ceplok telur untuk lauk makan, Alenna memperhatikan oseng pedas yang terhidang. Mendadak Alenna penasaran, kenapa tiba-tiba kehilangan selera pada makanan pedas. Padahal sebelum ini dirinya sangat menyukai kudapan yang pedas-pedas.


“Rasa-rasanya aku cuma pengen lihat Mas Rangga saja yang makan pedas-pedas. Tapi … coba icip dulu deh!”


“Huueeeek!” Alenna mual.


“Sayang, kamu kenapa?”


Rangga berlarian menghampiri Alenna. Sampai terlupa ada telur ceplok yang sedang digoreng olehnya. Begitu Rangga mengambilkan Alenna segelas air minum, terciumlah bau gosong khas telur.


“Mas Ranggaaaa!” seru Alenna begitu melihat asap dari dapurnya.


“Astaghfirullaah!”


Bergegas Rangga berlari menuju dapur dan mematikan api kompor. Dilihatnya penggorengan dan telur ceplok yang sudah gosong.


“Em … aku tidak apa-apa kok, Mas. Makan nasi pakai kerupuk sepertinya nikmat.” Alenna membesarkan hati Rangga.


“Tidak-tidak. Kamu tunggu di sini sebentar biar aku belikan nasi goreng di depan.” Rangga bersikeras.


“Baiklah, Mas. Pakai telur ceplok ya, Em … dua bungkus. Yang satu pedas, yang satu lagi nggak pedas. Yang pedas dipakekin karet satu yang warna kuning. Yang nggak pedas dipakekin karet tiga, tapi yang warna merah.”


Rangga spontan melongo usai mendengar permintaan Alenna yang tak biasa.


“Tum-ben?” Ragu-ragu Rangga bertanya.

__ADS_1


“Tumben apanya sih, Mas?”


“Tumben permintaanmu jadi aneh gini?”


“Biasa aja tuh. Aku nggak merasa ada yang aneh. Beliin ya Mas. Jangan lupa telur ceploknya sama karet warnanya. Ingat ya, Mas. Yang pedas karetnya satu, yang nggak pedas karetnya sepuluh.”


“Loh? Kok jadi sepuluh? Bukannya tadi tiga ya?”


“Iihh. Itu tadi, Mas. Sekarang maunya sepuluh. Ditata yang rapi ya, Mas. Biar tatanan karet nasi gorengnya eye catching.”


Rangga menelan ludah. Mendadak saja Rangga teringat pesan sang ibu untuk menuruti keinginan Alenna dengan segera.


Mungkin anakku nanti cita-citanya jadi arsitek, sampai peduli pada tata letak, meski itu tata letak karet nasi goreng, sih. Kalau bukan arsitek, mungkin jadi pecinta lingkungan atau pebisnis karet gelang. Batin Rangga.


“Mas Rangga kok bengong?"


"Enggak, kok. Mas beliin dulu ya."


Rangga bergegas menuju tukang nasi goreng yang biasa mangkal di depan apartemennya. Gurat wajah Rangga tampak bahagia karena tidak ada antrian di sana.


"Nasi goreng 2 bungkus, Mas!" ujar Rangga bersamaan dengan seorang pria lainnya.


"Loh, Vero! Kamu beli nasi goreng di sini juga?" Rangga tak menduga.


"Iya. Andin minta dibelikan nasi goreng di depan apartemen ini," aku Vero.


Rangga membenarkan dalam hati. Setahu Rangga, Andin memang suka cita rasa nasi goreng di depan apartemennya.


"Selamat malam, Tuan Rangga, Tuan Vero!" sapa Satria.


"Loh, Satria. Mau beli nasi goreng juga?" Ranggalah yang mengajukan tanya.


"Benar sekali, Tuan. Mily ingin makan nasi goreng. Sementara saya hanya tau penjual nasi goreng yang ada di depan apartemen Nona Alenna. Jadi saya langsung ke sini saja. Tak menduga akan bertemu Tuan Rangga dan Tuan Vero yang juga sama-sama membeli nasi goreng untuk wanitanya," ungkap Rangga. "Rasa-rasanya ini seperti ... ikatan cinta," imbuh Satria.


Rangga dan Vero kompak mengerutkan kening karena tidak paham dengan kalimat Satria tentang ikatan cinta. Meski gagal paham, Vero dan Rangga sama-sama memilih untuk mengabaikan.


"Siapa duluan ini, Bang?" tanya si penjual.


Vero dan Satria kompak menunjuk Rangga. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Rangga pun menyampaikan nasi goreng yang dipesan.


"Nasi goreng dua bungkus, Mas. Yang satu pedas, yang satu lagi nggak pedas. Mohon maaf dulu sebelumnya, yang pedas dikareti satu pakai karet gelang warna kuning. Terus yang nggak pedas dikareti sepuluh dengan penataan ekecing pakai karet gelang warna merah. Oya, masing-masing nasi goreng nambah telur ceplok juga, ya Mas! Jangan lupa yang ekecing, Mas!"


Usai Rangga menyebutkan pesanan, pedagang nasi goreng spontan menatap Rangga heran. Vero dan Satria pun ikut-ikutan terheran karena pesanan Rangga. Apalagi kata ekecing yang disebutkan Rangga sama sekali tidak keinggrisan, melainkan terdengar medhok jawa.


Bersambung ....


Hayuk update aplikasi Noveltoon atau Mangatoon kalian, agar bisa memberi autor hadiah ataupun vote pada novel ini. Jika sudah di-update, akan seperti ini ya tampilannya.


__ADS_1


Terima kasih yang sudah setia mendukung. Mampir juga ke novel Menanti Mentari karya Kak Cahyanti. Sahabat Alenna di Jogja itu tengah hamil juga. Dukung kami ya 💙 Barakallah 💙


***


__ADS_2