
Bule cantik tambatan hati Satria itu masih enggan melanjutkan kalimatnya. Gagal bersabar lantaran begitu terjerat rasa penasaran, Satria pun kembali bertanya. Ditatapnya manik mata Alenna dengan lembut. Suara hati Satria tersalur lewat tatapan mata indahnya.
"Alenna, buang rasa ragumu. Aku akan menghormati semua keputusanmu." Satria mengambil jeda kata. Diraihnya tangan kiri Alenna yang bebas, lantas diusap lembut punggung tangan itu. "Apa kamu berniat menyudahi hubungan kita?" tanya Satria dengan tutur kata yang masih sama lembutnya.
Hati Alenna bergejolak. Sungguh Alenna ingin berkomitmen menjaga ikatan cintanya bersama Rangga. Namun, Alenna juga tidak bisa mengabaikan sosok Satria. Satrialah yang selama empat puluh hari ini ada di sisi. Sosoknya tak lagi sekedar sekretaris pribadi, tapi juga pengisi hati.
"Sat, a-aku ...."
Suara Alenna tercekat. Bulir bening lolos membasahi pipi.
Bulir berharga Alenna dapat dengan mudah diartikan oleh Satria. Betapa Satria memahami bahwa hati Alenna tengah bergejolak luar biasa. Satria sadar dengan perasaannya terhadap Alenna. Kesadaran yang sama juga terhadap statusnya yang hanya sekedar kekasih sementara.
"A-aku ... sebenarnya aku." Ucapan Alenna tak sampai-sampai. Bulir bening berharganya terus saja mengalir.
Tanpa mengurangi ketenangan mimik wajah, Satria bangkit dengan senyum penuh pesona. Satria berdiri di belakang Alenna, membungkukkan badan, lantas melingkarkan tangan demi mendekap tubuh Alenna dari belakang.
"Aku tau kamu begitu mencintai Tuan Rangga. Maafkan perasaan egoisku, Alenna. Berbahagialah dengan Tuan Rangga. Pertahankan ikatan cintamu dengannya," bisik Satria di telinga Alenna.
"Sat," lirih Alenna sambil menggenggam erat tangan Satria yang mengalung di lehernya.
"Terima kasih atas balasan perasaanmu. Mulai besok, aku akan pergi menjauh. Belajarlah memudarkan perasaan terlarang itu," pinta Satria sambil tetap berbisik di telinga Alenna.
Gejolak rasa dalam dada Alenna semakin meraja. Kalimat Satria jelas sekali menyiratkan sebuah pengakuan kekalahan atas perasaan yang sebelumnya diperjuangkan. Alenna dapat dengan jelas memahami bahwa Satria memilih pergi dari kehidupannya dan Rangga.
"Bolehkah aku tau kemana kamu akan pergi?" tanya Alenna.
Satria mengeratkan pelukannya, seolah berat dengan keputusan yang diambilnya.
"Ke suatu tempat," jawab Satria tanpa memberi penjelasan lebih.
"Apa kita tidak akan bertemu lagi?" Kembali Alenna bertanya dengan mata terpejam menikmati pelukan Satria. Seolah pelukan itu tak akan bisa dirasakannya lagi setelah ini.
"Kita akan bertemu lagi nanti. Saat pertemuan itu tiba, kuharap perasaanmu padaku juga telah berubah. Harapan yang sama semoga juga terjadi padaku. Mari sama-sama mengambil langkah yang baru, Nona Alenna." Satria kembali pada sapaan asal.
Tak sanggup lagi Alenna menanggapi dengan kata. Hanya satu anggukan yang berhasil tercipta.
Pelukan itu terlepas. Alenna dan Satria saling berhadapan demi mengucap kalimat perpisahan. Sungguh empat puluh hari yang berkesan bagi keduanya. Empat puluh hari yang terlalui dengan perasaan terlarang. Usai terlalui, kini mereka sama-sama memutuskan untuk memudarkan rasa yang sebelumnya terbalut racun kesesatan.
"Bagaimana dengan si dalang itu? Apa kamu masih berniat menemuinya?" Tetiba Alenna teringat.
"Nona Alenna jangan khawatir. Itu urusan saya. Saya jamin Tuan Rangga tidak akan menjadi korban kejahatannya lagi. Empat anak buahku yang telah tobat itu pasti akan melindungi Tuan Rangga sembari bekerja di rukonya," ungkap Satria begitu sopan. Satria memperlakukan Alenna kembali sebagai atasan.
"Hati-hati, Sat. Jaga dirimu!" pesan Alenna.
"Pesan yang sama untuk Nona. Salam juga untuk Tuan Mario dan Nona Anjani begitu Nona Alenna dan Tuan Rangga besok sampai di Jember," ungkap Satria sambil menunduk takzim.
"Baik. Terima kasih untuk semuanya, Satria Li Gresandy." Alenna menyebut nama Satria dengan lengkap sambil menunduk memberi hormat.
__ADS_1
Dada Satria bergemuruh. Dibalasnya perlakuan Alenna dengan hormat yang sama. Detik itu juga Alenna-Satria menamatkan lembar perselingkuhan mereka.
***
Begitu Alenna pamit kembali ke kamar. Satria duduk terdiam di dapur. Sikapnya teramat tenang.
"Ayah, keluarlah. Tidak perlu bersembunyi lagi," ujar Satria sembari tersenyum.
"Eh? Sudah ketahuan ya?" Paman Li keluar dari persembunyian. Dialah lelaki yang menguping pembicaraan Alenna dan Satria sedari awal.
Langkah Paman Li tertuju pada kulkas dua pintu. Diambilnya dua botol minuman dingin, untuknya dan untuk sang putra.
"Dinginkan kepalamu dengan ini. Ampuh untuk lelaki yang sedang patah hati!" celetuk Paman Li sambil menyodorkan sebotol minuman dingin untuk sang putra.
Satria tidak menolaknya. Tidak pula membantah ataupun membalas celetukan ayahnya seperti biasanya. Satria mengakui dirinya tengah patah hati.
"Ayah mendengar semua, kan?" tanya Satria.
"Kau tau betul kemampuan menguping ayahmu ini." Ada jeda. Paman Li meneguk minumannya. "Keputusan bijak. Ayah mendukungmu. Lalu, kemana kau akan pergi? Atau, ayah jodohkan saja kau dengan seorang wanita?"
"Ayaaah. Sudah kubilang aku tidak mau dijodohkan. Biarkan aku move on dulu dari Alenna," pinta Satria.
Paman Li terkekeh. Baru kali ini dia melihat sang putra patah hati karena wanita.
"Kemana kau akan pergi untuk menjalankan misi move on mu itu?" tanya Paman Li.
"Kota Solo. Bosku yang dulu memintaku membantu mengurus bisnis barunya," ungkap Satria.
"Bisnis apa itu? Apa kau akan kembali bekerja di dunia gelap itu, ha?" Nada Paman Li sedikit meninggi. Ada ketegasan yang kentara di wajahnya.
Mimik wajah Satria sempat tidak bisa diartikan begitu mendengar pertanyaan sang ayah. Tak lama kemudian, wajahnya melembut dengan senyum disunggingkan.
"Ayah jangan kuatir. Aku sama sekali tidak punya niatan untuk kembali ke dunia itu. Ini bisnis periklanan dan percetakan. Ya, tidak sebesar perusahaan tempat Nona Alenna, sih. Tapi paling tidak ada sesuatu yang bisa kukerjakan sambil move on dari Alenna. Siapa tau aku malah disuruh jadi bintang iklannya," jawab Satria dengan santainya.
Paman Li terkekeh mendengar kata bintang iklan.
"Kalau beneran jadi bintang iklan, kabari ayah. Ayah ingin melihatmu akting di depan layar. Pasti sutradaranya kualahan mengaturmu," ujar Paman Li, disusul tawa ringan.
Bibir Satria cemberut. Sang ayah ingat saja bahwa kemampuan aktingnya di depan layar bernilai nol besar. Sungguh berkebalikan dengan aktingnya saat bermain taktik dengan kejahatan.
"Sukses untukmu, Nak. Saat kau kembali, bawalah seorang wanita untuk kau kenalkan pada ayah. Oya, tawaran Tuan Mario tetap kau ambil kan?" tanya Paman Li.
Satu anggukan mantap dilayangkan Satria.
"Untuk tawaran Tuan Mario pasti kuambil. Makanya aku di Solo hanya sementara sambil move on dari Alenna. Kalau soal menantu untuk ayah, ah ... itu mudah. Sambil jalan aku coba untuk lirik kiri kanan," janji Satria dengan entengnya.
"Baguuuus!" sahut Paman Li.
__ADS_1
Perasaan Paman Li lebih ringan. Ada kelegaan karena sang putra telah memilih untuk move on dari Alenna. Sementara Satria, meski hatinya masih perih-perih manja, dia berusaha tegar di depan sang ayah. Langkah barunya membentang di depan. Sebelum waktu untuk kembali itu datang, Satria akan memastikan bahwa jalannya akan lebih terang.
***
Pagi pun tiba. Alenna dan Rangga telah rapi dengan barang bawaan yang tidak begitu banyak. Pasangan suami istri itu begitu romantis dengan saling bantu membenahi pakaian yang dikenakan.
"Rambut Mas Rangga harus disisir biar makin cool. Yap! Ini loh suaminya Alenna. Eemm, gantengnya!" Alenna memuji Rangga.
"Kalau aku jelek kamu mana mau," celetuk Rangga sambil membenahi bros di jilbab sang istri.
"Ish, Mas Rangga. Kalaupun jelek, pasti bakal kupermak, kumanja, kurawat dengan segenap jiwa raga," ungkap Alenna.
"Kalau masih jelek juga?" tanya Rangga, mengejar jawaban Alenna.
Alenna memeluk erat tubuh Rangga.
"Ya aku tetap menerima. Karena Mas Rangga sudah ditakdirkan untuk menjalin ikatan cinta dengan Alenna. Bimbing aku biar lebih solihah, ya Mas. Biar tidak mudah goyah dan khilaf lagi," tutur lembut Alenna.
"Alhamdulillaah. Senang sekali mas mendengarnya. Insya Allah. Kita sama-sama berbenah, ya. Sekarang, ayo kita sarapan. Pasti semua sudah menunggu di bawah," ajak Rangga.
"Ayo, Mas. Mas Rangga butuh tenaga ekstra biar kuat teriak-teriak pas naik helikopternya. Hihi," canda Alenna.
Sebagai balasan, Rangga menyentil kening Alenna. Usai bercanda ria, Alenna-Rangga pun menuju meja makan.
Keempat anak buah Satria yang tobat sudah duduk dengan formasi lengkap. Begitu pula dengan Paman Li yang sedang mempersilakan Alenna dan Rangga untuk duduk. Dari semua itu, hanya Satrialah yang tidak nampak ada di sana.
"Paman, Satria mana?" Ranggalah yang bertanya.
"Satria sudah pamit sejak subuh tadi. Ini pesan suara dari Satria untuk Nona Alenna dan Tuan Rangga."
Alenna dan Rangga kompak saling tatap. Alenna memang sudah tahu dengan keputusan Satria, tapi dia tidak menyangka bahwa kepergiannya akan menjadi secepat ini. Sedangkan Rangga, meski dia tidak tahu detilnya, tapi kata-kata Paman Li dapat dengan mudah ditangkap maksudnya.
"Selamat pagi Nona Alenna dan Tuan Rangga. Jika Nona dan Tuan mendengar rekaman suara ini, berarti saya sudah pergi. Di meja, pastilah sudah terhidang sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi yang dimasak dengan penuh cinta kasih. Jangan terkejut, terharu, apalagi sampai berterima kasih atas makanana itu pada saya, karena bukan saya yang memasaknya. Keempat anak buah Tuan Rangga yang menyiapkannya. Em, maaf kalau mungkin rasanya kurang menggoda. Mungkin juga, asin."
Semua tertawa ringan mendengar rekaman itu. Tak lama, mereka pun kembali mendengar lanjutannya.
"Nona, Tuan, terima kasih atas segala kesempatan yang diberikan. Mohon maaf atas segala kesalahan. Juga, maafkan bila pelayanan saya kurang maksimal. Saya pamit undur diri, dan sampai jumpa lagi. Nona Alenna, Tuan Rangga, selamat berbahagia. Satria."
Tak dapat ditutupi, air mata menetes jatuh membasahi pipi. Cepat-cepat Alenna mengusapnya. Dia tidak ingin Rangga mengetahuinya. Akan tetapi, Rangga yang sudah tahu tentang hubungan Alenna dan Satria sebelum ini hanya bisa berdoa untuk semua kebaikan. Rangga merangkul Alenna, mengusap punggung sang istri penuh kelembutan demi memberi rasa nyaman.
"Semoga ikatan cintaku dan Mas Rangga tak lagi goyah karena keegoisanku. Aamiin." Batin Alenna.
Dalam haru yang tengah menyelimut, Paman Li mendapat telepon dari Mario. Mimik wajah Paman Li menyiratkan kekhawatiran karena kabar buruk yang baru saja didengar.
Bersambung ....
Suka? LIKE-nya dong buat author.
__ADS_1
Merapat juga ke novel Kak Cahyanti, MENANTI MENTARI. Kisah cinta sahabat baik Anjani, Meli dan Azka makin uwwu aja di sana š Kepoin dan mohon dukungannya, ya. Luv buat kalian semua ā¤
***