
Kepala Rangga disandarkan pada bahu Alenna. Dengan penuh kasih Alenna menopangnya sambil merangkul dengan lengan kanannya. Alenna-Rangga sama-sama terlelap dalam perjalanan pulang dari Jogja. Terbalik memang. Biasanya si wanita yang bersandar di bahu lelakinya. Kondisi Rangga yang mabuk darat membuat Alenna penuh perhatian padanya.
"Nona dan Tuan sungguh romantis," gumam Satria sambil tetap menyetir. "Bodohnya aku di masa lalu, telah berani merebut hati Nona Alenna dari Tuan Rangga," sesalnya kemudian.
Alenna yang setengah terlelap mendengar gumaman Satria. Bibir ditariknya membentuk lengkungan senyum simpul. Tak jauh beda dengan Satria, Alenna pun sudah menyesali kebodohannya di masa lalu itu.
Demi memecah hening, Satria sengaja memutar lagu. Alunan genre musik pop mendominasi ruang dengar. Sesekali Satria ikut menyenandungkan lirik lagunya. Sekedar iseng, tapi justru membuatnya baper.
"Sengaja banget nih yang bikin lagu nyentil rasa bersalahku. Tau aja kalau Satria habis jadi partner selingkuh," gumam Satria lagi.
Lagu yang mengalun saat ini memang menceritakan tentang perselingkuhan. Sesekali Satria berdecak, tersenyum, bahkan terbungkam kala makna lagu berhasil ditafsirkan.
Berganti lagu lain, terdengar lagu yang sangat familiar di telinga Alenna. Kali ini Alenna tersadar sepenuhnya. Tiada kantuk meraja seperti yang dirasa sebelumnya.
Lagu dari DASH UCIHA berjudul merindukanmu mengalun dengan merdu. Bait lagunya mengingatkan Alenna dengan cinta masa lalu.
Sungguh dirimu membuatku terlalu bersemangat
Jalani hari-hariku dengan hebat
Kau tahu hidup tanpamu itu berat
Dengan begitu kuberhenti untuk terus mencari
Karena ku telah temukan pawang hati
Mengisi kesempurnaan hidup ini
Bibir Alenna melengkung membuat senyum. Lagu itulah yang dulu sering didendangkan saat Alenna berpacaran dengan Juno. Ya, Juno yang saat ini menjadi suami Ranti. Juno yang di masa lalu begitu mencintai Anjani. Juno yang rela memutuskan Alenna di warung bakso hanya demi kembali mengejar cinta Anjani.
Juno adalah lelaki pertama yang dicintai Alenna. Sementara Rangga adalah lelaki berikutnya yang berhasil bertahta di hati Alenna. Baik Juno ataupun Rangga, sama-sama pernah menaruh hati pada Anjani, istri kakak Alenna. Pada akhirnya, Mariolah yang berhasil mendapatkan hati Anjani, yang otomatis menghentikan perjuangan Juno dan Rangga seketika.
Banyak kisah di masa lalu. Ternyata, ikatan cintaku yang sesungguhnya bukan dengan Juno, melainkan dengan Mas Rangga. Batin Alenna.
Bait lagu bagian reff kembali terdengar.
Dengan begitu kuberhenti untuk terus mencari
Karena ku telah temukan pawang hati
Mengisi kesempurnaan hidup ini
"Pawang hatiku saat ini lagi mabuk darat," celetuk Alenna sambil mengusap-usap pelan wajah Rangga yang terlelap.
Mendengar celetukan Alenna, Satria lekas mengecilkan volume lagunya.
"Nona Alenna sudah bangun? Bagaimana kondisi Tuan Rangga?" tanya Satria sambil tetap fokus menyusuri jalan tol.
"Mas Rangga sepertinya baik-baik saja. Ini lagi "ngorok" halus. Hihi. Gemesnya aku!" Alenna mengusap-usap pipi Rangga sekali lagi.
"Saya perhatikan, Nona Alenna semakin mencintai Tuan Rangga," ujar Satria sembari menengok lewat kaca spion di dekatnya.
"Begitulah, Sat. Kamu bisa lihat sendiri," sahut Alenna tulus.
"Masih ingin selingkuh lagi sama saya?" canda Satria.
"Ish, kamu jangan mancing-mancing dong, Sat!" tegur Alenna.
Satria terkekeh. Diam-diam diperhatikannya mimik wajah Alenna melalui kaca spion di bagian atas dekat kursi pengemudi.
"Btw, dua cewek yang kamu temui di Solo, apakah salah satunya ada yang kamu taksir?" Tiba-tiba saja Alenna kepo.
"Nah, sekarang justru Nona Alenna yang memancing hati saya untuk memunculkan prasangka. Kekepoan Nona Alenna seolah mengisyaratkan bahwa Nona Alenna tidak rela saya dekat dengan salah satu dari mereka," sahut Satria yang memang ada benarnya.
"Apa yang salah sih sama kepo, Sat? Kalau nggak mau ngasih tau yaudah." Alenna membuang pandang ke kiri, dengan ekspresi yang mendadak cuek.
"Maaf, Nona. Bagi saya kepo itu adalah satu bentuk kepedulian akan hal yang menarik perhatian. Artinya, kehidupan saya masih menarik perhatian Nona." Kembali Satria berargumen.
__ADS_1
"Oke deh. Dapat aku simpulkan bahwa mulai hari ini aku harus lebih hati-hati pakai kata kepo," sahut Alenna.
Satria tertawa pelan. Diakuinya bahwa move on itu tidak mudah. Meski Satria sudah memutuskan untuk menghormati segala keputusan, tapi Alenna masih saja menarik perhatian.
"Kalian kenapa bahas masa lalu di depanku, sih? Aku dengar jelas, lho!" Rangga membuka mata. Telah terjaga sepenuhya.
"Maaf, Tuan. Saya berani pastikan bahwa cinta Nona Alenna saat ini sudah sepenuhnya untuk Tuan Rangga. Saya sudah jadi remahan yang tak lagi bernilai guna di hati Nona Alenna."
Gas pol. Satria terus menggencarkan kata-katanya.
"Sat, sudah. Jangan dilanjut. Sekarang, kita semua sama-sama berjuang dalam lembar yang baru. Insya Allah, aku akan setia hingga tua sama Mas Rangga. Tapi ..." Alenna menggantung kata-katanya. Diliriknya Rangga dengan mimik wajah cemberut.
"Tapi apa, Nona?" tanya Satria.
"Tapi nggak tau lagi kalau justru Mas Rangga yang memilih tidak setia. Pesona Andin yang janda mamud itu bisa saja membuat Mas Rangga tergoda." Alenna menyinggung-nyinggung Andin.
"Astaghfirullaah. Apa kamu tidak percaya dengan suamimu ini?" Rangga mengubah posisi Alenna hingga menghadap dirinya.
Alenna tidak menjawab. Manik mata yang semula menatap Rangga intens, perlahan membayang bulir air mata. Mata Alenna berkaca-kaca.
"Aku takut," lirih Alenna. Satu bulir bening lolos membasahi pipinya.
Hati Rangga melunak. Tak menyangka bahwa sang istri akan sebegitu khawatirnya.
"Hei, Sayangku kenapa menangis?" Rangga mengusap bulir bening Alenna. "Apa yang kamu takutkan?" imbuhnya.
"Aku takut Mas Rangga membalasku karena aku pernah selingkuh," aku Alenna.
Senyum teduh dipamerkan. Rangga tersenyum ramah demi menenangkan hati Alenna.
"Bukankah kita berdua sama-sama tau kalau yang namanya balas dendam itu tidak perbolehkan? Bukan rasa lega yang akan kita dapatkan setelah balas dendam, melainkan hanya sebuah rasa semu yang tidak tertuntaskan." Rangga menatap manik mata Alenna begitu dalam. "Cie ... suamimu puitis kan? Cuit-cuwit," imbuh Rangga.
Hati yang semula tersentuh mendadak bercampur bumbu lucu. Alenna tertawa pelan. Sudah serius mendengarkan, kalimat akhirnya malah di luar dugaan.
"Aku kasih hadiah buat Mas Rangga karena sudah berhasil membuatku tertawa," ujar Alenna.
"Apa it-, uhhm."
Nasib jomblo ya gini ini, batin Satria, merana.
Diliriknya pantulan sosok di kaca. Semakin merana hati Satria kala mendapati Alenna maih mesra bersama Rangga. Tak bisa mengatasi hatinya, mobil pun menepi. Kebetulan juga jalan tol sudah terlewati.
"Sat, kenapa menepi?" tanya Alenna.
"Mau bernafas," sahut Satria tanpa menoleh, lantas keluar dari mobil.
Alenna-Rangga saling tatap. Keduanya pun kompak berkedip cepat.
"Gerah lihat kita mesra sepertinya. Bukankah bagimu Satria mantan selingkuhan terindah? Susulin gih sana!" celetuk Rangga.
"Issh, Mas Rangga. Mulai deh ungkit-ungkit selingkuhan. Eh, tapi aku bener-bener lupa kalau Satria yang nyetir. Hehe. Enak banget akunya langsung nyosor Mas Rangga," ujar Alenna malu-malu.
"Yaudah. Biar kamu nggak nyosor aku sembarangan lagi, bentar lagi aku aja yang nyetir mobilnya. Toh tinggal dikit lagi sampai," usul Rangga.
"Lah terus Satria duduk sama aku gantiin Mas Rangga di sini? Mas Rangga pengen lihat aku nyosor Satria? Biar aku aja yang nyetir mobilnya." Alenna mengajukan diri.
"Ellooh! Terus kamu mau ngebiarin aku sama Satria duduk berdua di sini, sosor-sosoran? Gitu?" sahut Rangga.
Duo konyol Alenna-Rangga, pasangan suami istri yang lebih sering menampilkan sikap aneh ini justru membuat arah pembicaraan semakin tak bisa diartikan.
"Gimana dong ini? Kok kita bahas sosor-menyosor, sih?" Alenna pusing sendiri.
"Nona, Tuan. Sudah, jangan berdebat lagi. Biar saya yang mengemudi. Satria pantang baper berlebih. Silakan Nona Alenna dan Tuan Rangga boleh lanjut lagi." Satria muncul dan langsung mengambil posisi di balik kemudi.
Alenna-Rangga sama-sama tersentil hatinya. Tidak lagi-lagi saling mengikis jarak sembarangan seperti sebelum ini.
***
__ADS_1
Dua hari berlalu, Alenna-Rangga kembali pada rutinitas hari baru. Alenna menggencarkan bisnis periklanan yang baru dirintis di kantornya, sementara Rangga mengurus ruko sepatu bersama keempat anak buahnya.
Siang itu kebetulan ada Juno mampir untuk memberikan pesanan ayam geprek milik Rangga.
"Mas, kata Alenna mau ada bisnis baru? Beneran jamu?" tanya Juno.
"Iya, Jun. Coba-coba. Siapa tau rejeki di situ."
Rangga memberikan ayam geprek pada keempat anak buahnya, lantas menyuruh mereka istirahat makan siang.
"Mas Rangga nggak makan juga?" Juno masih menemani Rangga duduk di dekat meja kasir.
"Bentar lagi ada Andin datang. Semoga nggak bawa anaknya," doa Rangga.
Juno yang sudah tau ceritanya pun seketika tertawa. Merasa pula bahwa Andin memang ada maunya dengan Rangga.
"Kalau Andin naksir Mas Rangga beneran gimana?" tanya Juno.
"Ya jangan doain naksir, Jun. Atut Alenna cemburu buta."
"Mas Rangga cinta banget sama Alenna, ya?" Juno iseng bertanya.
"Jangan ditanya kalau itu. Ya jelas cinta, dong!" Rangga pede mengakui rasa cintanya pada Alenna.
Tak lama berselang, tampaklah Andin dengan baby Ali datang.
"Waduh! Bawa anak, Mas!" Juno menepuk bahu Rangga pelan. "Good luck! Aku balik ke cafe dulu!" pamit Juno.
Andin sempat menyapa Juno sebelum akhirnya mendekat ke arah Rangga.
"Ada yang bisa kubantu, Ndin?" Rangga to the point agar Andin tidak berlama-lama.
"Mau tukar model sepatu yang ini, Mas. Ada dua yang jahitannya kurang pas. Boleh?" Andin menunjukkan dua box sepatu yang dibawanya.
"Oh. Bisa-bisa. Maaf, ya. Lain kali karyawanku pasti lebih jeli lagi soal ini. Oya, kalau ada yang seperti ini lagi kamu tinggal bilang via telepon aja. Biar karyawanku yang ambil ke tokomu," terang Rangga.
"Nggak mau! Pas aku hampir kerampokan dan ada dua karyawannya Mas Rangga ke rumah, baby Ali nangis terus sampai pagi. Baby Ali sukanya sama Om Rangga. Iya kan, Nak?"
Tetiba saja baby Ali merespon dengan mengarahkan tumbuh gembulnya ke arah Rangga.
"Mau minta gendong Om Rangga ya? Mas, gendong bentar nih katanya."
Rangga melihat tatapan baby Ali yang bahagia. Membuat Rangga tak tega jika menolaknya.
"Sini sama om." Rangga merentangkan kedua tangannya.
Tidak hanya baby Ali yang terlihat girang, ibunya juga demikian. Rangga mengambil tubuh baby Ali perlahan. Namun, tak sengaja Rangga menyenggol sesuatu yang kenyal.
"Aw. Mas Rangga nyenggol anuku!" pekik Andin.
"Lah-lah! Nggak sengaja, Ndin!" Sambil menggendong baby Ali Rangga jadi serba salah karena memang tidak sengaja.
"Iya, nggak papa kok, Mas. Sengaja pun juga nggak apa-apa!" sahut Andin.
"Mas Rangga?" Itu suara Ranti, sahabat baik Alenna.
Ranti menangkap mata posisi Rangga yang sedang menggendong baby Ali, juga Andin yang berdekatan jarak dengan Rangga. Apalagi kedua tangan Andin dalam posisi menutupi bagain dadanya. Lengkap sudah prasangka yang dibuat Ranti.
"Hayo! Kalian habis ngapain? Alenna harus tau ini," ujar Ranti langsung berbalik arah, lantas berlari menuju cafe tempat Alenna sedang memesankan minuman untuk Rangga.
"Ranti! Waduoooh! Payah rek! Bakal ono perang bar-bar iki! (akan ada perang bar-bar ini!)," gerutu Rangga.
Bersambung ....
Suka? LIKE-nya dong buat author. Vote juga boleh, lho.
***
__ADS_1
Terima kasih buat semua yang sudah mendukung karya ini. Semoga terhibur. Dukung juga novel CINTA STRATA 1 dan TAKDIRKU BERSAMAMU yang menyoroti kisah Mario-Anjani. Eit, sahabat baik Anjani jangan lupa. Kisah Meli dan suami hadir di novel MENANTI MENTARI karya Kak Cahyanti. Happy Reading.
***