
Aura bahagia masih menyelimuti Alenna dan Rangga. Beberapa menit lalu mereka baru saja mengunjungi dokter kandungan. Dokter pun memastikan bahwa Alenna memang tengah mengandung. Saran-saran disampaikan dan jadwal kunjung periksa pun ditentukan.
"Sayangku lagi ada yang dipengen nggak?" tanya Rangga.
"Pengen ditemenin makan es krim sama Mas Rangga. Boleh ya?" Alenna manja.
"Langsung budalkan!" seru Rangga.
Sedari mendengar Alenna hamil, Rangga begitu perhatian. Perhatiannya bahkan berlebih. Apa yang menjadi keinginan Alenna, langsung dituruti.
Saat ini Ranggalah yang mengemudi. Siap mengantar Alenna kemana pun dia pergi. Termasuk ke kantornya setelah ini, karena Alenna izin datang ke kantor setelah istirahat makan siang.
"Kedai es krim yang itu, Mas!" tunjuk Alenna.
"Siap!"
Rangga perlahan menepikan mobilnya. Baru saja menemukan tempat ya pas, tetiba saja Rangga melihat Andin dan Baby Ali di dekat kedai. Andin terlihat sedang memberikan beberapa lembar uang, membeli balon untuk Baby Ali. Tak mau cari perkara, Rangga segera melajukan mobilnya.
"Loh-loh, Mas? Kok dijalankan lagi?" Alenna terheran.
"Kedai es krim yang lain aja, ya. Di dekat situ banyak buaya. Nanti kalau kamu dibuayain gimana?" Alasan yang digunakan Rangga tak jelas arahnya.
"Maksudnya, Mas? Kok aku jadi gagal paham gini, sih!"
"Es krim rasa buaya pernah coba?" Rangga malah berputar-putar.
"Mana ada, Mas. Es krim yang normal aja. Aku mau es krim rasa pisang aja."
"Segera kupenuhi untuk Tuan Putri. Tapi tidak di sini. Aha, di sebelah sana saja."
Alenna menurut saja. Tak lagi banyak bertanya. Sementara Rangga, fokusnya terus menyisir tepian jalanan sembari mencari kedai es krim. Akan tetapi, nihil. Tak lagi ditemukan kedai es krim. Pilihan akhir, Rangga pun menepikan mobilnya di ....
"Minimarket?" Alenna terbengong.
"Tunggu di sini. Es krim rasa pisang segera datang."
Bola mata Alenna mengamati Rangga yang melangkah riang masuk ke dalam minimarket. Tak lama berselang, Rangga keluar dengan membawa dua bungkus es krim batangan rasa pisang.
"Taraaa! Es krim rasa pisang telah datang. Silakan dimakan, Sayang."
Alenna tertawa canggung. Tak disangka es krim yang dibelikan Rangga adalah es krim bungkusan yang biasa dijual di minimarket. Demi menghargai usaha suami, Alenna pun menikmati es krim itu dengan wajah berseri.
"Mas Rangga, lain kali nongkrong di kedai es krim yang tadi aja ya. Sekalian kita pacaran di sana," ajak Alenna.
"Aku janji akan ajak kamu ke sana setelah launching produk jamu kita."
__ADS_1
Rangga menyodorkan jari kelingkingnya. Lekas disambung kaitan jari kelingking Alenna. Cara klasik yang sering digunakan mereka berdua untuk menguatkan janji.
Pukul setengah satu siang Rangga mengantar Alenna ke kantornya. Tak biasa-biasanya Rangga justru mengantar Alenna hingga sampai di ruangan kerjanya.
"Bu Alenna, desain iklan jamu sudah ready. Konsepnya ada di Pak Satria," terang kepala divisi periklanan.
"Terima kasih. Akan kulihat nanti. Oya, ini dia owner jamunya. Suamiku sendiri. Produksi jamunya telah terikat kerjasama dengan perusahaan kita," terang Alenna dengan bangga memperkenalkan Rangga.
Kepala divisi periklanan menunduk hormat lantas menjabat tangan Rangga.
"Pak periklanan, istri saya ini sedang hamil, Pak."
"Mas Rangga," desis Alenna sambil mencubit pelan lengan Rangga.
"Wah, selamat! Bu Alenna dan Pak Rangga tengah berbahagia rupanya. Semoga semua dimudahkan," doa kepala divisi periklanan.
Rangga menyambut baik doa itu. Berulang kali mengucapkan terima kasih. Sementara Alenna, yang terbiasa menunjukkan sikap penuh wibawa di depan karyawan-karyawannya hanya tersenyum biasa.
Pamit menuju ruangan, Alenna dan Rangga langsung dihampiri Satria. Wajah Satria siang itu tampak begitu lelah. Efek samping meng-handle semua pekerjaan selama Alenna izin.
"Selamat datang, Tuan Rangga, Nona Alenna." Satria menyambut dengan baik.
"Sat, kamu boleh pulang lebih awal. Istirahatkan dirimu," perintah Alenna yang peka dengan kondisi Satria.
"Eh-eh. Jangan, Sat!" Rangga mencegah.
"Kenapa jangan, Mas?" tanya Alenna.
"Kamu kan lagi hamil, Sayang. Kalau kamu kerja sendirian aku yang khawatir," ungkap Rangga. "Sat, istriku sedang hamil. Tolong bantu setiap pekerjaan di kantor, ya!" imbuh Rangga.
Mimik wajah Satria seketika berubah cerah. Meski Alenna adalah mantan partner selingkuhannya, tapi Satria tetap berbesar hati turut berbahagia atas berita kehamilan Alenna.
"Nona Alenna, saya ucapkan selamat!" Satria menunduk takzim.
"Terima kasih banyak, Sat."
Rangga berulah lagi. Begitu melihat dua karyawan lewat di depan ruangan, Rangga memanggil dan mengabarkan berita kehamilan Alenna. Tentu saja yang mendengar berita itu ikut berbahagia dan mendoakan. Apalagi yang tengah hamil adalah pimpinan di perusahaan tempat mereka bekerja.
Alenna memijit keningnya pelan. Tak disangka sang suami akan begitu antusiasnya memberitakan kehamilan dirinya. Meski demikian, Alenna tak mau banyak protes. Alenna senang karena suami yang begitu dicintainya teramat bahagia dengan kehamilan dirinya.
"Saya bisa melihat dengan jelas, betapa Tuan Rangga sangat bahagia atas kehamilan nona. Saya pun akan mendukung. Bilang saja pada saya apa-apa yang nona butuhkan selama di kantor. Satria siap memenuhi meski lautan harus saya sebrangi." Satria ikut-ikutan berlebihan.
Alenna tepuk jidat. Kali ini tak lagi menahan diri atas sikap Satria ataupun sang suami.
"Terserah kalian saja, deh." Alenna pasrah saja.
__ADS_1
Mumpung ada Rangga, sekalian saja Alenna membahas iklan jamu bersama Satria juga tentunya. Satria bisa memastikan bahwa teman wanitanya yang dari Solo bisa hadir besok pagi.
"Konsep iklannya aku setuju. Simple dan menarik. Kita pakai ini, tapi ...." Alenna menggantung kalimatnya. Diliriknya Rangga di sampingnya. Sang suami tercintanya itu tengah asik mengamati konsep iklan yang disodorkan Alenna barusan.
"Mas Rangga ingin di iklannya ada model laki-lakinya," ungkap Alenna. "Mas Rangga juga ingin kamu yang jadi model iklan prianya, Sat."
Satria mematung. Terkejut mendengarnya. Hal terbesar yang menjadi kekurangan dirinya adalah begitu kaku saat di depan kamera. Diminta menjadi model iklan tentu membuat pikirannya berputar, membayangkan akan jadi seperti apa nanti proses syuting iklannya.
"Em, maaf, Nona. Apa ada pilihan lain untuk saya? Bolehkah saya menolak tawarannya?"
"Oh tidak bisa. Kamu cocok jadi model iklan jamu ini. Badanmu kekar, simbol khasiat minum jamu. Wajahmu tampan, ampuh menggaet pelanggan tuh. Ditambah pesonamu yang cemerlang, sekali jadi model iklan, dijamin status single-mu langsung terhapuskan karena banyak yang antri minta dilamar." Panjang lebar Rangga menjelaskan isi pikirannya.
"Aku setuju dengan Mas Rangga," sahut Alenna.
"Tuh, istriku setuju. Nurut aja ya, Sat. Siapa tau anak di kandungan istriku mengiyakan juga. Kalau nggak diturutin ntar ileran loh pas lahir," ungkap Rangga.
Alenna manggut-manggut, tanda setuju dengan pemikiran Rangga.
Rasa-rasanya begitu berat bilang iya, tapi Satria tak mampu mengecewakan Alenna.
"Baiklah, saya bersedia."
Satria mengalah pada akhirnya. Alenna dan Rangga sontak berseru hore dan tanpa sungkan melakukan tos di depan Satria.
Pukul lima sore, di sebuah hotel. Seorang wanita bersurai panjang, berpenampilan modis, dan ber-make up natural tengah melangkah mengikuti Satria menuju lift. Begitu pintu lift tertutup, si wanita tanpa sungkan menyandarkan kepala di bahu Satria.
"Emily. Jaga sikapmu!" tegas Satria.
"Sepertinya kamu masih meragukan perasaanku, Sat. Aku sudah putus dari kekasihku. Sekarang kamu bisa melanjutkan perasaanmu yang dulu terhadapku," ungkap Emily yang lebih akrab dipanggil Mily.
Tak ada jawaban. Satria bungkam. Hingga pintu lift terbuka pun Satria masih saja terdiam.
"Ini kamarmu sampai tiga hari ke depan. Istirahatlah. Besok pukul delapan pagi kutunggu di kantor. Nona Alenna ingin berbincang dulu denganmu besok pagi," terang Satria dengan ekspresi biasa-biasa saja.
"Its oke. Sebaiknya kamu temani aku dulu di dalam sini," pinta Mily.
"Tidak. Sampai jumpa besok. Permisi!" Satria pergi.
Mily melihat Satria terus melangkah menjauh. Senyumnya merekah. Hati dan pikirannya tengah terfokus untuk menyusun rencana agar bisa menarik perhatian Satria.
"Sikap dinginmu itu tak akan bertahan lama, Sat. Aku tau hatimu masih menyisakan tempat untukku. Maafkan aku yang dulu pernah menolak perasaanmu hingga dua kali. Kini tiba waktunya untuk memperbaiki," gumam Mily, percaya diri.
Bersambung ....
Jangan lupa mampir ke novel Takdirku Bersamamu karya indri, dan novel Menanti Mentari karya Kak Cahyanti. Dukung kami, ya!
__ADS_1
š
***