Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 53


__ADS_3

Hai, mohon maaf beberapa hari ini nggak bisa up rutin. Di dunia nyata ada yang lagi butuh perhatian, nih. Hihi. Terima kasih yang masih setia menunggu dan membaca. Terima kasih juga yang sudah menebak-nebak siapa calon suami dari pelakor legend novel ikatan cinta Alenna. And now .... Enjoy Reading.


💙💙💛💙


Pria tampan yang menyapa Alenna adalah pria yang telah lama tidak ditemuinya. Terhitung sejak Alenna dipindahkan untuk memimpin anak cabang, sejak saat itulah Alenna tak lagi bertemu tatap dengannya. Kabarnya, pria tampan yang pernah mengejar cintanya itu telah berubah. Telah tobat dari tabiat buruknya dengan si lipstik merah. Telah menjelma menjadi pribadi yàng lebih taat beribadah, dengan bimbingan ustaz Barra.


"Vero?"


"Apa kabar Alenna?" Langkah Vero berhenti tepat di sebelah Andin.


"Alhamdulillaah, baik."


Raut keterkejutan di wajah Alenna lekas diganti dengan mimik ramah. Alenna tersenyum seketika. Sekilas terbersit pikiran nakal, mencocok-cocokkan Andin yang akan bersanding dengan Vero.


"Em, bagaimana bi- ..." Kalimat Alenna disela.


"Pasti banyak yang ingin kamu tanyakan. Bisakah kita mengobrol berdua?" pinta Vero.


Alenna tak langsung mengiyakan. Fokusnya tertuju pada Rangga yang sedari tadi menghindari pandang pada Andin yang berdiri beberapa meter di depan.


"Mas Rangga, boleh nggak?" tanya Alenna.


"Silakan." Rangga mengizinkan.


Alenna tersenyum. Didekatinya sang suami lantas berbisik di telinganya.


"Mas Rangga juga silakan kalau mau ngobrol sama Andin, tapi di sini saja. Aku percaya Andin sudah berubah," bisik Alenna.


Mulanya Rangga ragu, tapi akhirnya mengangguk juga dengan izin itu. Rangga dan Andin memilih duduk di kursi pengunjung dekat meja kasir. Sementara Alenna dan Vero segera menuju ke lantai dua untuk mengobrol di sana.


Krik-krik-krik, itulah yang terjadi di antara Rangga dan Andin selama beberapa detik. Anak buah Rangga yang melihat itu pun segera berinisiatif menyuguhkan sup buah.


"Silakan, Bos. Dinikmati," ucap si mantan pilot sambil berkedip.


Rangga menangkap kode. Lekas disuruhnya Andin menikmati sup buah yang disuguhkan. Rangga pun demikian, dengan perlahan sup buah bagiannya juga dimakan.


***


"Silakan diminum." Alenna menyuguhkan sebotol air mineral dingin untuk Vero.


"Terima kasih, Alenna. Kamu masih saja baik padaku, sama seperti dulu." Vero memulai obrolan dengan pujian.


Alenna tersenyum. Sebuah senyum penuh wibawa yang biasa ditampilkan untuk rekan bisnisnya. Sosok tampan yang saat ini mengobrol dengannya memang masih memiliki ikatan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan milik sang ayah.


"Bagaimana kerjasama dengan perusahaan kakakku? Apa Mario bersikap dingin padamu?" tanya Alenna.


"Tidak sama sekali. Kakakmu sungguh profesional dalam berbisnis. Sayangnya jabatannya masih seorang wakil."


"Tidak akan lama lagi, dialah direktur utamanya. Siap-siap saja dibuat terpukau dengan manajemen bisnis kakakku. Apalagi ada Paman Li bersamanya." Alenna semakin memuji kakaknya.


Vero tak bisa menutupi rasa kagumnya. Pujian Alenna pada sang kakak justru membuatnya semakin percaya pada kerja sama yang terjalin di antara mereka.


"Baguslah. Masing-masing perusahaan jelas akan merasakan keuntungannya. Dan ... Alenna, apakah hanya itu yang akan kamu tanyakan padaku? Hanya membahas bisnis dan kakakmu?" Vero memancing.


Seketika Alenna teringat pernyataan Andin tadi. Alenna memang akan menanyakannya, tapi tak disangka obrolan yang lebih dulu muncul justru tentang bisnis perusahaan dan kerjasama.


"Aku ucapkan selamat, Vero. Kapan kalian berdua akan menikah?"


"Tidakkah kamu ingin tahu awal mula keputusanku menikahi Andin?" Vero justru menanggapinya dengan tanya.


Tentu saja Alenna penasaran. Baru kapan hari Alenna memergoki Andin selingkuh dengan Rangga. Pasti jadi pertanyaan besar bagi Alenna, bagaimana mungkin secepat itu mendengar kabar bahwa Andin akan menikah dengan Vero.


"Apa kamu dan Andin khilaf-khilafan?" tebak Alenna.

__ADS_1


"Astaghfirullaah, Alenna. Kenapa pikiranmu sampai sejauh itu, ha? Selama ini ada ustaz Barra yang kamu minta untuk membimbingku soal ibadah, masa iya kamu justru menjatuhkan prasangka?" Vero geleng-geleng kepala.


Perkataan Vero menampar Alenna. Cengiran kuda seketika ditunjukkan oleh Alenna. Antara tidak enak hati dan bingung harus menanggapinya bagaimana. Alhasil, kata maaflah yang meredam kekikukan yang sempat melanda.


"Maaf, aku ... tidak bermaksud. Hehe."


"Tak apalah. Masa laluku dengan si lipstik merah pastilah meninggalkan noda buruk dalam ingatanmu." Vero tersenyum kecut.


"Aaeem ... Maaf-maaf. Aku sungguh tidak bermaksud mengungkit masa lalu. Em, baiklah. Jujur, aku kepo tentang dirimu dan Andin yang tiba-tiba memutuskan untuk menikah."


Vero tersenyum. Senyuman itu membuat Alenna sedikit lega sekaligus mengobati rasa bersalahnya.


"Percayakah kalau aku dan Andin baru bertemu lagi kemarin pagi?"


"What? Baru kemarin pagi bertemu langsung kamu ajak nikah? Eh, tunggu-tunggu. Apa yang kamu maksud dengan bertemu lagi?" Alenna kepo luar biasa.


"Sabar sedikit dong, Alenna. Raut wajahmu seolah menunjukkan ketidakrelaan hati melihat aku akan menikahi Andin." Vero bersandar pada sofa.


"Apa'an sih? Aku cuma ingin tau. Kalau nggak mau ngasih tau yaudah." Alenna membuang muka.


Vero terkekeh pelan. Dirasakannya sikap Alenna mendadak berubah. Wibawa seorang pemimpin yang biasa ditunjukkan sirna karena kekepoan yang melanda.


"Jangan buang muka gitu, dong. Akan kuceritakan."


Cerita Vero dimulai. Memang benar, Vero bertemu Andin kemarin pagi saat perjalanan hendak bertemu salah satu relasi bisnisnya di sebuah rumah makan. Dari sanalah semua bermula.


Tatapan mata yang sekian tahun lamanya hanya terekam dalam benak, seketika itu bertaut lagi, sampai-sampai menggetarkan hati. Vero yang melihat sosok Andin pun terpaku kala itu. Tak hanya Vero, Andin pun juga begitu.


Andin adalah cinta pertama Vero. Sosok di masa lalu yang berani menolak perasaan Vero. Membuat Vero kala itu begitu merasa dicampakkan, hingga tak bisa serius dalam berpasangan.


"Jadi ... begitu ketemu Andin lagi, kamu langsung ngajak nikah?" Alenna membuat kesimpulan.


"Awalnya iya. Aku katakan saja kalau aku masih cinta. Percaya atau nggak, tapi kemarin aku kembali ditolak." Vero berkata sejujurnya.


"Apa alasan Andin menolakmu?" tanya Alenna.


"Sama seperti saat kamu menolak perasaanku."


"Tidak cinta?" Alenna menebaknya.


"Benar sekali. Kalian berdua adalah dua wanita yang sudah menolak pengakuan perasaanku. Andin cinta pertamaku, sementara kamu adalah cinta keduaku."


Mendadak saja Alenna tidak nyaman dengan pembahasan perasaan masa lalu.


"Em ..." Alenna bingung menanggapinya. "Terima kasih atas itu, tapi kamu tau kan kondisiku saat itu," imbuh Alenna


"Aku tau kamu mencintai Rangga saat itu," sahut Vero.


"Terus apa yang terjadi kemarin sampai Andin bersedia menikah denganmu?" Alenna kembali pada topik awal, demi tidak terjebak perasaan.


Lebih dulu Vero meneguk air mineral yang disuguhkan. Alenna sabar menunggu cerita lanjutan, dan memilih ikut meneguk air mineral. Alenna tidak gegabah. Lebih memilih Vero yang bersedia bercerita daripada terus mendesaknya.


"Kemarin Andin awalnya memang menolak, dengan alasan masih tidak mencintaiku. Ditambah dengan statusnya yang seorang janda beranak satu. Langsung saja kutegaskan padanya kalau aku bersedia menerima apa pun kondisinya."


"Terus Andin langsung bersedia?" Alenna sungguh tak sabar dengan kejelasan.


"Aku masih ditolaknya," aku Vero.


Tak tega juga Alenna mendengar cerita Vero. Rupanya paras tampan dan harta berkelimpahan belum tentu membuat perasaan yang terpendam akan langsung terbalaskan.


"La-lu?" Ragu-ragu Alenna bertanya lalu.


"Kubuktikan bahwa seorang lelaki itu memang tak pernah menyerah pada keadaan. Kuyakinkan Andin berulang."

__ADS_1


"Wow, terus Andin langsung mau menikah dengamu?"


"Tentu saja tidak," sahut Vero.


Gemas juga Alenna dengan cerita Vero.


"Oke-oke. Begini saja. Andin menerimamu setelah usaha meyakinkan yang ke berapa?" Alenna menjentikkan jarinya.


"Setelah lima kali usaha, dengan sedikit drama. Meski sempat jadi tontonan, tapi hati Andin berhasil kudapatkan." Vero tampak bangga dengan itu.


Alenna benar-benar terpukau kali ini, hingga refleks mengacungkan jempolnya.


"Alhamdulillaah. Ikut senang mendengarnya. Jaga Andin dan Baby Ali baik-baik, ya."


"Kamu takut Andin akan menggoda suamimu lagi, ya?" tebak Vero.


Melongo juga Alenna mendengarnya. Tak menyangka bahwa Vero bisa tahu kasus perselingkuhan Rangga dan Andin.


"Kok kamu bisa tau?" Ragu-ragu, Alenna bertanya.


"Tadi Andin bercerita. Sepertinya calon istriku itu sudah lebih terbuka padaku. Oya, hubunganmu dengan Satria bagaimana?"


"Jangan mengungkit itu lagi. Itu dosa masa lalu. Sekarang aku lebih setia pada Mas Rangga. Bahkan ada buah hati kami di dalam sini." Alenna mengusap-usap perut datarnya dengan bahagia.


Vero tertawa pelan karena Alenna menolak membahas kenangan perselingkuhannya dengan Satria. Akan tetapi, di akhir Vero mengucapkan selamat atas kehamilan Alenna.


"Lagipula sebentar lagi Satria akan menikahi Mily." Alenna mengabarkan.


"Satria bersedia menikah selain denganmu? Kukira Satria akan kembali memperjuangkan perasaannya." Vero geleng-geleng kepala.


"Ngomong apa sih kamu? Udahan aja deh ngobrolnya. Udah nggak sehat lagi ini obrolannya," pinta Alenna.


Vero justru tertawa.


"Bukan obrolannya yang tidak sehat, Alenna. Masa lalu masing-masing dari kitalah yang membuat obrolan kita jadi salah alamat."


Meski tak terang-terangan, Alenna pun mengiyakan. Masa lalu dirinya, Rangga, Satria, Vero, dan Andin tak lepas dari jerat kekhilafan. Bahkan Juno dan Ranti yang kini rumah tangga mereka adem ayem, awal mula persatuan mereka pun tak lepas dari jerat kekhilafan. Cinta terlarang, penyatuan tanpa ikatan pernikahan, bahkan perselingkuhan. Masa lalu yang sungguh memalukan.


"Setelah masing-masing dari kita memiliki pasangan, semoga kekhilafan itu tak terulang," doa Alenna.


Vero hanya tersenyum biasa. Doa Alenna sama sekali tak di-aamiin-kan olehnya. Vero justru memilih pamit usai sekali lagi memberi selamat atas kehamilan Alenna.


Alenna dan Vero kembali ke lantai dasar ruko. Rupanya Rangga sibuk menimang-nimang Baby Ali yang tengah menangis, sementara Andin duduk manis sambil menghabiskan sup buah mangkuk keduanya.


Sedari tadi Rangga dan Andin minim obrolan. Semua itu karena ulah Rangga yang terus menyodori Andin sup buah. Sengaja Rangga melakukan, agar Andin dan dirinya tak banyak obrolan. Saat Baby Ali menangis pun Rangga berinisiatif langsung menggendong dan meminta Andin untuk tetap memakan sup buahnya. Lagi-lagi demi meminimalisir obrolan di antara mereka.


"Mas Rangga, Baby Ali kenapa?" Alenna lekas menghampiri sambil mengambil alih Baby Ali dalam gendongannya.


"Syukurlah kalian sudah selesai. Vero, kita pulang sekarang, ya? Aku lupa belum beli popok buat Baby Ali," terang Andin.


"Ayo aku antar!" Vero menyanggupi.


Andin mengambil alih Baby Ali dalam gendongan. Setelahnya Andin kembali meminta maaf dan berterima kasih pada Rangga. Saat Andin sibuk berpamitan pada Rangga, Vero menyampaikan keinginannya pada Alenna.


"Alenna, tunggu undangan dariku. Oya, Andin tidak keberatan jika aku beristri lebih dari satu. Jadi ..." Vero maju dan membisikkan kata-kata yang membuat Alenna terpaku. "Kutunggu jandamu," bisik Vero.


"Ha?"


Bersambung ....


LIKE-nya dong buat author 💙


Mampir juga ke novel TAKDIRKU BERSAMAMU yang menyoroi kisah rumah tangga Mario-Anjani. Kepoin juga sahabat baik mereka di Jogja, ada Meli dan Azka yang siap bikin baper permirsa dalam novel MENANTI MENTARI karya my best partener, kak Cahyanti.

__ADS_1


***


__ADS_2