
"Ayaaah! Kenapa bodyguard-nya mencolok banget, sih?" protes Alenna.
John yang masih sibuk menelepon hanya memberi kode tangan agar Alenna menunggu sebentar. Mommy Monika pun tak mampu menanggapi karena sedang disuruh sang suami mengecek nomor penting di ponsel John yang satunya.
"Len, udah biarin aja! Bodyguard-nya keren kok! Ma-co semua," bisik Ranti sambil memegangi kopernya.
Mario-Anjani mendekat. Pasangan suami istri yang baru menikah itu kompak tersenyum melihat wajah cemberut Alenna.
"Mau pakai bodyguard atau tidak usah balik ke Jakarta saja?" tawar Mario yang sudah bisa menebak jawaban Alenna.
"Ya balik ke Jakarta-lah! Aku yakin sekali Vero dalang penculikan Mas Rangga. Mobil penculiknya berplat Jakarta!" tegas Alenna.
"Ish, jangan suudzon dulu. Iya kalau benar Vero, kalau ternyata bukan dia gimana? Sabar dulu. Pertolongan Allah sungguh nyata," nasihat Anjani begitu bijak.
"Coba dengar kakak iparmu. Sudah mirip ustaza, kan?" goda Mario.
"Ish, apaan sih kamu!" Anjani mencubit perut Mario.
Mario hanya terkekeh pelan sambil menghalang-halangi cubitan tangan Anjani yang hendak mendarat lagi.
"Kalian berdua bikin baper aja, deh. Ntar kalau Mas Rangga ketemu, bakal aku baperin balik!" ancam Alenna.
Mario justru menanggapi Alenna dengan semakin menunjukkan kemesraannya pada Anjani.
"Alenna, mau bicara apa tadi?" tanya John yang baru selesai menelepon.
Alenna cengar-cengir.
"Nggak jadi, deh. Alenna pamit dulu kalau begitu."
Berpamitan satu per satu, Alenna memeluk Mommy Monika dan Anjani bergantian. Sedangkan pada Mario, Alenna sok-sokan ngambek ala anak kecil yang sedang bertengkar dengan kakaknya. Terakhir, Alenna bersalaman dengan sang ayah.
"Tunggu info lanjutan dari anak buah ayah. Jaga diri baik-baik di Jakarta. Doakan juga suamimu. Rangga pasti baik-baik saja," ujar John.
Alenna tersenyum lantas mengangguk. Alenna tak ingin menunjukkan wajah kekhawatirannya lagi di depan sang ayah. Sungguh, Alenna sangat berterima kasih karena John sejak semalam mengupayakan yang terbaik untuk menemukan Rangga.
Berangkatlah mobil yang membawa Alenna, Ranti, dan para bodyguard yang mengawal. Baru saja mobil-mobil itu hilang dari pandangan, datang mobil lainnya. Itu salah satu mobil John, dengan sopir yang ditugaskan untuk menjemput Bu Anis dan si kembar Ardi-Ardan. John meminta agar beliau dan dua putra kembarnya tinggal bersama Mommy Monika, Mario-Anjani. Sementara John sendiri akan segera menuju Jakarta.
"Bu, sabar, tenang. Insya Allah Rangga dalam lindungan Allah." Mommy Monika langsung memeluk Bu Anis dengan erat begitu turun dari mobil.
Perlahan Bu Anis melepas pelukan itu. Wajahnya tampak biasa saja. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada kepanikan.
"Jadi, anak saya beneran diculik toh?" tanya Bu Anis.
Mommy Monika melihat Mario-Anjani. Seolah ada ketidaksanggupan untuk membenarkan pertanyaan itu. Namun, pada akhirnya Mommy Monika pun mengangguk.
"Buk-buk. Mas Rangga kemana buk?" tanya Ardi.
"Mas Rangga apa lagi sama kakak cantik (Alenna)?" Ardan ikut bertanya.
Bu Anis memutar badan. Berjongkok di depan dua putra kembarnya yang sudah memakai seragam sekolah.
"Masmu sama kakak cantik lagi bulan madu di Jakarta," terang Bu Anis.
"Bulan madu?" Ardan tampak tidak mengerti.
"Apa itu bulan madu, buk?" Giliran Ardi yang bertanya.
"Bulan madu itu rekreasi. Jalan-jalan bareng," jelas Bu Anis meyakinkan.
Mario-Anjani yang mendengar itu kompak saling tatap, lantas tersenyum. Terkagum dengan cara Bu Anis memberi pengertian pada putranya.
"Ardi sama Ardan biar tante Anjani sama om Mario yang antar ke sekolah ya," ujar Anjani. Nadanya keibuan, seperti sudah mantap memiliki anak sendiri.
__ADS_1
"Mau-mau-mau!" Ardi-Ardan kompak menjawab.
"Apa tante Anjani sudah menikah?" tanya Ardi dengan polosnya.
"Sudah, Sayang. Itu suaminya tante. Om Mario." Anjani mengusap pelan kepala Ardi.
"Yaah, nggak punya kesempatan deh!" celetuk Ardan seolah tahu maksud Ardi.
Anjani terkekeh pelan.
"Uwes. Kalian berdua ini ngomong apa, sih? Cepetan berangkat!" perintah Bu Anis.
Ardi-Ardan lekas digandeng tangan oleh Mario. Anjani terheran dibuatnya, karena tangan Anjani lebih dulu bersiap menggandeng Ardi-Ardan.
"Cie, ada yang cemburu sama anak kecil," bisik Anjani begitu Mario sudah di balik kemudi.
"Nggak tuh. Kamu kan sudah jadi milikku," jawab Mario dengan santainya.
Anjani tersenyum sambil melihat Ardi-Ardan duduk manis di kursi belakang.
"Masa sih nggak cemburu?" lirih Anjani yang ternyata didengar oleh Mario.
Tanpa permisi, Mario justru menghadiahi Anjani satu kecupan di pipi.
Anjani memelototi tindakan suaminya yang tak sungkan dengan keberadaan Ardi-Ardan. Yang dipelototi justru senyum-senyum sambil mulai tancap gas.
***
"Bu Anis pasti kepikiran kan sama Nak Rangga?" tanya Mommy Monika begitu Mario-Anjani dan Ardi-Ardan berangkat.
"Sedikit. Tapi Rangga itu sudah besar. Jago berantem juga. Badannya aja segede itu."
"Nak Rangga jago berantem?" Mommy Monika terkejut.
Mommy Monika jadi terkagum-kagum. Namun, fakta bahwa Rangga saat ini masih belum diketahui keberadaannya membuatnya khawatir.
"Saya yakin sekali kalau anak itu baik-baik saja. Buktinya saya nggak punya feel buruk. Insya Allah, Rangga selamat." Bu Anis berbaik sangka.
"Aamiin. Semoga pula pencarian Rangga segera membuahkan hasil. Saya nggak tega lihat Alenna. Sudah ingin tinggal berdua aja sama Rangga," ungkap Mommy Monika.
"Namanya juga anak muda, Bu. Apalagi mereka baru aja sah. Belum sempat malam pertama lagi." Bu Anis cekikikan.
Mommy Monika juga ikut tertawa. Pasalnya, sang putrilah yang sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera bisa menyatukan cinta dan raga dengan Rangga.
Putriku itu nurun siapa coba, batin Mommy Monika seraya geleng-geleng kepala.
***
Di Jakarta
Langkah Alenna tergesa menuju lift di perusahaan tempat Vero bekerja. Di belakang Alenna, Ranti berlarian kecil sambil menggeret kopernya. Ranti hendak menghalang-halangi Alenna yang berniat melabrak Vero.
"Len, biasanya lu tenang pas ada masalah. Kok sekarang malah keburu-buru gini, sih?" Ranti berhasil menghadang Alenna tepat di depan lift.
"Gimana aku bisa tenang kalau suamiku diculik Vero, Ran? Pokoknya aku mau ke atas. Bikin Vero mengakui perbuatannya!" tegas Alenna.
"Nggak inget lu apa kata Anjani? Nggak baik asal tuduh!" Ranti mengingatkan.
Alenna tidak menggubris lagi. Dia mengambil langkah ke samping dan mencuri celah masuk ke dalam lift yang tengah terbuka. Ranti hendak menyusul, tapi lebih dulu dipanggil oleh bagian resepsionis karena penampilan Ranti yang terlalu mencolok dengan koper liburannya.
Lantai teratas. Alenna tidak memedulikan sekretaris Vero yang mencegahnya masuk. Paman Jim, sekretaris Vero itu menangkap emosi di wajah Alenna, sehingga mencegahnya masuk ke dalam ruangan Vero.
"Maaf, Nona. Tuan Vero sedang tidak bisa diganggu," terang Paman Jim.
__ADS_1
"Pokoknya saya mau bertemu dengan Tuan Arvero Dewanggi sekarang juga. Vero-Vero-Vero! Cepat keluar!" Alenna malah teriak-teriak.
Paman Jim kebingungan. Sama sekali Paman Jim tidak pernah menduga bahwa Alenna memiliki kekuatan suara yang melengking. Saat pertemuan relasi, Paman Jim hanya mengenal Alenna sebagai sosok yang penuh wibawa dan tenang dalam menyikapi permasalahan. Kali ini predikat itu luntur sudah.
"Ada apa ini?" Vero membuka pintu ruangan.
Paman Jim menunduk lantas meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi. Sementara Alenna, dia langsung menghunuskan tatapan kebencian pada Vero.
"Paman Jim. Tolong gantikan aku meeting di lantai lima. Aku ada perlu sebentar. Tolong tinggalkan kami," perintah Vero dengan tenang.
Paman Jim menurut. Dia menunduk takzim bergantian pada Vero dan Alenna.
"Silakan masuk ke ruanganku, Alenna. Sekalian saja kau simak hafalan suratku. Hasil belajar bersama ustaz Barra." Senyum Vero merekah.
"Tidak perlu basa-basi, Vero. Cepat mengaku saja kalau kau yang sudah menculik Mas Rangga!" tuduh Alenna.
Vero menghela nafas dalam. Dia mendekat beberapa langkah ke hadapan Alenna.
"Sudah kubilang aku tidak tahu apa-apa tentang penculikan Mas Ranggamu. Oke. Aku memang cemburu karena kamu menikah dengannya. Tapi, tentang penculikan itu aku berani sumpah. Bukan aku pelakunya!" Sorot mata Vero meyakinkan.
Alenna terdiam. Dia masih berani menatap bola mata Vero. Terus mencari celah ketidakjujuran dari tatapan mata itu. Tapi gagal. Alenna tidak menemukan kebohongan.
Kalau bukan Vero, lalu siapa dong yang nyulik Mas Rangga? Batin Alenna bergejolak. Ingin rasanya berteriak karena frustasi tidak menemukan opsi tersangkanya.
Vero menangkap gegana yang melanda Alenna. Tatapannya melembut. Dia kembali melangkah maju. Tak ada satu meter kini jaraknya dengan Alenna.
"Sungguh bukan aku pelakunya. Jika kau mau, aku akan membantumu mencari Mas Ranggamu sampai ketemu. Aku berhutang budi karena kau sudah bersedia mendukung jalan hijrahku. Mengirimkan ustaz Barra untuk membantuku lebih baik. Jadi ..." Vero menggantung kalimatnya dan memegangi pundak Alenna. "Mau ya kubantu mencari?" Vero menatap lekat bola mata Alenna dari jarak dekat.
Alenna tertegun. Sebelumnya Alenna belum pernah menemui sosok Vero yang setulus ini auranya. Alenna pun mematung. Tak mampu berekspresi. Hanya mampu membalas tatapan bola mata Vero. Yah, Vero-Alenna tatap-tatapan deh.
Detik berikutnya, satu penggaris besi menepuk kedua tangan Vero yang menempel di bahu Alenna. Tanpa jeda untuk tahu siapa pelakunya, lebih dulu jidat Vero ditepuk menggunakan buku.
"Aduh!" Vero mengaduh.
"Terlalu dekat. Mundur tiga langkah. Jarak kalian harus dua meter." Sosok tampan memberi instruksi sambil sedikit menekan bahu Vero untuk menjauh dari Alenna.
"Kamu siapa?" tanya Alenna.
"Hei, kau penyusup ya?" Vero lebih dulu menimpali sebelum pertanyaan Alenna dijawab.
Si sosok tampan tersenyum. Kedua tangan dimasukkan saku celana. Disempatkannya melirik Alenna, lantas menunduk takzim padanya.
"Yang jelas aku tidak berada di pihakmu Tuan Vero. Aku datang kemari untuk memastikan bahwa Nona Alenna baik-baik saja," jawab si tampan dengan tenang.
Alenna memperhatikan si tampan yang mengaku ada di pihaknya itu. Dirasa-rasanya seperti pernah bertemu, tapi Alenna sungguh tidak ingat baik nama ataupun lokasi bertemunya.
"Nona Alenna pasti tidak mengenali saya. Kita hanya bertemu sebentar di masa lalu sebelum Nona Alenna terbang ke Jerman," terang si tampan.
"Apa kamu bodyguard tambahan yang disuruh ayahku?" tanya Alenna.
Si tampan terpejam sambil tetap tersenyum. Sungguh miris kisahnya. Tak dikenali tapi sempat menyimpan cinta untuk Alenna begitu lama.
"Kau siapa, sih?" Giliran Vero yang tak sabaran kali ini.
Mata si tampan terbuka. Senyum terus menghias wajahnya.
"Nona Alenna, Tuan Vero, perkenalkan. Nama saya Satria. Putra tunggal Paman Li," ucap Satria seraya kembali menunduk takzim.
Bersambung ....
Makin suka sama ceritanya??? LIKE-nya dong buat author. š
Hayuuuk yang belum baca CINTA STRATA 1 sampai episode bonus part, buruan baca. Semua kisah Rangga dan Alenna bermula dari sana.
__ADS_1
Bagi penggemar Meli dan Azka. Cap cus deh tengok novel terbarunya Kak Cahyanti yang judulnya MENANTI MENTARI. Spesial dibuat untuk penggemar Azka dan Meli. Warning! Hati-hati baper bacanya š Happy Reading All. Selamat akhir tahun. šš