Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 21


__ADS_3

Mobil Alenna tak langsung melaju menuju rumah. Usai pulang dari rumah Rangga, Alenna mampir dulu ke abang penjual es jeruk dalam wadah plastik. Alenna juga membeli cilok mercon, yang pedasnya bikin nagih.


Dua kudapan berhasil didapatkan, Alenna pun pulang. Alenna bergegas menuju kamar Ranti. Memberinya es jeruk dan cilok, lantas membagi kabar gembira pernikahannya dengan Rangga besok pagi.


"Ranti," panggil Alenna sembari mengetuk pintu.


Dengan sigap Ranti membuka pintu. Wajahnya teramat cerah ingin segera membagi kabar tentang posisi Juno.


"Len, Juno bilang malam ini dia ada di rumahnya. Gue juga udah cerita dikit kalau gue sama lu ada di kota ini. Juno ngizinin gue buat ke rumahnya," terang Ranti antusias.


Alenna berkedip cepat. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Ranti akan berterus terang pada Juno tentang keberadaannya di kota ini.


"Em, yaudah nanti malam kita ke sana," ajak Alenna.


"Gue sendirian aja, Len." Ranti menawar.


"No. Harus ada orang ketiga. Aku harus ikut!" tegas Alenna.


Ranti manyun. Sebenarnya dia telah berjanji pada Juno akan datang ke rumahnya sendirian malam ini. Namun, Ranti juga membenarkan ucapan Alenna. Tak lagi bisa menawar, Ranti pun setuju Alenna ikut menemaninya.


Mengambil jeda, Alenna menyuguhkan pada Ranti es jeruk dan cilok mercon yang baru saja dibelinya.


"Cobain. Ini semua kesukaanku," aku Alenna.


Tanpa ba-bi-bu lagi Ranti mencomot cilok mercon. Satu, dua, tiga, dan banyak lagi yang lainnya. Ranti doyan rupanya.


"Em, Ran. Aku punya kabar, nih." Alenna mengambil kesempatan untuk berbagi kabar bahagia.


"Kabar baik atau buruk? Kalau buruk gue nggak mau dengar," celetuk Ranti, lantas menyeruput es jeruk.


"Ish. Kamu ini, ya! Ini kabar baik, kok." Alenna mulai senyum-senyum. "Pernikahanku dengan Mas Rangga dimajukan. Kami akan menikah besok pagi."


Es jeruk yang baru saja diseruput disembur kembali. Terciprat tepat ke wajah Alenna.


"Ran! Ouhh!" Alenna berdiri, lalu berlarian menuju kamar mandi dan membersihkan wajahnya.


Ranti nyengir. Dia melihat kepergian Alenna sambil kembali menyeruput es jeruknya.


"Maaf, Len. Tadi gue kaget. Tapi gue bahagia kok, lu cepet nikah sama Mas Rangga," jelas Ranti begitu Alenna kembali.


Alenna mengangguk, lantas tersenyum. Dia tidak memberi tahu Ranti alasan pernikahannya mendadak dimajukan. Bisa malu Alenna menceritakan kekhilafan yang telah dilakukannya bersama Rangga, sampai-sampai Rangga harus merasakan tabokan sapu ijuk dan penebah karena ulahnya.


"Kalau besok pagi lu nikah, berarti ntar malam ya jangan keluyuran, Len. Kalau kata orang, dipingit. Dan lagi, ayah mommy lu pasti pulang, kan?"


"Iya, ayah dan mommy otewe balik ke rumah kok. Sore ini juga sampai. Terus lagi, aku bakal nemenin kamu ntar malam. Kita pakai sopir aja," terang Alenna. "Paling cuma bentar," imbuh Alenna.


"Aaaaaah, Len! Udah gue sendiri aja gpp, tapi pinjem sopir rumah lu. Gue yakin banget lu pasti nggak dibolehin keluar malam ini." Ranti mencari-cari alasan agar bisa berangkat menemui Juno seorang diri.


Kata-kata itu mulai menggoyahkan niatan Alenna untuk menemani Ranti. Sejurus kemudian, Alenna pun mulai menimbang.


"Udah, gue sendiri aja. Toh di rumah Juno juga ada bokapnya. Nggak bakal sendirian gue di sana. Gue diantar sopir lu, deh!" bujuk Ranti sekali lagi.


"Em ... oke deh. Tapi ingat, kalau ada yang penting langsung telepon aku. Satu lagi, jaga jarak! Jangan berduaan aja!" nasihat Alenna. Biar nggak kayak aku sama Mas Rangga tadi siang, hihi. Batin Alenna.


"Oke deh. Siap! Lu tenang aja, Len!"


Disodorkannya es jeruk wadah plastik ke depan wajah Alenna. Ranti senyum-senyum sambil mengedipkan matanya. Dua perasaan senang sedang melanda. Kabar Alenna yang akan menikah dengan Rangga besok pagi, juga dirinya yang akan menemui Juno malam ini seorang diri.


***

__ADS_1


Menjelang maghrib, Alenna begitu gelisah dengan kabar yang baru saja diterima. Beberapa menit lalu Mario menelepon, mengabarkan bahwa Anjani diculik oleh pimpinan anak perusahaan, Daniel.


"Len, tenang. Anjani orang baik. Pasti kakak lu bakalan berhasil nemuin istrinya itu." Ranti menenangkan.


"Kamu benar, Ran. Mario begitu mencintai Anjani. Pasti kakakku akan melakukan segala cara untuk bisa menemukannya."


Tak lama kemudian, Mommy Monika dan John datang bersamaan. Mereka tergopoh-gopoh masuk rumah. Rupanya kedua orangtua Alenna itu juga sudah mendapat kabar yang sama. Mommy Monika dan John teramat khawatir dengan keselamatan menantu kesayangan mereka itu.


"Belum ada kabar dari Mario?" tanya mommy pada Alenna.


"Belum, Mom." Muka Alenna masam.


"Duuuh. Gara-gara ayah, nih. Asal pilih Daniel buat menggantikan Leon. Eh ternyata sama-sama nggak tau diri," protes Mommy Monika pada John.


"Yahh, kena deh aku yang disalahin." John pasrah saja. Tak ingin berdebat dengan istrinya.


Dering telepon terdengar. Milik John, dan langsung diangkat olehnya. Mimik wajah John seketika cerah begitu mendengar kabar dari seorang profesional di seberang, orang kepercayaannya.


"Alhamdulillaah. Anjani ditemukan. Mario-Anjani dalam perjalanan pulang," ungkap John.


Alenna, Ranti, dan Mommy Monika kompak mengucap syukur lantas saling berpelukan. Mereka bertiga lega.


"Daniel, sudah ditangkap juga?" tanya Alenna.


John seketika menggelang.


"Dia kabur. Diketahui pula bahwa ada bos di balik ulahnya. Ayah akan usut kasus ini. Mereka sudah lancang mengusik kehidupan Mario-Anjani, bahkan hampir saja membuat anak perusahaan ayah berantakan." John tampak geram.


"Ayah, berarti posisi pimpinan kosong?" Alenna menyadarinya.


"Akan kusuruh Amanda untuk memegang kendali. Dia salah satu tangan kanan ayah. Mario akan membantu untuk sementara. Ayah yakin sekali Mario bisa membagi waktu dengan penyelesaian tugas akhir kuliahnya." John begitu percaya pada sang putra.


"Alenna, Ranti, Mommy. Ayo kita persiapan ibadah fardu maghrib. Kita doakan semua agar dimudahkan," ajak John.


Mereka semua mengangguk, lantas beranjak dari duduknya. Ketika hendak melangkah, John kembali menyampaikan hal penting pada Alenna.


"Alenna, bantu ayah mengurus Vero. Entah dapat kabar dari mana dia. Begitu mudahnya dia tahu bahwa dana yang diinvestasikan ke anak perusahaan digelapkan oleh Daniel. Jadi, usai menikah dengan Rangga besok, kamu kembali ke Jakarta. Lebih cepat, lebih baik!" perintah John.


Alenna berkedip cepat. Dia sedikit tidak terima dengan perintah sang ayah.


"Habis SAH langsung balik ke Jakarta? Terus malam pertamanya sama Mas Rangga gimana?" tanya Alenna dengan polosnya.


"Aduh! Anak ini!" John tepuk jidat mendengar jawaban putrinya.


Ranti dan Mommy Monika tak lagi bisa menahan tawanya. Mommy Monika kemudian mendekati John.


"Ayah, pengertian dikit dong sama Alenna. Masa iya langsung disuruh balik ke Jakarta. Kasihan, tuh lihat mimik wajah putri kita," rayu Mommy Monika.


Sikap pro dan tanggap situasi ditunjukkan Alenna. Menanggapi penuturan mommy, Alenna bergegas menunjukkan sikap memelas.


"Aaah, kalian berdua ini kompak betul. Yasudah. Senin pagi saja kembali ke Jakarta. Rangga akan menyusulmu ke Jakarta setelah selesai mengurus yang di sini."


"Horeeee!"


Momny Monika dan Alenna kompak berpelukan. Ranti yang sedari tadi menahan tawanya pun juga ikut-ikutan memeluk Alenna, ikutan senang.


***


"Pakai gamis ini, Ran. Kalau nggak cocok, kucariin di almarinya Anjani."

__ADS_1


"Makasih, ya Len. Pas balik ke Jakarta, gue bakalan borong gamis buat gue pakai. Temenin gue, ya!" pinta Ranti.


Alenna lekas mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Alenna segera keluar kamar untuk memberi tahu sopir agar mengantar Ranti ke tempat Juno.


"Alenna, mau kemana?" tanya Mario, sang kakak, yang kebetulan baru selesai menemani sang istri makan malam.


"Mau ngasih tau sopir buat nganterin Ranti ketemu Juno," terang Alenna sambil berjalan mendekati Anjani.


Hoho, Alenna tidak menyadari bahwa dia telah berkata demikian.


"Juno? Untuk apa? Ranti kenal Juno?" Anjani yang merasa kenal baik dengan Juno pun lekas bertanya.


Aduh. Barusan aku nyebut nama Juno, ya? Batin Alenna. Dia merutuki kecerobohannya.


"Eem ... Iya, Ranti dan Juno teman dekat," jawab Alenna sekenanya.


"Lebih baik kamu temani Ranti. Tidak apa-apa jika hanya sebentar. Sekalian kabarkan pernikahanmu dengan Rangga besok. Juno suruh hadir besok pagi," pinta Mario.


Alenna melotot. Dia sama sekali tidak menduga sang kakak akan begitu mudah mengizinkannya. Tentu saja Alenna bersedia ikut Ranti. Sejujurnya Alenna akan lebih khawatir jika Ranti pergi sendiri.


"Baiklah. Juno kuberi tahu. Janji nggak akan keluar lama deh," janji Alenna.


"Hati-hati di jalan. Pulangnya boleh nitip, nggak?" tanya Anjani pada Alenna.


"Kamu mau nitip makanan apa, Sayang. Biarkan aku yang membelikannya untukmu." Mario merangkul Anjani sembari bertanya keinginannya.


Belum sempat Anjani menjawab, Alenna sudah lebih dulu menyahuti.


"Gitu, ya. Mesra di depan adik sendiri. Awas kalau besok aku sudah sah jadi istrinya Mas Rangga," balas Alenna. "Eh, btw, apa Anjani lagi ngidam?" imbuh Alenna.


"Sst. Segera. Ini kami mau membuatnya," celetuk Mario dan langsung mendapat cubitan gemas dari Anjani, gegara filter katanya blong kayak rem tak terkendali.


Alenna cekikikan.


"Aku juga mau nyicil besok sama Mas Rangga," sahut Alenna lantas berlarian kecil keluar rumah untuk menemui sopir.


Anjani tertawa pelan. Sementara Mario geleng-geleng kepala.


"Kenapa Alenna jadi boros kata seperti itu? Berani juga dia terang-terangan. Mentang-mentang besok sudah nikah sama Rangga," cerca Mario.


Satu cubitan dilayangkan ke perut Mario.


"Aw. Kali ini cubitanmu sakit, Sayang!" protes Mario, yang justru malah merangkul Anjani semakin erat.


"Sama kayak suamiku. Filter katanya rusak," celetuk Anjani sambil berlalu menuju kamarnya.


Mario tertawa pelan lantas mulai mengekori Anjani menuju kamar. Tanpa sengaja, Mario sempat menangkap obrolan Ranti yang menyebut nama Juno. Kebetulan Ranti bertelepon Ria di dekat tangga. Ranti tidak menyadari bahwa Mario rupanya mendengar obrolan mereka, khususnya di bagian akhir.


"Iya, Juno. Sebentar lagi aku berangkat. Em, aku harap kita bisa segera menikah. Sehingga tidak terus terhantui kekhilafan yang kita lakukan bersama malam itu," ujar Ranti via telepon.


Mario, kakak Alenna itu menangkap jelas obrolan Ranti.


"Kekhilafan yang dilakukan bersama malam itu? Menikah? Apa Ranti dan Juno sudah ...."


Dugaan dalam pikiran Mario buyar lantaran Anjani menarik pelan lengannya. Meminta untuk segera menuju kamar. Mario pun mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Alenna tentang Ranti dan Juno. Mario memilih menuruti ajakan Anjani menuju kamar mereka.


Bersambung ....


Apakah pertemuan Ranti dan Juno akan lancar? Ataukah rahasia yang tersimpan justru akan terbongkar? Lalu, bagaimana pernikahan Alenna dan Rangga besok? Jadikah? Nantikan lanjutannya.

__ADS_1


Suka? LIKE-nya buat author dong! Terima kasih sudah mampir dan membaca. šŸ˜‰


__ADS_2