Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 28


__ADS_3

Satria melangkah mendekati Vero yang tengah ternganga. Selembar sapu tangan dikibaskan lantas diarahkan ke mulut Vero yang masih terbuka.


"Agar tidak kemasukan lalat, Tuan." Satria menutupkan sapu tangan ke mulut Vero.


Tangan Vero gesit merebut sapu tangan itu.


"Apa'an sih?" Vero kesal.


"Saya tahu Tuan Vero hendak berterima kasih. Namun, simpan saja kembali, Tuan. Tidak perlu sungkan," terang Satria sambil sedikit membungkukkan badannya.


Vero semakin kehilangan kata untuk membalas perlakuan sopan Satria. Sementara Alenna, dia sudah tidak bisa menahan tawa sejak sapu tangan mendarat di mulut Vero.


"Nona Alenna, sebaiknya kita kembali ke kantor. Akan sangat tidak baik jika Nona Alenna terus di sini. Khawatir Tuan Vero akan menyentuh pundak Nona lagi. Itu akan sulit bagi saya mencari penggaris besi untuk dipukulkan pada tangan lancang Tuan Vero," ujar Satria dengan santainya.


"A-apa kau bilang?" Vero tidak terima, tapi juga membenarkan perkataan Satria. Nah loh, bingung deh Vero sampai terbata gitu.


Alenna semakin tidak bisa menahan tawanya lagi.


"Satria, mari kita kembali ke kantor. Aku ingin berbincang banyak denganmu. Dan Vero, kalau benar bukan kamu yang nyulik Mas Ranggaku, aku sungguh minta maaf atas tuduhanku. Silakan lanjutkan belajar ngajimu dengan Mas Barra. Ada hadiah dariku jika kamu sudah berubah jauh lebih baik dan hafal sampai sepuluh surat pendek," janji Alenna.


Mendengar kata hadiah membuat Vero berpikiran lebih. Vero mengira hadiah yang akan didapatkannya berupa perlakuan romantis atau bahkan sebuah kesediaan untuk menikah dengannya. Vero tidak masalah jika menjadi yang kedua.


"Apa hadiah untukku?" tanya Vero antusias.


"Satu bungkus es jeruk dalam wadah plastik. Itu minuman berkelas dan kamu pasti senang menerima hadiah dariku. Pamit dulu ya. Assalamu'alaikum." Alenna putar badan dan melangkah menjauh.


"Assalamu'alikum, Tuan Vero. Belajar yang rajin ya. Es jeruk menantimu, lho!" goda Satria lantas ikut menjauh.


"Awas kau ya," desis Vero setengah berbisik.


Satria mendengarnya. Sebagai tanggapan, dia hanya menaik turunkan alisnya, melambaikan tangan, lalu mengekori Alenna.


Di dalam lift, Alenna masih senyum-senyum mengingat keusilan Satria pada Vero. Di sebelahnya, Satria hanya bisa memperhatikan tanpa bermaksud bertanya.


"Em, bagaimana kamu tau aku ada di kantor Vero?" tanya Alenna.


Satria memutar bola mata. Ya jelas taulah. Aku memperkirakan waktu pendaratan pesawat dengan suasana hatimu, Alenna. Apalagi ayah dengan mudah memberi info yang kuminta. Kamu sih nggak peka. Nggak mengenaliku, lagi. Batin Satria.


"Apa Paman Li yang memberitahumu?" tanya Alenna lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Satria.


"Eem, bisa dikatakan seperti itu. Oya, maaf. Ayah tidak bisa hadir sesuai yang Nona minta. Kemungkinan baru tiba besok pagi. Karena say- em maksud saya, karena ayah khawatir pada Nona, jadi saya diminta menggantikan untuk sementara," terang Satria.


Alenna mengangguk-angguk.


"Paman Li pasti khawatir aku sedih berlebihan karena kehilangan Mas Rangga," lirih Alenna.


Satria menangkap kesedihan di wajah Alenna. Lebih-lebih, Alenna sampai dengan mudahnya meloloskan bulir beningnya. Dengan sigap Satria menjulurkan sapu tangan agar Alenna menggunakannya.


"Usap bulir berharga itu, Nona. Saya sungguh tidak ingin melihat Nona bersedih," ucap Satria.


Alenna mendongak. Sekilas dia menatap bola mata Satria, juga senyum manis di wajah tampannya. Sedikit tersentuh juga dengan perlakuan manisnya.


"Terima kasih." Diambilnya sapu tangan itu. "Kamu punya banyak stok sapu tangan, ya?" imbuh Alenna.


"Hanya sebatas jas dengan kantong ajaibnya. Ya, sesekali ada saja barang berguna yang bisa saya keluarkan untuk Nona. Hehe." Satria bercanda.


Benar saja, Alenna tertawa pelan dengan humor recehnya. Cukup membuat Satria ikut tersenyum lega dengan tawa ringan itu.

__ADS_1


Apa sebaiknya kukatakan saja dimana Rangga berada? Ah, tidak. Pelaku utama kejahatan belum ditemukan. Aku tidak boleh lengah. Meski Alenna mustahil kuraih cintanya, tapi demi kemanusiaan aku akan membantu Alenna dan suaminya. Batin Satria.


Ting!


Pintu lift terbuka. Wajah Rantilah yang pertama kali dilihat Alenna.


"Len, lu baik-baik aja? Duh, gue ditahan di bagian resepsionis karena dikira bawa bom dalam koper. Ayo, mending balik dulu ke apartemen! Loh, yang tampan ini siapa, Len?" Ranti menunjuk Satria sambil senyum-senyum centil.


"Sst. Nggak usah kecentilan deh. Ingat Juno!" bisik Alenna seraya mendekat.


Satria melangkah maju dengan elegan. Senyumnya terus mengembang.


"Nona Ranti, perkenalkan. Nama saya Satria. Putra tunggal Paman Li. Sementara ini saya menggantikan ayah saya untuk menjadi tangan kanan Nona Alenna," terang Satria dengan sopan, lantas membungkukkan badannya.


"Hiyaaa! Len, dia tau nama gue, Len!" Ranti girang.


"Jangan norak ah, Ran. Ingat Juno!" desis Alenna sambil mencubit pelan lengan Ranti.


"Ish. Iya-iya." Ranti hanya bisa manyun begitu diingatkan tentang Juno.


Kembali Satria menyela dengan sopannya.


"Mohon maaf menyela Nona-nona. Untuk Nona Ranti sudah saya siapkan mobil untuk kembali ke apartemen. Seharian ini bisa beristirahat tanpa harus ke kantor. Ambil jeda istirahat sehari akan lebih efektif agar lebih jernih dan giat bekerja esok hari. Silakan, Nona Ranti. Saya bantu bawakan kopernya menuju mobil."


Ranti dibuat terpesona dengan perlakuan Satria. Sopan banget sumpah, begitulah pikirnya.


"Kalau aku, apakah aku harus istirahat juga di apartemen? Batinku sedang terguncang karena belum menemukan titik terang keberadaan Mas Rangga," aku Alenna.


"Mohon maaf Nona. Pilihannya hanya ada dua. Nona Alenna ke kantor dengan saya yang akan menemani segala aktivitas pertemuan, atau Nona Alenna kembali ke apartemen dengan saya yang akan mengekori ke setiap sudut apartemen Nona sambil membahas pekerjaan kantor di sana," tutur Satria sopan.


"Benar sekali Nona. Sofa, dapur, kamar tidur, bahkan kamar mandi sekalipun," sahut Satria tanpa mengurangi senyumannya.


Alenna bergidik membayangkannya. Cepat-cepat dia menggeleng.


"Oke deh. Kita ke kantor. Tau aja sih kalau hari ini ada meeting penting dengan client!" gerutu Alenna. "Aduh, tapi kalau aku ntar nggak fokus gimana? Pikiranku bener-bener nggak tenang mikirin Mas Rangga!" imbuhnya.


"Tenang, Nona. Saya sudah di-briefing banyak hal oleh ayah saya guna membantu Nona Alenna. Tolong. Percayalah pada saya," ucap tulus Satria.


Obrolan terjeda karena ada beberapa karyawati perusahaan Vero yang histeris melihat wajah tampan Satria. Hanya sebentar, dan Satria juga tidak banyak memberi tanggapan.


"Baiklah. Eh, tapi di mana bodyguard suruhan ayah?" Alenna terheran karena tidak melihat orang-orang suruhan ayahnya yang penampilannya begitu mencolok.


"Sudah saya urus Nona. Mereka tetap mengawasi dengan jarak terkontrol. Bedanya, pakaian mereka sudah seperti orang pada umumnya agar Nona Alenna lebih nyaman."


Lagi-lagi Satria menyahuti dengan santai tanpa memudarkan senyumnya. Benar-benar terlatih bersikap tenang, berpikiran kritis, dan penuh ide yang siap direalisasikan. Wajar saja, setahun menjadi tangan kanan seorang mafia terpandang telah cukup untuk melatih dirinya. Namun, itu adalah masa lalu. Baginya, cukuplah mengambil baik-baiknya dan membuang jauh-hauh keburukannya di masa lalu itu.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Alenna.


"Nona silakan menuju kantor. Pertemuan penting baru dimulai pukul 10. Ada waktu sekitar satu jam untuk bersiap. Dokumen yang diperlukan sudah siap di atas meja. Nona Alenna tidak perlu kembali ke apartemen untuk berganti pakaian. Sudah saya siapkan pula baju ganti di ruangan Nona Alenna."


"Ba-baju ganti?" Mendadak Alenna merinding karena Satria menyiapkan segalanya dengan detil sampai ke pakaian gantinya.


Rupanya Satria menangkap prasangka buruk Alenna padanya. Cepat-cepat dia membuat penjelasan pada Alenna.


"Mohon maaf, Nona. Baju yang saya siapkan adalah baju baru yang saya minta siapkan pada sekretaris menejer. Tentunya sudah disesuaikan dengan ukuran tubuh Nona Alenna. Lengkap dengan hijab dan brosnya. Sudah disetrika pula," jelas Satria dengan lengkapnya.


Alenna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengacungkan jempolnya pada Satria.

__ADS_1


"Baiklah. Ayo berangkat. Meskipun besok Paman Li tiba, kamu tetap bekerja di kantorku, ya? Aku suka sekali dengan caramu bekerja. Itu sih kalau kamu mau." Alenna menawarkan.


"Dengan senang hati, Nona." Satria menjawab dengan sopan seraya menunduk takzim. Yees! Yuhuuu! soraknya dalam hati.


Begitulah. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Tetap menjalankan rutinitas seperti biasanya, meski di dalam hati dan pikiran masih tersimpan kekhawatiran pada sosok Rangga. Hingga mendekati empat puluh hari berlalu, Satria belum juga membuka suara atas misi penyelamatan Rangga yang direncanakannya bersama Paman Li.


Di tempat Rangga disembunyikan, ketiga penculik dan si pilot sudah berubah baik atas kegigihan Rangga. Mereka berempat sudah rajin sholat dan mulai menghafal surat-surat.


"Bos Rangga, nanti kami berempat beneran dibolehin kerja di ruko?" tanya si sopir.


"Tentu saja boleh dong. Satria juga sudah setuju kalau kalian bekerja bersamaku," sahut Rangga.


"Lagipula anak buah Bos Satria juga banyak kok. Bisa suruh yang lain. Alhamdulillaah. Semoga setelah jalan hijrah ini aku bisa dipertemukan juga dengan jodoh," doa si bekas sayatan dan langsung diaamiini oleh si sopir, si pilot, dan si bertato.


Paman Li yang kebetulan singgah tadi pagi hanya bisa tersenyum bangga melihat itu semua. Selama hampir empat puluh hari ini Paman Li sukarela mengurus semua keperluan Rangga di sana. Paman Li rela sering ambil cuti kerja demi menengok Rangga. Apalagi di dekat Alenna sudah ada sang putra yang jelas bisa diandalkan untuk membantu keperluan Alenna di Jakarta.


"Tuan Rangga, apakah Tuan merindukan Nona Alenna?" tanya Paman Li ketika keempat orang lainnya sudah pergi.


"Tentu saja, Paman. Sudah hampir empat puluh hari kami berpisah. Tapi, aku pun tidak bisa egois. Aku paham keadaan, jadi aku rela menuruti rencana yang dibuat oleh putra Paman Li." Tidak ada beban saat Rangga berkata demikian. Keikhlasan hatilah yang menjadi dasar.


"Insya Allah, tak akan lama lagi Tuan Rangga akan kembali bersatu dengan Nona Alenna." Paman Li membesarkan hati Rangga.


Sementara itu di Jakarta. Selama hampir empat puluh hari ini Satria terus berada di samping Alenna. Membantu urusan bisnis sembari tetap menjalankan misi menemukan dalang utama yang hendak mencelakai Rangga.


Pagi tadi, Satria sudah mendapat titik temu. Usahanya berbuah meski telah memakan waktu sekian lamanya. Satria segera akan menyusun rencana baru untuk bertemu dengan si dalang utama yang berniat mencelakai Rangga. Namun, sebelum itu, Satria berniat membawa Alenna menuju tempat di mana Rangga berada.


"Sepertinya suasana hati Nona Alenna sedang bagus, ya? Ini, setangkai mawar putih agar Nona lebih bersemangat pagi ini." Satria mengganti bunga mawar yang telah layu di meja kerja Alenna dengan setangkai mawar yang dibawanya.


Alenna tersenyum sambil menopang dagunya memandangi Satria. Mendadak saja Satria jadi salah tingkah dipandangi seperti itu oleh Alenna.


"Satria, terima kasih. Selama ini kamu selalu menyemangatiku. Andai aku belum menikah, pastilah kamu sudah mengisi hatiku sepenuhnya," ungkap Alenna.


"Eish, saya mohon jangan katakan itu Nona. Saya jadi besar kepala nanti. Hihi." Fix, Satria salting, tapi dia sadar diri dengan status Alenna.


Alenna berdiri. Dia melangkah menuju jendela, melihat hamparan bangunan dan gedung-gedung menjulang di luaran sana.


"Aku senang banyak berita gembira yang kudengar kemarin. Vero sudah benar-benar berubah baik atas bimbingan Mas Barra. Lalu, Ranti akan segera menikah dengan Juno dua minggu lagi. Juno akan pindah kuliah di Jakarta, sekaligus akan memegang ruko pemberian ayahnya. Sungguh kabar membahagiakan bagi Juno-Ranti. Kakakku, Mario, juga tengah berbahagia karena Anjani tengah mengandung buah hati mereka. Akhir pekan ini aku akan pulang untuk memberi ucapan selamat pada mereka."


Wajah ceria Alenna mendadak sendu setelah mengungkap kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Kini pikirannya kembali tertuju pada Rangga. Tak dapat didustai lagi bahwa susah sekali bagi Alenna menahan gejolak rindu yang meraja. Bulir bening yang mengalir di pipinya menjadi bukti betapa berat rindu yang ditabungkan untuk Rangga.


Satu sapu tangan dikeluarkan. Satria tak lagi menawarkan, melainkan langsung mengusap bulir yang mengalir di pipi Alenna. Satria dengan lembut mengusapnya, sambil tetap menyuguhkan senyum untuk Alenna.


"Maaf, Nona. Bisakah Nona Alenna hari ini ikut saya? Saya harap, setelah ini Nona Alenna tidak berganti membenci saya," pinta Satria.


Alenna mengambil alih sapu tangan itu.


"Kemana?" tanya Alenna.


"Akan saya jelaskan nanti. Nona bersedia ikut?" Satria meminta kesediaan Alenna.


Alenna mengangguk. Dia bersedia ikut Satria ke tempat yang dimaksudkan.


Bersambung ....


Suka? LIKE-nya dong buat author.


Selamat tahun baru pembaca setia yang baik 😘 Bagi yang belum baca CINTA STRATA 1, capcus baca dulu. Semua kisah bermula dari sana. Tunggu juga dua part bonus dari author. Hayuuuk, kepoin juga kisahnya Meli dan Azka. Author yakin nih, pasti di sini banyak penggemar mereka berdua. Hihi. Capcus ke novel kak Cahyanti yang baru, MENANTI MENTARI..šŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2