Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 38


__ADS_3

Betapa jiwa pebisnis telah mendarah daging pada diri Alenna. Tak mengherankan, karena sang ayah memiliki banyak perusahaan dan kepemilikan saham di mana-mana. Saat ini pun John dan Mommy Monika tinggal di Jerman demi mengurus kepemilikan saham mobil yang baru didapatkan.


"Alhamdulillaah, yang ini beres. Banyak kerjasama yang harus diperbarui. Untung saja aku dipindah ke sini. Bisa lepas dari Vero. Hehe. Semoga Mas Barra masih sabar membimbingnya berhijrah."


Alenna meraih gelas dan meneguk sebagian isinya. Punggung disandarkan demi merasakan kenyamanan setelah bekerja. Tetiba saja Alenna kembali teringat dengan kecemburuannya siang tadi.


"Astaghfirullah. Gimana mau nggak cemburu. Andin cantik. Mas Rangga juga sepertinya nyaman banget ngobrol sama dia," gumam Alenna.


Brak!


Mendadak saja gelora rasa cemburu itu bangkit lagi karena pikiran yang tidak-tidak. Refleks saja kedua tangan Alenna menggebrak meja sangking emosinya.


"Pokoknya aku harus menjaga hati Mas Rangga. Eh, tunggu! Kenapa aku harus takut. Bukankah aku ini istri sahnya Mas Rangga? Aaaah, tapi kan sekarang lagi tren yang namanya pelakor. Gimana dong? Aduh!"


Sekali waktu Alenna berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, kekhawatiran berlebih sungguh tak bisa dipegang kendali. Tak dapat dielakkan lagi pikiran Alenna telah kemana-mana saat ini.


"Oya, curhat aja ke Paman Li sekalian minta pendapat," ide Alenna.


Alenna beranjak. Begitu sampai di depan pintu, langkahnya terhenti karena teringat bahwa Paman Li telah diminta sang ayah untuk menjadi sekretaris sekaligus tangan kanan kakaknya, Mario.


"Yah. Lupa kalau sejak tadi pagi Paman Li sudah kerja sama Mario. Terus sekretaris baruku mana? Masa iya aku ngerjain semua sendirian?"


Tak ingin berlama-lama, Alenna meraih smarthphone dan langsung menelepon kakaknya.


"Halo!" sapa Alenna.


"Salammu mana?" sahut Mario via telepon.


Alenna nyengir.


"Assalamualaikum kakakku yang tampan."


"Wa'alaikumsalam. Ada apa meneleponku?"


"Ish. Gitu amat sih nadanya. Jangan galak-galak sama adik sendiri!" protes Alenna.


Di seberang, Mario tertawa ringan.


"Kapan kau dan suamimu mau mengunjungi kakak iparmu? Rumah kami baru, dan kau belum menengokku!" ujar Mario.


"Iya-iya. Nanti malam aku ke sana sama Mas Rangga deh!"


"Tidak bisa. Aku mau kencan!" sahut Mario.


Gemas sekali Alenna dengan nada bicara sang kakak.


"Kencan terus sama Anjani! Bukankah nanti malam ada pertemuan dengan kalangan pebisnis, ya? Mau absen? Aku aduin ke ayah ntar!" ancam Alenna.


"Nah itu kau tau! Terus ngapain mau datang ke rumah nanti malam? Jangan-jangan kau sendiri yang mau absen datang? Aku aduin ke ayah ntar!" Giliran Mario yang mengancam.


Alenna cemberut. Sang kakak selalu bisa membalas kata-katanya.


"Aku utus perwakilan aja nanti malam. Tanpa sekretaris, aku kerepotan," dalih Alenna.


"Ajak saja suamimu," usul Mario.


Kepala Alenna menggeleng. Tidak akan pernah Alenna memamerkan suaminya yang gagah kepada banyak orang. Bisa-bisa dengan mudahnya suaminya akan dilirik sana-sini.


"Sudah-sudah. Kamu saja yang datang nanti malam. Terus sekarang mana sekretaris baruku. Katanya segera datang. Besok itu jadwal padat banget di kantor. Masa iya aku harus mondar-mandir sendirian ke ruang-ruang kepala bidang? Kayak setrikaan dong mondar-mandir!" cerocos Alenna.


Lagi-lagi Mario tertawa ringan di seberang.


"Besok pagi dia tiba! Sambut dengan baik. Jika aku mendapat laporan dia tidak betah, kutarik juga dia agar menjadi tangan kananku bersama Paman Li."


"Kau ini. Iya-iya. Akan kusambut dengan baik dia di sini. Yaudah kututup!"

__ADS_1


"Tunggu!" cegah Mario.


"Apa?"


"Jangan lupa hadir ke resepsi pernikahan Meli di Jogja!" Mario mengingatkan.


"Siap. Aku datang kok. Barengan ya berangkatnya," pinta Alenna.


"Ti-dak. Aku sekalian mau kencan bersama Anjani. Dan ... bukankah kau takut jika Mas Ranggamu akan kembali melirik Anjani, hm? Mau memberi celah?" canda Mario.


"Nggak! Aku sama Mas Rangga berangkat sendiri saja. Assalamu'alaikum!"


Alenna buru-buru menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban salam dari Mario. Bisa ditebak oleh Alenna, sang kakak pasti tengah tertawa menang di kantornya.


***


Pulang kantor, Alenna menuju ruko. Mengantar Ranti, untuk selanjutnya bersama Rangga pulang ke rumah. Sudah jadi rutinitas Alenna seperti itu sehari-harinya.


Ranti dan Juno tinggal di ruko. Ranti sama sekali tidak masalah dengan status Juno yang masih seorang mahasiwa. Apalagi Juno telah berhasil menjalankan bisnis perlengkapan hidroponik dan mini cafenya, juga telah memiliki beberapa karyawan sendiri di sana. Berbeda dengan Alenna dan Rangga yang memilih tinggal di apartemen. Ruko ditempati oleh keempat anak buah Rangga.


"Len, lu ke Jogjanya lama nggak?" tanya Ranti sebelum turun dari mobil.


"Nggak kok. Cuma ke resepsi pernikahannya Meli sama Mas Azka aja. Kenapa?"


"Ya nggak kenapa-kenapa, sih. Kirain mau sekalian liburan. Kan mumpung!" Ranti memainkan sebelah alisnya.


Tak disangka, Alenna justru setuju dengan ide Ranti.


"Thanks, Ran. Aku ajak aja Mas Rangga liburan. Besok sekretaris baruku kuajak sekalian. Biar nggak perlu repot-repot cari sopir. Dua hari cukup. Eh, tapi ada jadwal pertemuan penting nggak ya di hari minggu?" Alenna gesit mengecek jadwalnya.


"Ssut. Reschedule aja. Gue bantu urus. Itulah gunanya Ranti lu ajak pindah kerja!" Ranti meyakinkan.


"Aha. Harusnya kau saja yang jadi sekretarisku, Ran. Aku jadi nggak perlu repot-repot!"


Mobil Alenna menepi di halaman parkir ruko milik Rangga. Akses parkirnya luas, begitu pula dengan rukonya yang juga terlihat besar dan luas dibanding ruko-ruko lainnya.


"Kodein bos, sekarang!" bisik si bekas sayatan pada si mantan pilot.


"Waduh, iya. Bisa gawat kalau bos cantik tau kalau bos Rangga sedang bersama Bu Andin di lantai dua," sahutnya.


Langkah si mantan pilot sampai di lantai atas dengan sedikit tergopoh.


"Waduh! Beneran kan. Ini kalau nggak dikodein, bos cantik bisa makin manyun sama bos Rangga. Itu kenapa juga Bu Andin sukanya duduk deket-deket Bos Rangga, sih!" gerutunya.


Tanpa ba-bi-bu lagi, si mantan pilot langsung memberi tahu Rangga kalau Alenna datang.


"Andin, maaf. Istriku datang. Dilanjut besok lagi, ya. Restock sepatu bisa segera kamu lakukan mulai besok. Untuk harga sesuai kesepakatan," terang Rangga.


"Terima kasih banyak, Mas. Em, sepertinya Mas Rangga terburu-buru sekali begitu tau istrinya datang. Apa mungkin Mas Rangga ini tipe suami takut istri?" tanya Andin terang-terangan.


"Ouh ya tidak dong. Sudah dulu, ya. Aku mau nemuin istriku dulu," ujar Rangga.


"Baiklah, Mas. Aku pamit pulang dulu."


Andin pamit. Setelah siang tadi basa-basi di cafe Juno, ternyata Andin kembali menemui Rangga di ruko sepatunya. Masih tentang reseller sepatu. Sebatas pekerjaan. Yang mengkhawatirkan adalah sikap Andin yang terlalu dekat dengan Rangga, juga pakaian Andin yang sedikit terbuka.


"Selamat sore Mbak Alenna. Saya pamit pulang dulu." Andin menyapa Alenna saat berpapasan di depan ruko.


Alenna membalas sapaan Andin dengan senyum sekilas, lantas bergegas menemui Rangga di lantai atas.


"Itu cewek yang tadi di cafe Juno kan, Mas?" tanya Alenna basa-basi.


"Iya. Sayangku nggak mau salim dulu, nih?" Rangga mengingatkan.


Alenna meraih tangan Rangga dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Sudah nggak cemburu kan?" Iseng saja Rangga bertanya.


"Masih! Dikit!" sahut Alenna sambil cemberut bibirnya.


Gemas sekali Rangga dengan sikap Alenna. Mendapati sang istri yang sedang membuang muka, Rangga pun iseng merangkulnya dari belakang.


"Ish, Mas Rangga pasti mau modus ini!" Alenna meronta hingga tangan Rangga terlepas.


"Istriku kenapa jadi galak begini, ya? Suami sendiri mau modus kok dilarang. Terus harus modusin siapa ini? Atau .... modusin Andin aja, ya!" celetuk Rangga, sengaja.


Alenna seketika menatap tajam ke arah Rangga.


"Jangan coba-coba! Lusa, habis dari resepsinya Meli di Jogja, kita berdua liburan. Biar hati Mas Rangga kokoh lagi untukku. Nggak boleh nolak!" tegas Alenna.


Seruan Alenna tidak terdengar seperti sebuah ancaman di telinga Rangga. Benar-benar Rangga sudah paham sikap Alenna. Meski demikian, Rangga yakin betul bahwa Alenna begitu mencintainya.


"Iya, Mas nggak bakal nolak. Tapi senyum dulu dong! Kalau pergi liburan model gini bisa-bisa aku makin mabuk darat. Atut. Ada yang galak!" canda Rangga.


Seketika Alenna menghambur memeluk Rangga.


"Nih aku senyum. Heeem!" Alenna menampakkan deretan gigi putihnya sambil bermanja ria di dekat Rangga.


"Alhamdulillaah. Istriku sudah normal lagi. Ayo pulang! Habis maghrib nanti Mas mau cek lagi hafalan suratmu. Siap?"


"Siap Mas Ustaz!" sahut Alenna dengan ceria.


***


Pagi pun tiba. Rutinitas kembali dijalani seperti biasa. Mobil Alenna menepi di depan ruko Rangga. Biasanya Alenna turun lebih dulu untuk menyapa keempat anak Rangga. Kali ini tidak dilakukan karena Alenna sedikit kesiangan.


"Pagi ini aku terlalu asyik masakin opor ayam buat Mas Rangga, sampai lupa kalau hari ini sekretaris baruku mulai bekerja. Oke, nanti aku sekalian minta dia buat bantu mengemudikan mobil ke Jogja. Itung-itung sambil sedikit bahas kerjaan di jalan. Hehe." Plikiran Alenna merancang.


Posisi Alenna sebagai seorang pimpinan cukup disegani karyawan. Meski karyawannya tak sebanyak saat bekerja di kantor induk, tapi Alenna lumayan senang dan menjalani profesinya dengan penuh kesungguhan.


"Bu Alenna, sekretaris baru ibu sudah menunggu di ruangan ibu," terang wakil direktur.


"Aku akan segera menemuinya. Oya, Pak. Tolong bantu handle meeting yang untuk besok, ya. Nanti berkasnya akan disiapkan sekretaris baruku. Minggu depan jadwal evaluasi dan monitoring rutin. Tolong siapkan dokumen yang dibutuhkan. Perwakilan dari induk perusahaan akan datang," perintah Alenna.


"Siap, Bu. Akan saya minta masing-masing koordinator bidang untuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan."


Langkah Alenna kembali diayunkan. Kali ini langsung menuju ruangannya. Dilihatnya pintu ruangan dalam keadaan terbuka.


"Tidak ada siapa-siapa. Katanya sekretaris baruku sudah datang. Dimana dia?" gumam Alenna.


Bola mata Alenna menangkap bunga cantik di atas meja. Terlihat segar. Sungguh menawan.


"Mawar putih?" lirih Alenna.


"Selamat pagi, Nona Alenna."


Alenna menoleh. Langsung tak percaya dengan sosok tampan yang dilihatnya.


"Semoga mawar putih itu cukup menjadi salam perkenalan dari saya sebagai sekretaris baru Nona Alenna. Saran saya pagi ini, Nona Alenna jangan lupa untuk berkedip. Jangan sampai kalah dengan bintang-bintang yang pesonanya menghias malam dengan mengumbar kerlipan di langit. Salam homat dari Satria." Satria menunduk takzim.


"Satria," lirih Alenna.


"Mau peluk?" Satria menawarkan.


Entah apa yang ada di pikiran Alenna pagi itu. Begitu ditawari pelukan, Alenna justru mengangguk.


Bersambung ....


Tarik nafas, hembuskan. 😁 See u in the next episode. LIKE-nya dong buat author.


Ayo rame-rame ke resepsiannya Meli-Azka di Jogja. Mario-Anjani juga hadir lho. Merapat ke novel MENANTI MENTARI karya Kak Cahyanti. Dukung kami, ya šŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2