Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 31


__ADS_3

Jemari Rangga tidak tampak kikuk saat membantu menyisir rambut panjang Alenna. Wajar saja, Rangga memang sudah terbiasa membantu si adik kembar Ardi-Ardan saat hendak berangkat sekolah. Setelah hampir empat puluh hari tak bersua, ini saatnya bagi seorang Rangga untuk menunjukkan kasih sayangnya pada sang istri yang begitu dicintainya.


"Jadi berasa dimanja suami deh," ungkap Alenna.


"Mas kan lama banget jauh-jauhan sama kamu. Ya sekarang pengennya deket-deket melulu," celetuk Rangga.


Sembari menyisir rambut Alenna, Rangga mulai berkisah. Menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Tentang perasaannya yang santai-santai saja saat diculik, tentang pengalaman naik helikopter, juga tentang misi penyelamatan yang direncanakan Satria bersama Paman Li.


"Tunggu, Mas. Jadi alasan Satria nyulik Mas Rangga demi mengelabui penculik sebenarnya? Satria sudah menyelamatkan Mas Rangga? Benar begitu? Masa iya sih?" Alenna seolah belum mempercayai cerita Rangga.


Rangga tersenyum. Dia membalik tubuh Alenna lantas menyentil keningnya.


"Aw! Ihh, Mas Rangga usil deh!" Alenna cemberut, tapi langsung senyum-senyum sendiri.


"Sayang, Allah yang menyelamatkan mas, lewat perantara Satria dan Paman Li. Kamu juga harus bersyukur karena bisa mengenal orang-orang baik seperti mereka," nasihat Rangga.


"He'em. Satria sama Paman Li memang baik. Apalagi Satria. Selama hampir empat puluh hari ini, Satria selalu di sampingku, Mas. Sering menghibur, bahkan bantuin bisnis di kantor juga. Eh, ternyata Satria juga berjasa menyelamatkan Mas Rangga. Satria memang penuh kejutan, deh." Alenna memuji-muji Satria.


"Bangga banget sih istriku ini sama Satria, hm." Rangga mencubit gemas hidung Alenna. "Kasih bonus sana buat Satria sama Paman Li. Kamu kan bosnya!" imbuh Rangga.


Alenna terdiam. Bola matanya menjelajah ke setiap inci wajah sang suami.


"Bonus apa, Mas?" Alenna tampak berpikir kali ini.


"Naik gaji mungkin," sahut Rangga.


Alenna mengangguk dengan ide spontan itu.


"Boleh juga sih. Tapi kalau itu udah pasti ayah yang akan ngasih bonus sama mereka. Gampang deh masalah itu, Mas. Em ... tapi sepertinya aku harus minta maaf juga sama Satria. Aku sempat berburuk sangka padanya. Kukira Satria mau mencelakai Mas Rangga. Sempat nuduh Vero juga sebagai dalang penculikan Mas Rangga," aku Alenna.


Rangga menghela nafas dalam. Semakin paham saja Rangga dengan sikap Alenna. Sang istri memang terkadang suka terburu-buru. Keinginannya pun kadang tidak mau nanti-nanti diwujudkan. Juga masih ada sikap kekanakan. Akan tetapi, Rangga menerima apa pun kondisi, sikap, dan tabiat sang istri. Jangankan sang istri yang usianya lebih muda dari dirinya. Rangga sendiri pun kadang masih suka bersikap kekanakan, apalagi kalau sudah menyangkut soal ketinggian.


"Yasudah. Kamu bisa minta maaf pada mereka. Jangan mudah suudzon lagi sama orang, ya Sayang. Mari kita sama-sama lebih dewasa. Mengeratkan ikatan cinta kita dalam balutan penuh ridho dari-Nya. Kita harus sama-sama berbenah setelah ini. Bisa jadi ini teguran buat kita karena sempat berbuat khilaf di masa lalu," terang Rangga.


Malu rasanya jika harus mengingat kekhilafan di masa lalu. Apalagi Alenna yang saat itu begitu tergila-gila dengan pesona tubuh seorang Rangga. Sehari sebelum pernikahan mereka pun Alenna bahkan masih belum bisa menahan dirinya untuk tidak dekat-dekat dengan Rangga.


"Mas Rangga, terus yang sebenarnya mau mencelakai Mas apa sudah ketemu?" tanya Alenna. Dia khawatir suaminya itu masih dalam bahaya.


"Kata Paman Li tadi pagi, anak buah Satria sudah menemukan dalang utamanya. Tapi Paman Li nggak mau ngasih tau siapa. Katanya sih Satria sendiri yang akan mengurusnya," terang Rangga.


Mendadak saja pikiran Alenna terpecah begitu mendengar bahwa Satria sendirilah yang akan mengurus dalang utama yang berniat mencelakai Rangga. Di satu sisi Alenna mengkhawatirkan Rangga, tapi di sisi lainnya Alenna juga mengkhawatirkan Satria.


"Sayang, kenapa bengong?" Rangga mengusap pelan puncak kepala Alenna.


Alenna tersenyum kikuk. Lamunannya buyar sudah. Bisa-bisanya Alenna kepikiran Satria saat sedang berdua bersama Rangga.


"Nggak apa-apa kok, Mas. Eem ... Mas Rangga kan takut ketinggian. Aku lagi ngebayangin aja waktu Mas Rangga teriak-teriak naik helikopter. Hihihi. Pasti lucu!" Alenna cekikikan kali ini.


Melihat tawa sang istri membuat Rangga turun tangan untuk mengusili.


"Kucubit hidungmu sini! Heeem! Gemes deh. Masa suami sendiri diketawain!" Rangga gemas. "Mau kubawain kecoa hasil buruan semalam?" canda Rangga.


"Iiiiih, Mas Rangga! Katanya nggak boleh dendam. Mas Rangga sengaja nih ntar mau ngetawain balik. Nggak mauuuu!"

__ADS_1


Alenna sok ngambek sambil membuang muka. Sementara Rangga hanya cekikikan melihat mimik wajah Alenna yang jarang sekali ditemuinya seperti itu. Tak lama kemudian, Alenna justru mengubah mimik wajah karena rasa penasarannya.


"Btw, sejak kapan Mas Rangga punya kebiasaan berburu kecoa? Bisa kasih tutorial cara berburunya?"


Mulai deh pertanyaan aneh Alenna. Rangga hanya tepuk jidat kalau sudah begini. Tak ingin berlama-lama lagi, Rangga membantu sang istri memakai jilbabnya. Usai bersiap semua, Alenna dan Rangga sore itu menuju ke ruang tengah.


Wajah Paman Li berseri-seri melihat kedekatan Alenna dengan Rangga. Sejenak, kekhawatiran terhadap sang putra sedikit mereda.


"Alhamdulillaah. Senang sekali melihat Nona Alenna dan Tuan Rangga kembali bersatu," ungkap Paman Li seraya bergabung di ruang tengah.


Alenna dan Rangga saling tatap dan kompak tersenyum. Tak lupa pula mengucap syukur lantas berterima kasih pada Paman Li.


"Nona Alenna, Tuan Rangga, besok adalah akhir pekan. Nona dan Tuan akan kami antar ke Jember sesuai permintaan Tuan Besar. Keluarga di sana sangat merindukan kalian, terutama ibu Tuan Rangga," terang Paman Li.


Anggukan diberikan. Senyum Rangga mengembang. Semakin membuncahlah rasa senang. Rangga sungguh tak sabar memeluk sang ibu dan kedua adik kembarnya, Ardi-Ardan.


"Ibu Mas Rangga pasti sangat khawatir," ucap Alenna sambil memandangi wajah teduh sang suami yang tak henti-hentinya tersenyum.


Dengan bangganya Rangga menggeleng memberi tanggapan.


"Eh, kenapa menggeleng, Mas?" Alenna bingung.


"Mas yakin sekali ibu tidak khawatir. Kalau rindu sih mungkin iya. Aku kan putra kesayangannya." Kumat deh kesantuyan Rangga.


Giliran Alenna kini yang geleng-geleng kepala. Semakin ke sini, Alenna Rangga semakin memahami sifat satu sama lain. Sejauh ini, baik Alenna ataupun Rangga sama-sama saling memahami. Akan tetapi, jika Rangga tahu bahwa cinta Alenna telah terbagi, apakah Rangga akan santuy dan memaklumi?


"Paman, Satria di mana?" tanya Alenna.


"Ada di ruang kerjanya. Besok dia akan melanjutkan misinya. Menemui si dalang utama yang berniat mencelakai Tuan Rangga," terang Paman Li yang sama sekali tidak menutup-nutupi.


"Nona dan Tuan tenang saja. Satria sudah terlatih dalam hal seperti ini. Tidak akan terjadi apa-apa." Paman Li menenangkan. Faktanya Satria memang sudah terlatih menjadi kepercayaan seorang mafia selama setahun sebelum ini.


Rangga memperhatikan perubahan mimik wajah sang istri. Bisa ditangkap pula bahwa sang istri tengah khawatir pada sesuatu. Rangga pun menebak, Satrialah yang dikhawatirkan oleh Alenna. Namun, Rangga menganggap itu semua hanyalah sebuah kekhawatiran biasa. Kekhawatiran seorang atasan terhadap anak buahnya.


"Sayang, kamu mau menemui Satria dulu?" Rangga menawarkan.


"Bolehkah?" tanya Alenna.


Rangga tersenyum.


"Tentu saja boleh. Kamu kan bosnya di kantor. Berbicaralah padanya. Sekalian minta maaf dan berterima kasih. Bilangkan juga untuk tidak balas dendam. Aku benar-benar tidak apa-apa," tutur lembut Rangga.


Senyum Alenna mengembang. Tanpa ada keraguan, Alenna pun mengangguk. Alenna meminta Paman Li untuk menjelaskan pada Rangga tentang ruko baru milik Rangga yang sudah siap dioperasikan di Jakarta.


***


Alenna masuk ke dalam ruang kerja Satria setelah dipersilakan.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Satria formal, dengan kebiasaan tutur kata sopan dan senyum menawan.


Alenna melangkah mendekat.


"Satria, terima kasih sudah menyelamatkan Mas Rangga. Maaf juga tadi sempat mukulin kamu. Aku baru saja tau cerita yang sebenarnya. Em, bolehkah aku tau siapa dalang utamanya?" tanya Alenna.

__ADS_1


Tampaklah Satria yang sedang menunduk takzim.


"Mohon maaf, Nona. Saya akan mengatakannya begitu sudah tau motif utama pelaku. Maaf, saya tidak bisa mengatakannya sekarang," tolak Satria.


Alenna tersenyum. Dia menghargai keputusan Satria.


"Sat, bisakah kamu memanggilku tanpa sebutan Nona?" pinta Alenna.


"Maaf, Nona. Saya takut lancang. Tidak enak juga jika didengar oleh orang luar," ungkap Satria.


Alenna berjalan mendekat dan duduk di kursi yang tadi Satria duduki. Sekilas bola mata Alenna memperhatikan email-email yang terlihat seperti kotak kecil-kecil di layar monitor. Tak lama kemudian Alenna kembali melihat ke arah Satria.


"Kumohon. Panggil aku Alenna jika kita hanya sedang berdua," pinta Alenna.


Menyeruaklah nano-nano rasa dalam dada Satria. Secara bergantian Satria teringat pesan sang ayah juga perasaan yang sejak lama tersimpan untuk Alenna.


"Iyakan saja, Sat." Alenna tersenyum. "Aku sudah ingat. Kamu adalah lelaki yang dulu menolongku saat lututku terluka di bandara. Jauh di masa itu, aku belum tahu namamu juga statusmu sebagai putra Paman Li. Yang kutangkap saat itu hanyalah senyuman penuh pesona, juga sorot matamu yang begitu jelas menyiratkan perasaanmu. Kamu menyukaiku sejak saat itu kan?" Bidik Alenna.


Deg!


Seorang Satria yang begitu berwibawa, kompeten dalam pekerjaan, mantan tangan kanan seorang mafia, juga tangkas dalam berbagai bidang, saat ini mematung saat bidikan Alenna menghujam. Bidikan itu tepat sasaran. Semua yang dikatakan Alenna dibenarkan.


Kenapa aku begitu lemah dalam urusan cinta? Batin Satria.


"Sat," panggil Alenna demi menyadarkan Satria dari bungkamnya.


"Iya, Alenna. Aku senang kamu mengingatnya. Aku memang menyukaimu sedari dulu," aku Satria.


Sapaan baru dari Satria membuat hati Alenna berbunga.


"Sekarang kita memiliki perasaan yang sama, Sat. Meski demikian, aku sungguh tak bisa mengabaikan ikatan cintaku dengan Mas Rangga. Aku sendiri sebenarnya bingung, bagaimana bisa aku merasa nyaman bersama dua orang secara bersamaan. Apakah kamu tidak keberatan dengan ini?"


Pertanyaan Alenna benar-benar menguji. Satria yang keimanannya tidak sekuat Rangga pun labil luar biasa. Antara senang dan merasa bersalah pada Rangga. Sedangkan Alenna, yang belum lama ini berhijrah, dengan keimanan yang juga tak sebanding dengan suaminya pun begitu mudah terperdaya perasaan. Dengan mengabaikan komitmen diri, lembar perselingkuhan pun resmi dijajaki. Alenna dan Satria sama-sama setuju menjalin ikatan cinta terlarang.


***


"Paman, izin nyusul istriku dulu ya? Mau bilang ke Satria, biar keempat anak buah Satria itu aku jadikan karyawan ruko. Mumpung Satria di sini. Kalau sudah sibuk bekerja, pasti sulit ditemui," terang Rangga.


Paman Li setuju. Usai pembahasan ruko baru milik Rangga di Jakarta, akan sangat efektif jika segala rencana dilakukan segera.


Rangga melangkah ringan menuju ruang kerja Satria. Menyusul Alenna dan berniat menyampaikan niat baiknya untuk mempekerjakan keempat anak buah Satria.


Di dalam ruang kerja, Alenna dan Satria tengah bercengkrama ria sembari saling bertukar perlakuan mesra. Hingga Rangga hampir sampai pun, Alenna dan Satria tengah duduk berdua tanpa jarak di kursi yang sama. Baik Alenna maupun Satria sama-sama tidak menyadari bahwa pintu ruang kerja masih terbuka.


Langkah kaki Rangga semakin dekat saja ke ruang kerja Satria. Hingga beberapa langkah kemudian ....


"Astaghfirullah!" seru Rangga dengan kerasnya.


Bersambung ....


Yang Gemes Yang Gemes Yang Gemes šŸ˜— Maaf ya .... Suka? LIKE aja. Nggak suka? Yaudah, vote aja 😁


Merapat juga ke novel MENANTI MENTARI, karya Kak Cahyanti. Sudahkah ada jawaban atas buah hati Meli dan Azka. Cap cus deh cari tahu šŸ˜‰

__ADS_1


***


__ADS_2