
Rangga kebingungan. Andin yang akan segera datang menjadi alasan. Bukan maksud hati ingin menghindar. Hanya saja Rangga masih tidak enak sendiri jika mengingat kejadian guyuran kecoak semalam.
"Bos, mau kemana?" Si bertato yang baru saja melayani pembeli bertanya.
"Pergi sebentar, ada urusan." Rangga yang masih tidak enak badan berjalan agak enggan.
"Loh, Bos. Bu Andin bentar lagi datang bawa bubur katanya," ungkap si bekas sayatan yang tadi menerima telpon dari Andin.
"Bilang aja aku keluar ada urusan. Buburnya boleh kalian makan," ungkap Rangga.
Keempat anak buah Rangga tak lagi bertanya karena teralihkan oleh pengunjung ruko yang datang. Anak buah Rangga sigap pada posisi dan melayani pembeli.
Rangga tidak keluar jauh. Tempat Juno yang dituju. Bukan di cafe, melainkan di toko hidroponik milik Juno. Toko hidroponik Juno memang tak seramai cafenya. Namun, begitu satu perlengkapan hidroponik berhasil dijual, untung yang didapatkan juga lumayan.
"Mas Rangga tumben mampirnya di sini? Biasanya langsung ke cafe." Juno terheran.
"Numpang ngumpet dari Andin ya, Jun!" izin Rangga.
"Ngumpet? Ehehe. Mas Rangga ini ada-ada aja. Memangnya Mas Rangga sama Andin lagi main petak umpet apa?" Juno terkekeh. "Aku perhatikan, rasa-rasanya Mas Rangga takut bener sama Andin?" imbuhnya.
"Ngawur! Bukan gitu, Jun. Aku ceritain sini!"
Rentetan cerita pun dimulai. Rangga menceritakan kejadian semalam. Sontak saja bagian pernyataan cinta Andin menjadi perhatian.
"Berani betul Andin nembak Mas Rangga. Ini kalau sampai tahu istri-istri kita, bisa main jambak-jambakan lagi mereka." Juno terkaget juga.
"Sama aja menyerahkan diri untuk dicemburui kalau aku sampai cerita ini ke Alenna, Jun."
"Tapi kalau Mas Rangga sama Andin udah sepakat temenan, kok sekarang justru Mas Rangga menghindar?" Juno jelas ingin tahu.
"Ada yang membuatku nggak enak hati kalau ketemu Andin saat ini, Jun."
Kembali Rangga melanjutkan ceritanya. Bagian Baby Ali yang menangis dan ditimangnya, hingga teriakan Andin di dalam kamar yang membuat Rangga terguyur basah. Mending kalau hanya basah, lah ini Rangga malah dapat bonus melihat bagian atas tubuh Andin tanpa pakaiannya.
"Gi-la, Bro!" Juno terperangah mendengar cerita Rangga. "Mujur betul nasibmu, Mas! Terus reaksi Andin gimana?" Juno makin penasaran.
"Andin biasa aja. Akunya yang langsung kabur dari rumahnya." Rangga geleng-geleng kepala jika mengingat kejadian semalam.
"Ya jelas Andin biasa aja. Orang habis nyatain cinta. Hahaha. Enaknya jadi Mas Rangga. Udah dapat Alenna, sekarang dicintai Andin pula!"
"Ah, kamu Jun. Aku ke sini mau cari solusi, bukan dipuji."
Lagi-lagi Juno terkekeh. Tak habis pikir dengan sikap Rangga yang justru khawatir. Padahal, bagi Juno itu semua masalah kecil.
"Gini, Mas. Kalau emang Mas Rangga sama Andin udah sepakat jadi teman, yaudah Mas Rangga jangan menghindar. Yang gentle dikit dong ah jadi laki! Jangan takut-takut lagi! Hadapi!" tegas Juno.
"Nggak segampang itu, Jun. Kamu tahu kan aku itu nggak tegaan kalau urusan sama cewek!"
"Sekali-kali tegas dong, Mas. Kalau Mas Rangga lagi nggak ingin diganggu, yaudah bilang aja. Kalau risih lihat Andin terus dekat-dekat, tinggal beri penegasan pada Andin untuk segera minggat. Beres, deh!"
"Segampang itu?"
"Ya emang Mas Rangga mau model yang ribet? Yang pakai ala-ala drama? Nanti kusuruh Ranti bikin skenarionya deh. Biar Mas Rangga hafalin dulu naskah buah ngusir Andin," ide Juno.
"Aaah. Makin pusing aku cerita sama kamu. Balik aja, deh. Eh, jangan bilang ke istrimu loh, ya!"
"Oke tok wes, Mas. Haha. Oya, Mas Rangga. Ayam geprek pesanan yang nanti siang jadi nggak?" Juno setengah berteriak.
"Jadi. Antar jam stengah 1 aja!"
"Siaap!"
***
Rasa-rasanya kondisi badan Rangga semakin tidak enak saja. Beberapa kali bersin dan batuk-batuk juga. Namun, hatinya teramat lega begitu tahu Andin belum ada di rukonya.
"Aku mau istirahat dulu, ya. Nanti kalau ada Andin suruh naik aja ke lantai dua." Rangga berpesan pada anak buahnya.
"Bos udah nggak takut lagi sama Bu Andin?" tanya si mantan pilot helikopter.
"Ngawur! Siapa yang takut, sih. Kutinggal ke atas dulu. Jangan lupa pesanku!"
Rangga diam-diam memikirkan nasihat Juno. Makanya, Rangga berinisiatif untuk tidak menghindar dan akan memberi penegasan pada Andin.
"Akan kumulai dengan meminta maaf atas kejadian tak disengaja tadi malam. Lalu, akan kuberi tahu Andin agar tidak sering-sering menemuiku." Rangga merancang.
Di lantai dua, Rangga sempat mencicipi racikan jamu buatan anak buahnya. Rangga begitu puas dengan hasilnya.
"Astaghfirullah. Kepalaku kok pusing!"
Rangga memijit keningnya pelan. Rangga pun mulai merasakan perubahan kondisi kesehatan. Wajar, Rangga memang sedang flu dan demam.
__ADS_1
"Padahal sudah minum obat flu."
Rangga merebahkan tubuhnya di atas sofa. Terasa nyaman dan lebih baik dari sebelumnya. Perlahan, kantuk itu menyerang.
"Sepertinya obat yang kuminum bikin ngantuk," lirih Rangga lantas terlelap dalam sekejab.
Andin baru saja sampai di ruko. Seperti biasa, ada Baby Ali dalam gendongannya. Bubur menjadi oleh-oleh untuk Rangga. Berharap setelah mendapat bubur dan perhatian darinya, Rangga akan lekas pulih dan lebih bisa menerima kehadirannya.
"Bu Andin disuruh Bos Rangga langsung ke atas." Si bertato memberi tahu.
Andin mengangguk. Diperhatikan sebentar ruko sepatu Rangga yang ramai pengunjung, lantas melangkahkan kaki menuju lantai dua bersama Baby Ali dalam gendongannya.
"Mas Rangga, permisi!"
Tak ada sahutan. Andin terus melangkah masuk dan mendapati Rangga tengah berbaring di sofa.
"Mas Rangga?" panggil Andin lagi.
Rangga tetap diam saja, membuat Andin lebih mendekatkan langkahnya.
"Mas Rangga baik-baik saja?"
Andin seolah bermonolog. Ingin mengajak Rangga berbicara, tapi tak ada respon darinya. Andin pun memberanikan diri menyentuh tangan Rangga.
"Panas!"
Sentuhan itu beralih ke leher dan kening Rangga. Andin tersadar bahwa Rangga sedang demam. Gerak cepat Andin meletakkan Baby Ali di sofa lainnya, lalu melangkahkan kaki menyiapkan kompres untuk Rangga.
"Karyawan Mas Rangga di bawah pasti tidak tahu kalau suhu tubuhnya sampai setinggi ini. Mereka sibuk melayani pembeli. Iiih, di saat seperti ini Mbak Alenna kemana sih?" gerutu Andin.
Andin kesal sendiri. Dengan penuh perhatian, Andin mengompres tubuh Rangga. Di sela aktivitasnya, Andin tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memperhatikan wajah Rangga. Senyum seketika merekah. Pesona seorang Rangga seketika menggerakkan tangan lentik Andin untuk menyentuh pipi kanan Rangga.
"Mas, cepat sembuh ya."
Cukup lirih Andin berkata dan memberi sentuhan di pipinya, tapi rupanya Rangga terbangunkan juga.
"A-Andin?" Rangga kaget melihat jarak Andin yang begitu dekat dengannya.
"Ssut. Mas Rangga harus menurut. Cepat tidur lagi. Biar kurawat Mas Rangga hari ini!" tegas Andin.
"Tapi aku baik-baik saja, Ndin!"
Rangga menurut. Direbahkan lagi tubuhnya di sofa. Awalnya Rangga curiga Andin akan berbuat macam-macam padanya. Ternyata, Andin hanya menempelkan kain kompres ke kening Rangga.
"Tutup mata Mas Rangga sekarang!"
"Ha? Kamu mau ngapain aku, Ndin?"
"Iiih, gemes deh. Mas Rangga nyuruh orang lain nggak boleh gampang suudzon, nyatanya Mas Rangga sendiri yang malah suudzon sama aku. Mas Rangga merem gih. Tidur. Nanti kalau teh hangat dan buburnya siap, baru aku bangunkan." Andin begitu perhatian.
Rangga hendak mencegah, tapi lagi-lagi Andin menegaskan kata-katanya. Alhasil, Rangga kembali menurutinya. Lagipula tubuh Rangga juga terasa begitu lemah karena flu yang dideritanya.
Sepuluh menit berlalu, Andin telah selesai menyiapkan teh hangat dan bubur untuk Rangga. Semua Andin sajikan dengan ketulusan bercampur bumbu cinta.
Melihat Rangga terlelap, Andin urung membangunkan. Diletakkannya nampan berisi teh dan bubur di meja dekat sofa. Andin tidak menunggui Rangga di sampingnya. Andin justru menuju Baby Ali lantas menimang-nimangnya.
"Papi Rangga lagi sakit, tuh. Baby Ali doakan papi cepat sembuh."
Andin mengajak Baby Ali berbicara. Seolah mengerti, Baby Ali justru mengeluarkan suara bahagia.
"Uuuh. Pinternya anak mami!"
Dua puluh menit berlalu. Teh yang tadinya panas, kini sudah menghangat. Baby Ali yang tadinya terjaga, kini pun terlelap di gendongan ibunya.
"Bobo sini dulu ya, Sayang. Mami mau bangunin papi dulu."
Andin duduk di tepian sofa tempat Rangga berbaring. Sadar ada gerakan, Rangga membuka matanya lebar-lebar. Ya, kini Rangga telah terjaga sepenuhnya.
"Maaf, Ndin. Aku terlelap lagi."
"Tidak apa-apa, Mas."
Andin mengarahkan tangan kanan ke bagian wajah Rangga, tapi Rangga gesit menahannya. Tatapan mereka kembali beradu untuk kedua kalinya. Tanpa aba-aba, debaran jantung kembali tak terkendali lajunya.
"Maaf." Rangga melepas.
"Suhu tubuh Mas Rangga apa masih panas?"
"Sudah tidak terlalu. Terima kasih sudah merawatku. Tehnya boleh kuminum?"
"Boleh-boleh. Sini aku bantu pelan-pelan." Andin semakin perhatian.
__ADS_1
Bubur yang Andin bawakan juga dimakan. Rangga tidak menolak saat Andin menawarkan suapan. Hingga suap terakhir pun Rangga sama sekali tidak mempermasalahkan.
"Ndin, untuk kejadian yang semalam .... maaf."
"Iiih, ngapain sih minta maaf. Mas Rangga kan nggak sengaja lihat. Udah, lupain aja, Mas. Oya, Mbak Alenna kemana? Nggak tau apa kalau Mas Rangga di sini lagi sakit?"
"Istriku ada perjalanan bisnis di luar kota. Lusa baru kembali. Aku nggak tega mau ngasih tau kalau aku sakit, Ndin."
"Ooh. Jadi Mbak Alenna masih di luar kota. Untung ada aku di sini yang merawat Mas Rangga." Andin malah membanggakan dirinya.
Gejolak rasa dalam diri Rangga tak karuan rasanya. Ketegasan yang tadi direncanakan, tak mampu direalisasikan. Hati Rangga terusik oleh debar jantungnya. Ada desir merdu yang membuat wajah Andin semakin memesona saat ditatapnya.
"Mas Rangga kok nggak kedip sih lihatin aku. Hayoo, jangan-jangan Mas Rangga mulai naksir ya!" goda Andin.
Rangga seketika mengalihkan pandangannya. Ada rasa malu karena telah terpergoki begitu saja.
"Em, Baby Ali kamu bawa?" Rangga mengalihkan perhatian.
"Tentu saja. Mas Rangga pengen gendong?"
"Tidak. Jangan-jangan. Nanti Baby Ali tertular. Biarkan Baby Ali tidur saja," cegah Rangga.
Andin merasa sikap Rangga padanya berbeda dari biasanya. Andin begitu yakin bahwa Rangga telah menanam benih cinta untuknya.
"Kalau Mas Rangga sudah baikan, aku pulang ya?"
"Jangan pulang! Temani aku di sini," pinta Rangga.
Kalimat Rangga semakin membesarkan hati Andin untuk menggencarkan usahanya. Andin semakin yakin bahwa Rangga telah menaruh hati padanya.
"Baik. Aku akan menemani Mas Rangga di sini. Tapi .... " Andin menggantung kalimatnya.
"Tapi apa, Ndin?"
"Tolong balas perasaanku ini, Mas. Aku rela jadi istri keduamu. Jika tidak, aku juga mau jadi selingkuhanmu!"
Andin mendaratkan kecupan singkat di pipi Rangga. Sungguh berani, dan Andin sama sekali tidak menyesali.
Kecupan singkat itu rupanya berpengaruh. Hati Rangga terusik seketika itu. Mendadak saja Rangga memiliki keputusan baru.
Aku tidak tahu apa karma itu nyata adanya. Alenna dulu selingkuh dariku, kini justru aku yang meniru. Apakah ini yang dulu Alenna rasakan saat bersama Satria? Maafkan aku Alenna. Batin Rangga.
"Mas Rangga bersedia membalas perasaanku?" Andin mengulang tanyanya.
Tak ada jawaban dari Rangga. Andin yang menunggu hampir saja putus asa.
"Baiklah kalau memang Mas Rangga tidak mau membalas per ... Uhmm."
Kalimat Andin tak berlanjut karena gerak cepat Rangga yang mengikis jarak bibir mereka. Andin lekas membalasnya tanpa diperintah.
Akhirnya kamu termakan rayuanku, Mas. Batin Andin, teramat bahagia.
***
Alenna tidak tenang hatinya. Sedari tadi pikirannya terusik karena nama Rangga.
"Sat, kok aku kepikiran Mas Rangga, ya?"
"Abaikan saja, Nona. Mungkin Nona Alenna hanya sedang merindukan Tuan Rangga. Tinggal dua hari, perjalanan bisnis ini selesai. Berprasangka baik saja untuk Tuan Rangga," saran Satria.
Alenna tak menyahuti. Namun, yang dikatakan Satria patut dicoba. Apalagi selama ini Rangga selalu menasihati agar Alenna selalu berprasangka baik menyikapi segalanya.
Mungkin aku hanya sedang rindu. Batin Alenna.
"Sat, lain waktu ingatkan aku untuk mengajak Mas Rangga juga dalam setiap perjalanan bisnisku."
"Siap, Nona!"
Firasat Alenna sebenarnya benar. Andin dan Rangga di sana sedang memulai perselingkuhan. Namun, nasihat Rangga yang telah mempan justru membuat Alenna memilih berprasangka baik dan tidak berpikir macam-macam.
Lalu, apakah perselingkuhan Rangga akan lekas terpergoki Alenna? Bagaimana pula reaksi Alenna andai tahu suami yang dibanggakannya justru telah mendua? Apakah IKATAN CINTA ALENNA bisa kembali dieratkan bersama Rangga?
Bersambung ....
Yang geregetan, jempol buat author jangan sampai ketinggalan. LIKE, dong!
Heeeei, jangan menanti lanjutan Rangga Alenna aja, MENANTI MENTARI juga sudah up loh di sana. Mampir ke karya kakak kece ini, yuk. Dukung kami dengan memberi like dan jejak komentar di bawahnya.
See u in the next episode š
***
__ADS_1