
Urusan bisnis yang biasa di-handle Alenna kembali dilimpahkan kepada manajer utama. Sejak pukul setengah delapan pagi, Satria sudah sibuk menelepon kesana-kemari untuk mempertemukan Alenna dengan Rangga. Keamanan harus tetap dipastikan meski dalang utama yang berniat mencelakai Rangga sudah dalam genggaman.
"Silakan kenakan jaket ini agar Nona Alenna tidak masuk angin selama penerbangan." Satria gesit membantu Alenna memakai jaketnya.
Senyum Alenna mengembang. Dirinya sudah terbiasa menerima perlakuan manis penuh perhatian dari seorang Satria. Saat Satria memakaikannya jaket pun Alenna tak menolak.
"Jauhkah tempatnya sehingga harus menggunakan jalur penerbangan?" tanya Alenna tanpa memudarkan senyumnya.
"Di luar pulau Jawa. Em, Apa Nona Alenna takut ketinggian? Kita akan menggunakan helikopter," terang Satria.
Alenna menggeleng. Senyum manis disuguhkan untuk Satria.
"Siapa yang akan mengemudikan helikopternya? Kamu?" canda Alenna.
"Benar sekali, Nona." Satria dengan begitu sopan menjawab lantas menunduk membenarkan.
Alenna terkaget. Sedari awal dulu dia hanya mendapat sedikit info dari Paman Li tentang Satria. Nyatanya, Satria telah banyak menunjukkan kecakapannya. Detil sekali saat menjalankan tugas sebagai sekretaris. Sangat pantas menjadi orang kepercayaan. Ditambah lagi Satria jago dalam berbagai bidang.
"Apa ada lagi kemampuanmu yang belum kamu tunjukkan padaku, Sat?" tanya Alenna.
Satria tersenyum dengan manisnya. Dia tersanjung dengan pujian Alenna yang tersirat itu.
"Nona Alenna pasti akan lebih terkejut lagi jika melihat saya memainkan laras panjang, anak panah, bahkan ... Ah, sudahlah Nona. Saya tidak ingin Nona Alenna semakin jatuh hati pada saya," terang Satria malu-malu.
Satria bisa menangkap dengan jelas ketertarikan Alenna pada dirinya. Sedikit ada rasa bersalah juga karena selama hampir empat puluh hari ini Satria menyembunyikan fakta tentang Rangga.
Alenna tak henti-hentinya menatap Satria. Apa yang dikatakan Satria sama sekali tidak disangkal. Selama Rangga dalam masa pencarian, Satrialah yang mengisi hari-harinya. Menemani, memberi perlakuan manis hingga sering membuatnya berdebar. Empat puluh hari begitu cukup untuk menumbuhkan perasaan terlarang yang begitu manis itu.
Alenna mendekat hingga jaraknya dengan Satria tak kurang dari satu meter. Senyum disuguhkan, dan Alenna pun menatap lekat manik mata Satria.
"Maaf, Sat. Aku sungguh tidak bisa membohongi perasaanku. Yang kamu katakan benar. Aku telah jatuh hati padamu. Namun, fakta bahwa aku telah memiliki ikatan cinta dengan Mas Rangga tak mampu kuabaikan. Walau bagaimanapun, Mas Rangga telah sah menjadi suamiku, dan aku pun mencintainya."
Pandangan Alenna tertunduk. Tak mampu lagi menatap manik mata penuh pesona milik Satria. Dia merasa egois terhadap Satria. Alenna menaruh hati pada Satria, tapi juga tidak bisa menghapuskan cintanya pada Rangga.
Satria mendekat dengan senyum yang masih sama manisnya, tersuguh untuk Alenna. Entah mendapat keberanian dari mana, Satria justru mengangkat dagu Alenna hingga pandangan mereka kembali bertemu.
"Sayalah yang harusnya meminta maaf karena telah lancang masuk dalam kehidupan Nona Alenna. Terima kasih atas perasaan Nona pada saya." Ada jeda dari kalimat Satria. "Tapi saya tau diri. Saya tidak akan bisa bersanding dengan sosok cantik yang telah bersuami. Berbahagialah dengan Tuan Rangga, Nona. Saya dan ayah saya selalu akan ada di sini untuk membantu urusan bisnis Nona Alenna sekeluarga," tutur lembut Satria.
Semakin berdebar saja jantung Alenna mendengar kalimat Satria. Seketika setan sebagai pihak ketiga pun meraung kegirangan. Dibisikannya berbagai tipu muslihat untuk menghasut Alenna. Awalnya Alenna masih mampu menguasai dirinya. Detik berikutnya, Alenna justru menghambur memeluk Satria.
Satria mematung. Senyum manisnya pudar. Terganti dengan keterkejutan. Semakin lama Satria merasakan pelukan pada tubuhnya semakin erat.
"Nona Alenna," ucap Satria. Berharap Alenna melepas pelukannya.
"Biarkan seperti ini sebentar saja, Sat." Alenna meminta.
Luluh. Satria luluh. Dibalasnya juga perlakuan sosok cantik yang memeluknya itu.
Satria, jadilah lelaki. Cukuplah perasaan ini berbalas tanpa harus memiliki. Sadarlah pada posisi. Batin Satria.
__ADS_1
Satrialah yang melepas pelukan itu lebih dulu. Senyum manisnya kembali tersuguh.
"Nona Alenna. Tolong jangan terlarut dalam suasana. Sungguh saya tidak berharap Tuan Rangga akan kecewa jika tahu perasaan Nona pada saya." Tersirat ketegasan dalam kelembutan tutur kata Satria.
Perasaan Alenna bergejolak. Merasa begitu egois karena mencintai dua orang secara bersamaan.
"Sat, boleh aku tahu perasaanmu yang sejujurnya padaku. Aku merasa kita pernah bertemu di masa lalu, tapi aku sungguh tidak mampu mengingatnya dengan jelas." Alenna mengulur waktu keberangkatan hanya demi bertanya perasaan Satria padanya.
Satria terdiam. Ingin sekali dia menjelaskan bahwa Alenna memang pernah bertemu dengannya di masa lalu. Saat Alenna diantar Paman Li di bandara. Kebetulan juga saat itu Satria membantu Alenna yang lututnya tengah terluka karena terjatuh. Satrialah yang jatuh hati pada pertemuan pertama mereka itu. Sejak saat itu, perasaan Satria pada Alenna terus tersimpan hingga sekarang. Sungguh cinta monyet yang indah. Begitulah pikir Satria.
"Maaf, Nona. Saya tidak memiliki perasaan apa-apa untuk Nona Alenna. Saya harap, Nona bisa berbahagia bersama Tuan Rangga." Satria terpaksa berbohong. Dia tidak ingin Alenna terlarut dalam suasana hatinya.
Jangan rusak rumah tangga orang, Sat. Jodoh untukmu pasti telah siap. Satria menguatkan hatinya.
Alenna tersenyum kecut mendengar jawaban Satria. Sedikit banyak Alenna berharap perasaannya bisa berbalas meski Alenna sadar itu semua salah dari awal.
"Tidak apa-apa. Biarlah perasaanku ini menjadi rahasia kita berdua, ya." Pinta Alenna dengan senyum lembutnya.
Satria menunduk sambil membalas senyuman Alenna. Setelahnya, Satria menyarankan keberangkatan mereka.
***
Helikopter turun di sebuah daerah terpencil yang di sekelilingnya tumbuh bermacam pepohonan tinggi. Alenna hanya berdua saja dengan Satria. Takut-takut, Alenna menatap sekitar dengan kebingungan.
"Sat, kamu nggak lagi nyulik aku, kan?" tanya Alenna dengan polosnya.
"Me-menculik? Si-siapa yang sudah kamu culik, Sat?" Alenna mulai khawatir mendengar kata culik-menculik.
Satria hanya tersenyum. Jilbab bagian belakang Alenna yang sempat terlipat karena hembusan kipas angin raksasa helikopter pun dibenahi dengan elegan oleh Satria.
"Sudah cantik lagi. Sekarang, Nona Alenna sudah siap bertemu dengan seseorang yang sudah saya culik," terang Satria tanpa beban.
"Maksudnya?" Alenna dibuat bingung.
Satria tak lagi menjawab. Dia memimpin jalan agar Alenna lekas mengikutinya. Langkah mereka semakin mendekat ke bagian pelataran rumah mewah. Empat orang di teras depan rumah sigap menyambut begitu melihat Satria dan Alenna datang.
"Bos Satria, selamat datang!" si pilot menunduk takzim diikuti ketiga teman lainnya.
Satria tersenyum melihat perubahan penampilan keempat anak buahnya yang begitu drastis. Keempat anak buahnya terlihat teduh dengan sarung dan peci.
"Mereka manggil kamu bos, Sat. Kamu punya banyak anak buah ya?" bisik Alenna.
Satria hanya tersenyum melihat kebingungan wajah Alenna. Tak lama kemudian, Paman Li mendekat. Disambutnya Alenna dengan begitu sopannya.
"Loh? Paman Li ada di sini juga?" Alenna girang melihat Paman Li.
"Benar sekali, Nona. Silakan menuju ruang makan. Tuan Rangga tidak tau dengan kedatangan Nona Alenna. Pasti ini akan menjadi kejutan untuknya," terang Paman Li.
"Ayaaah," desis Satria. Mimik wajah Satria seketika mengisyaratkan pada Paman Li bahwa sebenarnya Alenna juga tidak tahu bahwa akan bertemu Rangga. Begitu kode mata diterima dari sang putra, Paman Li hanya bisa tertawa canggung sambil garuk-garuk kepala.
__ADS_1
"Mas Rangga ada di sini?" Tatapan mata Alenna seketika tertuju pada Satria. "Sat! Jangan bilang kamu yang sudah nyulik Mas Rangga dan merahasiakannya selama hampir empat puluh hari ini!" Mimik wajah Alenna berubah penuh ketegasan.
"Maafkan saya, Nona. Silakan Nona boleh melampiaskan kemarahan Nona pada saya." Satria berbesar hati.
Alenna mendekat. Tanpa sungkan lagi Alenna memukul-mukul dada Satria dengan kerasnya. Paman Li yang menyaksikan itu hanya bisa pasrah.
"Jahat kamu, Sat!" Alenna terus memukul-mukulkan tangannya.
"Maafkan saya, Nona." Satria sama sekali tidak keberatan dipukul-pukuli oleh Alenna.
"Aku kecewa, tapi ...." Kalimat Alenna terjeda. Tangannya tak lagi memukul, justru menangkup wajah Satria. Dengan sedikit berjinjit Alenna menempelkan dahinya dengan dahi Satria. Ditatapnya bola mata Satria dari jarak dekat. "Bagiamana aku bisa marah padamu, Sat? Kau telah mendengar pengakuanku pagi tadi. Aku percaya padamu," ucap Alenna, lantas mengecup pipi Satria.
Bukan hanya Satria yang terkejut dengan perlakuan tak terduga Alenna. Paman Li sampai terbengong-bengong melihat itu semua.
"Paman Li, ke arah sini, kan?" tanya Alenna sambil mulai melangkah.
"Be-benar sekali Nona. Tinggal lurus lalu belok kanan." Paman Li sampai terbata menjelaskannya.
Alenna berjalan seorang diri tanpa ditemani Paman Li. Ayah Satria itu lebih memilih menghampiri sang putra yang masih terbengong atas perlakuan Alenna tadi.
"Satria, apa yang sudah terjadi selama kamu membantu Nona Alenna di Jakarta? Kenapa Nona Alenna bisa bersikap romantis padamu, ha?" Paman Li memberondong tanya.
"Ish, ayah kepo deh. Nggak ada apa-apa, kok." Satria tidak menjelaskan.
Paman Li menghela nafas dalam. Dia sadar bahwa sang putra tengah menutup-nutupi sesuatu.
"Ayah tau kamu menyimpan perasaan untuk Nona Alenna. Tapi kamu juga harus ingat bahwa Nona Alenna sudah memiliki ikatan cinta dengan Tuan Rangga," tegas Paman Li.
Satria cemberut. Sungguh wajah tengil yang hanya dinampakkan di depan sang ayah.
"Iya-iya. Satria tau, ayaah. Satria lagi patah hati, nih!" rengek Satria. Selalu manja jika di depan sang ayah dan jika sedang tidak menjalankan misinya.
Tatapan Paman Li melembut karena sikap sang putra.
"Nanti ayah carikan jodoh untukmu," ungkap Paman Li.
"Tidak mau dijodoh-jodohkan!" tolak Satria. "Maunya obat patah hati saja," imbuhnya.
"Baiklah. Ke arah sini jika kau mencari obatnya. Biar keempat anak buah Rangga yang sudah tobat itu mengajakmu mengaji," terang Paman Li seraya tersenyum.
Satria mengangguk. Dia pasrah saja dengan ajakan sang ayah. Sejujurnya Satria memang sedikit merasakan patah hati saat ini.
***
Bersambung ....
Gemes nggak sih sama sikap Alenna? š Eit, Satria ding. Suka? LIKE-nya dong buat author.
Merapat juga ke novel MENANTI MENTARI karya Kak Cahyanti ya. Azka-Meli lagi seru-serunya tuh šš³š
__ADS_1