
Andin membuang pandang. Gendongan Baby Ali dieratkan. Diusapnya punggung Baby Ali perlahan, lantaran mulai terusik dengan suasana tak nyaman.
"Cup-cup-cup, Sayang. Ayo kita pulang!" Andin menenangkan Baby Ali.
"Nona Andin." Satria memanggil karena tak kunjung mendapat kesediaan dari Andin.
"Maaf, saya nggak mau, Mas. Semalam Mas Rangga sudah mengusir saya dari ruko. Mau ditaruh dimana muka saya ini, Mas? Saya malu."
Niatan Satria sebenarnya hanya ingin membuat sebuah perjanjian dengan Andin yang disaksikan langsung oleh Rangga. Jalur hitam di atas putih berniat Satria wujudkan agar Andin tidak mendekati kehidupan Alenna dan Rangga lagi. Dengan jalan itu, Satria berharap tidak akan ada lagi kesalahpahaman, ataupun dendam setelah apa yang terjadi.
"Bolehkah saya bertanya sesuatu?" Satria menanggapinya dengan tanya.
"Silakan saja. Mau tanya apa sama saya?"
"Apakah Nona Andin sungguh mencintai Tuan Rangga?"
Andin memperbaiki posisi gendongan Baby Ali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Satria. Andin memilih jujur. Tidak menutup-nutupi perasaannya.
"Iya, saya memang mencintai Mas Rangga. Awalnya, dulu Mas Rangga menanggapi perasaan saya. Hingga perselingkuhan sehari saat itu pun terjadi. Hanya sehari, setelah itu saya dibuang lagi. Saya tegaskan lagi, saat itu saya terus maju karena Mas Rangga juga mau."
Andin mengambil jeda untuk menghela nafas dalam. Meredakan rasa sesaknya yang tanpa permisi tiba-tiba datang.
"Semula Mas Rangga kurelakan. Nyatanya perasaan untuknya masih saja tersimpan. Kemarin, saya kembali mempertanyakan kesediaan Mas Rangga sebelum saya benar-benar menjadi istri Vero. Asal mas tau saja, kemarin Mas Rangga menolak perasaan saya. Kami sudah mengakhirinya dengan baik-baik, tapi kesalahpahaman itu keburu datang. Dan apa? Mas Rangga sekarang membenci saya. Tidak mau lagi melihat saya!"
Air mata Andin mengalir seketika. Sesi pertanyaan yang diajukan Satria rupanya menjadi wadah curhatnya.
"Kemarin malam saya datang ke ruko untuk minta maaf. Tapi Mas Rangga malah mengusir saya. Kali ini saya sungguh menyesal, Mas. Apalagi setelah melihat raut kesepian di wajah Mas Rangga. Pasti Mas Rangga kepikiran Mbak Alenna."
Selembar sapu tangan meluncur dari balik saku jas yang dipakai Satria. Lekas diberikan untuk dipakai Andin mengusap air matanya.
"Terima kasih sapu tangannya. Saya titip maaf saja untuk Mas Rangga dan Mbak Alenna. Saya akan menikah dan setia satu hati pada Vero saja. Saya kapok, Mas."
Sungguh lega hati Satria mendengarnya. Satria tidak perlu repot-repot lagi menyiapkan hitam di atas putih agar Andin menjauhi kehidupan Alenna dan Rangga. Andin lebih dulu sukarela mengakhiri kekhilafannya usai sakit hati karena diusir Rangga.
"Tapi, kalau bisa saya titip pesan, Mas. Tolong jangan biarkan Vero menjadikan Mbak Alenna istri keduanya. Saya tidak akan sanggup mengenang semua kekhilafan saya andai Mbak Alenna menjadi istri Vero juga. Walau bagaimanapun, saya masih peduli dengan kebahagiaan Mas Rangga. Kebahagiaan Mas Rangga adalah bersama Mbak Alenna."
Satria menangkap dengan jelas pernyataan dan permintaan Andin. Tentu Satria akan mengawasi Vero tanpa diminta. Satria juga peduli dengan kebahagiaan Alenna. Paham juga, bahwa kebahagiaan Alenna adalah bersama Rangga.
"Terima kasih sudah berbesar hati merelakan perasaan nona pada Tuan Rangga. Semoga kehidupan Nona Andin dan Tuan Vero senantiasa bahagia." Satria tidak menanggapi panjang lebar, hanya doa yang dipilih untuk menjadi tanggapan.
"Terakhir kali, tolong sampaikan permintaan maaf saya untuk Mbak Alenna dan Mas Rangga. Saya pamit dulu, Mas. Terima kasih sudah mau mendengar saya. Permisi." Andin pergi.
Satria menunduk takzim, menghormati keputusan Andin.
***
Mobil yang dikemudikan sopir suruhan Satria menepi di sebuah taman kota. Rantilah yang memilih tempatnya, usai terus gagal membujuk Alenna ke macam-macam tempat yang telah ditawarkan.
"Ayo turun, Len! Ada abang penjual es jeruk dalam wadah plastik tuh di sana. Kesukaan lu kan?" Ranti mengiming-imingi Alenna.
Alenna masih cemberut, tapi pada akhirnya menurut. Langkah Alenna dan Ranti kini langsung tertuju pada abang penjual es jeruk. Dua bungkus es jeruk dalam wadah plastik berhasil didapat. Mereka pun duduk sembari menyeruput es jeruk yang nikmat.
"Segeeeer!" Ranti berekspresi lebih.
"Biasa aja," sahut Alenna.
"Kayaknya hati lu perlu disiram juga nih biar seger, Len!"
"Apaan sih, Ran? Kok ngomongin hati! Kita kan ke sini mau jalan-jalan. Bukan ngomongin Mas Rangga!" Begitu mudah Alenna emosi.
"Lah? Siapa yang ngomongin Mas Rangga sih, Len?"
"Nggak tau!" Alenna membuang muka, lalu menyeruput es jeruknya.
"Waduh, bumil muda galak juga rupanya!" celetuk Ranti dengan lirih.
__ADS_1
Beberapa menit, Alenna dan Ranti berdiam diri saja. Es jeruk menjadi satu-satunya yang paling bersahabat dengan suasana hati mereka.
"Ehem." Ranti berdehem. "Main ayunan, yuk!" ajak Ranti kemudian.
"Ogah. Kayak anak kecil aja!" Alenna menolak dengan cepat.
"Lu kesel sama Mas Rangga kan, Len. Sambil main ayunan, pas meluncur ke atas tuh, lu bisa ngata-ngatain Mas Rangga sepuasnya."
Fix, sahabat model Ranti justru membuat saran yang tidak sepatutnya dilakukan. Namun, ada niat di balik saran yang diajukan. Ranti ingin Alenna melepas kegundahan dengan teriak-teriak sampai beban di hati berkurang. Satu-satunya yang Ranti lewatkan adalah tempat pilihan. Di sekitar taman ada beberapa pengunjung yang datang. Parahnya lagi, Alenna justru bersedia melakukan.
"Dorong aku yang kenceng, ya Ran!" pinta Alenna.
"Nggak mau kenceng-kenceng, ah. Lu kan lagi hamil. Kalau jatuh gimana?" Ranti khawatir juga. Sedikit menyesali saran yang telah diberikan pada Alenna.
"Tenang. Aku pegangan yang kenceng juga, kok!"
"Em ... oke deh. Ayo naik! Gue dorongin!"
Alenna naik di ayunan. Beberapa kali ayunan, Alenna masih biasa-biasa saja. Begitu ayunan mengayun kencang, Alenna langsung merasakan ketinggian. Seketika itu Alenna teringat Rangga yang memang takut dengan ketinggian.
"Jahaaaat. Aku cinta, tapi Mas Rangga malah mendua!" teriak Alenna.
Ranti berhenti mengayun ayunan. Mendadak panik karena mendengar seruan Alenna yang menggelegar. Sungguh di luar dugaan, tak menyangka Alenna akan teriak dengan begitu kencang.
Pandangan Ranti diedarkan ke sekitar. Tampak beberapa orang memperhatikan Alenna yang masih saja teriak-teriak memaki-maki Rangga. Ranti lekas menunduk sopan, seolah meminta maaf atas sikap Alenna. Barulah, beberapa orang yang di sana berhenti memperhatikan Alenna.
"Loh-loh, Ran. Kok udahan, sih! Baru aja mulai lega!" Alenna menolak ajakan Ranti yang menyuruhnya duduk lagi di bangku taman.
"Malu dilihatin orang, Len!" bisik Ranti seraya menarik lengan Alenna menjauh dari ayunan.
"Ah, nggak seru! Tapi ... hahahaa. Akhirnya aku puas maki-maki Mas Rangga. Uuuh. Siapa suruh berani jadi buaya!" Mimik wajah Alenna tampak geregetan.
Melihat mimik wajah Alenna yang demikian, membuat Ranti semakin tak enak hati karena sudah memberi saran yang menjerumuskan. Namun, di satu sisi Ranti sedikit lega karena bisa melihat Alenna tertawa. Ya, meski dengan jalan yang salah.
"Ran, ayo main perosotan. Main kuda-kudaan yang di sana sepertinya asik juga. Aaaa. Itu ada balon. Ayo sekalian beli, Ran. Kapan lagi bisa main kayak anak kecil." Alenna antusias.
Baru saja niatan itu diwujudkan, ketika kaki Alenna dan Ranti hendak menuju pedagang balon di area taman, saat itulah mimik wajah Alenna kembali muram. Rupanya, dari arah berlawanan terlihat Andin, Baby Ali, dan Vero sedang menuju ke pedangan balon dengan aura mereka yang dipenuhi kebahagiaan.
"Ayo pulang!" Alenna menarik lengan Ranti menjauh, sebelum Vero ataupun Andin tahu.
Sesampainya di dalam mobil, air mata Alenna kembali mengalir. Hatinya kembali sesak karena teringat Rangga dan Andin.
"Maaf, ya Len. Karena gue ngajak ke taman, lu jadi sedih lagi."
"Udah nggak papa." Alenna berusaha tegar.
"Maaf nih, Len. Bukannya gue mau ikut campur. Tapi gue sama Juno berharap lu bisa baikan lagi sama Mas Rangga."
Alenna mengusap air matanya, lantas menoleh ke arah Ranti di sebelahnya.
"Kamu tau semua dari Juno, ya? Cerita apa aja Juno sama kamu, Ran? Kenapa tiba-tiba Juno malah dukung Mas Rangga? Sama aja kayak Satria. Kalian semua nggak ada yang paham perasaanku gimana."
Alenna membuang pandang ke sisi berlawanan. Suasana hatinya kembali tak karuan.
"Len, jangan kayak gini dong. Kasih Mas Rangga kesempatan buat meluruskan kesalahpahaman," pinta Ranti.
"Kesalahpahaman? Sudah jelas yang kulihat kemarin itu sungguhan."
"Tapi, Len ...."
"Cukup, Ran. Aku tidak ingin suasana hatiku memburuk. Cukup!"
Ranti mengalah. Tak lagi memaksa Alenna untuk mendengarnya. Saat Ranti mulai menyerah, tetiba saja Juno menghubunginya. Nada bicara Juno tampak tergesa. Juno menanyakan posisi Ranti dan Alenna berada. Begitu Ranti memberi tahu, Juno meminta Ranti untuk menunggu.
Kurang lebih lima menit Ranti menunggu dalam diam. Ranti dan Alenna sama-sama tidak ada yang memulai obrolan. Ranti sengaja membiarkan Alenna hingga tenang.
__ADS_1
"Antar aku pulang, Ran." Akhirnya Alenna bersuara juga.
"Tunggu sebentar, Len. Suami gue ke sini."
"Buat apa Juno ke sini?" Alenna terheran.
"Entahlah. Sepertinya ada berita penting yang mau disampaikan. Saat di telepon, Juno nggak ngasih tau," terang Ranti dengan sejujurnya. "Nah itu dia!"
Ranti mengajak Alenna turun dari mobil. Meski enggan, Alenna pun memilih untuk menuruti.
"Alenna!" panggil Juno, usai memarkir motornya. Juno tampak ngos-ngosan.
"Beb, ada apaan sih? Kenapa sampai ngos-ngosan gitu?" Ranti menghampiri Juno.
"Ada yang gawat," jelas Juno singkat. Selanjutnya fokus Juno kembali pada Alenna.
"Alenna. Gawat. Terjadi sesuatu pada Mas Rangga."
Kata gawat yang diucapkan Juno berhasil menarik perhatian Alenna. Dahi Alenna mengernyit, seketika menajamkan mata dan pendengarannya.
"Ada apa dengan Mas Rangga, Jun?" Alenna kepo juga.
"Mas Rangga masuk angin."
"Ada-ada saja. Sudah, aku pulang. Sudah cukup bercandanya." Alenna balik badan.
"Alenna, tunggu! Aku belum selesai!"
Juno mencegah. Kalimatnya memang belum selesai karena bingung mengatur nafasnya yang masih saja ngos-ngosan karena tadi sempat berlarian.
"Yang jelas ngomongnya, Beb. Masa iya masuk angin doang ngasih taunya sampai ngos-ngosan." Ranti ikutan gemas.
"Mas Rangga masuk angin. Badannya demam pula. Habis itu mau beli obat ke warung seberang jalan. Terus ada mobil kenceeeeng banget."
"Mas Rangga ketabrak?" Alenna menebak dengan debaran jantung yang hebat.
"Nggak! Dengerin dulu, Alenna. Yang tenang!"
Alenna tak sabaran. Diminta tenang justru membuat jantung Alenna semakin berdebar-debar.
"Mas Rangga ngelihat anak kecil lari ngejar bolanya yang menggelinding. Pas lihat mobil yang kenceng itu, Mas Rangga langsung lari ke anak kecil tadi. Alhamdulillaah anak kecilnya selamat."
"Mas Rangga selamat juga, kan?" Tampak jelas kekhawatiran di wajah Alenna.
"Selamat. Tapi ..."
Penjelasan Juno dirasa Alenna terlalu berbelit. Ranti di sebelah Juno bahkan langsung mencubit.
"Tapi apa, Jun?" Alenna tak sabar lagi.
"Rupanya ada kendaraan lain yang hilang kendali. Langsung menuju Mas Rangga. Bagian kaki Mas Rangga kena. Cedera parah. Kata dokter, proses pemulihannya akan memakan waktu cukup lama. Kaki. Parah. Cedera. Mas Rangga ...." Kata-kata Juno jadi kemana-mana.
Bruk!
Penjelasan Juno yang sama sekali tidak penuh kehati-hatian membuat Alenna pingsan.
"Ah, kamu nih Beb. Ngasih kabarnya kayak sambaran geledek." Ranti protes.
"Ya maaf. Duh, gimana nih. Malah pingsan, deh." Juno ikutan panik.
Ranti mengguncang tubuh Alenna pelan. Namun, Alenna masih saja tetap pingsan.
Bersambung ....
Terima kasih masih setia mengikuti hingga episode ini. Nantikan lanjutan kisah Ikatan Cinta Alenna di episode selanjutnya. Merapat juga yuk ke novel Menanti Mentari, karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami š
__ADS_1
***