
Kabar dari Juno telah membuat Alenna pingsan. Melihat sahabatnya pingsan, Ranti ngomel-ngomel tak karuan. Juno patut mendapat omelan, karena kabar segawat itu disampaikan tanpa adanya kehati-hatian.
"Beb, ayo tanggung jawab!" Ranti makin panik.
"Maksudnya tanggung jawab gimana nih? Nikahin Alenna?"
"Sembarangan kalau ngomong!" Satu jeweran mendarat di telinga Juno.
"Aduh! Bercanda doang, Sayang! Tega bener sih jewer telingaku!" Juno protes.
"Biarin! Di saat seperti ini malah bercanda. Ayo bawa Alenna masuk mobil!"
Ranti menopang kepala Alenna, agar Juno mudah menggendongnya. Beberapa detik berlalu, Juno tak kunjung melakukan apa yang Ranti minta.
"Beb, kok malah diem sih!"
"Yang, nggak papa nih Alenna kugendong?"
"Beeeeb! Ini keadaan gawat. Alenna pingsan. Nggak perlu mikirin perasaan!" Ranti gemas pada Juno.
"Oke-oke. Aku udah ijin dulu loh ini." Juno mengulangi.
"Ih, Beb. Udah, deh. Ayo cepetan bawa masuk ke mobil!"
Didesak Ranti, Juno pun menggendong Alenna masuk ke dalam mobil. Sang sopir sigap melajukan mobil menuju rumah sakit yang disebutkan Juno. Rumah sakit yang sama, tempat Rangga mendapat perawatan di sana.
***
Satria menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Langkahnya diayun cepat menuju ruang tempat Alenna dirawat. Ketemu. Satria langsung dihampiri Juno di depan pintu.
"Bagaimana keadaan Nona Alenna?"
"Belum sadar. Tuh di dalam. Lagi ditemenin sama istriku."
"Apa yang sudah terjadi sampai Nona Alenna pingsan?" Satria jelas ingin tahu.
Dimulailah cerita Juno. Segala hal diceritakan dengan gamblang. Tentang Rangga yang demam, terluka, dan berakhir di ruang perawatan. Tak lupa pula cerita tentang Alenna yang pingsan usai kabar yang Juno sampaikan. Cerita tentang jeweran Ranti pun tak luput dicurhatkan.
Satria menahan tawa usai Juno mengakhiri ceritanya.
"Ssut. Jangan ketawa di sini, ah! Bisa dijewer istriku lagi ntar." Juno membungkam mulut Satria.
"Lalu, di mana Tuan Rangga?"
"Tuh, di ruang sebelah. Persis di sebelah ruangan Alenna. Tapi masih di bawah pengaruh obat. Masih tidur lelap. Mau lihat Mas Rangga dulu atau Alenna nih?" Juno menawari
"Antar aku melihat kondisi Tuan Rangga dulu saja."
"Baiklah. Tapi ..." Juno menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Akan kuceritakan nanti. Semoga setelah ini Mas Rangga dan Alenna bisa kembali mengeratkan ikatan cinta mereka."
Meski tak begitu paham, Satria menuruti saja apa yang Juno katakan. Apalagi, Satria memang mendukung Alenna dan Rangga kembali dalam ikatan.
***
Juno kembali ke ruang perawatan Alenna tanpa Satria. Usai melihat kondisi Rangga, Satria memilih kembali ke kantor mengurus pekerjaannya.
"Loh, Pak Satria mana, Beb?" Ranti terheran karena Juno kembali sendirian.
"Balik ke kantor."
"Nggak mau nengokin Alenna dulu, Beb? Tumben?"
"Satria percaya Alenna dan Mas Rangga akan segera baik-baik saja."
Ranti masih terheran dengan sikap tak biasa yang Satria tunjukkan. Biasanya Satria akan begitu peduli pada Alenna. Kali ini Satria justru tak melihat kondisinya.
"Pak Satria mungkin sibuk, ya Beb. Pekerjaan Alenna kan di-handle semua sama dia."
"Ya .... Bisa jadi."
Juno tidak mengatakan yang sebenarnya pada Ranti. Awalnya Satria memang panik, terutama dengan keadaan Alenna. Namun, usai mendengar cerita Juno, Satria langsung percaya dan yakin semua akan baik-baik saja.
"Beb, aku belum nengokin Mas Rangga, nih!"
"Udah, nggak perlu ditengok. Kamu di sini saja nemenin Alenna. Kuatir sewaktu-waktu dia sadar. Eh, gimana tadi kata dokter?" Juno tiba-tiba teringat, belum bertanya lanjut tentang kondisi Alenna.
__ADS_1
Ranti tak langsung menjawab. Wajah pucat Alenna menjadi tujuan arah pandang, terlebih karena tak tega dengan keadaan.
"Alenna kan lagi hamil, Beb. Kata dokter sebisa mungkin Alenna nggak boleh stres. Sejak kemarin kan Alenna labil. Sering nangis, emosi, marah-marah. Tau sendiri kan gimana kesalnya Alenna sama Mas Rangga. Ditambah lagi ...." Ranti menggantung kalimatnya, lalu menatap sebal ke arah Juno. "Gara-gara kamu nggak hati-hati ngasih kabar juga. Makanya Alenna jadi pingsan begini!"
Juno menampilkan wajah tanpa dosa. Garuk-garuk kepala sambil tertawa canggung menanggapi omelan istrinya.
"Maaf, ya Sayang. Aku nggak punya maksud bikin Alenna pingsan. Eh, tapi kan kamu sudah tau penjelasan Mas Rangga. Alenna cuma salah paham. Mas Rangga benar-benar nggak mau selingkuh lagi sama Andin."
"Hem ... Memang repot kalau urusan sama salah paham. Aku kasian juga sama Mas Rangga. Nggak tega juga lihat Alenna." Ranti kembali memandangi wajah pucat Alenna.
Juno mengikuti arah pandang Ranti. Benar, kondisi Alenna saat ini terlihat begitu ringkih. Wajah pucat dan tubuh lemah Alenna saat ini sungguh berbanding terbalik dengan wibawa yang biasa ditunjukkan di depan karyawan kantornya.
"Ng ... Mas Rang-ga."
Itu suara Alenna. Terdengar begitu lirih, tapi cukup membuat Juno dan Ranti sontak menghampiri.
"Beb, Alenna sadar!" Ranti girang.
"Alhamdulillaah!" Juno berucap syukur begitu melihat kedua mata Alenna terbuka.
Sesaat setelah Alenna siuman, keadaan masih baik-baik saja. Begitu Alenna teringat dengan kabar yang Juno sampaikan, tangis Alenna langsung pecah.
"Huhuhuuu. Mas Rangga." Alenna masih saja menangis sambil berusaha duduk.
"Len, tenang dulu. Pelan-pelan duduknya." Ranti sigap membantu Alenna.
Selang infus dilepas paksa. Alenna seketika menghambur leluasa memeluk sahabatnya. Tangis Alenna pecah. Alenna meraung sejadi-jadinya. Merutuki dirinya, lantas menyesali sikap acuhnya pada Rangga.
"Aku istri yang nggak berguna, Ran. Mas Rangga masuk angin, tapi aku nggak ada di sampingnya buat ngerokin. Harusnya aku yang beli obat ke warung, sehingga Mas Rangga nggak sampai ... ke .... ce ... la ... Huhuhuhu. Mas Rangga!"
Alenna terus menangis dalam pelukan Ranti. Juno yang menyaksikan itu dapat merasakan betapa hati Alenna teramat pedih. Sesal di hati Alenna sampai tercurah lewat air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
"Alenna, tenangkan dirimu dulu." Juno bersuara.
Pelukan itu terlepas. Alenna mengusap air matanya, kemudian menggeleng tegas.
"Bagaimana aku bisa tenang, Jun? Mas Rangga kecelakaan. Terluka parah. Kakinya cedera. Sementara aku tidak ada di sampingnya!" seru Alenna seperti orang marah-marah.
Lengang sejenak. Baik Juno ataupun Ranti masih menahan diri untuk tidak menanggapi Alenna yang emosi hatinya sedang tak terkendali.
"Di mana? Jun, di mana Mas Rangga? Tolong antar aku menemuinya."
"Beb, ayo antar!" Ranti mendesak.
"I-iya. Ayo kuantar!"
Dengan dibantu Ranti, Alenna mengekori langkah Juno. Ruangan Alenna dan Rangga yang berdekatan, membuat niat Alenna untuk bertemu Rangga dimudahkan.
Tumpah lagi air mata Alenna kala melihat selang infus di tangan Rangga. Wajah Rangga tak jauh berbeda dari Alenna, sama-sama pucat.
"Mas Rangga." Lirih Alenna berucap.
Langkah Alenna diayun mendekati Rangga. Tangan Rangga langsung digenggam erat oleh Alenna. Dikecupnya berulang punggung tangan Rangga, sembari terisak berderai air mata.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan, aku. Aku tidak ada di sampingmu saat kamu butuh aku."
Alenna memandangi wajah pucat Rangga. Diusapnya pelan kening Rangga sambil menahan sesak di dada.
"Harusnya aku mendengarkan penjelasanmu, Mas. Bukan malah mengusirmu."
Ingatan saat Alenna mengusir Rangga tiba-tiba membayang. Alenna semakin menangis dalam sesal.
"Kamu sih nakal. Uuuuh!"
Alenna mencubit pipi Rangga. Tetiba saja kesal dengan keadaan yang menyelimuti rumah tangganya.
Cubitan Alenna rupanya membangunkan Rangga. Perlahan bola mata Rangga terbuka. Alenna yang melihat itu pun seketika tersenyum bahagia, dan langsung menghapus air matanya.
"Sayang," ucap Rangga lirih.
Alenna menggenggam erat tangan Rangga. Senyum ditampilkan, disusul ucap syukur atas kesadaran Rangga.
"Alhamdulillaah, Mas Rangga sudah bangun." Alenna kembali mengecup punggung tangan Rangga dengan penuh kasih.
Senyum Rangga seketika menghias wajah pucatnya. Perlakuan Alenna sedikit banyak telah membuat nyaman suasana.
"Sayang, kamu telah salah paham. Aku berani bersumpah, sungguh aku dan Andin tidak ada hubungan yang mengarah pada perselingkuhan. Aku salah karena menemui Andin diam-diam, tapi yang terjadi di akhir adalah kalimat perpisahan. Benar-benar bukan kesanggupan untuk selingkuh darimu. Percayalah padaku."
Alenna mendengarkan penjelasan Rangga dengan hati terbuka. Senyum di wajah Alenna terus tersuguh untuk Rangga.
__ADS_1
"Apa pun alasannya, aku akan berjuang mempertahankan ikatan cinta kita, Mas. Mau berapa kali pun kamu selingkuh, aku tetap akan membuatmu kembali padaku." Pernyataan Alenna terdengar tulus dari hati.
"Jadi, maksudmu ... tidak masalah jika aku selingkuh?"
"Jangan coba-coba! Uuuh. Nakal!" Alenna mencubit pipi Rangga berulang. "Itu tadi cuma kata kiasan. Mana ada istri yang rela diselingkuhi, Mas."
"Iya-iya. Maafin aku, ya Sayang. Jangan galak-galak, dong. Aku lagi sakit, nih." Rangga memelas.
"Mana-mana? Bagian mana yang sakit, Mas?"
"Sini." Rangga menunjuk keningnya. Benar saja, karena Rangga memang demam dan pasti sedikit pusing kepala.
"Em, kakiku juga terasa agak sakit. Kenapa ya?"
Seketika Alenna teringat kata-kata Juno tentang cedera pada kaki Rangga. Alenna menguatkan hati untuk memberi tahu Rangga tentang kondisinya.
"Mas, tatap mataku!" Meski kalimat perintah, tapi Alenna lembut bertutur kata pada Rangga.
Rangga menatap manik mata Alenna. Terasa sejuk, nyaman, dan hati terasa segar. Mungkin karena yang ditatap adalah sosok cantik yang halal.
"Apa pun kondisi Mas Rangga, aku tetap akan menerima. Akan kutemani Mas Rangga terapi sampai kaki Mas Rangga pulih dari cedera."
Rangga mengernyitkan kening. Tampak berpikir.
"Cedera kaki? Yang kamu maksud aku atau bukan?" Rangga bertanya-tanya.
"Sabar, ya Mas. Mungkin kenyataan ini sulit diterima. Tapi aku benar-benar akan menemani Mas Rangga sampai pulih seperti sedia kala." Alenna meyakinkan.
"Tunggu-tunggu. Maksudmu kakiku cedera? Bagaimana bisa cedera?"
Alenna mengusap pelan pipi Rangga. Berusaha menenangkan Rangga, sembari tetap memberi pengertian padanya.
"Apa saat kecelakaan kepala Mas Rangga juga terbentur hebat? Hingga tidak bisa mengingat?" Dengan sabar Alenna menjelaskan.
"Kok aku makin bingung sih? Siapa yang kecelakaan, Sayang? Aku hanya demam. Suhu badanku ketinggian. Waktu turun tangga, aku terpelesat dan ... ah, aku tidak bisa mengingat lagi setelah itu. Sepertinya aku pingsan. Tau-tau udah di sini."
Penjelasan Rangga membuat Alenna mematung. Kalimat Rangga dicerna betul-betul. Dijelajahi setiap inci bola mata Rangga, tapi Alenna tidak menangkap sebuah dusta di sana.
"Jadi Mas Rangga nggak kecelakaan?"
"Nggak!"
Alenna langsung menoleh ke arah Juno. Tatapan tajam diarahkan Alenna pada Juno yang sedang menunjukkan ekspresi tanpa dosa. Juno tampak cengegesan sambil garuk-garuk kepala.
"Junooooo!" seru Alenna.
Sedikit panik, Juno pun langsung pamit.
"Em ... mendadak aku harus ke kampus. Tadi lupa belum salaman sama dosen. Aku duluan!" Juno kabur.
"Beeeeeb!" Ranti tidak dapat mencegah suaminya.
Alenna ganti menatap Ranti. Berusaha mencari penjelasan tentang maksud Juno melakukan semua ini.
"Ran, jelaskan!" desak Alenna.
"Gue nggak tau apa-apa, Len. Serius! Em .... Mendadak juga gue harus balik ke rumah buat ngasih makan ikan peliharaan Juno. Selamat berbaikan sama Mas Rangga. Daaa!"
Ranti ikutan kabur, menyusul Juno yang lebih dulu kabur. Tersisa Alenna yang masih bertanya-tanya, dan Rangga yang mulai memahami keadaan yang ada.
"Em, Sayang. Boleh minta disuapin makan nggak?"
Alenna balik badan, dan langsung memberi Rangga tatapan tajam.
"Aaa .... Tidak-tidak. Tidak jadi. Em ... mendadak aku ngantuk. Hoaaaam. Ah, efek samping obat penurun demam ini sepertinya." Rangga memejamkan kedua matanya.
Rangga khawatir dengan aura Alenna yang tiba-tiba berubah. Tak nyaman juga dengan keadaan yang ada.
"Aduh. Nggak jadi ngantuk, deh. Aku mau ke kamar mandi saja. Agak lama ini sepertinya." Rangga bersiap turun, tapi urung karena seruan Alenna.
"Mas Ranggaaaaa!"
Bersambung ....
Taraaa ... adakah yang ketawa? Terima kasih sudah mampir dan membaca. Mampir juga yuk ke novel Cinta Strata 1. Kisah Alenna dan Rangga bermula dari sana. Eit, kenal juga pencetus ide jamunya Rangga, Meli-Azka. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami.
Salam Luv š
***
__ADS_1