Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 40


__ADS_3

Resepsi pernikahan Meli-Azka di Jogja menjadi keseruan tersendiri bagi Alenna-Rangga. Bukan hanya bisa bertemu Mario-Anjani dan teman-teman dari Jember, Alenna-Rangga juga mendapat suguhan tak biasa, yakni jamu beras kencur. Alenna yang sudah mengincar suguhan es jeruk sejak di Jakarta, langsung berpindah hati pada jamu beras kencur.


"Kamu doyan apa kehausan?" Rangga geleng-geleng kepala melihat Alenna yang terus-terusan nambah.


"Enak banget, Mas. Jarang-jarang minum jamu!" sahut Alenna sembari duduk manis menikmati jamu beras kencurnya. "Meli sama Mas Azka pinter bener nyediain minuman khas begini di resepsi mereka," imbuhnya.


"Suamimu yang cakep ini bisa banget lho bikin jamu. Pulang dari Jogja kubikinin, ya. Sekalian buka bisnis jamu tradisional aja di depan ruko. Pasti laris, tuh!" Mendadak Rangga punya ide.


Pikiran Alenna mencerna ide suaminya. Ide bagus jika sang suami bisa merintis dan mengembangkan bisnis baru selain rukonya.


"Aku setuju, Mas. Nanti aku bantu urus label kemasan dan promo iklannya. Kebetulan perusahaan juga baru menjalankan bisnis periklanan," terang Alenna.


"Loh, sejak kapan di kantormu ada bisnis periklanannya? Kok aku baru tau? Bukannya cuma ngurusin produksi sepatu, tas ramah lingkungan, sama parfum bermerk?"


"Baru berjalan dua minggu. Divisi desain produk yang punya ide. Sudah setting dua lantai teratas juga buat studio. Jadi, kantor bakalan sering kedatangan model-model, bahkan artis." Alenna menggebu-gebu saat menerangkannya.


Rangga manggut-manggut. Dengan modal besar yang dimiliki keluarga Alenna, tentu saja lebih mudah merealisasikan apa pun ide yang tercipta.


"Ehem, gimana kalau aku yang jadi modelnya?" Rangga memainkan kedua alisnya.


Alenna auto berhenti meneguk jamunya. Diliriknya sang suami, lantas menggeleng tegas.


"No! Kalau Mas Rangga jadi modelnya, terus terkenal di mana-mana, bisa-bisa banyak pelakor yang bakal merebut hati Mas Rangga. Nggak boleh! Mas Rangga kuumpetin aja di ruko!" seru Alenna.


"Aduh. Jauh banget dari model nyampek pelakor. Kamu takut banget ya ditinggal mas selingkuh?" goda Rangga yang sudah bisa menebak jawaban Alenna.


Bibir cemberut ditunjukkan sebagai tanda protes dari Alenna. Rangga yang gemas pun mendadak saja tak bisa menahan tawanya. Sungguh Alenna berbeda jauh ekspresi wajah dan sikapnya. Menghadapi relasi kantor jauh berbeda dengan saat berhadapan dengan suaminya. Di depan Rangga, Alenna melepas semua figur tegas, berwibawa, dan jaim tentunya. Alenna lebih sering menunjukkan rengekan manja saat di dekat Rangga.


"Aku takut kena karma karena berani selingkuh dari Mas Rangga," lirih Alenna.


"Kalau takut, kenapa berani coba-coba?" tanya Rangga.


"Khilaf," sahut Alenna dengan cepat.


"Khilaf atau memang naksir Satria?" kejar Rangga.


"Ihhh, Mas Rangga. Udah dong! Kok jadi mojokin aku, sih?" protes Alenna.


Kala Rangga hendak menanggapi protes Alenna, satu panggilan suara masuk di ponsel Rangga. Nama Andin jelas terpampang di layar.


"Ngapain Andin telepon-telepon segala? Jangan diangkat, Mas! Pasti mau modus!" tuduh Alenna.


"Tuh, mulai lagi kan? Suudzon itu tidak baik, Alenna sayang. Ayo, istighfar dulu!" pinta Rangga.

__ADS_1


Alenna menuruti dengan setengah hati. Sementara Rangga, memutuskan untuk tidak mengangkat telepon dari Andin demi menjaga perasaan Alenna. Setelahnya, Rangga memilih membaca pesan singkat dari Andin.


"Tuh, apa kata mas. Berprasangka baik itu lebih asyik. Andin mengabari kalau sudah transfer pembayaran restock sepatu yang kedua. Kamu tau ini artinya apa?" tanya Rangga.


"Artinya Andin mendekati Mas Rangga via orderan sepatu," sahut Alenna dan langsung mendapat cubitan gemas dari Rangga di hidung mancungnya.


"Sembarangan. Grusa-grusunya dihilangkan. Suudzonnya juga dihilangkan." Rangga gemas. "Artinya, berprasangka baik itu mendatangkan banyak berkah. Transferan pembayaran ini salah satu buktinya," imbuh Rangga dengan ramah.


Alenna tersentil hatinya. Kalau sudah sang suami menasihati, Alenna tak dapat berkutik lagi. Salah satu rasa syukur terbesar dalam diri Alenna adalah ditakdirkan memiliki suami yang solih.


"Insya Allah, aku akan lebih berhati-hati dalam bertutur kata, berpikiran, maupun mengambil tindakan." Hati Alenna melunak.


Rangga tersenyum. Bersyukur karena Alenna selalu mudah dinasihati. Ya ... meski pada akhirnya seringkali diulangi lagi. Namun, Rangga tak pernah lelah untuk selalu menasihati. Sejatinya, setiap manusia tak luput dari salah. Tugas sesama adalah saling mengingatkan untuk berbenah. Apalagi Rangga adalah imam Alenna dalam rumah tangga mereka. Sudah sepatutnya jika Rangga senantiasa menasihati demi kebaikan istrinya.


"Jadi ... bolehkah aku jadi model iklan jamunya?" tanya Rangga setengah bercanda.


"Tidak!"


Rangga tertawa renyah. Seolah paham bahwa sang suami hanya bercanda, Alenna pun ikut-ikutan tertawa.


"Ekhem!" dehem Mario, kakak Alenna yang memang sudah datang lebih dulu dengan Anjani. "Sudah selesai sesi pembahasan jamu, model iklan, dan pelakornya?" imbuh Mario.


"Waaah! Dari tadi nguping ya? Aku aduin ke Anjani biar dijewer tuh kuping!" protes Alenna.


"Silakan adukan! Nona direktur, jangan lupa minggu depan ada monitoring cabang perusahaan. Jika terbukti kinerjamu tidak benar, kuadukan pada suamimu biar dijewer kupingmu itu!" Mario membolak-balikkan kata aduan.


"Kalian ngapain bahas bisnis di sini, sih? Ini resepsi pernikahan, lho!" tegur Anjani tiba-tiba. "Alenna, yuk gabung ke Vina sama Berlian, lagi bahas jodoh tuh mereka. Suami-suami kita biar nimbrung ke Dika sama Kak Ken aja." Anjani menarik pelan lengan Alenna agar ikut dengannya.


"Mario, baik-baik sama Mas Rangga loh, ya! Jangan diusilin!" seru Alenna.


"Tenang saja. Paling cuma dijahilin!" sahut Mario dan langsung ditanggapi cubitan gemas dari Anjani.


Alenna-Rangga terus mengikuti acara resepsi bersama Mario-Anjani dan teman-temannya. Mereka juga sempat jalan-jalan di area Malioboro saat malam tiba. Tak berhenti hanya di agenda jalan-jalan, Alenna-Rangga melanjutkan keseruan dengan menginap di rumah pengantin, Meli-Azka. Tentu saja Mario-Anjani dan teman rombongan dari Jember juga ikut menginap di sana. Bukan berniat untuk menjahili pengantinnya, mereka hanya ingin membuat keseruan dan momen indah sebelum kembali berjauhan jarak seperti sedia kala.


Tahun lalu mereka tertawa bersama di satu daerah, kini takdir membuat mereka terpisah kota. Inilah kesempatan mereka. Saling mencurahkan rindu, mencipta angan tuk masa depan, dan saling mendoakan untuk kesuksesan meski ke depan mereka akan jarang bertemu pandang.


***


Malam pun tiba. Ponsel Rangga tetiba saja bergetar. Tertera nama Andin di layar. Awalnya Rangga mengabaikan. Akan tetapi, panggilan suara itu terus berulang. Merasa ada yang penting, Rangga pun memutuskan untuk mengangkatnya setelah izin ke kamar mandi. Rangga tidak ingin mengusik keseruan sang istri bersama teman-temannya yang sedang asik mengobrol ria dengan Meli-Azka.


Telepon diangkat. Baru saja Rangga hendak salam, tapi lebih dulu Andin yang menyerbunya dengan nada penuh kekhawatiran.


"Mas Rangga tolong, Mas!" seru Andin via telepon.

__ADS_1


"Eh-eh? Ada apa, Ndin?"


"Tokoku kedatangan rampok. Aku takut, Mas!"


Terdengar Andin menangis sesenggukan di seberang.


"Astaghfirullaah. Ada yang terluka? Sudah hubungi polisi?" Mendengar kabar demikian membuat Rangga ikut kepikiran.


"Aku sama baby Ali baik-baik saja, Mas. A-aku tidak mau urusan dengan polisi," sahut Andin.


"Lah? Terus gimana kalau nggak lapor?" Rangga malah bingung sendiri.


"Mereka sebenarnya gagal merampok, karena takut pada pembeli yang kebetulan berseragam polisi," terang Andin.


"Alhamdulillaah. Syukur deh kalau aksi mereka digagalkan. Terus kamu ngapain telpon aku?" tanya Rangga.


"Aku takut, Mas. Tolong, Mas Rangga ke sini. Temenin aku sama baby Ali. Khawatir rampoknya balik lagi." Andin makin sesenggukan di seberang.


Rangga serba salah. Mau menolong, tapi tidak enak dengan Alenna. Tidak menolong, jiwa kemanusiaannya bergelora.


Repot. Ngene iki dadi wong seng ora tegoan. Dadi kepikiran pisan wes. (Repot. Begini ini jadi orang yang tidak tegaan. Jadi kepikiran juga deh). Batin Rangga.


"Hik hik oeeek!"


Terdengar baby Ali menangis. Semakin tak tega Rangga mendengarnya.


"Em, gimana ya? Masalahnya aku sedang di luar kota, Ndin."


"Mas Rangga nggak bisa pulang sekarang? Aku takut di sini, Mas. Kalau rampoknya lihat body kekarnya Mas Rangga pasti mereka langsung kabur. Tolong aku, Mas." Nada Andin di seberang sungguh membuat siapa pun yang mendengar jadi tidak tega untuk mengabaikan.


Rangga berpikir sejenak. Tak lama kemudian, Rangga sampai pada satu keputusan.


"Baiklah. Aku akan membantumu. Tunggu di sana! Sekalian share lokasi tempat tinggalmu!" pinta Rangga.


"Oke-oke, Mas. Aku kirimkan sekarang. Aku tunggu Mas Rangga di sini. Baby Ali nunggu Om Rangga juga kan ya, Nak." Nada Girang terdengar dari Andin di seberang.


Telepon berakhir. Pandangan Rangga dilayangkan ke arah wastafel di kamar mandi sebentar, lantas kembali menatap layar benda pintar. Rangga memang akan membantu Andin. Namun, bukan Rangga yang akan meluncur ke lokasi Andin. Rangga menugaskan dua anak buahnya di ruko, si bertato dan si bekas sayatan untuk berjaga di area tempat tinggal Andin. Usai memberi perintah dan mengirimkan lokasi pada dua anak buahnya, Rangga pun mematikan ponsel miliknya.


"Taktik membantu tanpa ketahuan istriku," gumam Rangga, lantas melangkah kembali bergabung bersama istri dan teman-temannya.


Bersambung ....


Di sini yang juga suka sama jamu beras kencur, merapat ke resepsinya Meli-Azka di MENANTI MENTARI-nya Kak Cahyanti. Buruan sebelum kehabisan. 😁 Mohon dukungan kalian untuk kami šŸ˜‰

__ADS_1


See u in the next episode ā¤


***


__ADS_2