
AC mobil dikecilkan. Begitu pula dengan musik yang sedari tadi mengalunkan nada melow bak lagu pengantar tidur. Alenna menguap, sementara Ranti yang duduk di samping Alenna masih saja menghadap keluar kaca mobil sambil memanyunkan bibirnya.
"Ran, kamu masih ngambek karena tiba-tiba aku ikut ke rumah Juno?" tanya Alenna, lantas kembali menguap.
"Iya, masih. Huft." Ranti menghela nafas dalam. Dirinya tidak bisa lama-lama ngambek pada Alenna.
"Lagian kakak lu kenapa ngasih izin buat ikut gue, sih. Padahal kan besok lu nikah sama Mas Rangga, Len. Itu, tuh. Lu aja udah ngantuk. Harusnya lu istirahat," ujar Ranti sambil memegangi lengan Alenna.
Seketika Alenna terkekeh pelan kala melihat raut wajah Ranti yang kesal sekaligus menggemaskan. Terkikis sudah rasa kantuknya.
"Kamu tuh lucu kalau lagi ngambek gini, Ran. Lagian kenapa juga sih pakai acara mau ketemu Juno sendirian. Kalau aku ikut, kan bisa bantu bela kamu di depan ayahnya Juno. Udah ah, bentar lagi sampai ini!" Alenna mengabaikan Ranti yang kembali mencebikkan bibirnya.
"Yaudah, deh!" sahut Ranti, akhirnya menyerah usai protesnya.
Laju mobil memelan. Alenna memberi isyarat agar Ranti lekas turun dari mobil. Namun, Ranti malah memegangi lengan Alenna.
"Kenapa, Ran?" Alenna terheran.
"Dag-dig-dug. Gugup!" Kentara sekali kegugupan di wajah Ranti.
"Heeem. Gitu mau berangkat sendiri. Hihi. Ayo, turun Ran. Aku temani!"
Ranti mengangguk. Kini pun Ranti tersadar bahwa dirinya tidak seharusnya datang seorang diri. Untung ada Alenna, begitulah pikirnya.
Baru saja Alenna dan Ranti turun dari mobil, Juno membuka pintu rumahnya. Sepertinya kedatangan Ranti sudah ditunggu-tunggu sejak tadi. Awalnya Juno tersenyum melihat Ranti, tapi senyumnya berubah menjadi keterkejutan begitu tahu Ranti datang tidak sendirian.
"Silakan masuk!" Juno mempersilakan Alenna dan Ranti masuk ke dalam rumahnya.
Sembari melangkah, Alenna mengamati hunian Juno. Rumah Juno berada di kompleks perumahan. Lumayan besar dengan dua lantai, garasi mobil, dan teras yang luas. Ada taman minimalis di bagian depan.
Alenna menangkap kegugupan. Tidak hanya di wajah Ranti, tapi juga di wajah Juno.
"Apa kalian ada acara di kota ini, sehingga jauh-jauh dari Jakarta?" tanya Juno memulai obrolannya. Raut wajahnya sudah lebih santai.
"Iya, ada." Ranti menyahuti pertanyaan Juno. Kegugupan di wajah Ranti juga berkurang. "Alenna ada kabar bahagia yang dibawa," imbuh Ranti.
Sontak saja Alenna menoleh ke arah Ranti. Bukan membahas urusan genting lebih dulu, malah menyuruhnya mengabarkan berita gembira.
"Wah, kabar bahagia apa, nih? Apa kamu akan menikah dengan Mas Rangga?" Juno menimpali.
Beralih. Kali ini Alenna menoleh ke arah Juno. Cukup kaget juga dirinya ketika nama Rangga bisa dikenal oleh Juno.
"Kamu kenal sama Mas Rangga?" tanya Alenna yang sudah tak terbendung lagi rasa penasarannya.
"Tentu saja. Aku mengenal Mas Rangga dengan baik. Aku juga tahu kalau Mas Rangga menyukaimu. Jadi beneran, nih? Kalian akan segera menikah?" tanya Juno memastikan tebakannya benar.
Alenna tersenyum, lantas mengangguk. "Iya. Besok pagi kami menikah. Kamu ... disuruh Mario untuk datang ke rumahku besok." Lewat jalan inilah Alenna meminta Juno untuk datang menyaksikan momen sah.
Tak diduga, Juno malah antusias mengangguk. Membuat Alenna semakin yakin saja bahwa perasaan Juno terhadapnya sudah benar-benar tergantikan oleh posisi Ranti. Ada perasaan lega yang kini dirasakan Alenna.
"Om Haris mana, Jun?" Alenna menanyakan keberadaan ayah Juno.
"Em, lagi di luar kota," ungkap Juno.
Untung aku ikut Ranti. Kalau nggak kan Juno Ranti bakal berdua-duaan aja di rumah ini. Batin Alenna.
Alenna melirik ke arah Ranti. Sahabatnya itu minim kata-kata, padahal biasanya selalu heboh dan tak pernah kehabisan stok kata.
"Aku buatin minum dulu, ya. Karena ada Alenna, aku buatin es jeruk aja. Tunggu bentar, ya!" Juno beranjak.
Alenna hendak mencegah agar Juno tidak perlu repot-repot membuatkannya minuman. Namun, smartphone Alenna keburu berdering. Alenna tak bisa mengabaikan karena Paman Li yang menelepon. Jika Paman Li sudah menelepon, itu artinya ada hal penting yang harus dibicarakan.
Ketika Alenna memulai teleponnya, Juno memberi kode pada Ranti agar mengikuti langkahnya menuju dapur. Alenna mengetahui kepergian Ranti, tapi tidak bisa bertanya lebih.
Begitu sampai di dapur. Juno lekas memberondong Ranti dengan tanya.
"Kenapa datang sama Alenna? Tidakkah kau hanya ingin menemuiku? Atau kau ke sini hanya mau mendesakku untuk menikahimu secepat mungkin, jadi membawa Alenna untuk menguatkan posisimu?" Juno to the poin, sedikit membentak.
Ranti tersinggung dengan kata-kata Juno. Namun, tak dapat disangkal bahwa semua yang dikatakan Juno memang benar. Ranti ingin kepastian ikatan.
"Maaf," ucap Ranti lirih, lantas menundukkan kepalanya. Wajah Ranti masam. Hatinya tak karuan.
Juno membuang nafas pelan. Dia tak tega melihat Ranti berwajah masam. Walau bagaimanapun, sejak malam itu, ada sedikit benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku membentakmu," ucap Juno.
Ranti hanya mengangguk pelan tanpa berani melihat wajah Juno.
Juno mendekat. Diusapnya pelan wajah Ranti yang ternyata telah menjejakkan bulir bening.
__ADS_1
"Hei, jangan menangis!" bisik Juno, lantas memeluk Ranti dengan erat.
Gema hati Ranti tak dapat didustai. Kedua tangannya pun membalas pelukan Juno.
"Sejak kapan kamu mengubah penampilanmu jadi seperti ini?" bisik Juno, dan masih memeluk erat tubuh Ranti.
"Belum lama, tapi aku akan terus mencoba agar terbiasa." Ranti menyahuti dengan nada lirih
Pelukan merenggang. Ranti mendorong pelan bahu Juno ketika teringat pesan Alenna untuk jaga jarak. Juno sempat terheran melihat sikap Ranti yang tidak biasa itu. Dulunya, malam ketika penyatuan mereka, Rantilah yang menggoda. Kali ini Ranti justru menunjukkan sikap berbeda. Seolah menolak perlakuan Juno padanya.
"Aku bantu membuat es jeruk buat Alenna." Di depan Juno, sapaan lu gue tak lagi berlaku. Ranti kalem. Dia melenggang santai untuk membuat minumannya segera.
Juno tersenyum. Bola matanya mulai berani memperhatikan Ranti dengan lebih. Lekas dihampirinya Ranti yang sedang menuangkan air dingin ke dalam gelas. Tak butuh waktu lama, Juno pun mengambil alih teko, meletakkannya sedikit jauh dari mereka.
"Eh, aku belum selesai, Jun!" Ranti protes.
Juno tak peduli. Ditariknya pinggang Ranti hingga mendekat ke arah tubuhnya. Jarak mereka berdua begitu dekat kali ini.
"Jun, kamu mau apa?" Tetiba saja Ranti khawatir. Tatapan mata Juno mengisyaratkan sesuatu.
"Aku sudah mulai mencintaimu," bisik Juno.
Jantung Ranti berdebar mendengarnya. Sejujurnya ada perasaan senang. Akan tetapi, sikap Juno padanya saat ini sungguh tidak wajar. Memang, sebelumnya mereka berdua sudah pernah melakukan penyatuan. Namun, kali ini Ranti sudah bertekad untuk berubah, tidak ingin khilaf lagi.
Kekhawatiran Ranti semakin menjadi kala Ranti berusaha mendorong pelan tubuh Juno, tapi yang terjadi pelukan semakin erat saja, bahkan Juno tak sungkan mengikis jarak bibir mereka.
"Uhhmm!" Ranti kembali mendorong pelan tubuh Juno. Sempat terlepas, tapi Juno kembali lagi melakukan aksinya.
Yang kedua ini Ranti tak bisa berbuat apa-apa karena terbawa suasana. Ranti mulai menikmati dan membalas perlakuan Juno padanya.
Sementara itu di ruang tamu rumah Juno, Alenna tampak masih menanggapi telepon dari Paman Li. Info yang dibawa Paman Li tidak jauh-jauh dari Vero yang meminta penjelasan lebih atas kasus penggelapan dana yang diinvestasikan. Sekalian saja Alenna dan Paman Li menentukan waktu temu dengan pihak yang diutus Vero. Senin siang, Alenna dan Paman Li akan melakukan pertemuan dengan pihak yang diutus Vero.
"Baiklah, Paman. Salam untuk Mas Satria, putra Paman. Bilang aja silakan datang ke Jakarta untuk mengikuti seleksi kerja. Em, satu lagi. Paman Li doakan pernikahan Alenna dan Mas Rangga lancar, ya. Besok pagi, semoga Mas Rangga nggak gugup. Hihi."
Alenna mendengarkan nasihat, kata bijak, dan doa Paman Li untuknya. Setelahnya, panggilan pun diakhiri. Segera Alenna celingukan mencari keberadaan Ranti.
"Eh, kok belum balik juga? Lama banget mereka bikin minumnya," cetus Alenna.
Alenna masih sabar menunggu sambil mengecek pesan-pesan yang masuk di smartphone miliknya. Hingga sepuluh menit pun berlalu, Alenna mulai gelisah.
"Duh, susulin nggak ya? Atau mungkin mereka lagi nungguin es batunya membeku? Ah, Juno sih pakek nawarin es jeruk!"
Terdengar salam dari arah pintu. Rupanya Haris datang. Alenna lekas tersenyum dan membalas salam dari ayah Juno itu.
"Ini Alenna, kan? Waduh, om jadi pangling. Kamu makin cantik aja!" puji Haris.
"Terima kasih, Om. Tadi kata Juno om di luar kota?" Alenna mencoba bertanya.
"Iya. Sebenarnya baru pulang besok. Ternyata selesai lebih awal. Om sampai lupa tidak memberi kabar pada Juno. Oya, ini tumben-tumbennya kamu main ke sini? Apa ada kabar terbaru tentang bisnis ayahmu?" tanya Haris.
Haris baru mengenal John sejak beberapa bulan lalu. Itu pun karena menemani rekan bisnisnya. Dari situlah Haris tahu tentang Alenna. Haris pun sempat dapat kabar bahwa sang putra pernah menjalin hubungan spesial dengan Alenna.
"Em, Alenna ke sini ngasih kabar ke Juno. Insya Allah besok Alenna akan menikah, om." Alenna berbicara sejujurnya.
Mimik wajah Haris berubah semakin cerah. Ayah Juno itu rupanya turut senang mendengar kabar baik Alenna.
"Selamat, ya. Om ikut senang mendengarnya. Salam untuk ayahmu juga. Oya, Junonya mana? Kok kamu ditinggalin sendiri di sini?" Haris bertanya-tanya.
"Tadi Alenna ke sini sama teman. Sepertinya lagi bantu Juno bikin minum di dapur, Om."
Haris mengangguk-angguk. Haris memaklumi jika putranya itu meminta bantuan untuk membuat minum karena memang kurang cekatan bila menyangkut urusan dapur.
"Kalau gitu om lihat Juno ke dalam dulu, ya." Haris beranjak.
Haris segera menuju dapur. Begitu sampai, didapatinya Juno sedang mengaduk minuman ditemani seorang yang belum Haris kenal.
"Wah. Siapa si cantik ini, Jun? Pacar kamu?" tebak Haris.
"Iya, Yah. Kenalkan, ini Ranti. Pacarnya Juno," aku Juno.
Ranti sempat terkaget dengan pengenalan itu. Tak disangka Juno akan mengakuinya sebagai sang pacar. Ranti pun tersenyum canggung.
"Kalau begitu om tinggal ke atas dulu, ya. Kalian mengobrol saja. Om mau istirahat. Lelah, habis dari luar kota," terang Haris.
Haris pun berlalu pergi, meninggalkan Juno dan Ranti.
"Aaah, barusan hampir aja. Untung aku dengar suara ayah datang." Juno bernafas lega. "Eh, kamu sedang apa? Mau kubantu?" tanya Juno sambil tersenyum jahil.
"Biar aku sendiri!" sahut Ranti sambil tetap memperbaiki pakaian bagian belakang yang sedikit berantakan akibat ulah tangan Juno yang lancang.
__ADS_1
"Ranti, aku sudah mengenalkanmu pada ayah sebagai kekasihku. Aku akan menikahimu. Percayalah padaku," janji Juno pada Ranti.
"Kapan itu?" Wajah Ranti sendu.
"Beri aku waktu dua minggu untuk berbicara dengan ayah. Akan kukabari lagi setelah itu," janji Juno lagi.
Ranti mengangguk.
Aku pegang kata-katamu, Jun. Semoga janjimu bukan janji palsu. Batin Ranti.
Tak lama, Juno dan Ranti pun membawa tiga gelas es jeruk.
"Kok lama sih, kalian?" Ada kelegaan di wajah Alenna setelah melihat Ranti dan Juno kembali.
"Bincang-bincang sebentar di dapur," sahut Ranti sambil mengedipkan sebelah matanya pada Alenna.
Alenna kedip-kedip juga. Antara kepo dan tidak paham dengan penjelasan Ranti padanya.
Keinginan Alenna untuk bertanya lebih diurungkan, karena Juno menyuruh untuk meminum minuman yang dihidangkan. Sontak saja mereka bertiga meraih gelas masing-masing dan menyeruput es jeruk yang rasanya ... ah, kecuuuut! Begitulah pikir Alenna.
Ranti sama Juno bikin minumannya apa nggak dikasih gula, ya. Kecut banget! protes Alenna dalam hatinya.
Diperhatikannya Ranti dan Juno bergantian. Mereka berdua tampak biasa-biasa saja meminum es jeruk mereka. Tidak merasakan rasa kecut luar biasa seperti dirinya. Alenna bahkan mendapati Ranti dan Juno saling curi-curi pandang, bahkan sesekali tersenyum hingga es jeruk di gelas mereka tandas.
Heem, mereka berdua kan lagi jatuh cinta. Sekecut apa pun es jeruknya, tetap saja manis terasa. Batin Alenna, sembari membuang nafas pelan.
"Len, habiskan minumanmu. Kita pulang sekarang!" ajak Ranti tanpa mengurangi keseriusan sekaligus senyum di wajahnya.
"Loh?" Tentu saja Alenna terheran. Dia merasa belum membantu apa-apa terkait urusan Juno dan Ranti.
Kembali Ranti memberi kode. Alenna pun menurut dan lekas menghabiskan minumannya sambil menahan sensasi rasa kecut.
"Kita pamit dulu, Jun. Besok datanglah ke rumahku," pinta Alenna.
"Siaaap. Aku pasti datang," sahut Juno.
Setelahnya Juno melirik Ranti. Wanita yang mulai mencuri hatinya itu hanya tertunduk sambil senyum-senyum malu. Juno dibuat tersenyum pula karenanya.
Di dalam mobil. Alenna lekas memberondong Ranti dengan tanya. Semua rasa penasaran Alenna luapkan.
"Sst. Alenna yang baik, yang cantik, lu udah membantu banyak, kok." Ranti tersenyum menanggapi pertanyaan Alenna yang sudah seperti deretan gerbong kereta.
"Bantu banyak dari mana? Aku tadi cuma nunggu kamu bikin minum sama Juno," sangkal Alenna.
Kembali Ranti tersenyum.
"Justru karena lu ngebiarin gue dan Juno berdua di dapur, gue bisa mendapat pengakuan sebagai kekasih Juno. Gue sudah dikenalkan pada Om Haris. Dalam dua minggu ini, Juno akan mulai berbicara pada Om Haris agar Juno membuat ikatan cinta sama gue," terang Rantu.
Alenna melongo. Sama sekali tak disangka bahwa yang terjadi seperti itu adanya.
"Sst. Sudah. Keponya diredam dulu. Malam ini gue sudah cukup puas dengan perkembangan status gue di depan Om Haris," aku Ranti.
"Sebelum Om Haris datang ke dapur, kalian nggak main macem-macem, kan?" selidik Alenna. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya itu.
Lu pasti bakal kecewa kalau tau gue hampir aja melakukannya lagi sama Juno di dapur. Maafin gue, Len. Pikir Ranti. Dia pun memutuskan menggelengkan.
"Syukurlah kalau begitu. Dua minggu lagi, kabari aku apa jawaban Juno. Kalau masih berbelit, kita datangi lagi. Aku bawa Mas Rangga juga ntar buat nemenin kita," antusias Alenna.
"Eit, tidak-tidak. Gue percaya sama Juno. Lu sebagai ustazah, mulai detik ini harus rajin-rajin ceramahin gue agar lebih baik. Biar nggak khilaf-khilaf lagi," pinta Ranti.
Mimik wajah Alenna melembut.
"Insya Allah. Sebenarnya aku sendiri tidak sebaik yang kamu pikir. Beberapa kali pun aku khilaf juga. Jadi, ayo sama-sama berikhtiar baik. Nanti kalau Anjani sudah pindah ke Jakarta, kita bisa minta bantuan buat rajin-rajin ceramahin kita." Alenna antusias kali ini.
"Wah, ya tentu gue mau. Istri kakak lu itu udah jadi idola baru gue. Pasti Anjani rajin ngaji ya?"
"Anjani juga baru aja hijrah, kok. Baru hafal juz 30. Setidaknya lebih baik istiqomahnya dari pada aku. Hehe." Alenna mengakuinya.
"Setuju aja deh gue. Yang jelas, gue mau banget kalau sering-sering ketemu Anjani di Jakarta. Yuk, sekarang kita balik rumah lu!" ajak Ranti yang mood-nya sudah jauh lebih baik.
Alenna mengangguk. Di tengah perjalanan pulang, ada hal yang membuat Alenna senang. Rangga mengiriminya pesan. Membuatnya senyum-senyum hingga tak sabaran.
Besok aku melamarmu lebih dulu sebelum menjabat tangan ayahmu di depan penghulu. Sabarlah menungguku. Selamat istirahat calon istriku. Hidupkan alarm, agar di sepertiga malam nanti kamu bisa berlama-lama mendoakan ikatan cinta kita.
Rangga, calon imammu.
Alenna mengecup layar smartphone-nya, lantas senyum-senyum tak jelas. Ranti di sebelahnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Alenna.
Bersambung ....
__ADS_1
Suka? LIKE-nya dong buat author š