
LIKE dan VOTE-nya buat author dong! š
***
Lengan Rangga menjadi tempat bermanja-manja. Alenna memperhatikan mimik wajah Rangga usai dia mengungkapkan keinginannya.
"Ehehee." Rangga cengar-cengir. "Bikin anak? Maksudnya?" Rangga berlagak polos, padahal paham maksud Alenna.
"Mas Rangga masa nggak paham, sih. Ayo bikin anak sekarang!" Alenna makin manja di lengan Rangga.
"Tunggu-tunggu. Dari mana kamu dapat kosa kata seperti itu. Bi-kin a-nak. Apa di kantor bahasamu juga 'los dol'?" selidik Rangga.
"Ya nggaklah, Mas. Di depan karyawan ya aku jaim. Di depan Mas Rangga aja aku gila," ujar Alenna.
"Uwwwoo. Jadi selama ini aku menikahi orang gila," canda Rangga yang justru ditanggapi serius oleh Alenna.
Cubitan bertubi dilayangkan di lengan bahkan di perut Rangga. Rasa kesal dan gemas campur aduk dalam serangan cubitan tangan.
"Kok Mas Rangga ngatain istri sendiri gila, sih?" protes Alenna.
"Ahaha. Gimana sih istriku ini? Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang kalau di depanku kamu gila? Hem-hem-hem?" Ganti Rangga yang mencubit gemas hidung mancung Alenna.
"Yaudah, berarti Mas Rangga juga gila karena mau nikah sama orang gila," sahut Alenna kemudian.
Alenna-Rangga kompak tertawa nyaring. Saling menertawakan diri masing-masing.
"Sudah cukup ya main gila-gilaannya. Ingat, apa yang ada pada diri, syukuri. Apa yang kita terima saat ini, syukuri. Jika ada keinginan diri yang belum terealisasi, tetap syukuri. Sembari tetap berikhtiar agar lekas terwujudkan. Maaf, ya Sayang. Mas suka ceramahin kamu," ujar Rangga dengan tutur lembutnya.
"Nggak masalah, Mas. Justru kalau Mas Rangga nggak ceramah, aku yang gelisah. Hehe, Mas Rangga sayang sama aku kan?" tanya Alenna dengan tetap bermanja di lengan Rangga.
"Sayang banget, dong."
"Kalau sayang, ayo bikin anak sekarang!" pinta Alenna.
"Waduh! Pertanyaan jebakan ternyata," gerutu Rangga dengan nada canda.
Apa mau dikata, keinginan Alenna sudah tak mampu ditunda. Sore itu pun Alenna-Rangga memadu kasih dengan penuh cinta.
Pergulatan tidak hanya dilakukan di sore hari, malam harinya pun Alenna meminta lagi. Rangga yang tak kuasa menolak keinginan istri pun dengan sabar menuruti.
"Semoga setelah ini aku bisa hamil, ya Mas." Alenna penuh harap.
"Banyak-banyak berdoa saja. Jika sudah waktunya, pastilah akan hadir di antara kita. Sekarang, segera mandi sana!" Rangga sungguh bermurah senyum pada Alenna.
Keyakinan Alenna tentang kehadiran buah hati yang akan mempererat ikatan cinta mereka sungguh tak lagi terbantah. Semakin hari semakin kuat saja. Alenna bahkan lebih sering menyediakan waktu berdua saja dengan Rangga. Bermanja-manja ria sambil sesekali mendengarkan nasihat dari suami tercinta.
***
Alenna belum bisa mewujudkan janjinya untuk mendesain label dan membuatkan iklan jamu untuk Rangga. Kesibukan kantor menjadi alasan utama. Rangga yang sering tampil dengan style sabar pun tak mempermasalahkan. Justru Rangga menikmati uji coba beragam racikan agar jamu produksinya bisa layak dan laku di pasaran.
"Monitoring dari kantor induk selesai. Meski bukan Tuan Mario sendiri yang hadir, tapi Nona Alenna mendapat acungan jempol karena berhasil menaikkan income perusahaan sejak Nona Alenna menduduki jabatan direktur utama di kantor cabang ini. Utusan Tuan Mario juga memuji ide bisnis periklanan di kantor ini. Saya ucapkan selamat. Nona Alenna memang pebisnis wanita yang tak bisa diragukan begitu saja," puji Satria.
__ADS_1
Alenna menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Tawa ringan dan senyum sedari tadi tak surut menghiasi wajah ayu kebule-buleannya. Pujian dari Satria adalah salah satu pemicunya.
"Terima kasih atas pujianmu, Sat. Harus kuakui, kakakku memilihmu untuk jadi sekretarisku salah satunya ya karena ini. Bekerjasama denganmu malah membuat untung perusahaan. Ide-ide segar dan taktik yang seringkali kau buat membuatku selalu mantap dalam mengambil keputusan tepat. Bolehkah aku tahu rahasia cerdasmu?"
Satria menunduk takzim seraya menampilkan senyum penuh pesona. Didekatinya meja kerja Alenna lantas mengambil setangkai mawar putih segar di sana. Dihirupnya perlahan, lantas dikembalikan.
"Untuk pesona diri, saya terinspirasi dari mawar putih. Sungguh aura bunga yang memikat hati," ujar Satria dengan berjuta makna tersirat di dalamnya.
Alenna mengacungkan jempolnya. Diakuinya bahwa Satria memang memesona. Karyawan di kantornya bahkan banyak yang diam-diam mengidolakan sosok tampan Satria. Termasuk Alenna, yang di masa lalu pernah terpikat juga.
"Lalu, bagaimana caramu agar menjadi secerdas itu?" Alenna jelas ingin tahu.
"Rahasianya hanya satu. Mem-ba-ca. Nona Alenna pasti tidak akan pernah percaya bahwa Satria yang penuh pikat ini justru pembaca novel kelas berat," aku Satria.
Mimik wajah Alenna menampilkan ketertarikan. Tak menyangka bahwa Satria yang style-nya seperti itu justru penggemar buku.
"Saya rekomendasikan novel favorit saya. Ada dua. Yang pertama judulnya MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Banyak ilmu yang saya dapat dari novel itu. Bahkan sekarang saya bisa menjawab pertanyaan Nona Alenna seputar kehamilan karena sudah membaca novel itu." Satria bangga menjelaskannya.
"Cocok, nih. Kalau aku hamil anaknya Mas Rangga pasti kamu juga sudah siap sedia ikut-ikutan menjaga," canda Alenna.
Satria auto mencondongkan badan ke depan lantas menjentikkan jemarinya di depan wajah Alenna.
"Jangan mematik api cinta saya, Nona. Tuan Rangga pasti tidak akan suka."
"Oke-oke. Novel yang kedua apa judulnya? Nanti kuminta Mas Rangga buat baca juga," ide Alenna.
"Yang kedua novel karya Aldekha Depe, berjudul Aku, Si Pelakor! Dari novel itu saya banyak belajar tentang kisah cinta dan kata-kata romantis yang menyertainya. Saya penggemar berat author-nya. Rasa-rasanya ingin meet m great juga," aku Satria.
"Pantas saja pesonamu sebanding dengan kecerdasanmu, Sat. Eh, btw ... ngomong-ngomong soal pelakor, kok aku tiba-tiba teringat Andin, ya. Sat, kapan jadwal perjalanan bisnis ke Surabaya dan Jogja? Lalu butuh berapa hari hingga semua kerja sama teratasi?" Tetiba saja Alenna teringat.
"Dimulai lusa dan butuh empat hari. Mohon Nona Alenna berkenan hadir tanpa diwakili. Ini kerjasama baru dengan mall besar yang baru dibuka di sana. Memungkinkan sekali income perusahaan akan naik dua kali lipat," jelas Satria.
"Baiklah. Itu artinya aku akan meninggalkan Mas Rangga di apartemen sendiri selama empat hari. Semoga tidak ada pelakor yang mendekati," doa Alenna.
"Nona Alenna tidak perlu khawatir. Hati Tuan Rangga tidak akan mudah goyah untuk menduakan cinta. Apalagi beberapa hari ini Nona Alenna sudah menyediakan waktu untuk berduaan dengan Tuan Rangga. Pastilah kesan yang dibuat Nona Alenna akan semakin memperkuat rasa cinta dari Tuan Rangga." Satria membesarkan hati Alenna.
Meski telah yakin ikatan cintanya dengan Rangga semakin kuat, tapi rasa-rasanya hati Alenna belum mantap jika buah hati belum ada di antara mereka. Apalagi semakin hari Alenna sering mendapati Rangga menggendong baby-nya Andin.
"Semoga Andin nggak sering-sering bawa baby-nya ke ruko," celetuk Alenna.
"Nona, yang membuat ikatan cinta itu menguat bukan hanya kehadiran sang buah hati semata. Ada hal lain juga, seperti rasa saling percaya dan tentunya rasa saling mencinta."
Kata-kata Satria dibenarkan Alenna. Beberapa hari ini Alenna memang terobsesi untuk bisa segera mengandung anaknya Rangga. Setelah semua ini, Alenna akan lebih bersabar lagi.
"Sat, tolong jadwalkan pula pertemuanku dengan temanmu yang di kota Solo. Hari keempat setelah perjalanan bisnis di Jogja saja. Aku ingin bertemu langsung dengannya. Sekilas saat melihat fotonya, aku yakin dia cocok menjadi model iklan jamunya Mas Rangga," ujar Alenna.
"Siap, Nona. Akan segera saya jadwalkan pertemuannya."
***
Perjalanan bisnis Alenna dimulai. Baru hari pertama, Rangga memutuskan untuk berlama-lama dan menginap di ruko bersama anak buahnya. Di sana, Rangga juga mengajari anak buahnya cara membuat jamu demi mendukung bisnis barunya.
__ADS_1
"Uenak pol jamune, Bos!" ungkap si bertato.
"Alamat jamuku laris manis." Rangga tampak bahagia.
Di tengah keseruan cicip-mencicip jamu, si mantan pilot helikopter berlarian kecil sembari memberi kode kehadiran Andin.
"Bos, Ada Bu Andin!"
"Eh? Ada apa malam-malam begini ke sini?" Rangga bertanya-tanya.
Tanpa berpikir lebih lama, Rangga membiarkan keempat anak buahnya mengurus jamu yang baru selesai dibuat. Sementara Rangga sendiri langsung menemui Andin di teras depan ruko.
"Ada apa, Ndin?" Seperti biasa, Rangga to the poin agar Andin tidak berlama-lama.
"Anu, Mas. Aku sama Baby Ali baru aja ada urusan di dekat sini. Mau balik ke rumah tapi dari tadi angkot nggak ada yang lewat. Mau pesan ojek, eh HP-ku lowbat. Jadi ...." Andin menggantung kalimatnya, seolah sudah tahu apa keputusan Rangga.
"Aku ambil kunci mobil sebentar. Aku antar kamu pulang." Rangga berbaik hati.
Mimik wajah Andin berseri. Dikecupinya Baby Ali bertubi. Rangga benar-benar bersedia mengantarnya pulang. Dua puluh menit kemudian, Andin dan Baby Ali sampai di tempat tujuan.
Rangga ikut turun membantu Andin agar tidak kerepotan membuka gerbang dan pintu menuju dalam. Dapat dimaklumi, karena Andin tengah menggendong Baby Ali. Kini, Rangga, Andin, dan Baby Ali ada di dalam rumah.
"Mas, kubuatin minum dulu bentar!"
"Eh, nggak usah, Ndin. Aku mau langsung pulang!" tolak Rangga.
"Mas Rangga bukannya pernah bilang kalau tidak baik menolak rezeki. Nah, sekarang tolong gendong Baby Ali sebentar."
Andin tanpa persetujuan lagi langsung memindahkan Baby Ali ke gendongan Rangga. Tak lagi bisa menolak, Rangga pun akhirnya bersedia. Rupanya Baby Ali cepat tertidur di gendongan Rangga. Takut membangunkan, akhirnya Baby Ali Rangga pindahkan ke tempat tidur bayi di dekat sana.
"Ini minumnya, Mas. Aw! Panas-panas!"
Secangkir kopi dalam nampan tumpah sebelum sampai di pendaratan. Tumpahnya tak terkendali, langsung membasahi bagian atas pakaian Andin. Rangga gesit mengambil tisu dan membantu membersihkan pakaian Andin. Entah karena tidak sadar atau bukan, Rangga tidak menyadari bagian yang dibersihkan begitu dekat dengan bagian kenyal yang pernah tak sengaja disentuhnya.
"Aw!"
Andin sengaja membuat suara demikian. Suara itu justru membuat Rangga tersadar. Sedikit panik Rangga menjatuhkan tisu yang baru saja digunakan untuk membersihkan.
"Ma-maaf, Ndin. Nggak sengaja lagi!" Rangga terbata. Sempat merutuki sikap refleksnya yang langsung membantu tanpa pikir dan lihat-lihat dulu.
Senyum Andin mengembang dengan tatapan mata yang dilayangkan pada Rangga. Takut-takut Rangga membalas tatapan mata itu. Agak gemetar juga karena di saat bersamaan teringat wajah Alenna.
"Mas Rangga, aku menyukaimu, Mas!" ungkap Andin.
"Ha?"
Bersambung ....
Yang geram sama Andin, silakan komentari di bawah. Yang terpesona sama Satria, komentari juga di bawah. Yang gemas sama sikap Rangga dan Alenna, gas pol komentarnya los dol. Lanjut di episode selanjutnya, ya.
LIKE dan VOTE buat author dong!
__ADS_1
NB: Dua novel pada dialog Satria adalah novel favorit author. Baca juga yuk! š
***