
Tak henti-hentinya Satria mengamati mimik wajah Alenna dari kaca. Tampak jelas terlihat oleh Satria bahwa Alenna tengah berusaha keras menahan amarahnya.
"Mohon maaf, nona ...."
"Jangan minta maaf, Sat. Kamu tidak salah apa-apa. Mas Rangga yang begitu tega membalasku," sahut Alenna.
"Bukan itu yang mau saya katakan, Nona. Saya terusik dengan sapu dan pisau dapur yang nona siapkan. Bolehkah saya tahu untuk apa? Menurut saya, membalas dengan melakukan tindak kriminal tentu akan sangat merugikan posisi nona. Saran dari saya, mohon nona bisa mengendalikan emosi dan tidak berlebihan pada Tuan Rangga," jelas Satria yang mengkhawatirkan Alenna.
"Percayalah padaku, Sat. Aku mau lihat dulu sejauh mana Mas Rangga memulai perselingkuhannya dengan Andin. Jika sudah terlalu jauh, maka aku .... Uuuh!"
Kembali botol air mineral diremat oleh Alenna. Kekesalan kembali menghampirinya. Membuat Satria yang melihat itu semakin khawatir saja.
Sepuluh menit kemudian, mobil telah sampai di tempat tujuan. Alenna turun sambil membawa pisau dan sapu. Satria yang sigap langsung menyejajari langkah Alenna dan waspada bila mendadak ada kenekatan terjadi di sana.
Langkah Alenna berhenti tepat di depan gerbang rumah Andin. Di luar dugaan, Alenna justru memilih memanjat di bagian pembatas pagar yang landai. Meski bingung, Satria tetap mengekori Alenna. Kini, Alenna dan Satria tepat berada di pintu depan rumah Andin.
"Sat, buat dirimu berguna. Congkel jendelanya tanpa disadari penghuni rumah," perintah Alenna.
Satria makin dibuat bingung saja dengan perintah Alenna. Sama sekali Satria tak mengerti jalan pikiran bos cantiknya itu.
"Boleh saya tau tujuan nona?" tanya Satria pada akhirnya.
"Tentu saja untuk memergoki mereka. Jika kita datang secara normal, besar kemungkinan ada dalih yang menjadi alasan," mantap Alenna berbicara.
"Dimengerti. Mohon nona menunggu sebentar."
Satria sigap melaksanakan instruksi. Bermodal pengalaman, Satria dengan begitu elegannya membobol jendela rumah. Alenna bahkan sempat terpukau menyaksikannya.
Kembali Alenna melanjutkan misi. Tak lupa sapu dan pisau di genggaman tangan kanan dan kiri. Tapakan langkah kaki pun dibuat begitu lirih. Terus mengendap, hingga sampailah mereka di depan pintu kamar yang lampunya menyala terang.
"Sat, dobrak!" kode Alenna dengan gumaman lirih.
Satria mengamati pintu di depannya lebih dulu. Pengelihatan dan intuisi tajam Satria langsung mengarahkannya pada suatu keyakinan bahwa pintu kamar bisa dibuka dengan leluasa. Pintu kamar itu sama sekali tidak dikunci.
Mengerti dengan isyarat Satria, anggukan lekas diberikan Alenna seketika. Pisau di genggaman tangan kanannya segera diberikan Satria. Menyisakan sapu di genggaman tangan kirinya.
Brak!
Pintu terbuka. Tiga manusia di atas ranjang langsung terusik seketika. Tiga? Iya, ada tiga. Ada Baby Ali di tengah-tengah Andin dan Rangga.
"Mas Rangga!" seru Alenna sambil mengacungkan sapu di tangannya.
"Alenna?" Rangga panik, apalagi kondisinya tengah bertelanjang dada.
Kepanikan yang sama juga terlihat pada diri Andin. Bagian kenyal yang menyembul lekas ditutupi dengan selimut yang dipakai Baby Ali.
Geram. Kesal. Geregetan. Emosi Alenna yang semula ditahan langsung meluap gegara terbayang adegan yang sudah dimainkan Rangga dan Andin. Pikiran Alenna jelas kemana-mana. Jelas menaruh prasangka pada Andin dan Rangga.
"Alenna, aku bisa jelaskan." Rangga berdiri di dekat ranjang setelah tergopoh mencari kaos miliknya.
"Mau menjelaskan kalau Mas Rangga memang telah mendua, ha? Sudah puas membalasku, Mas?" teriak Alenna.
"Aku sama sekali tidak berniat membalasmu, Sayang!" Rangga mencoba membela diri.
"Sayang-sayang-sayang! Masih berani manggil aku sayang?! Sekarang pulang! Kalau tidak, aku sunat ulang sekarang!"
"Su-sunat?" Rangga bergidik dan refleks menutupi bagian bawah miliknya.
Alenna merampas pisau dapur dari tangan Satria. Mengira Alenna serius dengan kata-katanya, Satria pun tak mengizinkan pisau dapur itu berpindah dengan mudahnya.
"Tahan emosi, Nona!"
__ADS_1
"Lepasin, Sat!" desis Alenna. Duh, Satria nggak peka amat sih. Ini kan cuma gertakan, batin Alenna.
Pada akhirnya Alenna tetap tak mendapatkan pisau dapurnya. Alenna kesal dan membiarkan Satria membawa pisau dapur di genggaman tangannya.
"Mbak Alenna jangan egois, dong. Mas Rangga mencintaiku!" Andin tiba-tiba berani bersuara.
"Diam kau!" seru Alenna sambil mengacungkan sapu yang dibawanya.
"Nggak bisa! Asal Mbak Alenna tau ya, Mas Rangga sudah tidur satu ranjang denganku. Sebentar lagi pasti aku hamil anaknya Mas Rangga."
Alenna dan Satria terkejut mendengar penuturan Andin. Akan tetapi, bukan hanya mereka berdua saja ternyata yang terkejut. Rangga lebih terkejut lagi dan langsung melayangkan protesnya.
"Ngomong apa sih kamu, Ndin? Orang kita nggak ngapa-ngapain!" sangkal Rangga.
"Iihhh. Mas Rangga kan udah main yang kenyal-kenyal barusan!"
"Ya masa gitu aja bikin hamil. Cuma bentar lagi!"
"Emang Mas Rangga nggak menikmatinya tadi?"
"Dikit doang nikmatnya. Di tengah-tengah ada Baby Ali juga," ujar Rangga.
"Siapa tadi yang minta buat naruh Baby Ali di tengah-tengah kita? Mas Rangga, kan? Nggak bisa! Mas Rangga tetep harus tanggung jawab nikahin aku!"
"Kok maksa, sih! Nggak mau ah!" tolak Rangga dengan santainya.
Obrolan absurd dilontarkan terang-terangan di depan Alenna dan Satria. Tampak mata Andin benar-benar kesal melihat reaksi penolakan Rangga.
"Dasar laki-laki nggak ada greget-gregetnya! Plin-plan!" Andin yang kesal tak sengaja malah mencibir Rangga.
"Terus ngapain kamu mau sama aku? Hayoo, sekarang siapa yang plin-plan coba!" balas Rangga.
Andin tak habis pikir dengan Rangga yang tadi pagi mau sekarang seolah menjelma musuh. Seketika itu Andin melempari Rangga dengan bantal, guling, selimut, dan banyak lagi yang lain. Andin geram, kesal, geregetan menghadapi Rangga yang plin plan.
"Jangan sunat ulang. Aku pulang!"
Rangga menyahuti lebih dulu. Padahal sebenarnya bukan itu gertakan yang akan dilayangkan Alenna. Jawaban Rangga justru memudahkan Alenna untuk membawa suaminya itu pulang bersamanya.
***
Satria bingung juga harus mengurus Andin model apa. Pasalnya, sebelum ini Alenna tidak membicarakan apa pun terkait dirinya yang harus mengurus Andin.
"Mau apa kau? Mau marah-marah juga kayak Mbak Alenna? Mending nggak usah buang tenaga, deh. Aku nyesel udah ngejar-ngejar Mas Rangga," aku Andin.
"Baguslah. Sebaiknya Nona Andin bertaubat saja. Baby Ali pasti akan lekas mendapat ayah pengganti. Yang mau mengerti kekurangan dan kelebihan Nona Andin," nasihat dan doa Satria dengan senyum penuh pesona.
Andin tak mengira Satria tak memaki-maki dirinya.
"Bagaimana kalau kamu saja yang jadi ayah pengganti Baby Ali." Andin mengedipkan sebelah matanya, centil pada Satria.
Seolah terbiasa menghadapi kerlingan model demikian, Satria justru bersikap biasa saja.
"Mohon maaf, saya langsung menolak saat ini juga. Pastilah di luaran sana akan ada lelaki beruntung yang bisa mendapatkan cinta Nona Andin. Saya tegaskan juga agar Nona Andin tidak kembali mendekati Tuan Rangga karena Bos saya yang cantik jelita pasti tidak akan suka." Begitu elegan tutur kata Satria.
"Kenapa penolakanmu malah membuatku semakin tergoda saja ya? Kamu manusia apa dewa cinta sih? Tapi, tak apalah. Aku ogah rebutan lagi. Tobat deh aku. Nih, nasihatmu langsung mempan karena kata-katamu yang elegan. Boleh kutahu namamu, Tampan?" Andin ingin tahu.
"Biarlah nama saya menjadi sebuah rahasia. Khawatirnya nona malah akan susah tertidur karena terbayang-bayang wajah saya. Dan ... terakhir kali, mohon maaf atas segalanya. Semoga semua kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Sekian, saya pamit pulang!" Satria melangkah keluar dengan langkah penuh kewibawaan.
Sementara itu, di dalam mobil. Alenna dan Rangga sama-sama mempertahankan sikap diam. Sejak masuk mobil mulut mereka terbungkam. Alenna dengan emosinya yang terus diredam, sedangkan Rangga dengan hati yang sedikit banyak menyisakan kekhawatiran akan gertakan pisau dapur yang Alenna genggam.
"Sayang, pisaunya buang dong!" takut-takut Rangga mengatakan.
__ADS_1
"Nggak mau! Mau kubuat nakut-nakutin buaya di apartemen!" tegas Alenna.
"Sejak kapan di apartemen kita ada yang melihara buaya?" Rangga berpikir keras.
"Mau tau buayanya?" tawar Alenna.
Rangga bersemangat mengangguk. Seketika Alenna mengeluarkan bedak dari tasnya, membuka, lantas mengarahkan cermin bedak tepat di hadapan muka Rangga.
"Tuh, buayanya terlihat di dalam cermin!"
"Waduuuh! Aku dong buayanya! Beruntung bener buaya kayak aku bisa menakhlukkan hati bos besar yang bar-bar tapi cantiknya kebangetan!" Santuy, Rangga menyahuti.
Kenapa sikap Mas Rangga yang santuy seperti ini malah bikin aku gemas sih. Uuuh, gini ini deh musuh kekuatan cinta. Sebesar apapun Mas Rangga berbuat salah, hatiku tetap memaafkan juga. Batin Alenna.
Alenna menghela nafas dalam lantas beristigfar.
Dulu, saat ikatan cintaku kendor karena ulahku yang selingkuh dengan Satria, Mas Rangga begitu sabar menyikapinya. Itu semua demi ikatan cinta yang sudah terjalin tidak terputus begitu saja. Lalu, apakah aku harus bersikap sama seperti Mas Rangga menyikapiku di masa lalu?
Alenna yang terdiam tak luput dari perhatian. Rangga mencuri-curi kesempatan agar kembali memenangkan hati sang istri yang bar-bar.
"Sayang, kamu kalau cemburu gini makin cantik deh!"
"Gombal!"
"Beneran. Apalagi kalau ngasih aku pelukan, pasti cantiknya makin kelewatan!"
"Iiih, Apaan sih!"
"Eit, masih galak aja rupanya. Baiklah, begitu sampai di apartemen, langsung aku buatkan jamu pereda cemburu!"
"Jamu pereda cemburu? Emang Mas Rangga pikir cemburuku akan mereda hanya dengan minum jamu?"
Rangga terkekeh, lantas dengan PeDe merangkulkan tangan ke pundak Alenna.
"Tentu ada resep mujarab yang rahasia. Sayangku mau tau nggak?" Nada Rangga terdengar meyakinkan.
"Apa itu?"
Rangga mendekatkan wajah hingga begitu dekat dengan Alenna.
"Rahasianya adalah maaf darimu. Dijamin rasa cemburumu langsung mereda seketika itu. Ditambah minum jamu buatanku, pasti hatimu makin klepek-klepek dengan suamimu. Maafkan aku istriku. Lelaki biasamu ini tak bisa hidup tanpamu." Rangga tanpa permisi mengecup hidup mancung Alenna.
"Gombal. Mas Rangga kepedean." Alenna tak dapat menyembunyikan tawanya. "Uuuuh. Gemes! Kok bisa aku jatuh cinta sama kamu ya, Mas!" Alenna mencubit-cubit pipi Rangga.
"Eheehe. Senangnya bisa dicubit sama istriku. Minta lebih dong, Sayang!"
Alenna yang bar-bar tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan. Alenna-Rangga pun saling berbalas serangan. Ikatan cinta yang semula mengendor otomatis mengerat tanpa keformalan. Semua berjalan sesuka hati, tapi Alenna-Rangga cukup bisa saling memahami isyarat hati.
"Aaah, nona dan tuan selalu saja terang-terangan dalam urusan cinta. Semoga mereka berdua tidak lama, biar aku bisa bernafas seperti semula," batin Satria, merana melihat kemesraan di dalam mobil sana.
Bersambung ....
Babang Satria
Babang Rangga
Pembaca setia
Mana suaranya?
Maaf, slow up buat beberapa hari. Semoga banyak yang masih setia menanti.
__ADS_1
Terima kasih banyak yang sudah mendukung novel Takdirku Bersamamu dan Menanti Mentari karya Cahyanti. Tetap dukung kami karena dukungan kalian begitu berarti. š
***