Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 39


__ADS_3

Anggukan Alenna saat Satria menawari pelukan menimbulkan desiran. Paras ayu kebulean di depan Satria terus tersenyum menawan. Hanya senyum manis mengumbar. Tidak ada tindakan meski telah dilayangkan anggukan.


"Mau cium?" Giliran Alenna yang menawari kali ini.


Satria mengangguk, lantas tersenyum sembari memandang. Mengulang sikap Alenna tadi yang tetap diam meski anggukan telah diberikan.


Dua sosok cantik dan tampan saling berpandangan. Senyum manis saling disuguhkan. Jarak mereka pun tak berdekatan.


"Dulu kamu langsung memelukku erat begitu kutawari pelukan," ujar Satria.


"Kamu pun demikian, langsung memberi ciuman begitu kusuguhkan tawaran," sahut Alenna.


Dua insan saling membahas kenangan. Kesalahan masa lalu yang membuat mereka terjebak dalam perasaan terlarang. Sebuah rasa memabukkan yang terselubung dalam kotak perselingkuhan. Sayangnya, rasa itu telah menjadi bagian masa lalu yang tak terlupakan.


"Apa kabar nona mantan?" Satria menunduk takzim.


"Mantan? Hehe. Ternyata kamu sudah bisa memudarkan rasamu padaku, ya?" tebak Alenna tanpa memudarkan senyum di wajahnya.


"Tentu saja belum sepenuhnya, Nona. Rasa yang terpendam sekian tahun lamanya tak akan memudar dalam waktu beberapa pekan saja. Namun, saya menghormati keputusan Nona Alenna yang telah berkomitmen menjaga ikatan cinta dengan Tuan Rangga," terang Satria dengan tutur lembut penuh pesona.


Perasaan Alenna sukses teraduk. Kemunculan Satria setelah sekian minggu lamanya, pengakuan Satria yang masih berjuang untuk move on darinya, juga pesona Satria yang masih sama seperti sebelumnya. Alenna tak dapat mendustai diri. Dirinya pun juga belum sepenuhnya move on dari Satria.


"Sat, selama di Solo adakah wanita yang dekat denganmu?"


Untuk seseorang yang telah memutuskan kembali ke jalan yang benar, berniat menghapus kenangan perselingkuhan, berproses dalam ikhtiar move on dari rasa terlarang, rasa-rasanya tidak pantas jika Alenna bertanya demikian. Namun, rasa kepo menjadi dasar. Alenna berusaha memposisikan dirinya sebagai seseorang yang hanya ingin tahu semata.


"Ada dua, tapi tidak ada yang lebih mengusik hati selain Nona Alenna," aku Satria sejujurnya.


"Tidak apa-apa jika ada orang lain yang menggantikan namaku di hatimu. Dengan begitu kita berdua bisa sama-sama lebih mantap moving on dari rasa masa lalu," ungkap Alenna tulus.


Satria tak mampu menanggapi. Ada ketidakrelaan yang menggelayut. Seolah mata hati telah tertutup kabut.


"Pelabuhan hati ini masih terus kujajaki. Perlahan, tanpa tercemar pemaksaan. Tentu aku akan berlabuh jika masanya datang. Tapi, rasanya tidak sekarang dan bukan dengan orang yang asal. Maaf, Nona. Tentang perasaan saya, biarlah mengalir begitu saja. Namun, saya berjanji tetap akan menghormati komitmen Nona dengan Tuan Rangga," terang Satria.


"Baiklah. Aku pun menghormati keputusanmu, Sat."


Alenna dan Satria sama-sama tersenyum. Sungguh senyum yang berbeda makna.


"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kakakku sehingga mengirimmu sebagai sekretarisku. Tapi, selamat datang dan bertugas sebagai sekretarisku. Semoga betah di kantor ini," sambut Alenna kemudian.


"Satria siap mendedikasikan diri, melayani, juga membantu mengembangkan bisnis di kantor ini. Sekarang ... silakan nona duduk dulu." Satria mempersilakan.


Alenna menurut. Sedari tadi dirinya memang berdiri sembari berusaha mengendalikan hati.


"Nona, pukul stengah 9 ada rapat terbatas dengan kepala bidang, membahas persiapan monitoring dari induk perusahaan. Beberapa topik sudah saya list. Nona tinggal menambahkan poin yang kurang. Meeting dengan relasi di pukul 10, di-reschedule minggu depan. Siang ini ada pula makan siang dengan relasi yang baru seminggu lalu mendapat persetujuan proposal. Untuk besok dan lusa, semua jadwal dikosongkan. Saya dengan senang hati akan mengantar nona dan tuan ke Jogja. Selanjutnya, adakah yang ingin nona tanyakan?"


Alenna mengagumi cara kerja Satria. Detil dan terencana. Alenna mulai tersadar kenapa sang kakak memilih Satria sebagai sekretarisnya. Satria jelas akan membantu banyak untuk kemajuan perusahaan.


"Em ... yang ditanyakan, ya? Bolehkan aku tahu siapa nama dua wanita yang dekat denganmu di Solo?" Alenna justru keluar topik.


Satria menjentikkan jarinya sekali di depan wajah Alenna.


"Fokus pada pekerjaan, Nona."


"Oh. Iya. Maaf."


Selanjutnya, obrolan berlanjut dengan mengedepankan rasa profesional pada pekerjaan. Alenna sebagai direktur utama, dan Satria sebagai sekretarisnya.


***


Sudah jam istirahat makan siang. Rangga baru saja ditelpon Alenna bahwa tidak bisa menemani makan siang seperti biasanya. Rangga memaklumi. Posisi Alenna di perusahaan memang kadang menuntut lebih.


"Ayo istirahat dulu. Kubawakan ayam geprek untuk kalian. Menu baru di cafenya Juno. Dijamin uenak tenan!"

__ADS_1


Rangga menginstruksi keempat anak buahnya untuk istirahat makan siang. Semua makan dengan lahap. Begitu tenang, nyaman, dan terselimuti rasa syukur dan rasa senang.


Keempat anak buah Rangga telah berhijrah. Menggeluti profesi baru sebagai karyawan di ruko sepatu. Yang membuat mereka nyaman bukan hanya karena Rangga memberi upah besar, tapi juga karena Rangga selalu memberinya nasihat-nasihat yang bisa membuat mereka berselimutkan kebaikan.


"Bos, ada Bu Andin tuh!" ujar si mantan sopir.


"Waduh, Bos. Bu Andin bawa anaknya!" seru si bekas sayatan.


"Kalian lanjutkan saja istirahatnya. Aku ngobrol dulu sama Andin." Rangga beranjak.


Astaghfirullaah. Batin Rangga.


Rangga berusaha menata hati sebelum bertemu Andin. Pasalnya, Andin siang itu datang dengan berhias muka. Lipstik yang dipakainya pun tampak lebih menyala.


"Ini anakmu?" tanya Rangga basa-basi.


"Iya, Mas. Baru usia delapan bulan."


"Baby boy cakep namanya siapa, nih?" Suara Rangga dibuat seperti anak kecil.


Andin merespon dengan menirukan suara anak kecil yang sama.


"Namaku Ali, Om. Aku tidak punya ayah. Aku pengen punya ayah lagi, Om!"


Deg!


Kikuk-kikuk-kikuk. Rangga terhenyak begitu kata ayah disebut. Rangga sendiri pun tahu status Andin yang seorang janda beranak satu. And now ... Rangga bingung harus merespon apa.


"Em ... kita ngobrol di atas saja, ya."


"Ayo, Mas!"


Andin sambil menggendong anaknya mengekori langkah Rangga menuju lantai dua. Rangga mempersilakan duduk di sofa lantas mengambilkan minum untuknya.


"Jadi, Mas. Ruang di tokoku masih cukup, apalagi banyak model baru. Sekalian aku mau bayar yang stok awal. Ini dihitung dulu, Mas." Andin melakukan pembayaran secara cash.


Rangga menerimanya. Berucap hamdalah kemudian berterima kasih pada Andin.


Tetiba saja baby Ali menangis.


"Loh-loh. Kenapa itu?" Rangga yang belum berpengalaman memiliki anak pun jadi bingung.


"Haus ini, Mas."


"Aku ambilkan minum dulu." Rangga berniat mengambilkan air putih.


"Aduh, Mas. Ali masih minum ASI. Bentar ya, Mas."


Tanpa sungkan Andin malah bersiap menyusui Ali di depan Rangga. Tak sengaja pula Rangga melihat bagian yang seharusnya tidak boleh dilihatnya.


"Astaghfirullaah. Andin, ada aku di sini!" protes Rangga yang sudah menghadap ke arah lainnya.


"Memang kenapa kalau ada Mas Rangga? Bukannya Mas Rangga sudah punya istri? Berarti sudah tidak asing melihat yang seperti ini," sahut Andin dengan santainya.


Rangga mengusap wajahnya. Agak kesal juga mendengar jawaban Andin yang seperti tak mengenal dosa.


"Begini. Lain kali kamu kalau ke sini bawa Ali, kalau menyusui di sana saja. Di sana lebih tertutup. Maaf ini. Bukan mau nyeramahi. Tapi aku ingin kamu bisa lebih menjaga sikap karena kita bukan muhrim," tegas Rangga tanpa melihat ke arah Andin yang sedang menyusui.


"Iya, Mas. Maaf, ya. Aku ke situ dulu, deh. Lanjutin bentar!" Andin izin.


Kelegaan jelas tercipta pada diri Rangga begitu tahu Andin telah berpindah.


"Ini kalau istriku sampai tahu, bakalan kumat cemburunya," celetuk Rangga sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Usai Andin beres dengan urusan bayinya, Rangga langsung to the point ke topik, tentang restock sepatu untuk toko Andin. Rangga tidak ingin berlama-lama, khawatir mendadak Alenna datang dan berpikiran macam-macam padanya.


***


Usai subuh, Alenna-Rangga telah bersiap menuju Jogja. Rangga berulang kali kedapatan cemberut karena sopir yang mengantar adalah Satria.


"Gini-gini aku juga khawatir istriku selingkuh lagi," batin Rangga.


"Mas Rangga kok bengong? Ayo berangkat. Biar nggak telat sampai di resepsinya Meli sama Mas Azka. Nanti kita nggak kebagian es jeruk, lho!" ujar Alenna.


"Aduh, Sayang. Kamu jauh-jauh ke Jogja, datang ke kondangan malah yang dicari es jeruk."


"Biarin. Ayo-ayo berangkat. Satria sudah siap tuh!" Alenna menggandeng lengan Rangga.


Berangkatlah Alenna-Rangga-Satria ke Jogja. Memenuhi undangan resepsi sahabat baiknya, Meli dan Azka. Berulang kali mobil mereka berhenti karena .... Ehehe, Rangga mabuk darat.


"Hueeek!"


"Aku pijitin, Mas."


Tangan Alenna memijit pelan bagian leher Rangga. Sementara Rangga sendiri sibuk dengan kantong muntahnya.


"Tuan Rangga mau berhenti dulu di rest area?" Satria memberi saran.


"Aku baik-baik saja. Hueeek!"


Satria sigap menyikapi kondisi Rangga. Tanpa meminta persetujuan, begitu melihat rest area, mobil selalu dihentikan.


"Maaf, mas memang tidak terbiasa naik mobil bagus." Rangga meminta maaf.


"Nggak perlu minta maaf, Mas. Aku sungguh tidak apa-apa. Pulang dari Jogja kita ganti mobil yang lebih bagus lagi, ya. Biar Mas Rangga nggak mabuk saat perjalanan jauh seperti ini," ungkap Alenna.


"Aduh, malah mobil baru!" Rangga tepuk jidat, tapi tetap iya-iya saja karena uang yang digunakan adalah milik Alenna.


"Iya deh. Mobil baru tidak masalah, tapi jangan sampai lalai rutinitas sedekahnya." Nasihat Rangga kembali diperuntukkan untuk Alenna.


"Siap, Mas Ranggaku tersayang."


Alenna bermanja-manja sambil mengurus mabuk darat suaminya. Satria yang hari itu hanya sebagai sopir hanya mampu menguatkan hatinya.


"Nona, Tuan. Selamat bersenang-senang. Mobil saya tinggal. Jika sudah saatnya pulang, tinggal hubungi saya. Saya siap mengemudi lagi," tutur lembut Satria begitu sampai di Jogja.


"Loh kamu mau kemana? Terus naik apa kalau mobilnya ditinggal?" tanya Rangga.


"Saya mau ke Solo. Menemui dua wanita cantik, gebetan saya. Untuk kendaraan, itu mudah. Mobil sengaja saya tinggalkan agar Nona dan Tuan bisa jalan-jalan setelah resepsinya. Sampai jumpa di saat kepulangan. Satria, pamit undur diri."


Satria menunduk sopan. Langkahnya diayun menjauh, dan ternyata sudah ada mobil lain yang menjemputnya.


"Satria misterius ya, Mas." Ujar Alenna.


"Iya, dan dia mantan selingkuhanmu!" celetuk Rangga.


"Mas Rangga jangan coba-coba selingkuh juga sama Andin loh, ya!"


"Iya, Sayangku! Siap! Ayo masuk! Kita temui Meli dan Mas Azka." Rangga menggandeng lengan Alenna demi melihatnya tidak khawatir akan dirinya dengan Andin. Akan tetapi, tiba-tiba ....


Drrt ... Drrrt ... Drrt ...


Rangga mengintip nama di layar ponselnya. Ternyata dari Andin. Sengaja Rangga mengacuhkan. Terus melangkah menuju resepsi pernikahan Meli-Azka.


Keseruan Alenna-Rangga di Jogja bisa dibaca di novel MENANTI MENTARI karya Kak Cahyanti, ya. Ada Mario-Anjani juga di sana, lho. Sudah update juga. Cap cus baca dan dukung kami ya. 😊


Bersambung ....

__ADS_1


***


__ADS_2