Ikatan Cinta Alenna

Ikatan Cinta Alenna
Bab 15


__ADS_3

Gagal terlelap. Sudah setengah jam lebih Alenna terus saja berguling-guling di kasur apartemennya. Jantungnya masih berdebar-debar lantaran kabar baik yang didapatkan. Mengingat dirinya akan segera menikah dengan Rangga, sungguh membuat dadanya terus-terusan berdebar merdu menyanyikan lagu cinta.


"Coba VC Ranti lagi aja, deh. Nggak yakin banget jam segini tuh anak udah tidur."


Lampu kembali dihidupkan. Alenna berjalan menuju smartphone di atas nakas. Lekas ditekan dial pemanggilan. Namun, lagi-lagi VC itu tak juga diterima.


Satu notifikasi pesan masuk. Begitu dicek, bukan Ranti pengirimnya. Pengirim pesan itu justru Vero. Yaps, Babang Vero mengirimi Alenna pesan malam-malam.


Alenna, besok bantu aku ceramahin ayahku, dong. Biar dia tobat juga. Please! Begitulah isi pesan Vero yang sukses membuat Alenna bertanya-bertanya.


"Bantu ceramahin biar tobat? Loh, emangnya ayahnya Vero suka yang merah-merah juga? Ups. Alenna, nggak boleh berprasangka buruk. Aduh, tapi gimana ya? Kalau ada yang minta tolong masa iya nggak dibantu?"


Alenna bingung. Cukup lama dia menimbang akan membalas pesan itu atau tidak. Usai bergelut pikir dan berlama-lama, Alenna pun memutuskan untuk abai pada pesan Vero.


Kembali Alenna mencoba VC Ranti.


"Kalau yang ketiga ini nggak diangkat, aku baru nyerah."


Fix. Ranti tidak mengangkat panggilan VC dari Alenna. Alenna pun menyerah. Tidak mencobanya lagi.


"Mungkin emang udah tidur. Bisa aja dia seharian pergi ke kebun binatang sama Juno. Huft. Sebaiknya aku juga tidur, deh."


Alenna pun memutuskan untuk tidur. Ya, dia mencoba untuk tidur. Berusaha untuk terlelap.


***


Tiga kali sudah Ranti mengabaikan VC Alenna. Ranti mendengar dering panggilan VC itu. Ranti pun tahu siapa yang menghubunginya malam-malam seperti itu. Ranti hafal, yang menelepon pasti Alenna. Namun, Ranti tidak bisa menerima panggilan itu.


Ranti masih merebahkan dirinya di ranjang, hingga kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Juno keluar, masih mengusap-ngusapkan handuk guna mengeringkan rambutnya.


"Mau pakai hair dryer?" Ranti menawarkan.


Juno menggeleng. Satu senyum dilayangkan untuk Ranti.


"Oya, sepertinya barusan ayahmu menelepon." Ranti memberitahu.


"Oya? Bentar aku cek dulu." Juno bergegas menuju smartphone miliknya yang sejak sore terabaikan begitu saja.


"Duh!" desis Juno.

__ADS_1


"Ada apa?" Ranti mendekat, ingin tahu.


"Em, aku harus kembali ke penginapan. Ayah mencariku," terang Juno.


Ada satu kekecewaan di wajah Ranti. Dia berharap Juno bisa tinggal lebih lama di Jakarta. Namun, apalah daya.


"Baiklah. Aku pesankan taxi untukmu." Ranti bergerak cepat memesankan taxi untuk Juno.


Usai memesan taxi, Ranti mengantar Juno hingga di depan pintu apartemennya.


"Kapan kita bisa bertemu lagi?" lirih Ranti bertanya.


Juno tersenyum.


"Semoga segera. Terima kasih untuk hari ini," ucap Juno.


Ranti tersenyum, lantas mengangguk. Mereka berpisah. Juno kembali ke penginapannya. Sedangkan Ranti masuk ke dalam apartemennya. Membersihkan bungkus-bungkus makanan, bungkus minuman, juga sprei kasurnya yang berantakan.


***


Juno sampai di penginapannya tepat pukul setengah dua belas malam. Larut sekali. Kedatangan Juno lekas disambut sang ayah, Haris, di depan pintu.


"Ketemu teman. Kan tadi Juno sudah pamit," sahut Juno.


Haris menghela nafas dalam. Dia tak ingin mempermasalahkan jam kepulangan Juno. Namun, niat untuk tidak memperpanjang diurungkan setelah Haris mencium sesuatu yang aneh saat Juno melewatinya.


"Parfum perempuan? Kamu ketemu teman laki-laki atau perempuan?" selidik Haris.


Juno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia seperti sedang berpikir.


"Emm, tadi ada banyak sih. Ada yang laki-laki, trus ada yang perempuan."


Juno menjawab apa adanya. Sebelum menuju apartemen Ranti, dia sempat jalan-jalan dengan beberapa teman yang dikenalkan Ranti. Bahkan sebelum agenda jalan-jalannya, Juno juga sempat bertemu dan berkenalan dengan Vero.


"Lain kali jangan abaikan ponselmu. Tadi saat makan malam bersama relasi, ada teman ayah yang ingin berkenalan denganmu. Tapi lupakan saja. Segeralah istirahat. Besok pagi-pagi sekali kita pulang agar siangnya kamu bisa tetap kuliah," jelas Haris. "Oya, kusisakan puding kesukaanmu. Makanlah dulu," imbuh Haris.


Ada sedikit penyesalan yang Haris rasakan. Sampai sekarang dia belum bisa mencari pengganti ibu Juno yang telah tiada. Tentu Juno membutuhkan kasih sayangnya meski tak pernah sama sekali dikeluhkan oleh sang putra.


Juno mengambil puding yang dimaksud sang ayah. Puding jagung. Itu adalah puding kesukaan Juno. Saat sang ibu masih ada dulu, Juno seringkali memakannya. Puding itu dimakan dengan nikmatnya sampai habis tak tersisa.

__ADS_1


"Ayah tau aja puding kesukaanku. Hehe. Jadi nggak enak karena hari ini kutinggal lama sekali," gumam Juno.


Kantuk perlahan mulai menyerang. Juno memutuskan untuk merebahkan badan.


"Niat awal pengen tanya kabar Alenna dari Ranti. Eh malah nggak kesampaian. Huft. Alenna, sepertinya mulai sekarang aku benar-benar harus melupakanmu. Merelakanmu dengan Mas Rangga," tuturnya. "Lalu ... akan kucarikan jalan keluar untuk Ranti," imbuhnya lirih.


Pandangan mata Juno menyapu langit-langit kamar. Pikirannya melambung jauh mengingat semua kegiatan sejak sore tadi. Awalnya Juno jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat bersama teman-teman Ranti. Pukul tujuh malam Juno berpisah dan diajak Ranti ke apartemennya. Niat hati Juno hanya berkunjung sebentar. Nyatanya, Juno di sana sampai pukul sebelas malam.


"Ranti, akan kucoba untuk mencintaimu."


***


Tengah malam, Alenna kesal karena tak kunjung terlelap. Sedari tadi dia kepikiran Ranti.


"Kenapa mendadak kepikiran Ranti, ya. Duh. Jarang-jarang dia nggak ngasih kabar gini. Apa coba ku-VC lagi, ya?" pikir Alenna.


Niat Alenna segera tersampaikan. Kembali dirinya VC Ranti. Untunglah, kali ini panggilan itu diterima.


"Iya, Len. Hoaaam!" Ranti menguap.


"Ups. Kamu beneran udah tidur, ya Ran. Maaf-maaf. Kirain kamu kenapa-kenapa, karena tumben-tumbennya aku VC nggak kamu angkat," terang Alenna. Merasa bersalah.


Mata Ranti tertangkap layar setengah terpejam. Alenna jadi tidak enak hati untuk melanjutkan obrolan, apalagi menghujaninya dengan curhat tentang dirinya dan Rangga.


"Maaf, ya Ran. Lanjutin lagi deh tidurnya."


"Oke, Len. Besok pagi gue temuin lu di ruangan lu, deh. Bye-bye. Hoaaam!" Kembali Ranti menguap.


Tut-tut-tut.


Telepon dimatikan. Ranti menggenggam ponselnya erat. Ada rasa bersalah usai dia berbohong pada Alenna.


"Maafin gue, Len."


Ranti mencoba terpejam. Berharap rasa kantuk benar-benar akan datang. Akan tetapi, percuma. Kantuk itu tak kunjung menyapa. Di benak Ranti kini dipenuhi bayang-banyang Juno. Masih dapat diingatnya dengan jelas. Cara Juno menolaknya, cara Juno mulai meresponnya, cara Juno menatapnya, juga cara Juno menghapus jarak dengannya, hingga menikmati penyatuan bersama.


"Jun, gue berharap kita bisa segera bersatu," desis Ranti dengan nada parau. Sebulir air mata lolos membasahi pipinya.


Bersambung ....

__ADS_1


Suka??? Like. Fav. Vote. Komentari. Terima kasih sudah mampir dan membaca. šŸ’–


__ADS_2