
Rangga memperhatikan satu per satu wajah penculiknya. Si bertato dan si bekas sayatan memiliki tubuh kekar, serupa dengan tubuhnya. Sementara si sopir, badannya biasa-biasa saja, tapi dialah yang mengomando si bertato dan si bekas sayatan.
"Apa liat-liat, ha?" Si bekas sayatan memasang wajah galak.
"Ih, Masnya jangan galak-galak napa. Nanti nggak laku-laku, lho!" cibir Rangga.
"Eh, kau dukun ya? Tor, dia tau kalau gue belum nikah!"
"Ngeledek elu tuh!" sahut si bertato sambil membalas chat via smartphone-nya.
Si bekas sayatan menatap Rangga tajam. Yang ditatap sama sekali tidak menunjukkan wajah ketakutan.
"Niat geledek gue, hm?" Si bekas sayatan sudah siap menoyor kepala Rangga.
Kali ini Rangga berkedip cepat, lantas menjauhkan kepalanya. Tanpa sengaja malah menyenggol smartphone si bertato hingga terjatuh.
"Adyaaah. Nasib-nasib. Belum dibayar udah apes aja hidup gue!" celetuk si bertato.
"Ya makanya cari kerja yang halal, Mas. Ayo sini kalau mau tobat. Belajar ngaji sama saya. Jadi karyawan di ruko baru saya juga boleh." Rangga ceramah sekaligus memberi tawaran pekerjaan halal.
Belum sempat si bertato dan si bekas sayatan menyahuti, lebih dulu si sopir menegur semuanya.
"Woi! Berisik!" tegur si sopir. "Kalian berdua, fokus! Malah berdebat sama sandra. Nggak cool man! Dan elu, pengantin baru. Mending lu diem aja deh! Helikopter lu bentar lagi bakalan terbang!" tegas si sopir.
"Helikopter? Maksudnya saya bakalan naik helikopter? Aduh, jangan deh Mas. Naik lift untuk pertama kali aja saya deg-degan, apalagi naik helikopter," celetuk Rangga dengan santuynya.
Si sopir mengusap pelan wajahnya.
"Mimpi apa gue semalam, bisa dapet sandra model begini. Udah lu nurut aja!" seru si sopir.
Rangga menyerah. Tak lagi banyak berkata. Lagipula dirinya juga lelah terus berdebat tanpa ada titik temu penyelesaiannya.
Pikiran Rangga melayang. Matanya dibuat terpejam. Bayangan sang istri terus berputar. Ada kekhawatiran terhadap Alenna.
Alenna sayang, yang sabar ya. Mas yakin sekali bisa bertemu kamu lagi. Doakan Mas, juga dirimu. Insya Allah, ada kemudahan mengiringi ikatan cinta kita yang baru saja terjalin pagi ini. Batin Rangga.
Sinyal telepati memancar kuat. Alenna seolah dapat merasakan pesan Rangga.
"Mas Rangga," lirih Alenna. "Aku juga percaya kita akan segera bertemu. Ikatan Cinta kita baru dimulai. Insya Allah kebaikan akan mengiringi. Baik untuk kita berdua maupun orang-orang di sekitar kita."
__ADS_1
Senyum tipis menghias wajah sembab Alenna. Ya, baru saja Alenna menangis seorang diri di kamarnya. Sinyal telepati yang baru saja didapat sedikit banyak menguatkan dirinya. Apalagi semua didasarkan pada kepercayaan atas penjagaan dan perlindungan dari-Nya.
Bangkit dari ranjang, Alenna melangkah mendekati nakas. Smartphone diraih. Layar seketika menyuguhkan tampilan jam mode digital. Pukul 00.00.
"Sudah tengah malam rupanya," desis Alenna.
"Baiklah. Aku abaikan dulu batasan untuk menghubungi Vero. Aku harus menghubunginya sekarang juga," ujar Alenna penuh kemantapan.
Tanpa pikir-pikir lagi, Alenna pun menekan dial pemanggil pada nomor ponsel Vero. Tak butuh waktu lama, panggilan itu pun diangkat.
"Assalamu'alaikum Alenna. Apakah aku sedang bermimpi ditelpon dirimu saat ini?" Vero langsung membuka dengan tanya.
"Wa'alaikumsalam. Kau tidak sedang menghalu. Vero ...."
Kalimat Alenna ditimpali Vero. Membuat topik utama yang akan dibahas tertunda.
"Kenapa kau menghubungiku? Bukankah kau sendiri yang membuat aturan agar tidak menemui ataupun menghubungi sebelum aku berhasil menyelesaikan tes kebaikan dari ustaz Barra? Ah, ternyata ustaz Barra ini seorang karyawan di perusahaanmu, ya. Aku mau sedikit protes. Barra mengajariku dengan sedikit keras. Dia tidak memberiku jeda istirahat dan terus mendesakku untuk menghafal surat Al Fatihah agar bacaan sholatku lebih mantap katanya. Ayolah, satu setengah jam belajar, masa iya aku tidak diizinkan untuk jalan-jalan keluar apartemen? Aku juga butuh hiburan!" protes Vero terus meluncur tanpa memberi Alenna jeda.
Mata Alenna terpejam. Istighfar diucapkan dalam hati. Di satu sisi dia harus bersabar untuk bertanya tentang keterlibatan Vero atas penculikan Rangga. Di sisi lainnya, Alenna puas mendengar kabar ketegasan Barra dalam membimbing jalan hijrah Vero.
"Vero, aku justru senang kau mau belajar dengan Mas Barra. Jangan protes-protes lagi. Kalau kau benar-benar ingin berubah baik, turuti saja apa kata Mas Barra. Abaikan hiburan selama belajar. Selama ini kau sudah banyak menghibur dirimu. Ingat keburukanmu dengan si lipstik merah. Itu dosa. DO-SA!" tegas Alenna. Yak, Alenna menyempatkan diri untuk ceramah.
"Enak aja main ngajak nikah. Terhitung sejak pagi tadi, aku sudah sah menjadi istri Mas Rangga. Nah ini nih tujuan aku nelpon kamu. Vero, jujurlah! Kau kan yang menculik Mas Rangga?" bidik Alenna.
Begitu tuduhan itu meluncur, telepon dimatikan sepihak oleh Vero. Membuat Alenna terbengong-bengong menatap layar smartphonenya. Selang beberapa detik, Vero membuat panggilan VC. Cepat-cepat Alenna mencari jilbab instan lantas menerima panggilan VC dari Vero.
"Kenapa VC, sih?" keluh Alenna.
"Lah kenapa juga kamu angkat VC dariku?" Wajah tengil Vero ditampakkan.
Alenna membuang muka. Sedikit malu atas kebodohan dirinya.
"Hehe. Gitu aja ngambek. Hei, sini lihat aku! Sengaja aku VC, biar kamu bisa lihat dengan jelas wajah jujurnya. Nih ya, aku tidak bohong. Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang penculikan Rangga, meskipun aku tahu tadi pagi kamu menikah dengannya," tegas Vero.
Alenna menangkap dengan jelas keseriusan di wajah Vero. Namun, pengakuan Vero barusan justru membuat tanda tanya baru di benaknya.
"Kenapa kamu bisa tahu pernikahanku dengan Mas Rangga, ha? Pernikahan ini bahkan sangat mendadak!" desak Alenna, meminta kejujuran Vero.
Vero sempat mengaduh dalam hati. Dia merutuki kecerobohannya.
__ADS_1
Keceplosan, deh. Mana mungkin aku berterus terang kalau sudah mengirim mata-mata untuk Alenna. Payah! gerutu Vero dalam hati. Lagipula, siapa sih yang nyulik Rangga? Malah aku deh yang kena tuduh! Merenggangkan hubunganku dengan Alenna, nih. Vero terus menggerutu dalam hati.
"Hei, Vero! Kenapa diam, ha? Jangan-jangan kau memang dalang penculikan Mas Rangga!" tuduh Alenna.
"Hei-hei. Slow down, Alenna. Seriusan aku tidak tau apa-apa! Atau gini aja, deh. Aku bantu kamu nyari Mas Ranggamu sampai ketemu. Tapi sebagai gantinya, kamu harus mau menikah denganku," tawaran Vero.
Tut-tut-tut.
VC langsung dimatikan oleh Alenna. Di seberang sana Vero hanya geleng-geleng kepala. Sementara Alenna, heeem langsung melempar smartphonenya di ... kasur. Alenna masih kira-kira tempat sebelum melempar smartphone-nya.
"Modus. Niat bantu tapi pamrih!" gerutu Alenna. "Tapi, kalau benar bukan Vero, lalu siapa dong yang nyulik Mas Rangga?" Alenna terus bertanya-tanya.
***
Helikopter baru saja mendarat di sebuah tempat terpencil. Sang pilot langsung mengomel saat helikopter sudah mendarat sempurna di lokasi tempat bosnya berada.
"Badan doang yang kekar. Mentalnya mental bocah. Masa iya dari awal berangkat teriak-teriak terus bilang takut ketinggian. Payah!" omel pilot.
Yang diomeli, Rangga, sama sekali dia tidak merasa. Rangga hanya merasa lega karena helikopter sudah mendarat dengan selamat.
"Mas pilot, saya boleh minta minum? Haus, habis teriak-teriak," aku Rangga dengan santainya.
"Hadeeeh!" sahut si pilot.
Tiga penculik yang ternyata sudah lebih dulu di lokasi menggunakan helikopter lain pun hanya geleng-geleng kepala melihat kesantuyan sandra.
"Kenapa bos longgar banget sama sandra satu ini, sih?" tanya si pilot pada si sopir.
"Entahlah. Yang jelas, kita harus memperlakukannya dengan baik sesuai perintah bos. Eh, bos ada di dalam kan?" tanya si sopir sambil menunjuk ke sebuah rumah mewah super besar.
"Ada. Baru saja tiba dari Surabaya. Langsung bawa saja sandranya ke dalam. Selanjutnya, biar bos yang mengurusnya," perintah si pilot.
Ketiga penculik mengangguk. Dengan perlakuan baik, mereka membawa Rangga menuju dalam rumah.
Bersambung ....
Sudah bisa ditebak belum siapa penculiknya?? š Yang masih kepo, tungguin aja lanjutan ceritanya. Maaf akak thor agak slow update-nya. Lagi mode me time š³
Oya, yang rindu dengan cerita keromantisan super uwwu dari Meli dan Azka, langsung cus ke novel baru kak Cahyanti yang judulnya MENANTI MENTARI. Spesial dibuat untuk reader setia penggemar Azka-Meli. Pembaca CS1 dan Ikatan Cinta Alenna harus berkunjung ke sana, nih. Bakal dibikin baper sama authornya šš
__ADS_1
Sukaaa? LIKE-nya dong buat author šā¤