Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #22


__ADS_3

Bisma dan Erina kembali ke rumah sakit dengan membawa makanan untuk Farhan, sekilas keduanya terlihat seperti pasangan normal yang saling mencintai, mereka bergandengan tangan menuju ruang operasi.


"Rin, kamu duluan, saya pergi ke toilet sebentar." Ucap Bisma yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Oh?" Erina mengangguk menyiakan, namun tidak dengan tangannya yang masih menggandeng tangan Bisma.


"Kamu mau ikut saya ke toilet?" Goda Bisma sambil melirik tangan Erina yang masih setia pada tangannya.


Erina melihat arah pandangan Bisma dan langsung melepaskan tangan suaminya. "Maaf." Ucapnya pelan.


Bisma mengacak rambut Erina gemas sambil tersenyum hangat. "Tidak perlu meminta maaf, saya tidak keberatan kalau kamu mau ikut ke toilet."


"Tidak usah, terimakasih." Sahut Erina sambil menepis tangan Bisma yang ada pada kepalanya.


Bisma tertawa. "Kalau begitu saya pergi ke toilet dulu, kamu hati-hati ya?"


"Hm." Sahut Erina lalu memilih untuk meninggalkan Bisma, tidak ingin terlalu lama menjadi bahan tertawaan suaminya.


Bisma menatap kepergian istrinya dengan perasaan bahagia, sudah terjadi perkembangan yang lumayan besar dalam pernikahan mereka, dan Bisma merasa cintanya mulai terbalas.


Lalu, Bisma mengambil ponsel dari sakunya untuk menghubungi Leo, dia tidak benar-benar pergi ke toilet, hanya ingin memastikan Erina tidak akan mengetahui gosip tentangnya.


"Aku baru akan menelpon." Leo, pria dari sebrang telpon itu menyambar saat telpon mereka tersambung.


"Kamu dan Gisell, bagaimana bisa?" Tanya Leo tidak mengerti, mereka baru bertemu di cafe sekitar satu jam yang lalu, dan berita yang membawa nama Bisma menyebar begitu cepat.


Bisma menghela nafas panjang. "Gisell menjebakku." Ucapnya lesu.


"Dasar ceroboh! bagaimana Erina dan nenekmu? ini akan menjadi masalah besar kalau mereka berdua tahu!" Leo mencibir sekaligus mengingatkan.


"Erin belum tahu, setidaknya itu sudah cukup, kalau masalah nenek, aku akan berusaha menghadapinya."


Meskipun Bisma tahu menghadapi neneknya tidak akan mudah seperti apa yang dirinya katakan, Bisma hanya tidak ingin membuat sahabatnya terlalu khawatir.


"Nenekmu pasti marah, dia akan mengira kamu benar-benar bermain di belakang Erina." Ucap Leo dengan di akhiri helaan nafas.


"Aku tahu, maka dari itu, aku butuh bantuamu." Ucap Bisma sambil melirik kearah Erina pergi, berharap istrinya tidak bertemu dengan sumber gosip tentang hubungannya dan Gisella.


Leo kembali terdengar menghela nafasnya. "Baiklah, apa yang bisa aku lakukan? menyiapkan konferensi pers untukmu?"


"Tidak perlu, Erin atau nenek tidak akan mempercayai apa yang aku katakan, sebaiknya kamu membantuku membuktikan kebenaran." Giliran Bisma yang menghela nafasnya.

__ADS_1


Ya, Bisma tidak mungkin mengambil resiko, pria itu tahu bahwa Erina hampir sama seperti neneknya yang tidak akan mempan dengan perkataan, sekalipun Bisma berbicara sampai mulutnya berbusa.


Bisma lebih memilih aman dengan tidak membiarkan Erina mengetahui apa yang menjadi pembicaraan media, Bisma bahkan sengaja meminta ponsel Erina. Karena itu bisa menjadi alat Erina mendapat informasi.


"Maksud kamu?" Tanya Leo kurang mengerti.


"Kamu cari siapa yang menyebarkan hubunganku dan Gisell, wanita itu pasti sudah menyuruh seseorang, kamu hanya perlu mencari dan membuat orang itu mengakuinya." Ucap Bisma memberikan arahan.


"Baik, apa lagi?" Tanya Leo, pria itu terdengar antusias karena hal itu menyangkut rumah tangga Bisma.


Bisma berpikir sejenak. "Kalau dia tidak mau mengaku, tolong sampaikan salam dariku, katakan aku akan mematahkan tangan dan kakinya."


"Kamu gila? mematahkan tangan dan kaki orang itu?" Tanya Leo tidak habis pikir, setahu dia, Bisma tidak akan melakukan kekerasan pada orang lain.


"Aku akan membuat perusahaan dia bangkrut hingga tidak akan ada kesempatan untuk bangkit." Jawab Bisma meluruskan.


"Bagaimana pun dia sudah menyebar berita bohong, aku akan meminta saingannya membuat berita lain tentang perusahaannya." Lanjutnya.


"Oh, baiklah, masih ada lagi?" Tanya Leo barangkali ada yang belum Bisma sampaikan dan Bisma melupakannya.


"Lusa aku dan Erin akan berangkat bulan madu, tolong kamu siapkan setelah tugasmu tadi selesai." Ucap Bisma yang berubah pikiran.


Sebelumnya, Bisma dan Leo sudah membicarakan tentang persiapan bulan madu ke negeri ginseng minggu depan, dan semua sudah siap tinggal menentukan jadwal penerbangan.


Bisma merasa sudah menyakiti Erina dengan berita itu, dan Bisma tidak ingin terlalu lama membuat istrinya merasakan sakit, hingga memutuskan untuk lebih cepat mengajak Erina bulan madu sekaligus liburan di Korea.


"Serius mau berangkat lusa?" Tanya Leo memastikan.


"Lebih dari serius, sebenarnya aku mau berangkat bulan madu hari ini juga, tapi aku yakin Erina akan menolak." Jawab Bisma menegaskan.


Tentu saja Erina akan menolak karena Soraya sedang operasi, Erina mana mungkin mau memikirkan lain disaat sahabatnya sedang bertaruh nyawa.


"Oh?" Tidak terdengar sahutan lain dari Leo, sehingga Bisma kembali bicara.


"Hanya itu, aku mengandalkanmu, maaf merepotkan." Ucap Bisma yang mengundang tawa bagi Leo.


"Yasudah kalau begitu, aku akan menutup telponnya." Sahut Leo dan pria itu benar-benar menutup telpon tanpa menanggapi perkataan Bisma terlebih dahulu.


Bisma hendak mengumpati Leo sambil menatap layar ponselnya, namun sebuah tampilan panggilan menahan pria itu, nenek Sekar menelpon, Bisma yakin neneknya akan membicarakan berita yang membawa namanya.


Bisma menarik nafas untuk menyiapkan diri sebelum menerima panggilan dari neneknya itu. "Assalamu'alaikum." Sapa Bisma.

__ADS_1


Nenek Sekar mendengus sinis. "Aku tidak mau berbasa-basi, cepat datang ke rumahku, ada hal yang harus kamu jelaskan." Sambar nenek Sekar tanpa menjawab salam Bisma terlebih dahulu.


"Aku dan Erin--" sebelum Bisma selesai bicara, nenek Sekar dengan cepat menyelanya.


"Jangan membawa istrimu! ini urusan kita dan berhentilah berlindung di balik punggung istrimu! dasar tidak tahu malu!" Ucap nenek Sekar penuh penekanan.


Bisma tersenyum miris, sudah menduga neneknya akan sangat marah padanya, dan kalau boleh jujur, hal itu sudah biasa bagi Bisma, dia selalu menjadi pihak bersalah bagi neneknya.


"Baiklah, aku akan pergi kesana." Ucap Bisma pada akhirnya.


Setelah itu, nenek Sekar memutuskan sambungan telpon mereka secara sepihak, membuat Bisma menghela nafas berat sambil memejamkan matanya sejenak.


Tidak lama, Bisma pergi dari tempat itu berjalan menuju ruang operasi untuk menemui Erina terlebih dahulu, Bisma tidak ingin membuat istrinya khawatir kalau dirinya menghilang begitu saja.


"Erin?" Panggil Bisma saat menyadari keberadaan istrinya.


Erina sedang berjalan sendiri dengan tatapan kosong dan tangannya yang masih memegang makanan Farhan, padahal seharusnya wanita itu sudah tiba di ruang operasi.


Erina tidak mendengar Bisma yang memanggilnya, Erina baru saja melihat berita mengenai kemesraan suaminya dan Gisella, dan berita itu membuatnya terpukul, Bisma membohonginya.


Bisma terheran melihat Erina, lalu berlari menghampiri wanita itu karena tidak mendapatkan sahutan, Bisma menahan bahu Erina dan membuat langkah istrinya terhenti.


"Erin?" Bisma kembali menyebut nama istrinya sambil membalikan tubuh wanita itu supaya menghadap padanya. "Hey, kamu tidak mendengar saya memanggilmu?"


Erina menatap Bisma dengan pandangan kosong tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Erina sedang bertarung dengan dirinya sendiri, wanita itu merasa sudah di khianati, tapi dirinya yang lain percaya bahwa berita tentang suaminya tidak benar.


"Erin?" Bisma berusaha menyadarkan Erina, namun istrinya tetap menatap kosong padanya, lalu Bisma meraih Erina dalam pelukannya.


"Kenapa, hm?" Tanya Bisma lembut sambil mencium puncak kepala Erina. "Saya harus bertemu nenek, kalau kamu seperti ini, saya tidak bisa pergi."


Erina masih bisa mendengar perkataan Bisma, sehingga dia mengatakan. "Aku baik-baik saja, kamu pergilah menemui nenekmu." Ucap wanita itu sambil memegang pinggang Bisma.


Bisma melepaskan pelukannya. "Kamu yakin tidak apa-apa?" Tanyanya memastikan.


Erina mengangguk dan melemparkan senyuman pada suaminya. "Pergilah!"


"Setelah itu kembali, aku mohon jelaskan apa yang terjadi padaku." Erina melanjutkan dalam hati.



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...

__ADS_1


Regards:


©2019, lightqueensa.


__ADS_2