Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #48


__ADS_3

Lima belas menit berlalu, Erina yang awalnya menikmati coklat hangat dan membiarkan Bisma terus menatap padanya tiba-tiba merasa pusing, Erina sudah berusaha menyembunyikan sakit kepalanya di depan Bisma, tapi Bisma lebih peka terhadap perubahan wajah istrinya, Bisma melihat wajah Erina mendadak pucat.


"Erin, kamu baik-baik saja?" Tanya Bisma cemas, dia bergerak cepat dari tempat duduknya dan menghampiri Erina, lalu punggung tangannya memeriksa suhu tubuh wanita itu.


"Saya akan membawa kamu ke rumah sakit." Bisma hendak menggendong Erina dan berniat membawa istrinya ke rumah sakit, tapi Erina lebih cepat melakukan penolakan.


"Tidak, Bisma ..." Ucap Erina sambil menahan tangan Bisma yang berniat mengangkat tubuhnya, lalu Erina menyatukan jemari mereka dan memperlihatkan senyuman terbaiknya.


"Aku baik-baik saja, kenapa kamu begitu khawatir?"


Bisma tidak menjawab dan hanya terus menatap wajah Erina. Bisma tahu pada akhirnya Erina tidak akan bisa dia bantah, istrinya terlalu keras kepala untuk bisa menuruti keinginannya.


"Bisma ..." Erina memanggil suaminya lembut, dia sedikit menarik tangan Bisma dan memeluk tubuh tegap itu ketika merasa Bisma mengabaikannya.


"Kamu tidak membawa mobil kesini, bagaimana bisa membawa aku ke rumah sakit?" Erina masih berusaha mengajak suaminya bicara.


Bisma menghela nafas pelan, lalu membalas pelukan Erina tanpa berniat untuk menanggapi pertanyaan istrinya itu, Bisma sengaja mendiami Erina.


"Sedikit pusing sudah biasa bagiku, kamu tidak perlu khawatir, percayalah kalau aku baik-baik saja." Erina sedikit mengangkat wajahnya melihat Bisma.


Bisma menunduk dan menatap wajah Erina sebentar, lalu menarik tengkuk Erina sehingga wajah istrinya itu terbenam pada bagian perutnya.


"Kalau kamu mau, saya bisa menelpon Leo agar bisa mengantar kita ke rumah sakit." Ucap Bisma yang pada akhirnya menanggapi perkataan Erina.


Erina diam-diam tersenyum, lalu dia kembali mengangkat wajahnya.


"Jangan terlalu sering merepotkan Leo, bagaimana pun juga sekretaris kamu akan menikah suatu saat nanti, kamu tidak bisa terus mengandalkan dia."


Bisma memperhatikan wajah Erina, mata dia kemudian beralih pada bibir Erina yang kini melukiskan senyuman, bibir berwarna merah muda alami itu yang selalu menjadi candu bagi Bisma.


Bisma tahu Erina tidak suka memakai lipstik atau pewarna bibir lainnya, tapi bibir Erina memang memiliki warna tersendiri yang membuat Bisma ingin melahap bibir manis itu.


"Bisma, mari mengandalkan satu sama lain dan berhenti mengandalkan orang luar, mungkin itu akan lebih baik untuk pernikahan kita ..."


Bisma tidak bisa fokus dengan apa yang barusan Erina katakan padanya, dia lebih fokus pada bibir merah muda Erina terlihat begitu menggodanya.

__ADS_1


"Bisma?" Erina menarik bibirnya ke bawah karena merasa terabaikan oleh suaminya, dan membuat Bisma yang melihat itu semakin merasa tergoda.


Bisma mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Erina, dia perlahan mulai memejamkan matanya, begitu juga dengan Erina, tapi ketika bibir mereka nyaris bersentuhan, sebuah suara menginterupsi mereka berdua.


"Erin, Bisma, kalian belum tidur?" Tanya Soraya basa-basi, dia dan Farhan sejak tadi berdiri di belakang kulkas dan mulai merasa terganggu dengan adegan yang akan mereka lihat.


Bisma bergerak cepat menjauhkan diri dari Erina, merasa ada mode bahaya ketika melihat Soraya, terlebih wanita itu berjalan menghampiri meja makan.


"Soraya, saya--"


"Erin, kenapa lo belum tidur?" Tanya Soraya kepada Erina, dia sengaja menyela dan mengabaikan perkataan Bisma yang tidak penting baginya.


Bisma berdehem, dia seharusnya ingat Soraya tidak menyukainya, lalu Bisma mengalihkan pandangannya kepada Erina yang masih duduk di kursih.


Saat itu kebetulan Erina juga sedang menatap kepada Bisma sehingga pandangan mereka bertemu, Bisma berusaha menunjukan senyumannya.


"Ehm, Erin ...?" Tegur Soraya membuat Erina dan Bisma menatap padanya. Sementara Farhan masih berdiri di belakang kulkas tanpa berniat sedikit pun menghampiri mereka.


"Oh, gue dan Bisma tidak bisa tidur." Jawab Erina sekenanya. Dia sempat melirik Bisma yang terlihat gelisah di tempatnya berdiri.


"Hoh?" Bisma menatap Erina dan Soraya secara bergantian, dia tidak yakin Soraya sedang meminta maaf padanya, tapi tatapan Soraya?!


"Gue minta maaf sudah keterlaluan sama lo selama ini ..." Ucap Soraya memperjelas perkataannya.


Bisma terlihat bingung. "Kenapa Soraya tiba-tiba minta maaf?" Pikirnya.


"Kenapa malah diem? Lo gak mau maafin gue?" Tanya Soraya, lalu dia pura-pura memasang wajah kesal di depan Bisma, suami sahabatnya itu sedikit lucu dengan wajah ketakutan.


Bisma kelabakan. "Saya maafin kamu kok, iyah!" Jawabnya cepat.


Erina dan Farhan tersenyum, namun Soraya mendecih dan berusaha tidak menunjukan senyumannya, lalu dia kepikiran sesuatu dan berkata ...


"Bukan cuma kalian yang tinggal disini, kalau mau ritual bikin anak sebaiknya kembali ke kamar."


Suara deheman terdengar saling bersautan.

__ADS_1


"Kenapa Soraya pake bicara itu sih?" Farhan benar-benar tidak habis pikir dengan perkataan istrinya sendiri.



Keesokan harinya, Erina telat bangun karena dia dan Bisma harus bergadang semalaman, mereka tidak melakukan ritual bikin anak seperti yang Soraya katakan tadi malam, Erina maupun Bisma hanya tidak bisa tidur.


Bisma memasuki kamar dengan membawa semangkuk bubur, lalu dia meletakan bubur itu diatas meja nakas, sementara dirinya perlahan mendekati Erina yang masih tertidur.


"Erin ..." Bisma merapikan rambut Erina yang menutup wajah wanita itu, lalu mencium lembut keningnya.


"Bangun, kamu harus makan dan minum obat." Bisik Bisma tepat pada telinga Erina, bahkan sengaja menghembuskan nafasnya di sekitar leher dan tengkuk wanita itu.


"Hm ..." Sahut Erina masih dengan mata terpejam, Bisma terkekeh melihat wajah lucu istrinya, Erina terlihat masih enggan untuk membuka mata.


Bisma tidak pernah melihat Erina susah bangun seperti itu sebelumnya, karena biasanya Bisma menjadi orang yang selalu Erina bangunkan.


Bisma tidak kehabisan akal, Bisma kemudian mencium bibir Erina, bermula dari sebuah kecupan sampai akhirnya melumat bibir itu.


Awalnya, Erina hanya mendesah tanpa peduli dengan kelakuan Bisma karena matanya masih terasa sangat berat, Erina baru tidur selama dua jam, namun tidak lama Erina membalasnya.


Erina mengikuti permainan Bisma, hasratnya untuk memperdalam ciuman mereka lebih dulu bangun dari matanya, Erina berciuman masih dengan mata tertutup.


Namun, Bisma menghentikan ciuman mereka, pria itu menjauhkan wajahnya dari Erina karena tidak berniat untuk melakukan hal lebih dari itu. Bisma masih harus ingat Erina sedang sakit.


"Erin, bangunlah! Kamu harus makan dan minum obat!" Ucap Bisma sambil mengusap bibir Erina yang terdapat saliva akibat ciuman mereka tadi.


Erina masih terlihat enggan membuka matanya, bahkan sepertinya wanita itu tidak sadar ketika membalas ciuman Bisma tadi, apa mungkin Erina sedang bermimpi berciuman dengan Bryan?!



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau instagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:


©2019, lightqueensa.

__ADS_1


__ADS_2