Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #77


__ADS_3

Bisma berhenti mengunyah ketika menyadari istrinya tidak menyentuh makanan, Erina hanya memandangi piring berisi nasi beras merah beserta lauk pauknya, Bisma juga melihat kesedihan pada mata wanita yang dicintainya itu.


"Sayang, kenapa tidak makan? apa kamu tidak suka nasi beras merahnya?" Tanya Bisma, meski Bisma tahu bukan itu yang membuat Erina sedih.


Erina sudah menceritakan mimpi buruknya, wanita itu bermimpi Bisma selingkuh. Mungkin situasinya akan berbeda kalau Erina tidak pernah mengalami keguguran, Erina akan berpikir bahwa mimpi buruknya hanya bunga tidur.


Namun, keguguran Erina menjadi masalahnya, Erina selalu mengatakan kemungkinan Bisma akan meninggalkannya demi wanita lain yang lebih sempurna, Erina juga sudah berkali-kali meminta waktu untuk menyiapkan dirinya.


Hey, Bisma tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Erina karena Bisma merasa tidak akan ada wanita seperti Erina di dunia ini, meskipun Erina berkali-kali membuat Bisma tidak memiliki pilihan lain selain mengalah.


Bisma tidak peduli apapun yang orang lain katakan, Erina akan tetap menjadi istri sekaligus wanita satu-satunya dalam hidup Bisma. Karena akan sulit mencari wanita yang lebih peduli tugasnya dibandingkan uang atau hal lainnya.


"Oh." Erina tersadar dari lamunannya dan menatap Bisma disertai senyuman. "Tidak. aku menyukainya." lalu mulai memakan nasi itu.


Bisma semakin melihat jelas bahwa istrinya sedang berpura-pura, Erina memaksakan dirinya untuk terus mempercayai Bisma, meskipun Bisma tahu kalau hati Erina sedang mencurigainya. Ya, Bisma tahu Erina melihat lipstik pada kemejanya.


"Erin ..." Panggil Bisma pelan, dia merasa tidak tahan melihat Erina yang terus berpura-pura.


"Hm?" Sahut Erina sambil mengunyah makanan di mulutnya dan menatap Bisma lembut.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, hm?" Tanya Bisma memancing Erina supaya mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya.


Erina terdiam dan berpikir, memang benar ada beberapa hal yang ingin Erina tanyakan kepada suaminya, tapi Erina merasa tidak pantas untuk bertanya. Bisma sudah bertahan terhadap pernikahan mereka seharusnya Erina bersyukur.


Erina ingin sekali menanyakan Bisma pergi kemana sampai larut malam, tapi apa Erina masih pantas untuk bertanya hal semacam itu? Erina bahkan merasa tidak pantas merasa sakit hati kalau memang dugaannya terhadap Bisma benar.


"Sayang, aku tahu ada yang mengganggu pikiranmu." Bisma kembali bicara melihat Erina yang terus terdiam menatap padanya.


Erina meremas sendok di tangannya. "Tidak, mas. aku tidak memikirkan apapun dan tidak ada yang mengganggu pikiranku." Sambil terus tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kamu bisa terus bersandiwara, aku akan pergi ke kantor." Ucap Bisma sambil menghentakan sendok keatas piring dan menimbulkan suara yang khas. Bisma benar-benar sudah tidak tahan melihat Erina.


Bisma pergi begitu saja meninggalkan ruang makan. Bukan marah, Bisma hanya tidak tahan melihat Erina berusaha terlihat baik-baik saja. Karena semakin Erina berusaha, Bisma semakin melihat bahwa Erina hanya sedang berpura-pura.


"Kenapa rasanya harus sesakit ini ..." Lirih Erina sambil memegangi bagian dadanya yang terasa sesak dan mulai meneteskan air matanya.


Erina melihat lipstik merah pada kemeja putih yang Bisma pakai tadi malam, padahal pada malam yang sama pria itu mengatakan memiliki banyak pekerjaan di kantor, lantas lipstik siapa itu? Leo masih berjenis kelamin laki-laki kan?!


"Bodoh!" Tiba-tiba ada yang memeluk Erina dari belakang, ternyata Bisma tidak benar-benar meninggalkan Erina atau pergi ke kantor, pria itu masih disana memperhatikan Erina. "Siapa yang berani membuatmu menangis, hm?"


"Mas ..." Erina malah semakin terisak. Erina kesulitan mengendalikan dirinya sendiri, dia merasa menjadi orang yang sangat buruk.


"Kamu tinggal mengatakan padaku siapa orangnya, aku pasti akan membuat dia menyesal seumur hidup." Ucap Bisma menegaskan.


Erina menggeleng lemah. "Tidak ada yang membuatku menangis, aku menangis karena keinginanku sendiri." suaranya masih terisak.


Bisma menghela nafas dan perlahan melepaskan pelukannya, lalu pria itu berdiri di depan Erina, tepat disebrang meja tempat Erina duduk. "Mas tahu siapa yang membuat kamu menangis." setelah itu Bisma menampar wajahnya sendiri.


"Pria brengsek! kenapa kamu membohongi istrimu? kenapa kamu mengingkari janjimu untuk tidak melukainya? dan kenapa--" Bisma baru berhenti menampari wajahnya sendiri ketika kedua tangan mungil Erina menahan tangannya.


"Kenapa mas menampar diri sendiri?" Tanya Erina meninggikan suaranya karena terlalu panik.


Bisma menatap lurus mata Erina yang berair. "Mas hanya sedang membantumu memberi pelajaran terhadap orang yang berani membuat kamu menangis, maaf ..." tangannya bergerak menghapus air mata Erina dengan sangat lembut.


Erina menggeleng. "Mas tidak salah, kenapa mas harus minta maaf? bukan mas alasan aku menangis! jangan menyalahkan dirimu sendiri!"


Bisma menahan kedua tangan Erina dan langsung membawa wanita itu kedalam pelukannya. Kalau bisa, Bisma ingin sekali menghapus ingatan Erina supaya istrinya itu kembali seperti dulu.


Tapi, bagaimana caranya menghapus ingatan Erina tanpa menyakitinya? Siapapun, tolong katakan apa yang bisa Bisma lakukan sekarang? Jujur, Bisma lebih suka melihat wajah datar Erina.

__ADS_1


"Tadi malam mas menemui orang yang sudah membuat kamu celaka, mas tidak melakukan apapun selain mengobrol, lalu tiba-tiba saja ada wanita yang mencoba mencium mas, karena mas menghindar makanya lipstik itu mengenai ..."


"Sudah mas, aku tahu mas tidak akan pernah mengkhianatiku." Ucap Erina menyela penjelasan Bisma karena tidak mau mendengarnya, lalu tangan Erina membalas pelukan Bisma.


Erina sudah berusaha untuk mempercayai Bisma, dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa lipstik itu tidak berarti apapun, tapi hati Erina tidak bisa mempercayai Bisma begitu saja. Erina juga tidak tahu mengapa hatinya begitu lemah seperti ini.


"Erin, kamu bebas bertanya apapun, kamu boleh memarahiku kalau aku melakukan kesalahan, tapi aku mohon jangan seperti ini, kamu hanya menyakiti dirimu sendiri." Ucap Bisma lirih, lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh Erina.


"Aku memang bodoh, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa hidup seperti ini, aku merasa kesulitan untuk mempercayai orang lain, aku sudah berusaha membuat diriku yakin bahwa masih ada orang baik di dunia yang kejam ini, tapi ..."


Erina berhenti bicara karena suaranya mendadak tercekat, dadanya terasa seperti tertimpa beban berat dan hal itu membuatnya sulit bernafas. Semua orang tahu, mengubah sesuatu tidak akan mudah seperti saat mulut kita mengatakannya.


Erina sudah berusaha keras merubah hal buruk dalam dirinya supaya tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya, tapi Erina malah menyakiti dirinya sendiri. Karena sesuatu yang sudah melekat akan sulit menghilang.


"Erin, aku tidak memintamu untuk menganggap aku baik, aku hanya ingin kamu lebih memikirkan tentang dirimu." Ucap Bisma dengan suara serak.


"Tolong tunggu sebentar lagi, setelah semuanya selesai, aku akan mengajak kamu liburan, semoga setelah itu kamu bisa merasa tenang."


Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan. "Aku tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi disini."


×××××××××××××××××××××××××××××××××××


Sekarang apa yang mau kalian katakan setelah tahu kalau mengubah sesuatu yang sudah melekat dalam diri kita itu sulit? Coba deh kalian berusaha menyukai sesuatu yang tidak kalian sukai? mudah?


"Jangan pernah menghakimi orang tanpa berusaha memahami apa yang terjadi padanya. Bicara memang mudah, kamu tinggal membuka mulut dan mengeluarkan suara, tapi melalukannya?" (Author)


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian: like, favorit dan share cerita ini kalau kalian suka. Thanks ❤


Regards,

__ADS_1


Nur Alquinsha A.


__ADS_2