
"Kenapa kamu kesini?" Tanya Erina kepada orang yang duduk di hadapannya.
Mulut Erina yang sedari tadi gatal akhirnya tidak tahan untuk tidak menanyakan alasan orang itu datang ke mansion. Erina juga penasaran darimana orang itu tahu tempat tinggalnya.
Orang di depan Erina membuang nafas. "Jadi ini caramu menyambutku, kakak?"
Well, orang yang duduk di depan Erina sambil mengesap teh tidak lain dan tidak bukan adalah Bayu, entah apa yang membawa adik Erina itu datang ke mansion. Erina juga tidak tahu.
Sebelumnya, Erina tidak pernah memberitahu Bayu alamat tempat tinggalnya di Jakarta, lalu sekarang Bayu tiba-tiba datang ke mansion. Erina benar-benar tidak bisa untuk tidak penasaran.
"Kakak ipar, apa aku belum memberitahumu kalau aku juga pernah belajar silat?" Tanya Bayu beralih kepada pria di samping Erina karena kakak perempuannya tidak memberi jawaban.
"Oh." Bisma tidak tahu alasan adik iparnya mengatakan hal itu, sepertinya Bayu sedang berusaha menunjukkan sikap sarkasme padanya. Bisma bisa merasakannya dari tatapan Bayu.
"Bayu, aku sedang bertanya padamu." Ucap Erina meninggikan suara dan mendahului Bisma bicara, bisa terdengar penekanan disetiap katanya. Erina tidak tahan melihat sikap Bayu kepada Bisma.
"Sayang ..." Bisma menyentuh tangan Erina yang terkepal, lalu menyatukan jemari mereka. Bisma khawatir Bayu menjadi sasaran istrinya, Erina pasti tidak ingin membuat Bisma tersinggung.
"Siapa yang sudah berani mendorong kakak dari tangga?" Tanya Bayu tenang, lalu kembali bicara ketika Erina maupun Bisma membisu. "aku datang untuk memberi orang itu pelajaran."
"Kamu tenang saja, aku sudah mengurusnya." Ucap Bisma sambil menatap Erina yang tubuhnya mendadak tegang, istri Bisma itu pasti merasa terkejut karena Bayu mengetahui masalahnya.
Sebenarnya, Bisma juga bertanya-tanya darimana Bayu bisa mengetahui apa yang Erina alami beberapa hari lalu, bahkan disaat Bisma maupun Erina tidak ada yang memberitahunya.
Tapi, Bisma memilih untuk meyakinkan Bayu bahwa semuanya sudah berada dalam kendalinya, Bisma sudah mengurus Mario dan akan membuat pria itu membayar perbuatannya terhadap Erina.
Oh ya, Bayu tidak sengaja merepotkan dirinya datang ke mansion Bisma, dia hanya kebetulan sedang berada di Jakarta dan Soraya memberitahu padanya kalau Erina mengalami kecelakaan.
"Oh?" Bayu menyimpan cangkir teh yang ada di tangannya keatas meja. "Kalau begitu, bisakah kakak ipar mengantarku untuk menemuinya?"
"Bayu, jangan membuat masalah disini, sebaiknya kamu kembali ke Karawang." Ucap Erina menyela, dia tidak ingin nanti Bisma mendapat masalah.
Erina sangat mengenal Bayu, adik laki-lakinya itu paling tidak bisa mengendalikan emosinya. Erina takut hal itu akan membawa masalah untuk Bisma dan Erina juga takut Bayu terluka.
Erina ingat bagaimana pria bertubuh besar itu membuatnya kesusahan beberapa hari yang lalu, Erina tidak ingin Bayu sampai mengalami hal yang sama, Bayu tidak boleh sampai terluka.
Bayu tertawa mengejek. "Tidak akan ada masalah kalau kakak ipar lebih becus menjaga kakak."
"Bayu!" Erina menggertak Bayu, tapi adik laki-laki Erina itu terlihat acuh dan tidak peduli.
__ADS_1
"Kakak ipar mengantarku menemui orang yang sudah membuat kak Erin celaka atau aku akan membawa kak Erin ke Karawang." Ucap Bayu memberikan pilihan kepada suami kakaknya.
Bisma langsung menahan Erina yang mungkin akan melampiaskan emosinya, tangan Bisma menggenggam erat tangan Erina dan berusaha menyalurkan ketenangan untuk sang istri.
"Bayu, apa kamu tidak percaya kalau aku bisa mengurus semuanya dengan baik?" Tanya Bisma, nada bicaranya masih terdengar tenang.
"Kakak ipar mau aku percaya padamu setelah membiarkan kak Erin celaka?" Bayu membalikan pertanyaan sambil tersenyum sinis kepada Bisma.
"Mau tidak mau, kamu harus mempercayai kakak iparmu karena sekarang orang itu sudah berada di tangan polisi." Ucap Leo menginterupsi mereka.
Leo kemudian duduk disamping Bayu dan merangkul bahunya. Leo mengamati laki-laki asing disampingnya dan Erina bergantian.
"Tidak salah lagi, kamu dan nona Erin memang kakak beradik, sifat kalian berdua benar-benar mirip ..." Leo menahan perkataannya karena Bisma memberikan tatapan tajam padanya.
"Maksudku, wajah kalian berdua sangat mirip." Ucap Leo terpaksa melarat perkataan sebelumnya, dia khawatir membuat Bisma marah.
Erina dan Bayu tidak terlalu memperdulikan ocehan Leo. Karena keduanya menyadari kesamaan dalam diri mereka, baik wajah atau sikap. Jadi, untuk apa mereka berkomentar?
"Cih, tidak usah basa-basi karena aku malas meladenimu." Ucap Bayu ketus dan tajam sambil menyingkirkan tangan Leo dari bahunya.
"Dan ingat, aku masih laki-laki normal, aku tidak akan menyukai om-om sepertimu, jadi menjauhlah." Bayu kembali bicara tajam.
"Kalau begitu, salahkan wajah tuamu itu karena wajahmu terlihat puluhan tahun lebih tua dari kakak perempuanku." Balas Bayu cuek dan acuh.
"Bisma ..." Leo merengek meminta pembelaan sahabatnya, setidaknya sebagai hadiah karena Leo berhasil memasukan Mario ke tahanan.
"Sikap dan wajahmu sangat kontras, aku khawatir tidak ada wanita yang akan menyukaimu." Ucap Bayu tidak membiarkan Bisma bicara.
"Bisma, lihatlah! adik iparmu sangat kejam padaku." Leo mengadu kepada Bisma sambil memasang wajah cemberut dan hampir menangis.
"Dan kamu!" Leo menunjuk Bayu tepat pada laki-laki itu. "adik nona Erin, aku sudah memiliki tunangan asal kamu tahu!"
"Kalau begitu, tunanganmu sepertinya memiliki gangguan penglihatan karena memilihmu sebagai tunangannya." Bayu mengangkat bahu acuh.
Leo mulai kehabisan kata-kata untuk menanggapi adik laki-laki Erina, dia hanya mampu mengatur nafas untuk menahan emosinya. Karena Bisma sama sekali tidak berniat membantunya.
Erina tiba-tiba tertawa dan membuat suasana diantara mereka berubah, semuanya menatap Erina dengan pikiran masing-masing. Bisma yang sedari tadi diam juga akhirnya tersenyum.
Bisma tidak tahu letak lucu dari perdebatan yang terjadi antara Bayu dan Leo, tapi Bisma merasa senang karena akhirnya Erina tertawa setelah sekian lama istrinya itu sering menangis.
__ADS_1
Ya, meskipun Erina tidak sampai terbahak-bahak, setidaknya wanita itu menunjukan senyuman yang sangat Bisma rindukan. Erina selalu terlihat lebih cantik ketika tersenyum seperti sekarang.
"Bisma, sepertinya kamu harus memberiku hadiah karena berhasil mengerjakan tugasku dan membuat istrimu tertawa." Ucap Leo bangga.
Bayu tertawa sinis. "Selain memiliki wajah tua, ternyata kamu juga lumayan payah, apa kamu tidak bisa membedakan antara mentertawakanmu dan tertawa bersamamu? haish konyol!"
Bayu menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya bahwa ada orang seperti Leo di dunia ini. Leo semakin merasa jengkel melihat tatapan Bayu dan berniat mengadu kepada Bisma.
Tapi, Leo tidak melihat keberadaan Bisma dan Erina, sepertinya pasangan itu diam-diam meninggalkan mereka, entah kemana perginya kedua majikan Leo itu, sungguh menyebalkan.
"Ck, mereka pergi gara-gara kamu." Ucap Bayu mencibir, dia merasa lebih jengkel karena Leo sudah mengganggu pembicaraannya. Sementara Leo terlihat tidak memperdulikan hal itu.
"Mereka memang harus pergi, kamu hanya akan membuat suasana hati Erin memburuk." Sahut Leo tidak peduli, ternyata Bayu dua kali lipat lebih menyebalkan dari kakak perempuannya.
"Haish, membuat suasana hati kak Erin buruk bagaimana maksudmu? aku hanya sedang berusaha menjaga kakakku dari suaminya yang kurang beres itu!" Ucap Bayu membela dirinya.
"Nona Erin sedang sedih karena keguguran, dokter juga mengatakan kalau dia akan sulit hamil, dan kamu berniat memisahkan mereka? adik macam apa kamu ini, hoh? dasar!"
Bayu membisu, dia tidak tahu apapun tentang itu, sahabat kakaknya hanya mengatakan kalau Erina mengalami kecelakaan karena ada seseorang yang mendorong kakak perempuannya itu dari tangga.
Bayu baru tahu kalau Erina menangis karena masalah seserius itu. Ya, masalah serius. Bagi perempuan yang sudah menikah, bukankah hamil dan memiliki anak menjadi impian mereka?
Sementara itu, Bisma mengajak Erina keluar dari mansion, dia merasa waktunya terbuang percuma menyaksikan perdebatan Bayu dan Leo. Lagipula, Bisma merasa memiliki tugas yang lebih penting.
"Mas, kita mau kemana? bukannya kamu harus pergi ke kantor?" Tanya Erina ketika Bisma mengajaknya masuk kedalam mobil mereka.
"Mas akan pergi ke kantor setelah mengantar kamu menemui dokter." Jawab Bisma, hampir saja Bisma lupa kalau hari ini mereka sudah memiliki janji bersama dokter pribadi keluarganya.
Bisma memang tidak pernah memanggil dokter pribadi ke mansion karena suatu alasan
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
"Kadang asumsi orang itu mengerikan, karena mereka hanya mengandalkan pikiran tanpa peduli kenyataan, mereka berpikir mengetahui segalanya, padahal yang mereka ketahui hanya asumsi itu sendiri." (Author)
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian: like, favorit, komentar dan share. Thanks ❤ I love you, all ❤ terimakasih juga buat kalian yang sudah mengikuti cerita ini dari awal ❤
Regards,
Nur Alquinsha A.
__ADS_1