Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #23


__ADS_3

Bisma tidak tega meninggalkan Erina, meskipun istrinya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, mata wanita itu seperti memberitahu yang sebaliknya, Erina tidak baik-baik saja.


Tapi, Bisma terpaksa meninggalkan Erina karena istrinya itu memaksa, Bisma akhirnya menurut untuk pergi ke rumah neneknya, meski hatinya masih ada pada Erina.


"Tuan Bisma." Maid di rumah nenek Sekar menyambut saat Bisma tiba di depan rumah neneknya, ternyata Bisma sudah benar-benar di tunggu.


Bisma hanya berharap bisa cepat menyelesaikan urusannya dengan sang nenek, pria itu tidak ingin terlalu lama meninggalkan Erina di rumah sakit.


Selain itu, Bisma juga harus terus memastikan Erina tidak mengetahui berita yang mungkin akan menghancurkan pernikahan mereka.


"Hm, dimana nenek?" Tanya Bisma tanpa ingin berbasa-basi, sampai tidak membalas sikap ramah maid padanya.


"Saya akan mengantar anda bertemu nyonya." Jawab maid, lalu wanita setengah baya itu berjalan memasuki rumah mendahului Bisma.


Bisma mengikuti maid dari belakang, pria itu tahu apa yang akan neneknya bicarakan, dan sudah menyiapkan diri untuk berhadapan dengan sang nenek.


"Silahkan masuk, nyonya sudah menunggu di dalam." Ucap maid sambil membuka pintu untuk Bisma.


Bisma mengangguk singkat, di tempat yang sama seperti saat nenek Sekar membahas tentang kekasihnya, Bisma yakin akan kembali di salahkan.


"Terimakasih." Ucap Bisma lalu masuk kedalam ruangan neneknya, pria itu bisa melihat nenek Sekar sedang duduk sambil membelakanginya.


"Sudah datang?" Tanya nenek Sekar berbasa-basi pada cucunya setelah mendengar pintu ruangan tertutup, menandakan hanya ada mereka berdua di ruangan itu.


Nenek Sekar memutar kursih yang dia duduki lalu menghadapkan dirinya pada Bisma, dan wanita itu menatap cucunya sambil memainkan sebuah berkas yang ada pada tangannya.


"Kamu tahu apa yang harus kita bicarakan?" nenek Sekar kembali bertanya tanpa memberi Bisma kesempatan untuk menjawab pertanyaan sebelumnya.


Bisma menarik nafas sebelum menjawab. "Aku tahu, nenek aku bisa jelaskan--"


"Sebelum bicara, aku butuh tanda tanganmu disana." Ucap nenek Sekar memotong perkataan Bisma setelah melempar sebuah berkas pada cucunya.


Bisma menatap neneknya tidak mengerti.


"Tanda tangan? kenapa memintaku tanda tangan? apa ini?" Tanya Bisma sambil memandangi berkas itu dan juga neneknya secara bergantian.


"Surat perceraian." Jawab nenek Sekar dengan nada tenang. "aku membantu mengurusnya, kamu senang bukan?"


Bisma melotot mendengar perkataan nenek Sekar, tidak menyangka neneknya sudah sampai mengurus perceraian untuknya.

__ADS_1


"Nenek menyuruhku menceraikan Erin?" Tanya Bisma tidak habis pikir dan detik berikutnya nenek Sekar tertawa meremehkan Bisma.


"Aku tidak menyuruhmu menceraikan istrimu." Jawab nenek Sekar menyangkalnya.


"Aku membantumu mengurus surat cerai kalian." Lanjutnya meluruskan.


"Siapa yang ingin bercerai?" Tanya Bisma yang mulai terpancing emosi, pria itu tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran neneknya.


"Bisma, aku menjodohkan kalian karena menurutku Erin gadis yang baik, tapi sepertinya kamu kurang baik untuknya." Ucap nenek Sekar tanpa menjawab pertanyaan Bisma.


"Jadi, bukankah lebih baik kalian bercerai? setelah itu kamu bisa bebas dekat dengan kekasihmu!" nenek Sekar melanjutkan kalimatnya masih dengan wajah tenang namun penuh penekanan.


Bisma tidak menyangka neneknya akan bersikap setenang itu, seolah pernikahan dan perceraian adalah sebuah permainan anak kecil.


"Aku menolak, aku dan Erin tidak akan bercerai, kalau hanya ini yang ingin nenek bicarakan, aku akan pergi." Ucap Bisma yang sudah terlalu malas menghadapi neneknya.


Tapi, sebelum Bisma benar-benar pergi dari ruangan itu, nenek Sekar tiba-tiba menggebrak meja dan membuat langkah Bisma tertahan.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan, Bisma?" Tanya nenek Sekar sambil melangkah mendekati cucunya, nada bicaranya mulai meninggi, tidak setenang sebelumnya.


Bisma berbalik menatap nenek Sekar. "Aku tidak pernah menginginkan apapun dari nenek, tapi untuk sekali ini saja, aku mohon jangan ikut campur dalam pernikahanku."


"Kamu pikir aku akan membiarkan gadis sebaik istrimu menderita?" Tanya nenek Sekar saat mereka berdiri dengan saling berhadapan.


"Aku tidak pernah berniat membuat Erin menderita." Jawab Bisma cepat.


"Nenek tidak tahu apapun, berhentilah bersikap seolah nenek mengetahui segalanya." Bisma menerima tamparan pada akhir kalimatnya.


Nenek Sekar menampar Bisma karena tidak terima dengan apa yang dirinya dengar. "Tidak mengetahui apapun kamu bilang?"


"Kamu sudah membuat negara ini heboh, dan kamu berani mengatakan aku tidak mengetahui apapun?" Tanya nenek Sekar dengan suara yang semakin meninggi.


"Ya, nenek tidak tahu apapun, nenek tidak tahu kebenarannya, hanya tahu apa yang orang lain katakan." Jawab Bisma, bicaranya lebih keras dari nenek Sekar karena terbawa emosi.


"Aku minta maaf, aku tidak bisa menuruti keinginan nenek, aku dan Erin tidak akan bercerai." Suara Bisma merendah, bagaimana pun nenek Sekar, Bisma tidak bisa marah pada neneknya itu.


Bisma tahu, neneknya bisa bersikap seperti sekarang karena kejadian menyakitkan di masa lalu, dan Bisma tidak bisa menyalahkan neneknya.


"Kalau tidak ada lagi yang mau nenek bicarakan, aku akan pergi." Setelah melihat neneknya hanya terdiam, Bisma melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Kalau sebelumnya Bisma ingin segera kembali ke rumah sakit dan menemani Erina disana, sekarang Bisma malah tidak ingin bertemu Erina.


Bisma takut Erina bertanya mengenai apa yang sudah neneknya bicarakan, sehingga Bisma merasa butuh waktu untuk menenangkan dirinya.



Malam hari, Erina menunggu Bisma di depan ruang operasi, Soraya sudah di pindahkan ke ruang rawat, tapi Erina takut Bisma bingung mencarinya, jadi memilih untuk menunggu disana.


Erina tidak bisa menghubungi Bisma karena ponselnya ada pada suaminya dan Erina tidak ingat nomer ponsel Bisma, wanita itu masih menunggu sampai Farhan datang menghampiri.


"Rin, istri gue nyari lo." Ucap Farhan pelan.


Farhan melihat Erina sedang melamun dengan mata yang berkaca-kaca, kalau boleh jujur, ini pertama kalinya Erina terlihat menyedihkan, biasanya wanita itu selalu bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Bisma gak dateng?" Tanya Farhan, padahal sudah sangat jelas tidak ada Bisma disana.


Erina menatap Farhan tanpa memberi jawaban. "Soraya belum tidur?" Tanyanya mengalihkan.


Farhan mengerti Erina tidak ingin membahas Bisma dan memilih untuk melupakan pertanyaannya. "Hm, Soraya khawatir sama lo."


"Kenapa malah khawatir sama gue? harusnya Soraya khawatir sama diri sendiri, baru operasi bukannya istirahat malah gadang!" Erina mencibir dengan wajah kesal yang di buat-buat, lalu beranjak dari duduknya.


Farhan tidak menanggapi perkataan Erina, hanya mengikuti Erina saat wanita itu berjalan menuju ruangan Soraya, melihat Erina yang seperti itu membuat Farhan tidak ingin terlalu banyak bicara.


"Raya, kenapa lo gak tidur?" Tanya Erina saat memasuki ruang rawat Soraya dan membuat sahabatnya itu menoleh padanya.


"Rin, lo baik-baik aja kan?" Tanya Soraya cemas tanpa menjawab pertanyaan Erina.


Erina berjalan cepat menghampiri tempat tidur Soraya lalu menjitak kepala sahabatnya itu. "Jangan khawatirin gue, lo aja baru selesai operasi."


"Erin ..." Lirih Soraya, wanita itu melihat Erina hancur, bagaimana bisa tidak khawatir?


"Maaf, gue udah berusaha buat gak jatuh cinta sama dia dan gue gagal, tapi lo gak perlu khawatirin gue, gue baik-baik aja."



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:

__ADS_1


©2019, lightqueensa.


__ADS_2