
Terimakasih atas 600k viewers nya, cerita ini tidak akan bisa berlanjut tanpa ada kalian, reader-ku ❤ Happy reading ....
__
Bisma masih bisa santai mengesap secangkir kopi ketika Farhan dan Leo terus menatap padanya. Dia cukup peka alasan kedua manusia itu menjadikan dirinya pusat perhatian. Karena terlihat sangat jelas Farhan dan Leo sedang memperhatikan bekas gigitan Erina pada lehernya.
Well, Bisma dan Erina tadi hampir saja melanjutkan ronde kedua, Bisma belum puas kalau hanya sekali menanam benih pada tubuh istrinya dan Bisma berniat kembali menaman benihnya pada tubuh Erina, tapi teriakan Farhan membuat Erina tegas menolak keinginan Bisma.
Bahkan, Erina sampai menggigit leher Bisma, wanita itu seperti memiliki gigi taring, Bisma merasakan lehernya panas dan perih karena gigitan kuat Erina. Kenapa Erina tidak memberikan tanda menggunakan bibirnya? kenapa harus giginya? tidak bermaksud lebay, tapi rasanya memang sakit.
Saat ini, Bisma, Farhan dan Leo sedang duduk di masing-masing sofa yang ada di ruang tamu, hanya ada mereka bertiga disana karena Erina sedang mandi dan memang Soraya kembali menonton televisi setelah mengantarkan tiga cangkir kopi untuk ketiga pria yang ada di rumahnya.
Sebenarnya, Leo tidak hanya menatap Bisma, dia juga sesekali memperhatikan Farhan, entah mengapa Leo merasa sudah terjadi sesuatu hingga Farhan terus menatap Bisma, dan tatapan itu terlihat ... canggung? Oh astaga, apa mungkin semalam Bisma melakukan itu dan lupa mengunci pintu?
"Raya?" Teriak Farhan tiba-tiba, Bisma hampir tersedak karena kaget. Sementara Leo mengamati Bisma dan Farhan, dia kembali menangkap ada hal aneh diantara kedua orang itu.
"Ya, ada apa?" Balas Soraya mengikuti Farhan yang berteriak tanpa beranjak dari tempatnya. Entah mengapa dia tidak ingin menunjukan wajahnya di depan Bisma dan yang lainnya.
"Kamu lupa membawa cemilan?" Farhan kembali berteriak, dia sengaja memanggil Soraya supaya tidak terlalu merasa canggung.
Mungkin Bisma tidak tahu Farhan mendengar suara tidak pantas itu, tapi tetap saja Farhan merasa canggung, bagaimana kalau dirinya di posisi Bisma? Itu yang membuat Farhan tidak bisa bersikap biasa.
"Ck, bukannya kamu cuma memintaku membuat minuman?"
Farhan menghela nafas mendengar teriakan Soraya, dia tidak habis pikir istrinya itu lupa dengan tugas untuk membuat orang nyaman bertamu ke rumah mereka. Farhan tahu betul alasan Soraya, wanita itu juga pasti merasa tidak nyaman berada dalam ruangan yang sama dengan Bisma, tapi apa boleh buat? bagaimana pun Bisma tamu di rumah mereka!
__ADS_1
"Soraya?!" Farhan sengaja memberikan penekanan saat memanggil istrinya.
Farhan sangat membutuhkan keberadaan Soraya untuk mengatasi kecanggungan yang terjadi di ruang tamu. Karena jujur saja Farhan tidak bisa.
"Ish, baiklah. sebentar, aku akan mengambilkan cemilannya." Putus Soraya terpaksa.
Farhan tersenyum, akhirnya dia akan memiliki teman di ruangan itu, Farhan akan memastikan Soraya tidak kabur. Lagi. Dan tanpa Farhan sadari, Bisma dan Leo terus memperhatikan dengan pikiran masing-masing.
"Ah, maaf, Soraya memang kadang bersikap seperti itu." Ucap Farhan kikuk.
Bisma dan Leo mengangguk tanda memahami hal itu, lagipula Bisma maupun Leo tidak memiliki pandangan baik terhadap Soraya, mereka merasa tidak heran Soraya bersikap begitu.
"Tidak apa-apa, saya mengerti, tapi saya penasaran akan satu hal ..." Leo menggantungkan kalimatnya dan matanya menelusuri sekitar barangkali Soraya datang, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Farhan dan melanjutkan perkataannya.
"Kenapa kamu mau menikahi singa betina seperti Soraya?" Bisik Leo nyaris tidak terdengar, namun masih terdengar jelas di telinga Farhan dan Leo.
Farhan menarik satu sudut bibirnya, lalu menjawab pertanyaan Leo dengan tenang. "Soraya tidak galak! menurutku, Soraya perempuan baik dan penyayang, Soraya juga lembut, kamu hanya belum begitu mengenal istriku." Pria itu tampak sangat puas setelah melihat ekspresi Leo.
Bisma menggelengkan kepala menyaksikan perdebatan yang terjadi dan kembali mengesap kopi. Bisma sudah sangat mengenali Leo, temannya itu memang tidak bisa menyaring perkataannya, tapi Bisma tidak menyangka Leo sampai berani mengusik Farhan dan mengatakan hal yang menyinggung.
"Ha, saya mengerti, kamu pasti berusaha membela Soraya karena dia istrimu kan? Haish, saya sarankan jangan menjadi suami yang takut istri!"
Belum sempat Farhan memberi tanggapan dan Bisma memberi teguran terhadap perkataan Leo, seseorang lebih dulu memasuki ruangan itu, mereka semua bungkam ketika orang yang memasuki ruang tamu berkata sarkas.
"Aku baru tahu, ternyata ini yang pria bicarakan di belakang wanita. Haish, kalian benar-benar ..."
__ADS_1
Leo meneguk ludahnya, Bisma berdehem cukup keras lalu menyimpan cangkir kopi di tangannya karena lemas, hanya Farhan yang masih bersikap santai, pandangan ketiganya kini tertuju kearah sumber suara, Erina berdiri disana dengan cemilan di tangannya dan memperlihatkan ekspresi datar.
"Jangan menjadi suami yang takut istri huh?" Tanya Erina mengulangi perkataan Leo, lalu menyimpan cemilan itu keatas meja dengan sedikit kasar sehingga terdengar suara yang khas dan membuat ketiga pria yang berada disana tersentak. Erina marah.
"Tidak bisakah wanita ini bersikap lebih lembut seperti wanita pada umumnya? Kenapa juga Bisma mau menikahinya? Oh ya, aku lupa, mereka di jodohkan!"
"Kamu sukses memancing kemarahan istriku, Leo! Aku akan membunuhmu kalau Erina sampai tidak mau bicara padaku lagi!"
"Kemana Soraya? Kenapa malah Erina yang datang? Jangan bilang ..."
Leo, Bisma dan Farhan hanya mampu mengatakan itu dalam hati mereka, Erina seperti memiliki aura yang membuat ketiga pria itu takut, Farhan yang suka menggoda Erina saja enggan membuka mulutnya..
"Leo, apa kamu sedang berusaha meracuni Farhan?" Tanda Erina tajam, dia berdiri di dekat sofa tempat Leo duduk dan mengintimidasi pria itu dengan tatapannya. Erina sepertinya sudah siap menelan mangsanya hidup-hidup.
"Erin?" Bisma memanggil istrinya sebelum Leo bicara, tidak, Bisma bukan berniat menyelamatkan Leo dari istrinya, Bisma hanya berusaha memastikan bahwa Erina tidak sedang marah padanya.
Bisma datang ke ruang tamu saja harus tersiksa menahan hasratnya dan Bisma tidak bisa menahan hasratnya lebih dari beberapa jam. Karena miliknya saja masih tegang sampai sekarang dan Bisma berniat memuaskan hasratnya setelah mereka tiba di mansion, lalu bagaimana jadinya kalau Erina marah?
"Leo, kamu belum memiliki istri dan kamu sangat tidak pantas mengatakan itu, bagaimana kalau wanita yang tuhan kirimkan untuk menjadi jodohmu pergi karena perkataan kamu barusan?"
Erina sengaja tidak menanggapi Bisma, dia merasa malu dengan apa yang sudah di lakukan terhadap suaminya, Erina ingin sekali menenggelamkan dirinya karena sudah berani menggigit Bisma, tapi Soraya memaksanya untuk mengantar cemilan karena sahabatnya itu mendapatkan panggilan alam.
"Ha ..." Leo memperlihatkan ekspresi bodohnya, lalu menoleh kearah Bisma. "Kamu dengar apa yang barusan istrimu katakan? Bisma, lihatlah! Istrimu ini sangat kejam padaku!"
Berkat Leo, suasana diantara mereka berubah, Bisma tidak menanggapi perkataan Leo. Dan Erina tidak mengatakan apapun, dia memilih duduk di samping Leo karena merasa kurang nyaman duduk bersebelahan dengan Bisma. Sementara di samping Farhan, tentu saja seharusnya Soraya duduk disana.
__ADS_1
"Silahkan, ini hanya hidangan sederhana, aku harap kalian tidak keberatan memakannya."