
Erina tidak pernah melayani nafsu Bisma karena kata-kata manis pria itu sebelumnya, selama ini Erina melayani suaminya hanya karena kewajibannya sebagai seorang istri, tapi berbeda dengan apa yang terjadi barusan, Erina melayani Bisma setelah pria itu berkata manis padanya.
"Erin, menurutmu kita lebih baik memiliki anak berapa? satu, dua, lima atau ... ah, bagaimana kalau sebelas?" Tanya Bisma dengan semangatnya ketika mereka baru selesai melakukan kegiatan panas diatas ranjang dan sedang bersembunyi di bawah selimut.
Bisma maupun Erina masih bertelanjang sambil memeluk satu sama lain, tubuh polos mereka bersentuhan dan detak jantung mereka saling bersahutan. Erina yang mendapatkan pertanyaan semacam itu sedikit berdehem, apa Bisma berniat menjadikan anak mereka pemain sepak bola?
"Tidak, tidak, melahirkan anak sangat menyakitkan, lebih baik kalau kita hanya memiliki satu anak, menurutmu mending laki-laki atau perempuan?" Bisma melarat pertanyaannya masih dengan nada yang sama, pria itu sangat antusias membicarakan anak.
Erina meringis, darimana Bisma tahu melahirkan sakit? apa Bisma pernah mengalaminya?
"Tapi mansion kita akan sepi kalau hanya memiliki satu anak, bagaimana kalau dua atau tiga? kamu tinggal mengatakan padaku, kalau misalkan nanti kamu tidak kuat, bagaimana?" Bisma kembali bicara sebelum Erina sempat menjawab semua pertanyaannya.
"Bisma!" Tegur Erina, dia sudah tidak tahan mendengar Bisma membicarakan anak, tidak bisakah Bisma membicarakan hal itu nanti? Mereka baru saja melakukannya, ingat!
Oh ya, Bisma sudah tidak memanggil dirinya saya, sekarang Bisma bicara lebih santai dengan kata aku, Erina yang memintanya supaya tidak terlalu formal, mereka sudah seperti pasangan normal lainnya, bahkan Erina memanggil suaminya Mas. Tadi hanya karena Erina kesal.
"Hm, bagaimana menurutmu?" Tanya Bisma tidak peka dengan teguran istrinya.
"Tidak peduli berapa anak yang kita miliki nanti, laki-laki atau perempuan, aku hanya ingin Mas selalu berada di sampingku." Jawab Erina pada akhirnya, sebenarnya mulut Erina masih terasa kaku memanggil suaminya Mas.
Bisma tersipu, Erina sangat pandai bicara manis, sudah beberapa kali Bisma melayang meskipun berkali-kali juga Erina membuatnya terjatuh akibat perkataan wanita itu. Erina adalah segala hal bagi Bisma setelah mereka menikah.
Tiba-tiba suara ponsel berdering menginterupsi mereka, Bisma meraih ponsel yang sebelumnya di letakan diatas meja nakas, lalu melihat siapa yang mengganggu momennya bersama Erina dan ternyata orang itu adalah mantan kekasih Leo.
"Siapa?" Tanya Erina ketika Bisma hanya terdiam menatap layar ponselnya.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa." Jawab Bisma dan berniat menyimpan kembali ponselnya, tapi Erina lebih cepat merebut ponsel itu dari tangan Bisma.
"Ini wanita yang kamu peluk di restoran kan, Mas?" Tanya Erina memastikan, barangkali Bisma menyimpan nomer wanita lain yang bernama Krystal dan bukan Krystal si mantan kekasih Leo.
Bisma mendengus, kosa kata yang Erina gunakan begitu mengganggu telinganya, kenapa Erina harus mengungkit tentang pelukan itu? Lagipula Bisma juga tidak suka di peluk oleh mantan kekasih Leo! Bisma lebih suka memeluk Erina seperti yang saat ini sedang dirinya lakukan.
"Ya, tolong kembalikan handphone ku." Ucap Bisma sambil berusaha merebut ponselnya dari tangan Erina, tapi gerakan Erina lebih cepat darinya, meskipun posisi mereka saat ini masih saling memeluk, atau mungkin memang Bisma yang terlalu lambat bergerak.
Erina buru-buru menekan ikon hijau pada layar ponsel Bisma, takut telpon dari Krystal keburu mati, lalu Erina melonggarkan pelukannya dan berkata tanpa suara. "Bicaralah!"
Bisma menatap layar ponselnya yang mulai menghitung setiap detik dan menatap Erina secara bergantian, bisa-bisanya wanita itu mengangkat telpon Krystal dan menghancurkan momon mereka. Kalau di ingat-ingat, Krystal sama mengganggunya dengan Leo.
"Hallo, Bisma. apa kamu disana? kenapa kamu diam? kamu tahu kan apa yang aku butuhkan?" Ucap Krystal dari sebrang sana setelah Erina menekan ikon pembesar suara.
Bisma menggeleng sambil memasang wajah melas, dia tidak merasa mengetahui apa yang sedang Krystal butuhkan sekarang. Demi tuhan, Bisma bahkan baru bertemu lagi dengan Krystal setelah beberapa tahun mereka lulus kuliah.
Bisma bisa saja merebut ponsel itu dan mematikan sambungan ponselnya dengan Krystal, tapi dia tidak ingin membuat Erina marah gara-gara hal itu. Karena Bisma tidak pernah tahu apa yang akan membuat istrinya marah, Bisma memilih untuk tetap waspada.
"Aku benar-benar tidak menyangka Leo sudah menikah, aku pikir Leo serius dengan perkataannya waktu itu." Kali ini Bisma dan Erina bisa mendengar suara tangisan memecahkan keheningan di kamar mereka.
Bisma mengingat betul apa yang Leo katakan kepada Krystal, sahabat Bisma itu berkata. "Tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa mempercayaiku sekarang, tapi kamu harus ingat, aku akan kembali mengejarmu suatu saat nanti dan akan menjadikan kamu istriku."
"Aku akan membuat kamu tidak bisa memilih selain mempercayaiku sebagai pria yang sangat mencintaimu. Tidak peduli seberapa brengseknya aku selama ini, hanya kamu yang membuat aku sampai segila ini."
Bisma mengingat hal itu dengan sangat jelas, tapi Bisma lebih ingat kalau setelah itu Krystal pergi begitu saja tanpa memperdulikan Leo yang sedang menangis. Bahkan, Bisma mengetahui bahwa Krystal sengaja pergi keluar negeri untuk menghindari Leo yang putus asa.
__ADS_1
"Assalamualaikum, aku wanita yang kamu temui di restoran dan ada sedikit kesalahpahaman disini, aku bukan istri Leo, tapi lebih baik kita bertemu langsung di tempat yang sama besok jam delapan pagi."
Erina langsung menekan ikon merah setelah selesai bicara sebanyak itu, Bisma yang mendengar perkataan Erina barusan terlihat sangat keberatan dengan keputusan Erina untuk menemui Krystal.
"Erin, bukankah besok kita akan--"
"Kita bisa pergi ke rumah ibu setelah mempertemukan Leo dan Krystal, aku rasa mereka membutuhkan waktu untuk saling bicara." Ucap Erina memotong perkataan Bisma sekaligus menjawab apa yang menjadi pertanyaan suaminya.
Bisma menghela nafas sambil mengingatkan dirinya sendiri bahwa keputusan Erina lebih penting, dia tidak pernah menang melawan Erina dan akan tetap seperti itu. Karena Erina segalanya bagi Bisma sehingga apapun tentang Erina akan menjadi kepentingan bagi Bisma juga.
"Mas, bisa menyuruh Leo datang ke restoran tadi?" Tanya Erina yang berusaha mengajak suaminya untuk bekerja sama.
"Baiklah, aku akan menelpon Leo asalkan aku mendapatkan imbalannya." Jawab Bisma menyeringai, lalu memposisikan dirinya diatas tubuh Erina.
Erina meneguk ludahnya, mereka baru saja selesai melakukannya dan Bisma sudah memintanya lagi? Bukannya Erina tidak mau melayani Bisma, tapi sebelumnya saja mereka sudah menghabiskan waktu beberapa jam dan memangnya Bisma tidak lelah?
Bisma mengambil ponselnya yang ada pada tangan Erina dan menyimpan kembali ponsel itu keatas meja nakas dengan posisi tubuhnya yang masih menindih tubuh Erina, lalu Bisma menyatukan jemari mereka dan meraih bibir Erina dengan bibirnya.
Erina sendiri tidak melakukan penolakan atau apapun itu karena dia juga menginginkan sentuhan Bisma. Dan mereka kembali melakukan hal yang kata Soraya merupakan ritual bikin anak.
×××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Doble update! aku mau menenggelamkan diri nulis beginian, Bye. Jangan lupa meninggalkan jejak kalian, ratingnya juga ya ... kalo perlu follow akun mangatoon dan istagram (light.queensha) juga :v Oh ya, jawab pertanyaan di story instagram aku, nanti aku posting jawaban tepatnya 😉
Regards,
__ADS_1
Nur Alquinsha A.