
Bisma memikirkan kembali perkataan Leo tadi malam, mengingat alasan Karina meninggal waktu itu, hatinya mendadak sakit, Karina bunuh diri pada hari yang sama saat Bisma menegaskan perasaannya.
Bisma mengaku menyayangi Karina, tapi sayang itu tidak lebih dari rasa sayang kakak terhadap adiknya, sangat berbeda dengan Karina yang menyayangi Bisma sebagai pria dan berharap untuk di nikahi.
Bisma menegaskan perasaannya atas permintaan nenek Sekar, neneknya itu mengatakan bahwa perlakuan Bisma terhadap Karina sangat berlebihan, sehingga hal itu memicu kesalahan pahaman untuk Karina.
Karina mengira Bisma memiliki perasaan yang sama terhadapnya, sampai suatu hari Bisma mengatakan sudah memiliki kekasih, Karina tidak percaya, dan hal itu memaksa Bisma untuk melakukan hal bodoh.
Bisma pergi ke klub malam saat mengetahui Karina mengikutinya, pria itu menyewa seorang wanita untuk berpura-pura menjadi kekasihnya, dan memperlihatkan kemesraan mereka di depan Karina supaya gadis itu percaya.
Bisma berbohong saat mengatakan sudah memiliki kekasih. Karena Bisma berpikir bahwa Karina berhak mendapatkan pria yang lebih baik darinya, namun yang terjadi malah Karina menangis dan bunuh diri.
"Bisma?" Suara itu menyadarkan lamunan Bisma terhadap masa lalu, Bisma membalikan tubuhnya dan mendapati Leo yang sepertinya baru bangun tidur.
Saat ini, Bisma berada di apartemen Leo, sedang berdiri di balkon sambil menikmati pemandangan luar dan mengingat masa lalu sampai akhirnya Leo datang menghampirinya.
"Masih disini? aku pikir kamu sudah pergi menemui Erin, bukankah kamu bilang Erin menunggumu di rumah sakit?" Tanya Leo dengan wajah mengantuk.
Bisma mendadak ingat Erina, istrinya pasti kecewa karena kemarin Bisma berjanji akan cepat kembali, dan Bisma malah mengingkarinya.
"Kamu benar, Erin menungguku, tapi bagaimana aku bicara padanya nanti?" Lirih Bisma.
Leo mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa harus bingung? apa perlu aku mengajarimu bicara?"
Bisma mendengus. "Kamu tidak tahu, Erin sangat sulit di ajak bicara."
"Kamu tinggal bilang maaf padanya, apa itu sulit?" Tanya Leo.
"Cih, kamu tidak akan mengerti." Jawab Bisma yang kemudian berjalan melewati Leo.
Leo berbalik menatap punggung Bisma. "Hoh! kamu mau pergi kemana?" Tanyanya.
"Menemui istriku." Jawab Bisma tanpa melihat lawan bicaranya dan keluar begitu saja meninggalkan kamar Leo.
Bisma merasa tidak ada gunanya banyak bicara dengan Leo, sahabatnya itu tidak akan membantu, hanya terus membuatnya jengkel. Karena hanya Bisma yang tahu bagaimana Erin.
Bisma memilih pergi ke rumah sakit dengan naik taksi, tidak mengendarai mobil sendiri karena kunci mobilnya ada pada Leo dan Bisma malas bertanya pada sahabatnya itu.
Setelah tiba di rumah sakit dan bertanya mengenai ruang rawat Soraya, Bisma melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut, ruangan nomer empat puluh delapan.
"Erin?" Panggil Bisma saat berpapasan dengan istrinya, Bisma tersenyum melihat Erina, namun tidak dengan Erina yang menatap dingin padanya.
__ADS_1
"Bisma, ada yang harus kita bicarakan." Ucap Erina, bahkan bicaranya saja terdengar tidak seperti biasanya.
Bisma berusaha untuk tetap tersenyum sekaligus meyakinkan dirinya bahwa Erina berubah hanya karena wanita itu kecewa atas kejadian kemarin.
Sementara Erina, sebenarnya dia ingin sekali berlari saat melihat Bisma ada di hadapannya, tetapi entah kenapa ada sesuatu yang menahannya sehingga kakinya tidak mampu berlari.
Erina ingin sekali menghindari Bisma seperti apa yang dia katakan di hadapan Soraya dan Farhan, tapi saat melihat Bisma, dia tidak sanggup mengindari suaminya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita bicara sambil sarapan?" Usul Bisma.
Erina menatap wajah Bisma lama sebelum mengatakan. "Kamu belum sarapan?" Tanya.
Erina tidak berniat perhatian terhadap Bisma, hanya sekedar basa-basi sebelum mereka membicarakan hal serius nantinya.
"Hm, kamu juga belum kan?" Bisma membalikan pertanyaan masih dengan senyuman yang terukir pada bibirnya.
"Tidak, aku sudah sarapan, tapi untuk sekarang aku masih bisa menemani kamu sarapan." Jawab Erina.
Tidak tahu kenapa, Bisma merasa kata 'sekarang' dan 'masih' yang Erina ucapkan seperti memberitahunya bahwa mereka akan berakhir.
Bisma menyangkal hal itu dengan senyuman dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja, lagipula Erina tidak akan tega meninggalkannya.
"Kalau begitu ..." Bisma mengulurkan tangannya pada Erina. "Temani saya sarapan."
"Erin?" Tegur Bisma yang merasa terabaikan.
Erina beralih menatap wajah Bisma. "Bagaimana kalau kamu sarapan di restoran kemarin?" Tanyanya.
Bisma terkekeh pelan, Erina baru saja menolak tangannya dan sepertinya Bisma sudah benar-benar melakukan kesalahan pada istrinya itu.
"Saya minta maaf, Erin." Lirih Bisma setelah puas mentertawakan dirinya.
Erina tidak tahu maksud Bisma meminta maaf padanya, tapi mungkin saja karena Bisma sudah selingkuh.
"Tidak enak bicara disini, sebaiknya kita bicarakan nanti di restoran." Ucap Erina tanpa memperdulikan Bisma yang terlihat kecewa terhadapnya.
Bisma menghela nafas pasrah. "Baiklah kalau begitu."
"Mari bercerai." Ucap Erina saat mereka baru saja duduk di restoran.
__ADS_1
Erina merasa tidak kuat untuk terlalu lama berpura-pura, mereka memiliki masalah yang bisa di bilang serius, tapi Bisma masih bersikap biasa saja dan membuat Erina muak.
Bisma mengepalkan tangannya di bawah meja, pria itu mengaku salah sudah mengingkari janjinya, tapi kenapa Erina harus menghukum dengan kata cerai?
"Erin, apa semalam tidurmu tidak nyenyak?" Tanya Bisma pelan sambil berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Setelah ini kita pulang, sepertinya kamu butuh istirahat." Bisma melanjutkan kalimatnya sebelum Erina angkat bicara.
"Kamu benar, semalam tidurku tidak nyenyak karena terus memikirkan kamu yang sama sekali tidak peduli dengan perasaanku."
Bisma menatap dalam wajah istrinya. "Saya minta maaf, seharusnya kemarin--"
"Aku sudah tahu semuanya, kamu dan Gisella, aku bodoh karena sebelumnya berpikir sudah membuat wanita itu malu, namun nyatanya malah aku yang mempermalukan diriku sendiri."
Erina mengatakan kalimat menyakitkan itu dalam satu kali hembusan nafas, Erina mentertawakan dirinya sendiri saat mengingat apa yang sudah dia lakukan di cafe Soraya.
"Erin--"
"Tentu saja wanita sepertiku tidak bisa di bandingkan dengan Gisella." Erina kembali memotong perkataan Bisma, namun perkataannya terhenti sebentar karena suaranya tercekat.
"Jadi, mari kita akhiri, tidak perlu saling membohongi, karena jujur saja aku sudah lelah." Lanjut Erina.
Bisma semakin mengepalkan tangannya. "Erin, sebenarnya siapa yang sedang membohongi siapa? saya tidak mengerti maksudmu!"
"Perceraian diantara kita hanya akan terjadi dalam mimpimu, sebaiknya kamu bangun dan menerima kenyataan bahwa kita tidak akan berpisah." Ucap Bisma menegaskan.
Erina tersenyum sinis. "Apa semua pria egois sepertimu? kamu bermain dengan wanita lain dan tidak ingin menceraikan wanita lainnya?"
"Saya tidak pernah bermain dengan wanita manapun, kamu hanya salah paham." Ucap Bisma, nada bicaranya berubah lirih.
"Aku memang tidak bisa memahami kamu, jadi untuk apa kita pertahankan pernikahan ini?" Erina berusaha keras menahan air matanya.
Bisma mengusap kasar wajahnya. "Erin, mengenai rumor tentang saya dan Gisella, akan ada yang memberi klarifikasi, saya dan Gisella tidak memiliki hubungan apapun."
"Kalau kamu merasa tidak memiliki hubungan dengan Gisella, kenapa kamu tidak menjelaskan langsung padaku?!"
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
__ADS_1
©2019, lightqueensa.